Fool Again

Fool Again
Green Dress and ... Handsome Guy



Christy adalah pelaku utama yang menekan bel kamarku dengan non stop. Aku bersyukur aku sudah selesai mandi dan mataku sudah tidak kelihatan ‘baru nangis’ sesaat setelah aku buka pintu


Tatapanku jatuh pada satu dress hijau berwarna rerumputan tua yang membuatku dengan refleks bergumam,“wow…,”


Itu cantik sekali. Bajunya tidak kelihatan terbuka namun entah mengapa setiap sisi bajunya kelihatan tegas hingga menambah kesan seksi


“Baju siapa,Chris?” tanyaku setelah berdeham beberapa kali


“Baju mbak,” jawabnya membuatku menyergit. Bajuku? Aku tidak ingat pernah memesan baju sekelas ini


“Kamu nggak salah? Aku enggak merasa pernah membelinya,”


“Aku membelinya untuk mbak. Nih masih ada labelnya,”


“Ah, serius?”


“Dua rius malah,mbak. Aku tidak tahu kenapa wajah mbak yang muncul waktu aku melihat baju ini,”


“Lebay ha ha ha,”


“Serius,mbak! Aku jadi langsung beli untuk mbak. Pokoknya mbak harus pakai hari ini, oke?”


Aku menerima pakaian itu sambil menahan senyum. Astaga, kainnya super lembut! Aku pikir aku mulai jatuh cinta dengan pakaian ini sampai sampai Christy menepuk lenganku beberapa kali hingga aku sadar dia masih berdiri dihadapanku


“Mbak, dipakai malam ini ya,”


“Hah? Malam ini?”


“Iya. Para wanita tampil yang lebih cantik dulu dong. Aku mau posting gambar di Instagram, he he he,”


“Harus banget ya?”


“It’s a must thing to do. Mbak ada bawa make up kan?”


Aku menggelengkan kepalaku. Christy terkekeh lalu ia memaksaku untuk ke kamarnya. Aku agak terkejut karena rupanya William sedang berada di dalam kamar Christy bersama dengan anak anak, ipar dan calon iparnya. Lah, bukankah anak anak berada di kamar Jessie?


William menoleh setelah mendengar suara pintu dibuka


Ia tidak kelihatan terkejut dengan kehadiranku. Tatapannya jatuh pada dress hijau yang sedang berada dalam gengamanku. Hanya seperkian detik sebelum dia kembali memalingkan wajahnya. Dasar kejam!


“Mbak Jessie mana?” tanya Christy ke William


William menunjuk kamar mandi dan menjawab,“lagi di kamar mandi,”


“What? Dia belum mandi?”


“Barusan mandi sih kayaknya,”


“Astaga. Ini sudah jam enam. Udah deh, tolong infoin ke Mbak Jessie ya untuk nyusul ke kamarnya nanti. Kita mau make up dulu,”


Aku melihat William menyergit. Ia membalas,“Make up? Memangnya ada acara special apa?”


“Duh, cowok nggak bakal ngerti. Intinya jangan lupa infoin ke Mbak Jes ya,”


Duh, aku jadi tidak bisa berhenti menatap pantulan diriku


Jessie berdiri disampingku, berpurar-putar untuk memeriksa pakainnya sambil berkata,“kamu sudah kelihatan sempurna,sayang,”


“Mbak juga,”


“Ah. Enggak sesempurna kamu dong.  Mbak udah tua, tau,”


“Apaan mbak? Umur tidak menjamin kecantikan,”


“That just another bullshit,sayang. Kita terpaut dua belas tahun and you wanna say beauty not depends on the age? Look at me, aging. Aku mulai berpikir untuk operasi,”


“Operasi plastik?”


“Ha ha ha, enggak segitunya juga. Operasi hidung, mungkin?”


Aku tertawa kecil membalas lalu Christy dari belakang menyahut,“Operasi? Yakin enggak takut dengan efek samping dan segala jenis jarum?”


“Duh, please kamu jangan nakutin dong,” balas Jessie membuat kami terkekeh


Kami bertiga selesai tepat lima belas menit sebelum jam tujuh. Christy dan Jessie sibuk mengajakku berfoto. Kegiatan sederhana seperti ini membuatku merasa sedikit lebih baik. Kami keluar dari kamar setelah bel kamar tidak berhenti berbunyi


Suami Jessie, Frans, mengerjap melihat kami bertiga. Dia mengangkat dua jempolnya dan bersorak,“three beautiful ladies!”


Kami terkekeh


Frans mengulurkan tangannya pada Jessie lalu mereka berjalan bersama. Christy dan aku berjalan bersisian. Kami saling berkomentar mengenai foto foto kami yang kelihatan lucu


“Eh, bentar ya, mbak. Aku ambil tasku dulu,” ucap Christy saat kami hampir melewati kamarnya


Aku memutuskan menunggu di luar kamar, merasa agak malas untuk membuka kembali heels yang kupakai. Aku sedang bersandar sambil melirik sekelilingku, menganggumi interior hotel yang bagus untuk ukuran puncak


Hotel disini mengaplikasikan interior yang menganggumkan, tidak kalah dari perkotaan, menurutku. Terdapat tiga buah lift serta sebuah vas berwarna pink setinggiku di sekitar sana. Aku sedang mengaggumi keindahan interior ini ketika aku mendengar pintu lift terbuka


Lalu pada detik berikutnya, aku merasa jantungku lompat dari tempatnya


William keluar dari lift nomor satu dengan pakaian santainya dan… Didi keluar dari lift nomor tiga dengan pakaian formalnya.


Dua laki laki yang pernah dan masih menempati posisi penting di hidupku


Keduanya sedang menatapku. Didi melihatku dengan tatapan terkejut dan kagum sementara William menatapku dengan tatapan dinginnya. Astaga! Aku melemas. Otot kakiku terasa melemah. Kepalaku terasa berat dan aku benar benar kehabisan kata. Kenapa mereka berdua berada di tempat yang sama dan sepertinya akan berjalan ke arahku?


Oh tidak!


Apakah sebaiknya aku melarikan diri? Bagaimanapun aku tidak ingin mengakibatkan kegaduhan. William akan menduga aku membuat janji temu dengan Didi sementara Didi akan tahu bahwa William adalah suamiku. Oh, ini memusingkan


Aku membalikkan badanku, berniat untuk menyusul masuk ke dalam kamar, namun Christy sudah terlebih dahulu berjalan keluar. Ia menyengir sambil menunjukkan tas hitam pradanya


Dia menunjuk William dan berkata,“That’s brother! And….,” suaranya berhenti ketika tatapannya jatuh pada Didi. Sumpah, aku melihat Christy tersenyum lebar sambil mengengam tanganku dan melanjut,“who’s the handsome guy right beside my brother? Huh?”