Fool Again

Fool Again
Isi Kesepakatan



Aku menyergit,"kesepakatan? Apa maksudmu?"


William tidak langsung menjawab. Ia kelhatan berpikir cukup keras. Andai aku tahu isi pikirannya. Ia kemudian menjawab"Beri aku waktu dan kesempatan. Aku akan belajar mencintaimu."


Belajar mencintaiku?


“Kamu adalah sahabatku, ibu dari anakku. Aku ingin belajar mencintaimu,”


Aku menyergit binggung. Sumpah, aku ingin mempercayainya namun mengapa aku merasa keraguan luar biasa? Mengapa William tiba tiba ingin belajar mencintaiku? Apakah sikapku seharian ini membuatnya berubah pikiran? Hem.. sepertinya tidak mungkin! Selain itu, kami sudah hidup bersama selama dua tahun. Aku bahkan tidak bisa membuatnya mencintaiku selama itu. Konon lagi kali ini?


“Kumohon ajari aku mencintaimu kali ini,”


“Cinta tidak bisa dipelajarin. Kamu tentu lebih tahu itu dari siapapun!”


“Benar. Kamu benar. Tapi aku tidak mau kehilanganmu. Kamu adalah ibu dari anakku. Aku mau memperjuangkanmu,”


“Kamu pikir aku akan percaya,huh?”


"Aku memberimu pilihan, Kattie Priscilla. Buat aku mencintaimu atau tidak sama sekali."


"Kamu mengancamku?!"


"Tergantung dari cara kamu menafsirkannya. Aku memberimu pilihan. Kita boleh bercerai jika aku masih tidak mencintaimu tiga bulan kedepan. Aku tidak akan menganggumu lagi, tidak akan memunculkan diriku di hadapanmu lagi. Kita benar-benar akan berpisah."


William kedengaran serius. Duh, ini membuatku bimbang


“Apa jaminannya? Kamu harap aku mempercayaimu semudah itu?” tanyaku rasional


"Kamu boleh mengambil hak asuh penuh atas Camilla dariku ataupun keluargaku jika aku tidak mampu mencintaimu nantinya,"


Geeez.. aku bersumpah William kedengaran dan kelihatan super serius kali ini. Sejujurnya aku cukup tergiur. Maksudku, seorang William menawarkan diriku untuk membuatnya jatuh cinta. Well, aku tahu ini sulit. Namun… sedikitnya aku memiliki secercah harapan bukan? Aku mengigit bibirku mulai gelisah


"Aku bersungguh-sungguh,Kat. Percayalah." Lanjutnya. Ia kelihatan frustasi karena aku tidak kunjung menjawabnya. Ia memohon sambil melangkah mendekat


“Oh please,Kat…,”


"Bagaimana kalau kamu atau… aku menyerah di tengah jalan?" tanyaku ragu-ragu


"Kita bahkan belum memulainya."


William terlihat tidak menyukai gagasanku baru saja tetapi itu tidak menutup kemungkinan. Aku harus mempertegas segalanya, pikirku.


"Siapa tahu? Semuanya bisa saja terjadi. Kamu mungkin akan menyerah di tengah jalan atau aku yang mungkin jatuh cinta dengan laki-laki lain. Kamu tahu, cinta bisa berubah."


"Maka kesepakatan kita akan batal,"


Aku menggeleng tidak menyetujui dengan tegas


"Tidak! Aku tidak mau rugi. Kita bahkan harus mengesahkannya di atas materai 6000!"


William tertawa. Oh! menggemaskan! Bagaimana dia bisa tertawa di tengah suasana canggung ini? Aku mengigit bibirku kesal.


“Apakah kita perlu seformal itu? Maksudku, kita bisa hanya…,”


“Aku tidak mau mengambil resiko lagi. Jika aku tidak bisa membuatmu mencintaiku maka hak asuh Camilla akan sepenuhnya padaku,”


William kelihatan tidak setuju. Ia ingin protes namun aku terlebih dahulu melanjut,”Namun kamu tidak perlu khawatir. Kamu masih bisa membawanya mungkin satu minggu 2x untuk menginap atau berjalan jalan. Bagaimanapun kamu adalah ayah biologisnya. Win-win solutions bukan?”


William mengangguk meski aku yakin sebenarnya ia bahkan tidak berani membayangkan berpisah dengan Camilla. Ia berusaha menutupinya dengan senyum tipis sambil membalas,“Well, mungkin aku dapat menambah satu poin tentang warisan. All I got is for you and our daughter,”


Fiuh, aku menyergit sambil mengangkat bahuku. Kami kemudian sepakat akan menuliskannya membuat kesepakatan itu dikertas besok pagi. William berdeham pelan


"Baik. Bagaimana cara kita merayakan perjuangan hari pertama untuk tiga bulan ke depan?"


Dia tersenyum dan aneh. Senyum itu menular. Aku tidak tahu mengapa sedikitnya luka hatiku mulai terbalut. Well, obatnya mungkin adalah William atau kesepakatan itu. Entahlah. Aku merasa aman dan nyaman tanpa terduga. Meski aku harus akui bahwa ada sedikit kecemasan yang menyeruak. Apakah aku mampu membuatnya mencintaiku? Apabila aku tidak berhasil, apakah aku bisa hidup tanpanya? Kami tidak mungkin dapat menjadi sahabat lagi setelah itu. Kami hanya akan menjadi partner atas anak kami. Gagasan itu membuatku sedih


William mengambil bedcover di lantai tersebut kemudian memintaku untuk berbaring bersamanya di Kasur. Em, sebenarnya aku agak deg-degan. Huh, ini membuatku malu. Aku seperti baru menjalani malam pertama. Oke, tunggu. Mungkin aku yang terlalu berpikir over. William bahkan tidak melihatku dengan tatapan nakal. Ia benar benar melihatku dengan tulus dan itu benar benar membuat hatiku menghangat


“Ayo, tidur!”


“Mm, iya,”


Aku merangkak naik. Pada detik berikutnya, Ia menyelimutiku dengan selimut. Tangannya tidak berhenti mengusap kepalaku dengan lembut. Kali ini, ia memperlakukanku seperti bayi. Namun anehnya ini membuatku senang. Aku menatapnya dengan senyum tipis. Tuhan, tolong bantu aku berhasil membuatnya mencintaiku. Aku ingin terus berada disampingnya seperti saat ini


“Apa yang ada dipikiranmu?” bisik William


“Kamu,” jawabku jujur


Sebelah alis William terangkat. Ia mulai penasaran


Aku memberanikan diriku untuk menelusuri wajahnya menggunakan jari telunjukku. Geez, wajahnya begitu lembut dan mulus. Bagaimana mungkin wajah pria bisa sebagus ini? Aku menyentuh wajahku pada detik berikutnya tanpa kusadari. Sikapku membuat William tertawa kecil


“Kamu baru saja kagum dengan ketampananku?”


“Huh, kamu terlalu pede!”


“Em, jadi apa yang kamu pikirkan selain itu?”


“Our future,”


Dua kata. Aku hanya mengatakan dua kata itu namun aku tahu persis dua kata itu memegang beban yang sangat berat. Ia tersenyum tipis. Tatapannya begitu tulus. Itu membuatku salting


“Aku berharap kita akan bersama sampai akhir,” bisik William


Aku tertegun. Jujur, kalimat itu benar benar membuat jantungku semakin berdebar. Aku tidak tahu ini akan menjadi kenyataan atau hanya satu dari sekian omong kosongnya namun … kami sudah berjanji untuk mengusahakan hubungan ini bukan? Jadi… tidak ada salahnya bagiku untuk sedikit lebih mempercayainya dan tersenyum atas perkataannya ini bukan?


William mengelus wajahku dengan begitu lembut sebelum kemudian ia mencium puncak kepalaku cukup lama seolah sedang membisikkan mantra disana. Kami kemudian tidur bersama dengan saling berpelukan


Ini adalah sesuatu yang baru bagiku. Kami tidak pernah tidur seperti ini. Kami biasanya tidur bersama hanya setelah berhubungan intim. Jujur, aku mulai memupuk harapan atas hubungan ini. Pertanyaannya adalah mampukah kami bertahan?


Hmm, aku tidak tahu. Sungguh. Namun aku tidak mau berpikir yang macam macam lagi kali ini. Setidaknya biarkan kami menjalani kesepakatan ini tanpa perasaan cemas. Setidaknya kami telah mengusahakannya walaupun jika kami akan berakhir dengan perpisahan suatu hari nanti apabila usaha ini gagal