Fool Again

Fool Again
Mengalah Dengan Ego



“Kalian baik baik saja kan?”


Christy menyusuliku yang tengah menemani anak anak bermain di playground setelah makan. Aku menoleh melihatnya lalu berusaha mengulas senyum tipis


“Well, so far sih oke,”


“Serius kan,mbak?”


Aku tidak menjawab. Aku juga tidak tahu apakah semuanya memang sudah oke oke saja. Pembicaraan terakhir kami tidak kelihatan berakhir dengan baik. Laki laki itu tidak begitu banyak bicara di makan malam kali ini. Ia lebih sibuk dengan makanan lalu bersama dengan Frans menghirup udara segar di lapangan


“Mungkin?”


“Hm, terus kenapa ya Bang Liam bisa semarah itu? Dia tidak pernah kelihatan setajam itu atau.. mungkin pernah dengan mbak. Aku tidak tahu tapi yang jelas ini adalah kali pertama aku melihatnya begitu. Laki laki tadi memang tampan tapi.. menurutku ini agak berlebihan,”


“Kamu juga merasakan hal yang sama bukan?”


“Benar. Kenapa Bang Liam bisa sampai semarah itu? Toh, bisa jadi kawan mbak hanya ingin berbasa basi, doesn’t means he likes you personally,”


“Chris, aku senang ada orang berpikiran yang sama denganku. Abang kamu memang aneh,”


“Atau.. mungkin ada hal lain yang menjadi penyebabnya?”


“Tidak ada kok. Dasar abang kamu saja yang sensitive. Apakah semua wanita menikah dilarang keras berbicara dengan lawan jenis? Kok enggak sekalian larang istri ngomong ke ayahnya sendiri?”


Christy tertawa kecil mendengar celotehanku. Astaga, aku tidak sadar sudah mengeluarkan sedikit hal yang membebaniku


“Coba mbak ingat ingat lagi. Aku rasa sih bang Liam enggak bakal semarah ini sih. Sorry. Bukannya aku membela dia. Hanya saja ini sangat aneh,”


“Hm…karena… laki laki tadi adalah cinta pertamaku, mungkin?”


“WHAT?!”


Aku mendengar Christy agak berteriak keras. Ia seolah tidak bisa mempercayai dua kosa kata yang baru kulanturkan tadi. Ia mengerjap beberapa kali sebelum kemudian melanjut,“mbak serius?”


“Iya. Dia adalah cinta pertamaku di sekolah lain,”


“Astaga. Apakah dia single saat ini?”


“Yap,”


“Ah! Sekarang aku tahu kenapa bang Liam agak kesal,”


Aku menyergit, masih kurang mengerti. Apa korelasinya coba?


Christy melanjut setelah menghembuskan napas berkali kali,“Karena laki laki itu adalah cinta pertamamu, dia lagi single dan bahkan mengajak mbak ke Garden nanti, berdua dan malam malam,”


Aku tidak menerima korelasi itu. Aku membalas,“apa korelasinya coba? Aku tidak boleh berhubungan dengan Didi hanya karena dia cinta pertamaku dan sedang single?”


“Sebenarnya bukan begitu sih,mbak. Ini lebih ke... cemburu. Mungkin Bang Liam cemburu,”


Aku tertegun. Apakah benar?


Christy melanjut,“Ini bukan soal siapa yang benar dan salah tapi ini soal perasaan. Aku tidak membela abangku sendiri juga karena.. aku juga punya pacar yang sifatnya hampir sama dengan keluarga ini. Jadi aku agak familiar dengan hal ini,”


“Aku hanya tidak mengerti. Kenapa harus cemburu dengan hal itu? Kami bahkan tidak ada skinship,”


“Well, guy and his thoughts. Mungkin saja dia merasa laki laki tadi sebagai saingan? Don’t know,”


Aku menghembuskan napas kesal sementara itu Christy memelukku, membuatku agak terkejut. Dia menyandarkan kepalanya di bahuku. Cukup lama sebelum dia melepaskan pelukannya dan menatapku dengan kedua mata berkaca-kaca


Aku tertegun. Kusentuh lengannya dan bertanya,“hey, kamu kenapa?”


“Aku.. hanya sedikit takut kalau kejadian tempo hari terulang kembali. Can you please promise me one thing?”


“Jangan tinggalkan kami lagi, huh?”


Aku tersenyum tipis dan membalas,“Tidak kok. Aku tidak akan meninggalkan kalian semua,”


“Including my brother. Dia mungkin agak chilidish, cemburuan, dingin dan kadang kurang peka tapi.. dia punya hati yang baik dan serius. Dia juga tampan, mapan dan punya keluarga yang supportive. So many plus points, despite all of the negative ones. So, can you please bear with it and just … don’t leave us again?”


Duh, perkataan itu membuat mataku ikut berkaca-kaca. Aku merasa tersentuh namun juga sedih. Ini mengartikan bahwa peranku penting dalam keluarga ini, bahwa mereka menyayangiku dan menganggapku penting. Namun di sisi lain, aku sedih karena aku pernah membuat mereka setrauma itu. Astaga


Christy memaksaku untuk berjanji. Aku mengigit bibirku selama beberapa detik, agak berpikir keras. Apakah rumah tangga kami bisa berjalan dengan mulus? Apakah William bisa berbaikan denganku? Apakah ada jaminan tentang tidak akan adanya perselingkuhan itu lagi? Apakah William bisa memahamiku dan apakah… dia memang beneran serius mengenai rumah tangga ini? Huh? Aku sungguh galau. Pemikiran itu berkecambuk, melukai hatiku sedikit demi sedikit hingga aku menemukan William berjalan mendekat


Kedua pasang mata kami beradu. Hanya selama beberapa detik sebelum dia memutuskan tatapan kami dan berjalan menyusuli Camilla yang sedang sibuk bermain. Melihat Camilla yang tertawa lepas dalam gendongan William membuatku merasa..sedikit… sedikit lebih baik


Aku tidak sadar sudah menganggukkan kepalaku,“janji,”


Christy tersenyum lebar lalu kembali memelukku. Christy menunjuk jam tangannya tidak lama kemudian dan berkata,“Mbak, aku harus balik dulu nih. Ada bayi besar yang mau dijaga ha ha ha,”


“Bayi besar? Ha ha ha. Pacar kamu maksudnya?”


“Yeap … and you have one, too!”


Aku tertawa kecil membalasnya. Ia melanjut,“Aku duluan ya mbak. Oh ya, sekedar informasi, it has been sealed ya. Aku tidak akan memberitahu siapapun megenai tadi,”


“Thanks,”


“Most welcomed, mbak..,”


Christy memelukku sekali lagi sebelum dia benar benar kembali ke bayi besarnya. Kali ini, sisa dua orang dewasa saja di playground ini, yaitu William dan aku. Camilla turun dari gendongan William lalu berlari bersama dengan sepupunya


Apakah ini kesempatanku untuk mengajak William mengobrol? Maksudku, kami tidak mungkin terus menerus seperti ini, bukan?


Ia sedang berdiri di samping perosotan berwarna kuning dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Aku memberanikan diri berjalan mendekatinya. Langkahku pelan dan penuh kehati-hatian, sambil berpikir keras apakah keputusan ini benar. Aku tidak merasa salah. Sebaliknya aku merasa William yang salah kali ini. Kalau aku berjalan mendekat duluan, artinya aku kalah, aku harus merendam harga diriku dan perasaanku


Namun aku tahu salah satu diantara kami harus berkorban


Baiklah baiklah. Aku menghembuskan napas pelan sebelum berhenti disampingnya


Ia tidak menoleh kearahku. Mungkinkah dia sudah tahu itu adalah aku?


“S..sudah makan?” tanyaku. Duh, itu adalah basa basi terbosan dan terbodoh yang pernah kulakukan. Jelas jelas kami duduk di meja makan yang sama tadi!


Kupikir William tidak akan membalas perkataanku lagi. Aku menunggu selama hampir semenit sebelum aku mendengarnya menjawab,“sudah,”


“Oh, besok kamu mau ikut berenang?”


“Mungkin?”


“Oh, bagaimana dengan mendaki gunung?”


“Mungkin dengan Frans,”


“Oh,”


Duh, tiba tiba aku merasa canggung. Aku harus bertanya apa lagi?


Ketika aku sedang mengigit bibirku dan memainkan kedua kuku jemariku sambil berpikir keras tentang apa yang harus kusampaikan lagi, William menoleh melihatku lalu bertanya,“apakah kamu mau ikut mendaki… besok?”


Aku agak terkejut, bukan karena masalah daki mendaki itu namun… bukankah ini artinya kekesalan William sudah meredam bukan? Dia sudah berbicara denganku! Tatapannya juga sudah datar


Lalu hal selanjutnya yang membuatku risau adalah melihatnya tersenyum. Dia tersenyum padaku setelah beberapa hari bersikap seperti orang asing. Oh, serius. Itu adalah senyum yang paling membuatku lega


Aku menemukan diriku sudah menganggukkan kepalaku, menerima ajakannya untuk mendaki padahal aku paling membenci jenis olahraga yang satu itu. Argh, aku ingin meluruskan hal itu namun William pasti akan marah lagi bukan nanti? Duh! Aku dan kebodohanku!