
Kami bergabung setelah William selesai mencuci wajah dan tangannya. Makan malam kali ini terasa hangat. Kedua orang tua William juga tidak berhenti bercerita baik mengenai hal remeh hingga dunia pekerjaan mereka. Tidak terasa kami telah menghabiskan waktu berjam-jam
William mempersilahkanku untuk mandi terlebih dahulu setelah kami sampai di rumah sementara ia melanjutkan pekerjaan urgent menurutnya. Aku menguap tidak berhenti sesaat setelah selesai keramas dan memastikan anak anak tidak terganggu dalam tidurnya. Kulirik jam dinding yang menunjukkan pukul satu dini hari. Astaga. Rupanya hari sudah benar benar gelap!
“Masih kerja?” tanyaku menghampirinya
William kelihatan agak terkejut. Dia berdeham beberapa kali setelah melarikan tatapannya dari layar laptop
“Sudah selesai? Kok cepat?” tanyanya
“Kupikir sudah hampir setengah jam? Aku berencana untuk mengeringkan rambutku sebelum tidur,”
“Oke,”
“Kamu tidak berencana untuk mandi?”
“Mau tapi mungkin sebentar lagi,”
“Ini sudah jam satu dini hari,Liam. Cepat mandi dulu. Nanti kamu masuk angin,lho,”
“Sebentar lagi. Ini masih agak urgent dan..,”
“Tidak, cepat mandi. Kamu kan owner nya kan? Dan apakah karyawan kamu lupa di Indonesia lagi pukul berapa? Huh?”
Tatapan tajamku berhasil menggoyahkannya. Ia berjalan pergi setelah menolak berkali kali. Aku menggelengkan kepalaku sambil menghembuskan napas berkali kali. Sebenarnya aku berencana untuk mengeringkan rambutku namun suara notifikasi dari layar laptop William benar benar mengangguku. Notifikasi tersebut tidak berhenti seperti pesan bombardir
Aku mencoba untuk tidak memerdulikan itu dengan menyisir rambutku di depan kaca namunn… astaga! Jiwa kepoku tidak musnah. Aku berjalan mendekat, memutuskan untuk mungkin menutup layar laptopnya agar setidaknya William bisa beristirahat dulu. Kami hampir tidak beristirahat sama sekali selama beberapa hari terakhir
Sebuah pesan email terus menerus muncul di layar laptop. Semula aku tidak berniat mengintipnya namun intensenya suara tersebut membuatku akhirnya memberanikan diri untuk menunduk, mengintip sedikit ke layar laptop tersebut
Dari Laura
Aku menyergit. Laura? Dari korporasi mana ya?
Pesan selanjutnya memenuhi sisi bawah layar. Lalu aku disuguhkan dengan pesan tersebut. Notifikasi itu cepat, hanya kurang dari satu menit, namun aku yakin aku masih belum serabun itu untuk mengerti maksud pesan tersebut, atau aku mungkin tidak setolol itu sampai tidak mengerti bahasa yang disampaikan tersebut
Pertanyaannya adalah… tidak, ini bukan pertanyaan, melainkan aku yang mematung selama beberapa detik. Jantungku bak berhenti berdegup. Aku dengan segudang pikiran dan prasangka itu mulai mengencamku kembali. Lalu aku tidak tahu mengapa aku bergegas menyalakan pengering rambut setelah mendengar suara air di kamar mandi berhenti. Aku tidak tahu mengapa aku bersikap seperti ini. Jujur, aku masih binggung bagaimana menyikapi hal ini
Pintu kamar mandi terbuka
William dengan rambut acak-acakannya tersenyum manis padaku. Dia berjalan mendekatiku lalu mengecup pipiku sebelum dia kemudian kembali duduk ke kursi mejanya, meninggalkanku dengan kedua mata berkedip, masih mencoba untuk menelaah penglihatanku baru saja
Ini… pasti salah kan? Ini … pasti hanya salah paham kan?
Tapi…
Aku memejamkan kedua mataku sambil menahan napas kuat karena aku tidak dapat mengenyahkan ingatan itu
From Laura,
I’m going to visit JKT in the next few weeks. Just miss you too much! See you soon, my prince. XoXo. Love you!
***
Laura?
Siapa itu Laura? Mengapa aku tidak pernah mengenal wanita bernama Laura sebelumnya? Meski William cukup agresif beberapa tahun belakangan namun seagaknya aku mengetahui sedikit nama atau gambaran tentang wanita di sekelilingnya. Namun kali ini aku benar benar tidak tahu. Apakah wanita itu adalah wanita yang Ia temui di Brunei akhir akhir ini? Atau mungkin London? Vietnam?
Fiuh
Pertanyaan itu benar benar mengangguku meski aku sudah berusaha menenangkan diriku berkali-kali. Ingat, kami baru berbaikkan beberapa hari lalu. Aku tidak mau hubungan ini menjadi hancur lagi hanya karena pikiran posesifku
Aku menghembuskan napas kesal setelah alarm ponselku berdering. Hari telah menunjukkan pukul lima pagi namun aku tidak berhasil terlelap sedetikpun. Aku mencoba melakukan rutinitas tanpa berpikir macam-macam. Sungguh. Tapi.. duh! Aku malah menemukan diriku menyentuh ceret yang masih sangat panas. Huft, semua ini karena pikiranku mulai berkecambah kemana-mana. Alhasil, jemariku memerah. Aku menggerutu kesal sambil membuka kran air untuk membasahi jemariku yang memerah. Sumpah, aku sudah berusaha maksimal untuk mengenyahkan pikiran itu namun aku.. tidak bisa. Itu sangat menganggu! Kupikir ini tidak bisa dibiarkan? Oke! Benar! Demi kebaikan hati dan hariku, bukankah sebaiknya aku sedikit mencari tahu?
Aku mencoba untuk tidak menunjukkan isi pikiranku sesaat setelah William bangun. Dia kelihatan agak terburu-buru. Aku berjalan mendekatinya yang telah selesai mandi
“Kenapa? Kok kamu kelihatan sedang sangat terburu-buru?” tanyaku
William mengangguk. Ia menyerahkan satu buah dasi padaku, memintaku untuk memakaikan itu padanya setelah ia memakai pakaiannya hanya dalam semenit. Tangannya yang lain sedang memasang jam tangan. Oh For Godshake! Beruntung aku tahu bagaimana cara memakaikan dasi pria. Aku bisa saja mempermalukan diriku kalau aku bilang aku tidak pernah melakukannya bukan?
William menjawab,“Aku baru mendapat pesan dari Jessica mengenai meeting dadakan setengah jam lagi,”
“Meeting dadakan?”
“Benar. Kami sedang ada satu project penting. Sebenarnya meeting tersebut akan dilakukan minggu depan tapi ada sedikit urgency dari supplier sehingga mempercepat meeting,”
Aku mengangguk tanpa melepaskan fokusku memakaikan dasi padanya. Aku baru dapat menghembuskan napas lega setelah berhasil memakaikannya dengan sempurna
“Jadi kamu tidak akan sarapan?” tanyaku berjalan mengikuti langkahnya yang cukup tergesa-gesa
William menghentikan langkahnya. Raut wajahnya agak bersalah. Dia menjawab,“sepertinya tidak sempat lagi. Sorry,”
“Meski segelas susu sekalipun?”
“Sorry, aku .. sepertinya sudah sangat telat,”
Aku tersenyum sambil mengangguk meski sebenarnya aku merasa agak kecewa. Fiuh, mungkin saja dia lupa kalau aku sudah mempersiapakan sarapan spesial baginya sejak jam lima tadi. Dia agak melangkah mendekat lalu memelukku selama beberapa detik sambil berbisik,“aku akan pulang lebih awal hari ini. Bagaimana dengan makan malam di luar?”
“Aku sudah membeli bahan makanan untuk malam ini,”
“Oke. So.. see you later?”
Aku mengangguk. Ia mencium puncak kepalaku lalu bergegas pergi
Pintu telah tertutup sebelum aku berhasil memberinya satu kecupan di pipi
***