Fool Again

Fool Again
Sepucuk Surat



William terbangun dengan kepala yang berat. Ia menyergit menatap atap kamarnya. Tatapannya kemudian menelusuri penjuru kamar. Eh, dia telah berada dikamarnya? Hem, bukankah terakhir dia berada di pantry?


Ah!


William meringis sakit pada kepalanya sambil bangkit berdiri. Ia melirik jam dinding yang telah menunjukkan pukul satu siang. Em, beruntung ia telah mengambil waktu cuti 1 hari. Sebenarnya ia baru berpikir akan sharing ke Kattie mengenai promosinya ke London. Ia ingin mendengar pendapat Kattie terkait ide itu namun ia tidak menemukan Kattie di rumah. Kemana dia?


William memutuskan untuk meminum dua gelas air hangat sebelum mencari ponselnya menghubungi Kattie. Ah, ia baru ingat kalau dia tidak berpapasan dengan Kattie semalaman.


William menyergit karena tidak dapat terhubung dengan nomor Kattie. Firasatnya memburuk. Jangan bilang sesuatu yang buruk telah terjadi,huh? Tunggu. Apakah mungkin Kattie sedang berada di rumah orang tuanya? Mengapa dia tidak memberitahunya?


Hm, oke oke, bukankah sebaiknya William bersiap-siap menjemput mereka?


William bergegas mandi. Air hangat tersebut seagaknya berhasil menyegarkan tubuh dan pikirannya. Ia hendak mengambil baju dari lemari namun ada sesuatu yang aneh. Mengapa rak lemarinya terasa cukup kosong? Butuh waktu sepuluh menit hingga Anton benar benar menyadari bahwa tidak ada satu helai pun pakaian Kattie di dalam lemari. Ia menyergit sambil mengucek kedua matanya. Apakah ia salah melihat? Aduh! Firasatnya memburuk! Ia bergegas berjalan menuju kamar Camilla. Meski Ia mulai berpikir yang tidak tidak namun Ia terus berharap dan berpikir positive bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi. Tangannya agak mendingin sesaat sebelum menyentuh kenop pintu. Huft, oke oke. Ini bukan masalah esar, oke?


William membuka pintu kamar Camilla namun tidak menemukan satu helai pakaian Camilla pun disana


Oh tidak. Jangan bilang Kattie….


William memijit pelipis kepalanya yang berat. Ia menghembuskan napas kesal sambil mencoba berpikir dengan baik. Kattie dan Camilla tidak mungkin berlibur tanpanya bukan? Jadi mengapa mereka mengosongkan pakaian mereka?


William menyergit ketika menemukan sepucuk surat diatas meja. Bukankah ini tulisan tangan Kattie? Well, William tahu persis ini merupakan tulisan Kattie. Sudah berapa lama sih mereka mengenal satu sama lain? Puluhan tahun mungkin?


Firasat William memburuk ketika menemukan dompet dan kunci mobil disebelah sepucuk surat tersebut. Ia ragu namun ia memberanikan diri membaca sepucuk surat itu. Tubuhnya melemas seketika. Sorot matanya melas dan Ia tidak berhenti mengacak rambutnya dengan frustasi sambil memejamkan matanya


***


Feeling weird to write this letter for you.


Untuk kamu?


I heard everthing yesterday. Mm, no worries. Aku tidak marah, sungguh


Aku hanya... kecewa. To be honest, ini bukan kesalahanmu juga


Aku ingin meminta maaf atas segala yang terjadi padamu dan… kita.


Oh iya, apakah kamu ingat janjimu waktu itu? You said you want to grant whatever my wish.


Then, ini adalah wish-ku. Aku tidak berpikir kita bisa serumah lagi. Jadi aku memutuskan pergi


Tolong, jangan mencari kami dulu. Aku akan mencari waktu membawa Camilla berkunjung nanti


Anyway, mari kita hentikan kesepakatan 3 bulan itu.


Cinta tidak bisa dipelajarin,William.


Kamu tidak butuh alasan mencintai seseorang. Kuharap kamu mengerti.  


Jangankan tiga bulan, sepuluh tahun pun tidak akan pernah efektif untuk kita berdua.


Ini mungkin akan menjadi salam perpisahan terakhir kita… Goodbye William.


***