
Mama bergegas memanggil papa sesaat setelah kami menginjakkan kaki ke dalam rumah. Ah, jika tahu begini, seharusnya aku bersikeras membantu mama membuang sampah. Siapa tahu William akan datang ke rumah orang tuaku? Huh!
William bergegas mencium pergelangan tangan papa dan mama dengan sopan sebelum kami duduk di sofa. Sorot mata William kelihatan begitu tenang hingga membuatku kesal. Huh, apakah dia tidak takut jika kedua orang tuaku akan mengomelinya? Well, meskipun aku yakin itu tidak akan terjadi. Papa dan mama sudah menganggap William seperti anak kandung mereka. Mereka sangat menyayangi William. Plus, William dan aku baru terlibat perdebatan ringan namun lihat bagaimana tenangnya raut wajahnya. Ia benar-benar ahli dalam menyembunyikan raut wajah dan perasannya. Itu membuatku semakin kesal. Huh!
“William, mama senang banget bisa ketemu kamu lagi. Kamu akan ikut makan malam hari ini kan?” tanya mama antusias
William melirikku yang segera kuberikan singnal untuk menolak permintaan mama namun tanpa terduga ia malah mengangguk dengan antusias sambil menjawab,“Pasti,ma. William juga sudah kangen banget dengan masakan mama,”
“Mama masak steak kesukaan kamu. Kalau bisa, kamu juga boleh kok ikut dinner besok dan besoknya lagi. Setiap hari juga ngga pa-pa. Mama bisa masakin kalian makanan enak tiap hari,” lanjut mama membuat William tersenyum tipis. Ia melirikku kembali yang membuatku memalingkan wajahku dengan refleks
“Bagaimana kabar kamu,William?” tanya papa
“Baik,pa. Sebenarnya William kemari untuk meminta maaf dengan papa dan mama,” balas William. Ia melanjutkannya beberapa detik kemudian,“maaf sudah membuat papa dan mama khawatir. Ada beberapa kesalahpahaman dan tidak sependapat antara William dan Kattie. Jadi, William memberi waktu bagi Kattie untuk sendiri. William harap papa dan mama dapat mengerti. Sekali lagi William minta maaf atas ketidaknyamanannya,”
Oh, dasar si well spoken. Aku tidak mengerti mengapa beberapa kalimat itu dapat membuat papa dan mama tersenyum semuringah seperti itu. Mereka kelihatan jauh lebih rileks dan bahagia seolah bongkahan batu yang menimpa bahu mereka telah bebas. Fiuhh, ini mengartikan bahwa setiap patah kata William benar benar dapat mengubah mood kedua orang tuaku. Aku sedih dengan kenyataan hubungan palsuku dengan William meski.. aku tidak dapat menutup kemungkinan bahwa aku merasa cukup bahagia dan lega melihat kedua orang tuaku akhirnya dapat tersenyum bahagia seperti ini. Aku egois bukan? Huh, kapan terakhir aku melihat mereka tersenyum seperti ini?
“Ah, ngga pa-pa,nak. Namanya juga suami istri. Kadang kala pasti dapat berbeda pendapat. Papa dan mama kadang kadang juga masih seperti itu,” balas papa tidak dapat menyembunyikan senyum bahagianya sementara itu mama menatapku dengan tatapan itu. Oh baiklah. Aku tahu arti tatapan itu. Mama kelihatan akan menceramahiku mengenai dunia rumah tangga lagi
“Kattie, kamu juga tidak seharusnya meninggalkan rumah kamu seperti itu. Semua persoalan rumah tangga dapat dibicarakan dengan baik baik. Lihat bagaimana kurusnya William sekarang. Dia pasti stress karena ditinggal kamu dan Camilla,” ceramah mama membuatku menatapnya dengan tatapan frustasi. Huh, ini tidak adil. Apakah mama tidak melihat diriku? Aku juga mengalami penurunan berat badan meski.. aku sedang hamil saat ini. Huh, kosa kata ‘hamil’ membuatku secara refleks menyentuh perutku dengan hati hati
“Ma, aku juga…,”
Mama mengalihkan tatapannya dariku. Ia kemudian kembali fokus ke William
“Jadi WIliam mau menjemput Kattie dan Camilla pulang hari ini?” tanya mama antusias… lagi
William tidak langsung menjawab. Aku merasakan tatapannya padaku namun aku berusaha keras untuk tidak melihatnya. William berdeham pelan sebelum menjawab,“William sih maunya seperti itu. Tapi kalau Kattie masih belum siap juga tidak apa-apa,”
“Oh nak. Kattie sudah pasti sangat siap. Mama akan mengemasi barangnya sekarang juga,” ujar mama sambil bangkit berdiri. Ia bergegas berlari ke atas sementara aku mendengus tidak percaya sambil berteriak,“Ma!!”
Papa juga tidak ada bedanya. Ia membutakan mata dan menulikan telinganya. Ia mencoba menghindari kontak mata denganku setiap kali aku mencoba menjelaskan padanya bahwa aku masih belum mau kembali ke rumah William. Bagaimana mungkin aku kembali semudah itu? Maksudku… aku tidak mungkin kembali untuk kemudian pergi lagi bukan? William jugaa tidak benar benar mencintaiku. Aku yakin Ia akan mempermainkanku lagi. Aku tidak mau itu terjadi lagi. Aku… masih belum siap lagi. Huh
“Pa, Kattie masih belum mau untuk…,”
Papa mengabaikanku lagi. Ia kemudian mulai terlibat pembicaraan dengan William. Bagus. Aku tidak dianggap di rumah orang tuaku sendiri. Aku melirik William yang mengedipkan sebelah matanya padaku. Huh! Keseeell!
Aku baru berencana bergabung ke atas dengan mama untuk membujuknya tidak memaksaku kembali ke rumah William ketika aku mendengar papa mulai membahas mengenai pekerjaan imajinasiku. Oh gawat..! kakiku yang baru menginjak tepi tangga pun berhenti secara mendadak
“Lah, kenapa William terkejut? William tidak tahu Kattie sudah bekerja?” tanya papa sambil menatap kami bergantian. Ia kemudian menatapku sambil mencoba mengingat-ingat nama perusahaan dimana aku bekerja,“Kattie, nama perusahaan kamu bekerja kemarin itu apa ya? Papa sudah lupa,”
Oh, aku dan ketololanku
Camilla menangis!
Kulirik jam dinding yang hampir menunjukkan pukul delapan pagi. Ah, sepertinya Camilla sudah bangun. Aku bergegas naik ke lantai dua untuk menenangkan Camilla. Namun sebelum tanganku meraih Camilla, sepasang tangan familiar lainnya mendahuluiku. Ajaibnya, tangis Camilla berhenti dan ketika aku memutar kepalaku menghadap pemilik tangan tersebut, aku mendapati William lah tersangkanya. Camilla menyandarkan kepalanya di bahu ayahnya sementara William menatap putrinya dengan tatapan yang membuat hatiku menghangat
Sedetik… sedetik aku merasa bahagia dan terharu. Lihat siapa yang mengendong Camilla? Bahkan aku tidak pernah menyangkan William akan melakukannya. Ia dengan tangan kekarnya kelihatan begitu pas menggendong Camilla. Tatapan itu membuat kedua mataku berkaca-kaca dengan refleks. Aku bergegas menyeka air mataku ketika kedua pasang mata kami beradu
“I missed her so much…,” gumam William sambil menyunggingkan senyum tipis. Senyum itu kelihatan begitu lemah dan rapuh. Aku bersumpah aku merasa nada suara William sedikit berbeda. Ia seperti sedang menahan tangis
Sial. Aku tidak dapat berhentimerasa seperti Ibu jahat yang memisahkan anak dengan ayah kandungnya sendiri. Aku mengigit bibirku, berusaha menguatkan diriku sendiri bahwa aku tidak boleh menyesalinya. Bagaimanapun keputusan yang kubuat waktu itu adalah keputusan terbaik yang dapat kulakukan…waktu itu
Aku memutuskan tatapan diantara kami setelah itu. Entahlah. Di satu sisi, aku takut menangis. Namun disisi lain, aku merasa bersalah. Aku menghembuskan napas pelan kemudian memutuskan untuk memberi waktu bagi William untuk menikmati waktu berdua dengan putrinya sendiri sebelum kemudian aku mendapati mama berjalan menghampiri kami dengan langkah lebar dan kedua mata berkaca-kaca
“Mama?”
Mama menunjukkan selembaran kertas yang keliatan begitu familiar bagiku. Aku menyergit. Tunggu. Kertas itu kelihatan begitu familiar. Tapi dimana aku pernah melihatnya?
“Kattie… kamu…,”
Mama mengerjap berkali kali dengan tidak percaya. Tatapannya jatuh pada perutku. Oh ****! Aku baru sadar itu adalah surat keterangan Rumah Sakit Ibu dan Anak yang menyatakan aku tengah hamil lima minggu
Aku melirik William yang masih kelihatan sibuk dengan Camilla. Bagus. Ia masih tidak menyadari keberadaan mama. Aku bergegas menarik pergelangan tangan mama dan membawanya keluar dari kamar
Aku mengigit bibirku resah sambil memastikan aku telah benar benar menutup pintu kamar serapat-rapatnya
“Jangan bilang kamu mau merahasiakan kehamilanmu pada William lagi?” tanya mama curiga. Ia menyipitkan matanya. Sorot matanya menunjukkan ketidaksetujuan yang luar biasa. Huh, aku lupa bahwa aku juga pernah menyembunyikan kehamilan pertamaku pada William dulu. Entahlah. Aku seperti kembali merasakan fase dimana ketakutan, kekhawatiran dan ketidakjelasan itu kembali terjadi. Aku tidak akan luput dari pemikiran seperti…
Apakah William akan bahagia dengan kehamilanku?
Apakah William akan menyayanginya?
Atau akankah dia memintaku mengugurkannya?
Bagaimana jika… aku tidak dapat melakukan **** dengannya selama aku hamil? Apakah dia akan mencari wanita lain? Bagaimana jika wanita lain itu hamil?
Akankah William menceraikanku? Akankah dia menjauhiku?
Dan… apakah aku dapat menerima anak ini dengan bahagia?