Fool Again

Fool Again
Hubungan yang.. Profesional



Kami sampai di rumah tidak lama kemudian. Kupikir William akan pergi ke club lagi namun ia malah ikut turun dari mobil. Aduh, ini berbahaya. Padahal aku butuh ruang untuk menangis. Kenapa sih dengan William? Ini benar benar mengesalkan


Aku mempercepat langkahku. Aku berniat untuk ke kamar dan mengunci diriku disana namun ia telah menarik pergelanglan tanganku


"Kita belum bicara." Ucapnya


Aku membalas,“Tidak ada yang perlu kita bicarakan,"


"Kita tidak sedang bercanda,Kattie,"


William menekankan setiap patah katanya dan itu membuatku semakin kesal. Aku mengangat daguku tinggi sambil membalas,"Aku juga tidak sedang bercanda."


"Apa yang dikatakan wanita wanita disana?"


Geeezzz! Kenapa sih William selalu mahir mengetahui semua alasan atas sikapku? Ini benar benar menjengkelkan!


"Nggak penting. Udah deh. Aku mau tidur. Capek."


Aku mencoba menghindari William lagi namun gagal sepenuhnya. Ia mengeratkan cengkramannya. Ia


juga sedikit menunduk hingga kedua pasang mata kami beradu. Jujur, William kelihatan mengintimidasi kali ini namun aku dengan sakit hati ini tidak terpengaruh atas tatapan itu. Hatiku hancur namun ia sepertinya tidak akan


pernah mengerti


Aku menghembuskan napas kesal karena William terus memaksaku mengungkapkan alasan sikap dinginku


"Apakah itu penting?" tanyaku dengan kedua mata berkaca-kaca


"Itu penting, tentu saja,Kat."


William mengendurkan cengkramannya begitu melihat kedua mataku berkaca-kaca. Mungkin ia merasa bersalah atau semacamnya. Aku tidak tahu dan.. aku tidak ingin mengetahuinya lagi. Ingat, laki laki didepanmu ini adalah laki laki yang mempermainkan perasaanmu dan ingin menceraikanmu. Ironis


“Lebih penting dari duniamu disana?”


William menyergit


“Kamu marah karena aku meninggalkanmu disana tadi?”


Aku tidak menjawab. William kemudian mengengam tanganku sambil melanjut,“Oke! Aku minta maaf, oke? Aku hanya…,”


“Apakah ini adalah refreshing yang kamu maksud? Dengan membawaku kesana?”


“Kenapa? Kamu tidak complain tadi waktu aku memberitahumu mau kesana. Kamu oke oke saja,”


“Kamu bilang kamu tidak mau ada laki laki lain melihatku. Tapi, kenapa kamu bahkan tidak marah ketika aku memakai dress seksi ini?”


“Aku hanya menghargai keputusanmu,Kat. Oh God! Jadi kamu marah karena itu?”


Aku menyeka air mataku yang jatuh dengan kesal. Sial. Kenapa aku terus menangis sih?


“Kamu menghargai keputusanku atau memang karena kamu ingin mempermainkanku semakin jauh? Kamu mau mempermainkan perasaanku sampai sedalam apa sih,William?” tanyaku sambil menepis tangannya. Aku kemudian melanjut,“Kamu tahu aku berpakaian seksi karena apa kan? Aku tidak ingin kalah dengan teman-teman wanitamu tapi kamu malah meninggalkanku sendirian disana. Lalu tiba tiba kamu bersikap seperti pahlawan menolongku saat ada laki laki lain menggodaku. Kamu ini sebenarnya apa,William? Topeng apa yang


sedang kamu pakai saat ini?”


William mengacak rambutnya pelan. Ia terus bergumam meminta maaf namun aku yakin ia sebenarnya tidak tahu mengapa aku menangis


“Aku minta maaf,oke? Please jangan menangis lagi dan…,”


“Aku akan memaafkanmu setelah kamu menjawab pertanyaanku dengan jujur. Kamu bisa?”


Aku menyeka air mataku sambil menarik napas kuat. Aku tidak boleh menangis lagi, oke?!


William mengangguk. Aku berdeham pelan sambil mencoba menenangkan sedikit perasaanku. Aku tahu aku tidak dapat kembali lagi setelah aku menanyakan ini namun aku harus menanyakannya. Aku harus!


“Kenapa kamu membawaku kesana?”


“Refreshing, tentu saja.”


William menyergit. Sikapnya yang pura pura bodoh itu benar benar membuatku kesal setengah mati. Aku kemudian melanjut,“Mau sampai kapan kamu berpura-pura tidak mengetahui perasaanku?”


William kelihatan terkejut. Ia membalas,“Apakah itu yang dikatakan mereka?”


“Jawab aku,William. Hanya jawab itu!”


William tidak dapat menjawabnya. Huh, ia hanya dapat mengangguk dengan pasrah


“Apakah benar… kamu menikahiku karena… Yuriska memintamu seperti itu? Lalu karena kamu tahu aku mencintaimu juga?”


Bagus. Pertanyaan kedua juga tidak dapat dijawab William. Artinya, itu benar. Aku tersenyum lirih sambil mengigit bibirku keras. Aku tidak boleh menangis. Oke? Aku harus menahannya


“Apakah… kamu sedikitnya saja sudah mencintaiku saat ini?”


Kali ini, meski William tidak menjawab namun bukan berarti ia mencintaiku. Ia tidak dapat membawa dirinya mengakui bahwa ia tidak mencintaiku. Ini membuatku tertawa getir. Aku kemudian menarik satu


kesimpulan dengan berkata,“Jadi selama ini… kamu hanya melukaiku bukan? Dengan berhubungan badan denganmu, memberikanku harapan palsu dan bahkan.. hamil. Apakah kamu benar benar sungguh membenciku


sampai begitu?”


“Tidak! Kat, kamu salah paham. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya…,”


“Aku.. tidak sengaja mencintaimu, William. Aku juga tidak ingin menyimpan perasaan pada laki laki brengsek sepertimu! Tapi, kamu tahu tidak semudah itu untuk melupakannya,”


William mencoba mengambil satu langkah mendekat namun aku mengambil dua langkah mundur karena itu. Aku menggelengkan kepalaku sambil menyeka sudut mataku berkali kali. Sial. Aku tidak sadar aku telah terisak dari tadi. Aku tahu aku kelihatan menyedihkan namun aku tidak dapat mengontrolnya sama sekali


“Ini tidak seperti yang kamu kira. Aku hanya…,”


“Apakah melukaiku dapat memberimu kebahagiaan? Apakah..kamu bahkan tidak ada sedikit rasa kasihan padaku sebagai mantan sahabatmu barang kali?”


“Kat, kamu itu istri dan sahabatku. Oke? Please jangan berpikir yang macam macam. Kita…,”


“Istri? Sahabat? Huh? Apakah kamu menikahiku karena cinta? Apakah ada sahabat yang bisa ditidurin? Ah, ada. Itu adalah aku. Lalu setelah itu, apa yang akan kamu lakukan? Kenapa kamu terus mendesakku


untuk hamil kedua padahal kamu ingin bercerai denganku?”


William mengacak rambutnya dengan frustasi. Ia kemudian membalas,“Kat, bisa kamu berpikir positive? Kamu tidak seperti itu di mataku. Kamu adalah wanita yang terbaik yang pernah ada dalam hidupku dan..,”


“Bohong…!”


“Kamu adalah ibu dari anakku,”


Aku menyelipkan rambutku di anak telinga. Kali ini, William telah benar benar mengendurkan cengkramannya. Aku mengambil kesempatan itu untuk mengambil lima langkah menjauh. Jujur, melihat William saat ini saja


benar benar membuatku sesak. Aku mungkin tidak akan dapat melihatnya lagi, setidaknya untuk sementara waktu


Baik William dan aku tidak bersuara setelah itu. William sepertnya khawatir jika satu kata darinya saja dapat membuatku menggila. Aku kemudian menghembuskan napas kuat setelah merasa sedikit lebih baik. Oke, sedikit lebih baik disini artinya adalah aku benar benar sudah dapat menahan air mataku dihadapan William meski aku yakin kedua mataku telah membengkak


“Sorry. Aku terlalu over. Aku sadar seharusnya hubungan professional ini tidak boleh dicampur dengan perasaanku. Aku minta maaf. Jadi, tolong lupakan percakapan kita tadi,” ucapku


William mendengus tidak percaya. Mungkin ia tidak menyangka aku akan berkata seperti itu


“Hubungan profesional? Memangnya kita itu apa? Kat, aku tidak bisa melupakannya. Jadi, please, kumohon jangan terlalu terbawa perasaan dengan perkataan mereka dan…,”


“Selamat malam,William,”


Aku menyela pembicaraan William dengan tegas sebelum akhirnya benar benar meninggalkan William seorang diri. Aku langsung mengunci diriku di dalam kamar Camilla. Tidak lupa aku menyalakan shower agar


tangisku tersamarkan. Dadaku naik turun. Aku benar benar menangis hebat. Gila. Ini benar benar gila. Aku hanya dapat duduk termangu di kamar mandi sambil memeluk diriku dengan kedua mata yang tidak berhenti mengeluarkan bulir air mata


Aku menangis.. dan ia bahkan tidak berniat untuk membujukku


Benar. Aku harus tetap menjaga hubungan profesional ini, setidaknya sampai ia benar benar menceraikanku.