
William tengah menidurkan Camilla sewaktu aku kembali ke rumah. Ia mengangkat sebelah tangannya ke udara, memintaku untuk tidak mengeluarkan suara apapun begitu kedua pasang mata kami bertemu. Aku melirik Camilla dibalik dada bidang William. Ah, rupanya Camilla sudah tidur. Geez, aku lupa aku sudah melewatkan waktu beberapa hari untuk menidurkan Camilla. Aku memejamkan mataku pasrah
“Hey, are you okay?” tanya William sambil menepuk ringan bahuku
Aku mengikuti William meletakkan Camilla ke kasur dengan hati hati. Ia mencium pipi tembem Camilla sebelum menatapku dengan sebelah alis terangkat. Meski William tidak menanyakannya secara langsung namun aku tahu Ia ingin aku menjelaskan mengapa aku pulang begitu larut hari ini
Aku berdeham pelan lalu berkata,
“Aku ketemu dengan teman lama tadi. Maaf aku tidak sempat menghubungimu,”
“Well, at least kamu meminta maaf,”
“Aku janji aku akan fokus menjaga Camilla mulai malam ini. Maaf kalau aku…,”
William menyergit. Ia bergegas menggelengkan kepalanya, seolah tidak ingin aku salah menafsirkan segalanya
“Kenapa kamu minta maaf atas hal itu? Aku tidak marah. Aku bahagia bisa turut menjaga Camilla,”
“Tapi aku sudah mengabaikannya secara tidak disengaja selama beberapa hari. Aku membiarkanmu menjemputnya sendirian. Seharusnya kita menjemputnya bersama,”
William bersikeras mengatakan Ia tidak mempermasalahkannya meski aku merasa kecewa pada diriku sendiri atas itu. Aku menarik pergelangan tangan William keluar dari kamar utama. Aku tidak ingin Camilla terbangun karena mendengar suara William dan aku
“Kamu sudah makan?” tanya William
“Iya. Kupikir aku akan mandi dan beristirahat sekarang,” jawabku ringan
William membasahi bibirnya sambil mengusap lehernya. Ia kelihatan gelisah. Aku mengulum bibirku, mencoba menebak isi pikiran William. Apa yang dipikirkannya? Mengapa ia kelihatan gelisah sekali?
“Ada apa,Will…,”
“Teman lama yang kamu maksud itu… bukan laki laki kan?”
William menimpaliku dengan pertanyaan yang membuatku tertawa kecil. Jadi, dia gelisah karena ingin menanyakan hal itu dari tadi? Eumm, bagaimana kalau aku menambah sedikit kegelisahannya? Ha ha ha
“Kenapa?” balasku membuat William nervous akut. Ia menggaruk kepalanya sambil membalas,“Em, aku hanya penasaran. Mungkin teman lama kamu adalah teman lamaku juga. Kita bisa meet up bareng bukan?”
Aku berpura-pura berpikir keras
“Kupikir akan ada alumni Ajaya School,”
“Ajaya School? Sekolahnya mantan first love kamu?!”
“Hey, tidak ada kata mantan dalam first love,”
“Oh well, tidak ada yang namanya happy ending dengan first love,”
“Ada yang happy ending kok dengan first love mereka. Dan yang perlu digarisbawahi, kebanyakan first love selalu dalam ingatan,”
“Oh, what a myth! Ini bukan masalah first love tapi dengan siapa kamu bakal bahagia,”
Aku tertawa kecil melihat William yang kelihatan cukup terganggu dengan kosa kata ‘first love’. Sementara itu William menghembuskan napas pelan. Ia mungkin heran mengapa aku masih bisa tertawa. Tiba tiba kosa kata ‘cemburu’ terlintas dalam benakku. Oh Goshhh.. ini adalah timming yang pas. Aku mencoba memberanikan diriku
Kulipat tanganku di dada lalu bertanya,“apakah kamu…cemburu?”
William tidak langsung menjawabku namun ia tidak memutuskan tatapannya denganku. Tatapannya yang intens membuatku hampir ketahuan sedang menahan napas. Oh, ini tidak baik. Aku baru akan memutuskan untuk meminta William melupakan pertanyaanku ketika Ia menjawab,“Kind of…, to be honest,”
Aku cukup speechless hingga tidak berkutik selama beberapa detik. Aksiku membuat kami berdua blushing tanpa kami sadari
Krik .. krik… suasana diantara kami tiba tiba canggung. Baik William maupun aku tidak tahu harus meresponse seperti apa. Mungkin karena ini ‘pertama’ kalinya ia mengungkapkan perasaannya atau… entahlah. Aku berdeham pelan sambil memutar kepalaku, mencoba mencari topik untuk memecahkan kecanggungan ini
“Em…, aku lupa bilang, aku berencana untuk resign dari kantormu,” ujarku mendadak membuat William tertegun. Aku melanjut sebelum ia bertanya,“Aku tidak mau ketinggalan golden time nya Camilla. Setelah meninggalkannya beberapa hari, aku malah menemukan diriku menyesali keputusan ini. As you know.. she’s my everything,”
“She is our everything,” koreksi William membuatku menahan senyum
“Selain itu, aku juga sudah mendapat garis besar atas dunia kerjamu. You’re quite popular and good. Namun.. aku kemudian menyadari aku tidak perlu harus bekerja di kantormu untuk mengenalimu. Kamu dapat menceritakannya padakku. Bukankah itu yang dilakukan couple pada umumnya?” lanjutku dibalas William dengan tatapan khawatir
Ia bertanya dengan nada suara super hati hati
“Kamu yakin? Kamu… tidak berencana untuk kabur lagi kan?”
Aku tertawa kecil,“Kenapa aku harus kabur saat aku sudah berhasil membuatmu cemburu?”
William merona lagi dan itu membuatku senang. Aku mengulum senyum sambil mengambil dua langkah mendekat, yang membuat jarak diantara kami menjadi begitu dekat. Aku perlu mengangkat daguku agar aku dapat melihat wajahnya. Gadis batinku berteriak ketika aku merasakan kedekatan ini. Napasnya menyapu sekujur wajahku yang kian memanas
“Apakah ini artinya kamu sudah mulai mempercayaiku kembali?” tanya William hati hati
Aku mengangkat bahuku. Entahlah. Aku ingin menjawabnya namun aku menemukan diriku bahkan sulit untuk membuka mulutku. Aku mendapati diriku sulit mengontrol perasaanku sendiri. Aku tidak dapat berhenti memperhatikan William. Garis bibirnya yang tipis membuat jantungku berdebar. Tatapannya yang hangat serta alisnya yang hitam membuat gadis batinku berteriak heboh. Hidungnya yang mancung membuatku ingin mencubitnya. Oh. Aku tidak tahu apakah aku yang agresif atau William yang menarik tubuhku agar kedua tubuh kami menempel. Aku hanya menyadarinya sesaat setelah sebelah tanganku menempel pada punggungnya. Sebelah tanganku yang lain menyentuh jantungnya yang oh… rupanya berdegup begitu kencang
“Ini adalah jawabanku atas pertanyaanmu…,” bisikku sebelum kemudian aku berjinjit untuk menempelkan bibirku ke bibirnya. Bibirnya yang lembut serta aroma mint yang paling kurindukan membuatku hampir gila. Aku tidak sadar aku telah mencoba mengeksplore rongga mulutnya dengan begitu agresif. Kini bahkan William telah mengendongku dan menyandarkan tubuhku di dinding. Ciuman kami mulai membara. Aku memejamkan mataku sambil menikmati sentuhan manja William pada beberapa area sensitifku. Oh tidak! Dia masih ingat area sensitiveku. Aku tidak dapat menahan diriku untuk tidak mendesah, yang kemudian pada detik berikutnya dibungkam William dengan ciuman panas
William tengah melepas pakaianku ketika aku mengingat diriku tengah hamil enam minggu. Ini berbahaya! Super dangerous alert! Namun aku tidak merasa seperti dapat menghentikannya. Apalagi ketika aku menemukan betapa ‘liarnya’ William pada detik ini
“Please don’t say you want to stop,Kattie Priscilla,” bisik William sambil mengigit pelan daun telingaku. Ia seolah menyadari pergerakkan tubuhku
Jemarinya menyisir lembut rambutku yang kemudian mulai menuruni leher hingga garis punggungku. Oh..i’m dead… aku mencoba menghentikan William dengan mendorong dada William agar menjauh namun ia jauh lebih kuat dariku. Aku tidak sadar aku telah menghidupkan serigala buas malam ini. Aku tidak seharusnya memulai ciuman itu
Namun aku tidak dapat menghentikan diriku dari nikmati dunia surgawi ini. Aku tidak dapat berhenti mendesah ketika ia mencium bagian tubuhku yang sensitive. Tangan tangannya juga tidak tinggal diam memanjakanku. Oh gila. Ini godaan besar namun aku harus berusaha menyadarkan diriku
Aku mencoba mendorong William sekali lagi
“William, aku…,”
“Oh, please don’t…,”
William mencoba menolak permintaanku. Ia semakin bergeliriya memuaskanku. Aku memejamkan mataku, mencoba sekuat tenaga menahan napsuku sementara godaan itu semakin berat
“Kamu tahu aku tidak akan bisa berhenti lagi untuk saat ini,Kattie,” bisik William sensual
Kedua pasang mata kami beradu. Aku bersumpah ia kelihatan begitu seksi. Wajahnya yang merona serta rambutnya yang acak-acakan membuatku berdeyut. Aku menginginkannya
Namun aku memutuskan dengan bulat bahwa there will be no *** selama trimester pertama kehamilanku. Aku mencoba menarik diriku sekuat tenaga hingga akhirnya aku berhasil memberi jarak dua langkah diantara kami. Tatapan William membara. Ia kelihatan tidak ingin menerima alasan apapun yang kuberikan
“Kattie, serius! I want you so badly!” umpat William sambil memejamkan matanya frustasi
Aku tidak tahu apa yang ada dipikiranku. Kedua kakiku melangkah lebih cepat dari akal sehatku. Aku mengambil dua langkah maju lalu menanggalkan pakaian William. Ia kelihatan frustasi dan itu membuatku tidak tega. Dia menahan pergelangan tanganku sambil menggelengkan kepalanya
“Kat, please jangan sentuh aku sekarang kalau kamu…,” William tidak dapat melanjuti perkataannya karena pada detik berikutnya aku mengambil alih memuaskannya secara tidak terduga. Aku mendengarnya mengumpat puluhan kali sebelum kami mengistirahatkan badan kami di kasur. Samar samar aku mendengarnya menggumamkan hal yang membuatku tersenyum bahagia sebelum terlelap
“I’ll completely lost without you,Kat. That’s all you need to know,”