
Percobaan selanjutnya adalah menyisipkan nama Laura Angela dalam pembicaraan kami
Aku sudah mempersiapkan hatiku sejak pagi tadi. Bagaimanapun aku harus mendapatkan jawaban atas kegelisahanku hari ini juga. Aku tidak mau terus menerus gelisah dan khawatir. Akibatnya, aku menjadi terlalu negative thinking dan kurang bisa tidur. Selain itu, aku juga sudah mencoba dua kali log in email William dari ponselku namun aku tetap tidak berhasil menebak kata kuncinya. Aku tidak berani mencobanya untuk ketiga kali. Aku khawatir William akan notice ada orang yang hendak membobol emailnya. Fiuh, Hidupku menjadi sangat tidak tenang. Aku memutuskan untuk masuk ke dalam kamar kami setelah memastikan Camilla dan Issac sudah terlelap
William sedang membaca berita dari ipad nya saat aku berjalan mendekatinya. Dia tersenyum tipis melihatku lalu kembali membaca berita tersebut
“Anak anak sudah tidur?” tanyanya
Aku mengangguk dan membalas,“sudah, kurang lebih lima belas menit,”
Em, apakah aku harus tutup poin? Aduh, aku mulai gelisah lagi. Padahal aku yakin aku sudah memantapkan jiwaku sebelum masuk ke dalam kamar namun mengapa nyaliku menciut setelah berada di dalam kamar?
William yang menyadari kegelisahanku pun menyergit. Ia menutup layar ipadnya lalu menatapku dengan serius
“Kenapa,Kat? Kamu sakit?” tanyanya sambil menempelkan telapak tangannya di keningku
Aku menggelengkan kepalaku dengan refleks. Astaga. Rupanya dia menyadari kegelisahanku.
“Tidak kok. Anyway apakah kamu tahu Christy merencanakan liburan keluarga dalam waktu dekat?”
“Aku mendengar darinya beberapa waktu lalu,”
“Apakah kamu sudah tahu dimana destinasinya?”
“Belum. Dia masih searching. Tunggu, apakah kamu.. tidak mau pergi? Maksudku, apakah karena itu kamu kelihatan gelisah?”
“Hah? Tidak tidak. Aku senang dengan idenya, Itu adalah ide menarik. Sudah cukup lama juga kita satu keluarga tidak liburan,”
“Jadi kenapa kamu kelihatan gelisah? Lihat, bahkan ada bulir bulir keringat disini,”
Aku menyentuh pelipisku yang sedang disentuh William. Fiuh, rupanya aku memang sedang sangat berkeringat. Haduh, please Kattie, yuk kerja sama
Aku memaksa tawa kecil sambil mencoba mengubah topik pembicaraan lain. Aku ingin mempertanyakan tentang Laura menggunakan jalan mulus. Aku tidak mau William curiga
“Mengenai dinasku?” William mengulangi pertanyaanku mengenai kesannya dinas selama satu tahun tanpa berhenti. Aku mengangguk dan melanjut,“Aku hanya penasaran. Kamu tahu, aku baru membaca berita mengenai ritual yang unik di Jepang mengenai.. agama Shinto. Ini agak menarik. Aku membaca beberapa artikel mengenai itu,”
“Agama Shinto?”
“Ya, agama itu lebih mengajarkan manusia untuk lebih menyatu dengan dunia dan alam serta selalu mengingat masa lalu. Ah, selain itu bagi mereka, tahun baru adalah perayaan yang sangat besar,”
“Tahun baru dimana mana juga merupakan perayaan yang besar, sayang,”
“Kamu benar. Em, maksudku mereka akan ke kuil tengah malam untuk membunyikan lonceng yang akan dipukul sebanyak 108 kali. Pemukulan tersebut menjadi tanda jika penghapusan dosa selama setahun terakhir telah dilakukan. Apakah kamu mempercayainya?”
“Semua tergantung dengan kepercayaan masing masing. Yang kupercayai adalah jangan berhenti berbuat baik. Kalau kamu berbuat baik maka tidak perlu melakukan hal hal itu kan? Sebentar, sekarang giliranku bertanya. Kenapa kamu tiba tiba tertarik dengan itu?”
“Aku ingin tahu apakah kamu mungkin pernah kesana? Bukankah saat kamu ke Jepang itu sedang tahun baru?”
“Aku memang kesana tapi aku tidak mengikuti ritual seperti itu,”
Aku mengangguk sambil ber-oh ria, padahal dalam hati aku mulai menjerit. Bagaimana cara aku menyalipkan nama Laura Angela? Fiuh
Lima belas menit hampir berlalu. Aku tidak bisa tidak melakukan apapun selain menemaninya menonton pertandingan bola basket. Akhirnya aku mengeluarkan ponselku lalu mencari nama Laura. Aku sengaja agak menghembuskan napas cukup keras agar dia menyadari kegelisahan yang sengaja kutampilkan kali ini
William melirikku. Bagus. Aku berhasil menarik perhatiannya. Kali ini aku sengaja mengambil satu tarikan napas lebih kuat
Aku membalas,“aku agak kesal mencari akun Laura. Kamu ingat Laura?”
William tidak langsung menjawab namun aku menyadari ada sedikit ketegangan disana. Entah mengapa ini membuatku semakin ingin mencari jawaban atas teka teki ini
“Laura..mana?”
“Laura kawan SMP kita dulu. Kamu lupa?”
“Laura kawan SMP? Apakah ada?”
“Astaga. Kamu lupa? Laura si cewek gigi behel itu?”
Oke, aku sengaja agak hiperbola agar kelihatan menyakinkan meski sebenarnya semua ini adalah tipu muslihat. Aku sengaja menunjukkan tampilan layarku sambil mengklik satu per satu akun tersebut
“Lihat, ini akun private. Ini juga tidak ada profile picture. Next, ini juga private,”
“Kenapa kamu enggak chat dia saja? Kamu tidak ada nomornya?”
“Tidak! Kami berencana mau meet up setelah hampir.. sepuluh tahun mungkin?”
“Yang lain tidak ada nomor … Laura?”
“Iya. Ini sangat membinggungkan. Lihat, apakah ini Laura?”
Aku membuka satu per satu akun tersebut. Mulanya ia kelihatan normal normal saja namun aku merasakan sesuatu yang berbeda setelah tanganku berhenti pada sebuah akun yang tidak dikunci. Akun tersebut adalah akun yang sempat kuabaikan kemarin, dengan jumlah pengikut yang tidak mencapai tiga ratus
Apakah ini adalah wanita itu?
William kelihatan menelan ludahnya beberapa kali sambil melirikku. Aku tidak tahu reaksi apa itu namun yang jelas aku merasa dia kelihatan cukup goyah. Aku menggunakan kesempatan itu untuk semakin memperdalam pencarianku mengenai wanita ini
“Em, bukankah dia kelihatan agak muda? Aku kurang yakin kalau kita seumuran,” ujarku dengan sengaja memperbesar foto tersebut
William berdeham beberapa kali.
“Benar. Ini pasti salah,”
“Tapi dia pandai bermain piano juga. Laura yang kukenal juga sama,”
“Tidak semua orang bisa bermain piano,”
Ia kemudian bangkit berdiri setelah melanjut,“Aku akan mencari buku perpisahan kita. Kamu mungkin akan mendapat sedikit clue nanti,”
“Heh? Apakah kamu masih menyimpannya?”
“Ya. Bahkan buku perpisahan sekolah dasar juga masih ada. Apakah kamu ingin sekalian melihatnya?”
“Sure kalau kamu tidak keberatan?”
“Surely okay. Sebentar ya,”
William agak berlari kecil meninggalkanku
Sikapnya yang aneh membuatku menyergit tanpa berhenti melihat akun tersebut dan William dengan bergantan. Laura Angela. Aku mengumamkan nama itu sekali lagi sebelum kemudian memutuskan untuk menekan tombol ‘ikuti’ tanpa ragu. Let’s see what will be happened in the future, Laura Angela..