Fool Again

Fool Again
Ketika Aku Berpikir Semua Sudah Baik Baik Saja, namun..



Hubunganku dan William semakin membaik setiap harinya. Hubungan kami tidak lagi selalu tentang ranjang. Kami mengawali hari dan mengakhiri hari dengan indah setiap harinya. Aku menjadi Ibu Rumah Tangga secara full time setelah aku memutuskan resign. Aku selalu menyiapkan sarapan untuk William serta bekalnya untuk makan siang


Aku benar benar memiliki harapan yang besar atas perbaikan hubungan ini. William memang belum mengungkapkan cintanya padaku namun aku dapat merasakannnya. Ia mulai terbuka padaku. Ia mulai menceritakan masalah pekerjaan atau temannya padaku setelah pulang kerja dan itu… membuatku bahagia. Ini yang aku butuhkan. Kehidupan rumah tangga yang normal. Bukankah ini menyenangkan?


Aku menyambut William yang baru keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi dengan kecupan di bibir


“Good morning,” bisikku sambil memeluknya


Aku memejamkan mataku. Dada bidangnya selalu menjadi tempat sandar terhangatku. Ia mengecup puncak kepalaku sambil berbisik,“good morning,”


“Apakah kamu akan berangkat kerja sekarang?” tanyaku sambil membantunya memasang dasi. Ah, satu kebiasaan baru selama beberapa minggu terakhir yang aku lakukan, yaitu membantu William memasang dasinya dan jas nya. Hal simple yang membuatku tersenyum setiap hari selama sepuluh menit setelah William berangkat ke kantor


“Yap. Kamu ingat proyek yang aku ceritakan semalam? Aku baru mendapat informasi dari staff kalau ada kecelakaan di lokasi. Jadi aku mau survei secara langsung disana,”


“Kecelakaan?”


“Kecelakan minor. Seharusnya tidak begitu parah. Hmm, bisakah aku skip sarapan berat hari ini? Aku agak terburu-buru,”


Aku mengangguk tanpa banyak berpikir. Namun sebagai gantinya aku menyeduhkan segelas susu hangat pada William. Aku menatap William yang bahkan tengah meminum susu sambil memeriksa ponselnya. Huft, kelihatannya ia akan super sibuk hari ini. Apakah sebaiknya aku menunda waktu untuk memberitahunya mengenai kehamilanku? Aku merasa berdosa menyembunyikannya semakin lama. William telah mengorbankan begitu banyak hal. Ia bahkan menyerah atas jabatan General Manager di London hanya karenaku. Bukankah sudah seharusnya aku berbagi kabar bahagia ini? Namun… aku tidak pernah bisa menemukan waktu yang tepat. Fiuh~


“Apakah kamu akan pulang telat malam ini?” tanyaku setelah ia menghabiskan segelas susu


“Aku tidak tahu namun sepertinya ya,” jawabnya sambil merapikan anak rambutku


Aku memejamkan mataku sambil meremas pelan tangannya. Sudut hatiku berteriak bahwa aku harus memberitahu William pada detik ini juga atau aku akan menyesalinya. Namun melihat begitu terburu-burunya William membuatku mengurungkan niatku … lagi


“Aku akan berusaha untuk pulang lebih awal namun… aku tidak janji. I’m sorry,” lanjut William


Aku berusaha tersenyum sambil membalas,“It’s okay. Pekerjaan kamu lebih penting,”


William kelihatan ragu. Ia memelukku sambil berbisik,”I’m sorry. Kamu ngga marah kan?”


Aku menggelengkan kepalaku


“Tidak. Aku hanya ingin memberitahumu sesuatu. Namun.. sebaiknya kita membahasnya malam nanti,”


“Aku bisa menunggu selama dua menit. Kamu bisa memberitahuku sekarang,”


“Tidak.. aku akan memberitahunya nanti malam saja,”


William kelihatan super bersalah namun disisi lain pekerjaan super mendesak telah menunggu. Ia mengangguk pasrah sebelum memintaku untuk mengambil bekalnya yang telah kupersiapkan sedari tadi. Sikap yang sederhana namun berhasil menghangatkan hatiku


William mencium puncak kepalaku sebelum berlari menuju ke mobil. Aku tersenyum tipis sambil mengusap perutku yang mulai membesar. Huft, aku harus memberitahunya malam ini, apapun yang terjadi


***


William tidak pulang pada malam itu


Aku tidak dapat menghubunginya juga. Mulanya aku mencoba berpikir positive. Mungkin ia tengah sibuk sekali dalam mengurus kecelakaan minor tersebut? Tapi itu hanya kecelakaan minor. Mengapa Ia bahkan tidak punya waktu untuk mengangkat teleponnya saja?


Aku berharap Ia telah berbaring di kamar ketika aku bangun namun kamar tamu masih kosong dan rapi. Aku mengigit bibirku gelisah. Apa yang terjadi? Firasatku memburuk namun aku tidak tahu aku dapat menghubungi siapa. Kali ini bahkan William telah mematikan daya ponselnya. Aku sudah sama sekali tidak dapat terhubung dengannya lagi


Aku mencoba untuk fokus namun aku mendapati diriku kesulitan menjalani hariku. Aku memutuskan menitipkan Camilla di rumah mertuaku kemudian bergegas menuju ke kantor William. Aku berjanji aku hanya akan melihatnya dari kejauhan, memastikan ia benar benar dalam keadaan sehat sebelum kembali. Setidaknya aku perlu menenangkan pikiranku kali ini


Namun dalam perjalananku, aku mendapatkan satu pesan singkat dari Karen. Satu pesan singkat yang membuat ponselku jatuh tanpa kusadari. Sekujur tubuhku terasa melemas dan air mataku mengalir bahkan sebelum aku dapat mengedipkan kedua mataku. Aku hanya dapat meminta supir taksi memutar arah sambil menangis terisak


Pls hurry. Yuriska died.


****


Rumah peristirahatan terakhir Yuriska kelihatan super ramai. Kakiku terasa kaku sesaat setelah keluar dari taksi. Aku tidak tahu bagaimana penampilanku saat ini. Puluhan orang disana menatapku dengan penasaran sementara aku hanya dapat menatap foto Yuriska yang terpajang di dekat peti mati dengan air mata yang tidak dapat berhenti mengalir. Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di pintu masuk. Setengah jam? Empat puluh menit? Entahlah. Aku hanya dapat mengerakkan kakiku setelah Karen menegurku. Ia membantuku berjalan masuk


Aku menggelengkan kepalaku. Jujur, aku masih sangat syok. Bagaimana mungkin Yuriska meninggal secepat ini? Kami bahkan baru berbincang-bincang beberapa minggu lalu. Apa penyebab kematian Yuriska? Aku menyeka air mataku yang tidak kunjung berhenti. Oh Tuhan. Apakah aku tengah bermimpi? Mengapa mimpinya terasa sangat menyiksa?


Karen meremas pelan jemari tanganku, mencoba menyemangatiku. Ia melanjut,““Aku tahu kamu sangat terpukul tapi kamu harus ingat kamu lagi hamil. Jangan sampai kamu terlalu stress,”


Karen membantuku berjalan mendekati tempat dimana aku dapat memberi penghormatan terakhir pada Yuriska. Disana aku menemukan kedua orang tua Yuriska yang sedang memeluk peti mati Yuriska sambil menangis segugukan. Mereka masih kelihatan sama dengan puluhan tahun lalu meski kini rambut mereka mulai didominasi warna putih. Jujur, aku bahkan tidak berani memberikan penghormatan terakhir pada Yuriska. Di satu sisi aku masih merasa mimpi ini begitu kejam. Di sisi lain, aku merasa seolah ‘menerima’ kematian Yuriska apabila aku memberikan penghormatan terakhir tersebut. Alhasil, aku tidak dapat mengontrol perasaanku. Aku berjalan mendekati peti matinya kemudian menangis segugukan disana


Ribuan memori masa abu abu yang kami jalani bersama terlintas begitu saja, menyobek perasaanku hingga ribuan keping. Huh, kenapa kamu meninggal secepat ini? Bukankah kita berjanji akan bertemu kembali? Kamu bahkan bilang ingin bertemu dan menggendong Camilla? Apa-apaan sih ini?


Aku tidak tahu berapa lama aku menangis disana. Pada detik aku merasa sedikitnya telah lebih baik setelah menangis, pada detik itu pula aku menemukan sosok laki laki yang tengah kucari setengah mati dari semalam. Ia tengah berdiri di sudut peti mati dengan sorot mata kosong. Kedua matanya membengkak dan memerah. Ia kelihatan pucat pasi.


Aku ingin berjalan menghampirinya namun aku khawatir jika aku salah melangkah. Ia bahkan tidak menyadari kehadiranku


“Suamimu sudah berdiri disana sejak semalam,” bisik Karen yang rupanya sedari tadi senantiasa berdiri disampingku


Aku tertegun. Jadi, William berada disini saat aku mencarinya setengah mati semalam? Huh, mengapa ia bahkan tidak memberitahuku mengenai kematian Yuriska?


Mama Yuriska menepuk bahuku pada detik selanjutnya. Aku mengalihkan tatapanku dari William lalu menyapa tante dengan senyum tipis. Well, tepatnya aku mencoba untuk tersenyum meski gagal


Mama Yuriska dan aku duduk di salah satu kursi yang berdiri tidak jauh sementara itu Karen memutuskan memberi kami waktu berdua dengan alasan sakit perut. Aku mengengam tangan mama Yuriska, mencoba saling memberi kekuatan


Mama Yuriska menyeka air matanya sambil berkata,“Terima kasih nak, kamu sudah datang di hari terakhirnya Yuriska,”


Aku mengangguk sambil menahan tangisku. Aku tidak boleh menangis, setidaknya di hadapan mama Yuriska kali ini. Siapa yang akan menguatkannya apabila aku menangis?


“Tante, maaf.. mengapa..Yuriska bisa…,”


“Yuriska kecelakaan maut semalam sore.Siapa yang menduga? Anak cantik itu pergi secepat ini. Bukankah harusnya tante saja yang meninggal? Mengapa harus anak semuda itu?”


Deg.. Yuriska meninggal karena kecelakaan?


Air mataku jatuh karena tidak sanggup melihat betapa berkabungnya mama Yuriska. Aku hanya dapat memeluknya dan memberinya kata kata semangat meski aku tidak yakin apakah itu dapat berhasil. Kami mulai membahas mengenai masa kecil Yuriska hingga kesuksesan Yuriska memimpin perusahaan. Sedikitnya pembahasan itu membuat mama Yuriska merasa lebih baik, seolah Yuriska tengah bergabung dengan kami disini


Aku tidak tahu sudah berapa lama kami menghabiskan waktu membahas Yuriska hingga seorang pengurus yayasan memanggil mama Yuriska. Mungkin mereka akan membahas mengenai proses pemakaman yang dikabarkan akan dilakukan besok pagi


“Oh ya,Kattie. Boleh tolong bantu tante membujuk William untuk setidaknya beristirahat? Dia sudah berdiri disana sejak semalam dan menolak untuk makan dan minum,” ujar mama Yuriska sebelum pergi


Aku berjalan mendekati William setelah mama Yuriska pergi. Langkahku pelan dan hati hati. Sejenak, ada hati yang tersakiti melihat sikap William saat ini. Aku yakin William memiliki perasaan cinta untukku namun melihatnya seperti ini tidak mampu membuatku menampik keraguan yang kembali menyeruak. Aku mulai mempertanyakan.. apakah Ia bahkan benar benar serius dengan hubungan kami? Aku tahu.. Ia pernah mencintai Yuriska atau mungkin ia bahkan masih mencintainya. Aku tahu ada ribuan memori tentang Yuriska yang masih hidup dalam hati William. Namun… bisakah setidaknya Ia berpura pura menyapaku?


Aku mencoba untuk membuang semua pemikiran negative tersebut. Aku tahu aku tidak seharusnya berpikir seperti itu. William sedang berkabung. Aku seharusnya memberinya semangat. Bagaimanapun Yuriska pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya. Ya, benar. Aku seharusnya memberinya semangat


Aku memutuskan menepuk ringan bahunya. Sekali… dua.. empat…lima kali.. tidak ada jawaban. Aku baru mendapatkan response setelah memberanikan diriku mengengam tangannya. Berhasil… William menoleh kearahku. Tatapannya yang super kosong meremas hatiku. Huh, pemikiran bodoh itu kembali terbersit. Apakah William akan sesedih ini jika aku yang berada diposisi Yuriska saat ini? Apakah ia akan kelihatan semengenaskan ini? Jawabannya membuatku menahan napas, sakit.


Aku mengerjapkan mataku berkali kali. Dasar bodoh kamu,Kattie. Untuk apa sih aku memikirkan hal bodoh seperti itu? Tugas utamaku saat ini adalah menenangkan William


“Hei…,” sapaku sambil berusaha menyunggingkan senyuman tipis meski aku tahu rasanya begitu canggung


William tidak menjawabku. Ia menatapku lama sebelum akhirnya setetes air mata jatuh membasahi pelupuk matanya. Jujur… aku tidak tahu apakah keputusanku benar, untuk melakukan ini dihadapan Yuriska, namun satu hal yang terbersit dipikiranku saat ini, yaitu memberikan pelukan hangat pada William. Tapi bahkan sebelum aku sempat melakukannya, William telah menyandarkan kepalanya di bahuku pada detik berikutnya


Aku mendengarnya menangis untuk pertama kali dan itu… benar benar membuatku sedih. Aku tidak menyadari bahwa air mataku ikut mengalir tidak berhenti


“Yuriska… Yuriska…,”


Samar samar aku mendengar William menyebut nama Yuriska. Hal yang kulakukan pada detik selanjutnya adalah menepuk punggungnya dengan pelan. Meski aku tidak dapat mengobati luka di hati William saat ini namun aku berharap sedikitnya aku dapat membuatnya merasa tidak sendirian dalam hidup ini. Mungkin baginya hidupnya tiba tiba menjadi gelap. Bagaimanapun Yuriska pernah menghiasi kehidupannya dan mungkin bahkan memorinya akan selalu hidup dalam hatinya. Aku tahu itu namun…. sedikitnya aku berharap keberadaanku dapat mengingatkannya bahwa Ia tidak sendirian


“I’m here,William…,” bisikku sambil memejamkan mataku


Aku merasakan pelukan William padaku melonggar. Pada detik ketika aku ingin menatapnya, ia telah jatuh. Rupanya William pingsan dalam…pelukanku.


***