Fool Again

Fool Again
Rindu



Hal pertama yang kulakukan setelah Camilla dan Issac tidur adalah membantu William memperbaiki penampilannya. Aku sedang berdiri di kursi kecil berwarna pink sambil agak menengadah, memastikan telah mengoleskan pre shave oil untuk melemaskan sedikit rambut brewok di dagunya


“Jujur, aku baru tahu ada pre shave oil,” ucap William sambil tersenyum geli


Aku baru membalas perkataannya setelah selesai mengoleskan minyak tersebut dengan merata. Kuletakkan botol minyak tersebut di wastafel lalu mulai mengeluarkan selembaran kertas dari saku celanaku. Aku sudah mencatat langkah langkah yang harus kulakukan agar tidak salah


“Aku tidak tahu kamu menjadi se-careless begini. Kamu tahu? Kamu harus menggunakan minyak ini agar terhindar dari iritasi,”


“Selama ini aku langsung menggunakan krim,”


“Apakah krim yang biasa kamu gunakan mengandung menthol?”


“Em, aku sudah agak lupa. Kamu lihat brewokku sudah cukup tebal. Aku sudah lupa mengenai krim itu ha ha ha,”


“Kamu harus menggunakan krim yang mengandung gilsterin,”


Sebelah alis William terangkat. Mungkin dia agak terkejut dan tidak menduga aku cukup menguasai hal ini meski aku belum pernah mencukurnya sama sekali. Dia mengikuti gerakan tanganku mengambil kuas yang kusimpan di balik saku celanaku sejak tadi


“Kuas? Untuk apa?”


“Untuk mengoleskan krim ke dagu kamu dong,”


“Selama ini aku menggunakan jari,”


“Sebaiknya menggunakan kuas,”


“Alasan?”


Aku memutar kedua mataku, mencoba mengingat-ingat alasan mengapa harus menggunakan kuas. Fiuh, aku lupa alasannya. William menatapku dengan geli dan menggoda. Aku berdeham pelan sambil menjawab,“Internet bilangnya begitu,”


“Internet? Ha ha, em, okay okay,” balas William sambil melingkarkan tangannya di pinggangku


Padahal William tidak melakukan apapun selain melingkarkan tangannya di pinggangku namun entah mengapa aku tiba tiba merasa gugup dan panas. Astaga! Aku mencoba mengontrol diriku dengan berdeham beberapa kali. Aku berhasil menyelesaikan misi ini dan mengakhirinya dengan mengoleskan post shave balm di area bekas cukuran setelah selesai mencukur


“Oke, selesai!” ucapku sambil tersenyum bangga dengan memutar William menghadap cermin


Aku agak takjub dengan pengerjaanku sampai aku tidak menyadari bahwa William telah bertransformasi menjadi laki laki yang jauh lebih muda beberapa tahun. Dia kelihatan jauh lebih bersih dan seksi. Aku mengerjapkan kedua mataku sambil agak membasahi bibirku, membiarkan diriku tenggelam dalam pesonanya


William sendiri kelihatan puas. Dia membalikkan badannya lalu menatapku dengan intense


"Astaga, ini berbahaya!” ucapnya membuatku menyergit. Kupikir kedua mataku mulai membulat


“Kenapa? Apakah… kamu tidak menyukainya? Kupikir itu tidak kelihatan buruk?” balasku dengan hati hati sambil memperhatikan sekitaran dagunya, memastikan sekali lagi bahwa aku tidak terlalu subjective


William tertawa kecil menemukan sorot kekhawatiran diwajahku. Ia mengusap kepalaku


“Ini berbahaya karena sepertinya aku akan membutuhkan bantuanmu untuk mencukurnya lagi kedepannya,”


“Oh, Liam! Kamu membuatku takut. Kupikir kamu tidak menyukainya,”


“Tidak, aku menyukainya. Sangat. Ini kelihatan sangat sempurna. Thank you, sayang,”


Sayang?


Aku berusaha agar tidak kelihatan terlalu terkejut. Meski kami sudah berbalikan namun kupikir aku masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diriku dengan perubahan ini. Maksudku, bagaimana mungkin William dapat memanggilku dengan sebutan ‘sayang’ hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam setelah kami berbalikan?


“Em, bagus bagus. Aku senang kamu menyukainya,” balasku sambil berusaha keluar dari pelukannya. Kupikir aku perlu ruang untuk menenangkan sedikit perasaanku atau dia akan mendengar degupan tidak wajar ini


William memberiku kecupan manis di bibir sebelum melepaskanku. Dia berkata dia akan ke barbershop untuk memangkas rambutnya menjadi lebih rapi. Pernyataan itu membuatku merasa lega dan senang. Entah mengapa ada satu sisi dalam diriku yang lebih menyukai penampilan rapinya seperti dulu


Kupikir William akan duduk disampingku saat kami memutuskan untuk mengobrol di ruang tamu namun laki laki itu dengan sigap mengendongku lalu mendudukanku di pangkuannya di sofa. Ini agak mengejutkanku namun aku tidak bisa mengelak bahwa sikap ini menyalakan sesuatu dalam diriku yang sudah lama tidak kurasakan, yaitu hasrat


Ia menyandarkan dagunya di bahuku, membuatku yang sedang menatap kedepan pun agak menegang. Bulu kudukku berdiri. Aku agak merinding dengan ‘sentuhan’ itu. Astaga astaga, kenapa aku bersikap seperti perawan? Apakah ini karena kami berpisah terlalu lama? Huh?


Aku mencoba menyamarkannya dengan bertanya,“Apakah kamu ada mau request sarapan apa besok?”


“Besok? Em, mungkin hanya segelas kopi dengan kamu dalam pelukanku?”


“Aku serius,Kattie,”


“Liam!”


William tertawa. Dagunya yang agak bergetar karena tawa membuatku tersenyum tipis. Tubuhku yang agak menegang semula pun mulai rileks hanya sesaat setelah mendengarnya tertawa. Jemari tangannya memeluk perutku


“Oke oke, mungkin hanya roti?”


“Tidak tertarik dengan makanan berat lainnya?”


“Aku ingin makan nasi padang besok siang. Aku benar benar sangat merindukannya,”


“Okay, kamu mau keluar makan atau mungkin kita bisa memesan dari aplikasi?”


“Apakah kamu tidak masalah kalau kita pesan dari aplikasi saja dulu untuk sementara?”


Aku mengangguk sebagai jawaban meski aku agak heran. Kupikir makan langsung ditempat akan terasa lebih enak,huh? Dia lalu melanjut,“Aku hanya merasa ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan kamu dan anak anak. Jadi, sebagai informasi, aku baru akan masuk kerja dua minggu kedepan,”


“Serius?”


“Yaa, bahkan sebenarnya aku ingin mengajukan cuti selama dua bulan tapi.. papa sudah mencak mencak,”


Aku tertawa kecil, membayangkan Wlliam diomelin oleh orang tuanya sewaktu dia mengajukan cuti yang tak masuk akal itu. Meski dia memiliki beberapa orang kepercayaan namun tidak menampik bahwa kehadiran William memegang pengaruh besar disana, baik dari segi keputusan, kebijakan hingga masalah perdagangan lainnya


“Aku tidak bisa membayangkan bagaimana raut wajahnya, ha ha ha,”


“Dia kelihatan kesal banget ha ha ha,”


“Pasti dong!”


“Dan, em, ngomong ngomong tentang itu, aku berencana mengunjunginya besok siang bersama dengan anak anak. Apakah…. ini oke? Em, atau mungkin ini terlalu awal?”


“Terlalu awal?”


“Aku tidak mau kamu merasa aku egois karena sudah ingin membawa anak anak bertemu keluarga bahkan belum sehari setelah aku kembali,”


“Astaga ha ha. Tidak kok! Aku justru merasa senang kamu ada pemikiran seperti itu, untuk membawa anak anak mengunjungi orang tua kamu dan ah, sebagai informasi, aku juga rutin membawa mereka berkunjung kok selama kamu tidak ada disini,”


William tidak membalas, membuatku menoleh melihatnya. Dia kelihatan agak terkejut dan speechless. Apakah dia pikir aku tidak membawa anak anak mengunjungi anak anak ke rumah orang tuanya, huh? Aku melanjut,“Bagaimanapun orang tua kamu adalah nenek dan kakek anak anak. Meski tidak ada kejelasan pasti diantara kita waktu itu tapi itu tidak mempengaruhi niatanku. Orang tuamu juga sudah seperti orang tuaku sendiri. Apakah kamu pikir aku mungkin akan memisahkan mereka?”


Senyum di sudut bibirnya membuatku sekali lagi menahan napas. Entah mengapa aku menemukan kedua matanya berkaca-kaca. Dia menyekanya sesaat sebelum aku melakukannya


“Hey, kenapa?” tanyaku sambil memutar tubuhku sepenuhnya hingga kini aku menghadapnya


William membalas setelah terdiam selama beberapa menit,“Kamu tahu? Kamu adalah wanita terbaik yang pernah hadir dalam hidupku. Aku tidak tahu kalau kamu.. memiliki pemikiran seperti itu. Sejenak terbersit bagaimana kalau kamu menyerah waktu itu. Aku mungkin bisa… beneran gila,”


“Well well, mungkin aku hanya akan menginjinkan orang tuamu melihat anak anak,”


“Itu agak kejam tapi masuk akal,”


William dan aku saling tertawa pada detik selanjutnya. Matanya yang mengecil karena tawa itu kembali terasa menghipnotisku. Aku tertegun selama beberapa detik. Sungguh, ini masih terasa seperti mimpi. Aku tidak menyadari bahwa kedua mataku telah berkaca-kaca. Pipiku mulai memanas. Aku berusaha tertawa untuk menyamarkan kekonyolanku sementara William menatapku dengan tatapan lembut yang membuatku lemah pada detik selanjutnya. Astaga! Tatapan ini!


“Sorry..., aku.. aku hanya masih agak kurang percaya kalau kamu sudah kembali,” ucapku jujur sambil menyeka sudut mataku yang basah


Tatapan lembut itu kembali bercampur dengan rasa bersalah. Dia menyentuh pipiku, mengelusnya dengan sangat lembut


“Maaf membuatmu menunggu sangat lama,Kattie,”


Aku memejamkan kedua mataku, menikmati sentuhannya sambil menganggukkan kepalaku. Dia kembali melanjut dengan berbisik,“Dan.. terima kasih sekali lagi,”


Sumpah, apakah ini hanya perasaanku? Mengapa aku merasakan makna yang sangat mendalam atas perkataan itu? Aku merasa senang, sedih namun juga lega. Ketika aku membuka kedua mataku, aku menemukan wajah William telah mendekat. Jarak itu mulai menipis, semakin menipis lagi dan lagi hingga kami mulai menautkan lidah kami, mengikuti irama tersebut dengan pelan, menumpahkan seluruh perasaan sedih dan rindu selama ini


Ciuman tersebut sangat lembut, terlampau lembut hingga membuatku merasa dia sedang memperlakukanku sebagai salah satu benda antik yang sangat mahal dan tak ternilai harganya. Aku mulai merangkak naik, mendudukan diriku tepat di pinggulnya, memperdalaman ciuman kami dengan mulai menanggalkan pakaiannya


William melakukan hal yang sama. Kami saling menanggalkan pakaian satu sama lain. Aku tidak ingat persis dimana kami melempar pakaian kami. Kami terlalu sibuk saling menempel pada satu sama lain.Yang aku ingat hanya satu bahwa William meletakanku di atas ranjang dengan lembut sebelum kemudian kami mulai memuja satu sama lain dengan hasrat tidak terbendung