Fool Again

Fool Again
Pasca Berbaikan



Ini bukan pertama kali kami berbaikkan setelah perdebatan. Aku masih saja merasa agak canggung meski mungkin William sudah tidak memendam perasaan kesal apapun lagi padaku


Rencana kami untuk mendaki gunung harus dibatalkan karena hujan tidak berhenti sejak dini hari. William, Frans, Jessie dan aku berhenti di lobby hotel sambil menatap ke luar jendela kaca. Kulirik Frans dan Jessie yang kelihatan agak kecewa


“Duh, hujan lagi,” gumam Jessie kesal sambil menyentuh kaca jendela tersebut. Sepertinya dia memang sangat kesal


Frans menimpali,“Padahal ini akan menjadi trip yang seru kalau saja kita jadi hiking,”


Aku tidak membalas. Di satu sisi, aku merasa lega dan bersyukur. Namun di sisi lain, aku juga emrasa agak kasihan dengan mereka. William yang berdiri disampingku pun berkata,“Apakah tidak masalah? Kita bisa ganti jadwal,”


Aku agak mengangkat daguku agar menatapnya. Duh, jujur, aku masih merasa agak canggung. William memang tidak menatapku dengan dingin lagi atau berbicara kasar denganku namun aku tetap tidak dapat menampik rasa canggung itu


“Ah, nggak pa-pa kok. Nggak usah dipaksakan banget juga,” balasku tanpa ragu


William mengangguk ringan


Jessie dan Frans kemudian mengajak kami sarapan lebih awal untuk mengusir sedikit kekecewaan pasca batal hiking. William dan aku menyusul dari belakang


“Kamu tahu menu sarapan hari ini?” tanya William saat kami mengantre masuk. Rupanya suasana sudah agak ramai padahal layar ponselku masih menunjukkan waktu kurang dari enam pagi


William yang seolah menyadari keterkejutanku pun melanjut,“pengunjung disini rata rata memang bangun lebih awal untuk sarapan,”


“Benarkah? Kupikir mayoritas orang akan sarapan diatas jam tujuh pagi. Bukankah orang ingin rileks disini?”


“Banyak pengunjung kemari untuk urusan pekerjaan atau mungkin pesta. Jadi mereka rata rata sangat mengejar waktu,”


William menunjuk beberapa orang yang keluar dari restoran dengan pakaian formal. Sebelah alisku terangkat


“Ah…, benar juga. Kamu kedengaran sangat familiar dengan ini. Kamu sudah sering kemari?”


“Ini adalah Hotel Frans, kalau kamu lupa,”


Kedua mataku terbelalak. Hotel Frans? Serius?


William tersenyum tipis melihat ekspresiku sementara aku berusaha menelan keterkejutan itu dengan hati yang berdebar. Aku tidak menyangka Frans semilliyuner itu! Astaga… jadi keluarga ini merupakan kumpulan para milliyuner?


Kecanggungan diantara kami kupikir mulai mencair. William dapat membuatku mulai tersenyum dan melupakan sosok wanita yang bernama Laura Angela itu. Ia juga membawakanku makanan, memintaku untuk tinggal duduk menunggu. Baiklah. Aku mungkin saja yang sensitive menanggapi hal ini. Kami sempat berpisah selama setahun. Tentu hal ini tidak bisa dihindari. Aku menghembuskan napas pelan, mencoba untuk memaafkan kebodohanku sendiri


“Kok kamu hanya makan roti dan.. kopi?” tanyaku setelah William meletakkan piringnya dihadapanku


Kutunjuk satu piringku yang penuh dengan bubur ayam complete dan sepiring lain berisi roti dan snack lainnya,“ini tidak adil. Kok hanya aku yang makan banyak?”


“Aku lagi malas makan berat,”


Aku menyergit menemukan Frans dan Jessie juga melakukan hal yang sama. Ah, jadi mereka bertiga sedang tidak berselera makan karena mereka tidak bisa hiking? Huh?


“Please jangan nanya. Hiking setiap kali kemari adalah must thing to do, you know?” tukas Jessie sambil berusaha tersenyum, seolah mengerti isi pikiranku


Aku mengangguk pelan lalu memutuskan untuk makan


Sebelah alisku terangkat pada detik aku menyendokkan sendok tersebut ke dalam mulutku


“Ini enak kan?” tanya William


Aku mengangguk,“Ini bubur ayam terenak yang pernah aku makan,”


“Setuju. Entah kenapa bubur mereka terasa sangat berbeda. Kamu tahu bubur disini sudah menjadi seperti signature menu,”


“Serius?”


“Iya. Aku juga suka buburnya,”


“Jadi kok kamu enggak makan?”


“Karena..,”


“Karena tidak jadi hiking? Ha ha ha,”


William tidak membalas. Ia menatapku dengan sorot mata tersenyum. Aku menggelengkan kepalaku lalu menyendokkan satu sendok bubur ke mulutnya. Ia agak terkejut namun tidak menolak


“Kamu tetap harus makan apapun yang terjadi,” ucapku sambil menahan senyum


William menyeka sudut bibirnya yang jorok, menelan sisa bubur dalam mulutnya dan membalas,“Seperti kamu yang diam diam cari makan tengah malam bukan?”


Ah, dia membahas masalah itu lagi? Aku mencubit lengannya


“Makan itu penting, tau? Nih makan lagi,”


“Dengan disuapin terus seperti ini?”


Aku tidak sadar bahwa aku tidak berhenti menyuapi William sedari tadi. Laki laki itu tersenyum melihatku yang kini sudah sadar bahwa Frans dan Jessie juga tengah melihat kami dengan sorot geli


“Duh, kapan kamu suapin aku lagi ya,Jes,” ucap Frans sambil menunjuk kami, membuat wajahku merah padam


“Kamu sudah sadar usia kamu berapa, huh?” balas Jessie menahan senyum


“Lah, memangnya ada pengaruh dengan usia? Itu adalah simbol dari perhatian dan kasih sayang. Belajar dong dari newly weds ini,”


Aku menyergit dengan geli. Newly weds? Kami sudah menikah bertahun tahun


Aku baru hendak meletakkan mangkuk ke atas meja namun William sudah menahan tanganku. Ia menunjuk sendok tersebut menggunakan kedua bola matanya. Apakah dia memintaku untuk terus menyuapinya?


“Makanannya terasa lebih enak kalau kamu suapin,” bisiknya membuatku tak kuasa menahan senyum lebar


“Ya, bubur disini adalah signature menu nya dan kamu adalah pelengkapnya,”


“Duh, gombal banget sih kamu,”


William tertawa, begitu juga aku.


Aku tidak tahu darimana atau sejak kapan William pandai menggombal seperti ini. Namun yang jelas ia telah membuat hariku lebih cerah. Aku tidak bisa berhenti tersenyum. Kami berdua bahkan sudah mengisi mangkuk bubur sebanyak tiga kali. Frans dan Jessie tidak berhenti menahan senyum melihat kami. Kupikir mereka bahagia dengan tensi yang positive kali ini?


Bubur kami sudah habis. William dan aku tidak berencana menambah lagi


Ia meletakkan segelas susu hangat dihadapanku dan berkata,“Di minum,”


“Kamu itu udah kayak bapak bapak aja deh dan aku anaknya. Kok kamu minum kopi dan aku hanya dikasih susu?”


“Lah, bukannya aku memang sudah bapak bapak?”


“Ah, benar juga. Maksudku..., such an old style,”


“Yap. That’s me,”


Kami berempat mulai melanjutkan obrolan seperti kebiasaan mereka sewaktu menginap kemari, dari hiking, berbelanja di pasar lokal, menikmati sunset hingga naik delman. Pengalaman seru mereka membuatku ingin turut merasakan hal yang sama


William sepertinya menyadari hal itu. Ia melirikku yang tengah bersandar di lengannya


“Mau lihat sunset bareng Camilla dan Issac nanti?”


“Boleh?”


“Ya boleh dong,”


“Maksudku.. hanya berempat?”


“Yeah, sure. Ingatin aku untuk ambil camera. Will surely capture every moments with you and the kids,”


Aku tersenyum mendengar itu. Entah mengapa ada satu getaran yang membuatku bahagia. Aku baru akan mengecup pipinya namun langkahku tertahan setelah mendengar Frans memanggil nama yang membuat William dan aku menoleh ke arah yang bersamaan


“Didi?” panggil Frans


Didi yang sedang berjalan dengan secangkir kopi itu pun berhenti dihadapan kami. Ia tersenyum melihat Frans dan Jessie namun senyumnya menghilang pada detik ketika ia menemukan William dan aku disana. Ada sorot keterkejutan disana


Ia berdeham beberapa kali sebelum kembali menatap Frans


“Hey, Frans. How are you? Kamu disini juga?”


“Yeah, ofcourse. This is mine. Ha ha ha. Kamu ... kok aku enggak tahu ada disini? Sejak kapan kamu disini? Duh ayo ayo gabung. Uda lama banget nggak ngobrol denganmu,”


Didi kelihatan agak ragu sesaat sementara aku merasa aura yang dipancarkan William mulai agak berbeda. Ia tidak berhenti melihat Frans dan Didi bergantian, seolah mencoba membaca situasi ini


“Boleh?” tanya Didi sambil melirik kami sekilas


Frans yang menyadari arah tatapan Didi pun berkata,“Mereka adalah adik iparku. Ini adalah William, adiknya Jessie. Dan ini adalah istrinya,”


Sepertinya Frans tidak menyadari ketegangan yang ada, termasuk dengan Jessie. Mereka menarik salah satu kursi dan mempersilahkan Didi duduk tepat dihadapan kami. Aku melihat William telah mengetatkan rahangnya. Apakah dia marah lagi? Aku bahkan tidak ada kontak fisik dengan Didi atau sekedar mengobrol saja kali ini. Dia.. tidak mungkin sesentitive itu bukan?


“Hey, gimana kabar kamu?” tanya Frans


Jessie kelihatan sangat penasaran


Didi membalas setelah menatapku cukup lama. Duh, tatapan itu membuatku agak was-was. Apakah dia mungkin ingin bertanya mengapa aku tidak ke Garden semalam?


“Ya, baik. Gimana kalian? Baik? Ada nambah momongan?”


“Duh, enggak deh. Pabrik ditutup untuk sementara ha ha ha,”


“Kapan rencana buka kembali? Ha ha ha,”


“Kalau kamu married dulu. Bakal langsung buka pabrik lagi kita,”


Jessie tertawa. Dia ikut membalas,“Jadi gimana kabar kamu dan cewek yang lagi kamu kejar? Uda berhasil?”


Didi melihatku lagi. Duh!


Aku memutar kedua mataku dengan refleks, melihat ke sembarang arah, berusaha untuk tidak kontak mata dengannya sama sekali


Aku mendengar Frans tertawa. Dia berkata,“Seorang Didi nggak berhasil mendapatkan wanitanya? Duh, aku udah kenal kamu sejak lama. Baru kali ini kamu gagal ha ha ha,”


“Unexpected things happens. Will surely fix it soon,”


Aku tidak perlu melihat Didi namun aku yakin dia sedang melihatku sekarang. Aku tidak tahu mengapa hal yang kulakukan selanjutnya adalah mengengam tangan William. Laki laki itu agak menunduk, melihat kedua jemari tangan kami yang sudah saling bertautan


“Are you okay?” tanyaku sambil berbisik


William tidak langsung menjawab. Fiuh, aku tahu dia pasti merasa cukup terganggu dengan itu, apalagi sejak Didi berkata dia akan memperbaiki massalah itu. Sebelah tanganku yang lain mengusap punggung tangan William dengan lembut. Aku menatapnya dengan lembut. Ada sedikit ketakutan disana, meski aku berusaha menyamarkannya dengan senyum tipis. God! Aku takut kalau William akan marah lagi. Bukankah kami baru saja berbaikan? Akan sangat tidak lucu kalau kami bertengkar lagi


Aku baru akan melanjutkan perkataanku namun William sudah membalasku dengan pelan,“I’m trying. Em, apakah kamu oke kalau kita duluan pergi? Mungkin enjoying the view from 10th floor?”


“Sure!”


William tersenyum tipis, sangat tipis. Ini adalah signal yang… cukup baik, bukan? Well, sedikit ketakutan dan kekhawatiran itu mulai lenyap. Kami berdua bergegas meninggalkan meja itu setelah pamit dengan Frans dan Jessie. Aku hanya mengangguk tipis pada Didi sebelum kami benar benar keluar dari restoran


***