Fool Again

Fool Again
Akhir Kisah Dari Pemeran Pendukung



“Kat?”


William, laki laki itu..


Aku yakin tubuhku menegang. Aku tidak dapat menahan pilu ketika mendengarnya memanggil namaku lagi.Oh tidak!!


“William?”


Aku berpura-pura terkejut sambil menatapnya. Kuharap berhasil


“Kupikir aku salah melihat. Apa yang kamu lakukan disini?” tanya William ringan. Dia berbicara padaku seolah-olah tidak ada masalah diantara kami. Great..!


“Makan,” jawabku singkat. Kuharap dia mengerti pertanda yang kuberikan


“Dengan…?”


It’s not your business anymore,William. Please just don’t .. don’t do this…


“Ada apa kamu menyusulku?” tanyaku tidak membalas pertanyaan William baru saja. Kuharap William sadar bahwa aku memberinya sinyal bahwa aku sedang tidak ingin terlibat pembicaraan dengannya untuk saat ini


William berdeham pelan. Ia menatapku dengan tatapan yang cukup aneh menurutku. Ia kelihatan agak nervous dan khawatir. Aku bertanya tanya alasan dibalik sikapnya yang tidak biasa itu dalam hati


“Em, aku hanya mau memastikan kalau wanita tadi adalah kamu,” jawab William sambil tertawa canggung


“Lalu bukankah seharusnya kamu balik setelah kamu sudah memastikannya?”


“Well, aku ingin menanyakan beberapa hal lain,”


Aku melirik jam tanganku, mencoba bersikap sedingin mungkin. God! Aku harus bersikap seolah olah William bukan lagi bagian penting dalam diriku. Semoga aku berhasil!


“Satu menit. Temanku sedang menunggu disana,” balasku sambil melambaikan tangan ringan pada Karen yang tengah melihatku dengan raut wajah pasrah. Huh! Harusnya Karen menghampiri kami dan memberi William ribuan alasan agar kami dapat pergi saat ini juga


“Apakah itu teman kamu yang di Youth Club kemarin?” tanya William sambil tersenyum tipis pada Karen yang berdiri jauh sepuluh meter di belakang kami


“Dia adalah sahabatku,” dan kamu bahkan tidak mengetahui itu sama sekali


William mengangguk mengerti. Ia membasahi bibirnya sebelum bertanya,“apakah kamu ada waktu weekend ini?”


“Tidak. Aku sudah punya plans weekend ini dan beberapa minggu depan,”


Aku berbohong. Kuharap William mempercayainya


“Mm, kapan kamu available?” tanya William lagi


“Entahlah. Aku sibuk bekerja dan sudah membuat banyak janji dengan teman dan keluarga. Mungkin aku tidak akan ada waktu sampai beberapa bulan terakhir,” jawabku tanpa banyak berpikir. Oke. Alasanku terdengar begitu klise bahkan begitu jelasnya aku membangun garis diantara kami. Kuharap William mengerti


“Kamu sudah mendapatkan pekerjaan? Dimana?”


“Aku tidak harus menjawab bukan?”


Bagus. William kelihatan sedikit terkejut dan speechless dengan jawabanku. Sorot wajahnya menambah luka hatiku namun aku tahu aku tidak dapat mundur lagi. Setidaknya untuk menjadi Wanita kuat, aku harus mengorbankan perasaanku dan melukainya sedikit. Meski aku tidak yakin apabila dia merasa terluka atas perkataanku. Lagian, dia tidak mencintaiku. Bahkan dia membenciku. Kupikir ini adalah kesempatan bagus untuknya?


“Bagaimana kalau weekdays? Jam berapa kamu pulang kerja?”


“Entahlah. Aku selalu lembur akhir akhir ini,”


“Bagaimana kalau waktu makan siang?”


“Aku bahkan tidak punya waktu untuk makan. Aku terlalu sibuk dengan…,”


William tertawa getir. Ia menatapku dengan sorot yang… menumbuk relung hatiku. Aku berusaha memasang raut wajah dingin sementara dia melanjut,“Aku hanya meminta waktu tiga puluh menit kamu. Apakah sesulit itu?”


“Lima belas menit. Aku hanya meminta waktu kamu lima belas menit. Apakah kamu bahkan tidak bersedia memberiku waktu lima belas menit?” lanjut William sambil menatapku dengan tidak percaya


“Mm, kupikir kamu bisa whatsapp aku atau email. Aku tidak yakin dapat menemuimu waktu weekday maupun weekend. Jadi…,”


“Aku akan berangkat ke London bulan depan,”


Apa?


“Dan tidak akan kembali lagi,” lanjut William membuatku terkejut setengah batin. Kuharap William tidak menyadari betapa terkejutnya aku. Aku bahkan harus meremas tali tasku


“Ah, benarkah?” gumamku


“Papa memberiku tugas penting. Aku berniat memperluas pasar di Inggris dan Amerika Latin. Selama itu aku mungkin tidak akan kembali. Sepuluh tahun? Dua puluh? Entahlah. Aku.. hanya bisa berasumsi aku tidak akan kembali lagi,”


Brengsek. Laki laki brengsek.


“Kapan kamu available? Aku ingin membahasnya bersamamu secepatnya,” lanjutnya tegas


Huh, apakah dia berencana memintaku menandatangi surat perceraian dan berbagai surat kesepakatan lainnya? Dan.. tunggu. Mengapa dia bahkan tidak bertanya mengenai kabar Camilla? Huh. Mungkin dia tengah menyusun rencana bahagianya dengan Yuriska di London


“Mm, aku harus mengecek jadwalku dulu. Aku akan mengabarimu nanti,”


“Baik. Kuharap aku mendapat jawabannya secepatnya,”


Aku mengangguk tanpa tersenyum. Aku masih terlalu shock dengan kenyataan William akan berangkat ke London dan tidak akan kembali lagi. Ah, mungkin ini memang adalah akhir dari tali hubungan kami


Kedua pasang mata kami beradu lagi. Aku bersumpah aku menahan diriku untuk tidak menangis pada detik itu juga sementara William mengacak rambutku sambil tersenyum tipis. Ia meremas pelan bahuku kemudian berkata,“See you later,Sun,”


Sun? Sunny?


Apakah aku tidak salah mendengar?


William meninggalkanku bahkan sebelum aku berhasil mencernanya. Punggung tegap dan lebarnya membuat kedua mataku kembali berkaca-kaca. Oke, aku mungkin tolol. Tapi setidaknya aku berharap William membalikkan badannya dan melambaikan tangannya padaku sekali saja. Well, meski aku akan berpura-pura tidak melihatnya atau mengabaikannya. Aku tahu aku egois tapi… bukankah William lebih egois?


“Apa yang kalian bahas?” tanya Karen begitu kami duduk di dalam mobil


“Dia bahkan mengelus rambutmu. Jangan bilang dia tahu kamu.. hamil?” lanjut Karen dengan tatapannya yang penuh siaga


Aku menggeleng sambil menatap restoran di depan kami dengan nanar,“Tidak. Aku mungkin harus merahasiakan kehamilan ini selamanya,”


Karen menyergit sementara aku menghembuskan napas kuat sambil menyeka sudut mataku yang basah dengan kesal


“Maksudnya?” tanya Karen


“William… dia akan berangkat ke London bulan depan dan… tidak akan kembali lagi,”


“SERIUS?”


“Yeah.. that’s the end right? Pada akhirnya William bukan hanya mantan sahabat dan calon mantan suamiku. Dia hanya akan selalu menjadi ayah biologis anak anakku. Dia tidak akan pernah menjadi ayah yang sebenarnya,”


“Kat, tenang. Kamu jangan…,”


“It’s okay. I’m really okay with that. Pangeran dan putri akan berbahagia di London. Kenapa aku harus sedih? Aku hanya pemeran pendukung di kehidupan mereka,Ren, aku… aku itu tidak penting. Aku itu...,”


Pada detik itu…. Aku mulai menangis dalam pelukan Karen. Aku tidak tahu mengapa aku menangis. Perasaan itu kembali hadir, perasaan takut, khawatir, sedih, marah, kesal dan benci. Perasaanku campur aduk. Kupikir aku akan berhenti dalam satu menit namun tangisanku semakin lama semakin kencang. Kini aku sadar arti air mataku malam ini


Aku hanya perlu menangis malam ini agar aku tidak menangis lagi besok, agar aku dapat tegar ketika bertemu dengannya lagi dan agar aku… aku dapat menerima keputusannya dengan lapang dada. Pada akhirnya kami akan berpisah, baik dari status perceraian maupun ruang dan waktu.


****