
Agustus 2018
Apakah aku sudah berhasil move on dari William?
Jawabannya adalah aku tidak tahu
Apakah aku masih berharap padanya?
Jawabannya adalah… tidak
William tidak pernah menghubungiku lagi sejak saat itu. Aku tidak tahu keberadaan maupun kabarnya sama sekali. Kami telah benar benar lost contact. Mungkin.. ia juga tidak tahu bahwa anak keduanya telah lahir. Aku menamainya Issac. Bulan ini Issac memasuki usia lima bulan. Issac adalah harta berhargaku selain Camilla. Aku bangga aku dapat melahirkan Issac dengan normal dalam keadaan yang seperti ini
“Bu Kat! Kita barusan dapat orderan dua ratus kotak minggu ini!” teriak bahagia asistenku,Nisa, membuatku yang tengah melamun menatap keluar jendela dengan segelas kopi dalam gengamanku pun menoleh
“Dua ratus kotak?”
“Ya bu! Aduh senangnya!!”
“Serius kamu?!”
“Ih, suer deh bu!”
Aku melihat bukti transfer yang ditunjukkan Nisa dengan senyum lebar. Ah, akhirnya! Usahaku menekuni dunia roti tidak berakhir sia-sia. 200 kotak? Itu adalah angka yang besar! Aku belum pernah menerima orderan sebanyak itu dari satu orang
Nisa dan aku bergegas menyiapkan bahan bahannya dengan antusias. Nisa dan aku sengaja bangun lebih awal di hari H. Kami ingin segalanya berjalan sempurna agar kami dapat meninggalkan kesan yang bagus kepada pembeli kami
Kami menghabiskan waktu kurang lebih lima jam. Aku melirik jam dinding sambil menghembuskan napas lega. Fiuhhh, kami berhasil menyelesaikannya setengah jam lebih awal dari waktu kesepakatan. Nisa dan aku pun kemudian bergegas mengantar roti ke Gallery Happy
“Bu, kenapa aku nervous banget ya?” tanya Nisa
Aku meliriknya sekilas, yang telah mengenakan pakaian lebih dari kata ‘pantas’ hanya demi mengantar pesanan masuk ke dalam Gallery mewah, sebelum kemudian aku kembali fokus mengemudi
“Kenapa? Kamu sudah cantik kok,” pujiku serius
“Thanks tapi aku tetap nervous. Ini adalah pertama kali kita mendapatkan orderan segitu banyak dan… ini pertama kali aku masuk ke dalam Gallery Happy!”
“Kamu… ngga berniat untuk ikut melihat pameran disana kan?”
Nisa sedikit gelagapan. Itu membuatku menggelengkan kepalaku tidak percaya. Padahal aku hanya asal menebak namun rupanya aku tidak salah. Nisa berdeham beberapa kali
“Memangnya kita ngga boleh melihat lihat disana? Mumpung kita lagi disana,” balasnya
Nisa mulai memohon padaku pada detik berikutnya. Ia mengungkapkan bahwa ia adalah fans berat pelukis lokal yang berhasil membuatnya jatuh cinta melihat setiap sentuhan lukisannya. Salah satu wish list nya adalah masuk ke dalam Gallery Happy, bertemu pelukis lokal yang berhasil membuatnya jatuh cinta dan satu selfie dengannya
“Please bu… bahkan jika aku meninggal hari ini, aku tidak akan menyesalinya lagi. Setidaknya aku sudah pernah bertemu dengan idolaku,” pinta Nisa dengan memelas
Aku menatapnya dengan ragu. Sebagian diriku merasa malas untuk berlama lama di Gallery Happy namun sebagian diriku tidak sampai hati melihat Nisa sefrustasi itu untuk bertemu idolanya. Huh
“Aku akan menunggu di mobil saja nanti kalau begitu,” ucapku pasrah
Nisa berteriak bahagia. Selanjutanya adalah Ia tidak berhenti bercerita tentang pelukis lokal favoritenya itu. Ia tidak dapat berhenti memuji pelukis favoritenya hingga kami telah sampai di Gallery. Fiuh, padahal aku menyetujuinya agar aku tidak perlu mendengar celotehannya mengenai pelukis favoritenya namun Ia malah tidak dapat berhenti menceritakannya padaku
Nisa bergegas berlari menuju lukisan favoritenya sesaat setelah kami masuk ke dalam Gallery. Dia kelihatan benar benar terhipnotis hingga ke dalam lukisan tersebut sampai ia benar benar melupakan tujuan utama kami kemari. Aku tidak punya pilihan lain untuk mengangkat masuk dua ratus kotak roti dengan pasrah
Aku menepuk ringan bahu dan pergelangan tanganku begitu selesai meletakkan kotak terakhir. Kedua mataku mulai memperhatikan penjuru Gallerytanpa kusadari. Huft… Gallery Happy masih sama seperti terakhir kali aku kemari. Sepuluh tahun yang lalu mungkin? Huh, entahlah. Aku memiliki kesempatan ke Gallery bersama William dulu. Berkat koneksi papanya yang luar biasa, dua remaja putih abu abu dapat menikmati puluhan lukisan yang membuat kami akhirnya memutuskan untuk belajar melukis meski kami berhenti di tengah perjalanan. Tunggu, apakah aku baru memikirkan William lagi? Huh! Ini bahaya. Aku tidak boleh membiarkan William memenuhi isi kepalaku lagi
Aku baru akan berjalan keluar dari Gallery namun langkahku berhenti ketika menemukan lukisan yang berhasil menarik perhatianku sepenuhnya. Lukisan itu membuat kedua kakiku melangkah mendekat tanpa kusadari. Jujur, aku tidak tahu mengapa aku merasa dejavu yang sungguh nyata saat ini. Aku hanya tidak dapat memalingkan tatapanku dari dua remaja yang dibalut seragam putih abu abu tengah berlari dari derasnya hujan. Bukankah itu adalah William dan aku?
Kilasan memori itu kembali menyeruak, menambah rasa sakit dan sedih dalam hatiku. Namun aku tidak dapat berhenti melihatnya. Aneh. Lukisan itu kelihatan begitu nyata. Aku seperti melihat kembali masa lalu yang berusaha kulupakan. Ketika aku melirik sekelilingku, rupanya aku menemukan puluhan orang juga tengah mengaggumi lukisan dihadapanku. Aku yakin pelukisnya akan mendapatkan keuntungan besar kali ini, huh?
Aku memutuskan untuk kembali ke dalam mobil. Aku melipat tanganku sambil berjalan dengan langkah pelan menuju ke mobil hingga seseorang menepuk bahuku dengan pelan. Tepukan ringan itu membuat langkahku berhenti sepenuhnya
“Hi..,”
Suara itu. Ini adalah dejavu yang kedua untuk hari ini
Aku tidak berani membalikkan badanku. Firasatku memburuk. Aku tidak berani menduga namun entah mengapa hatiku berteriak bahwa aku sangat mengenali suara ini. Aku menggelengkan kepalaku, mencoba membunuh ilusi ini dengan melanjutkan langkahku namun pada detik berikutnya aku menabrak dada seseorang
Ilusi dan dejavu yang kumaksud berubah menjadi kenyataan pada detik aku mengangkat kepalaku menatap sang pemilik dada tersebut. Dia tengah berdiri dihadapanku dengan senyum tipis yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak. Dia adalah….William, laki laki yang pernah membuatku berharap seperti orang tolol.
Aku tidak salah lihat kan? Aku menyipitkan mataku, mencoba memastikan bahwa aku hanya salah melihat. William mendatangiku? Huh? Ini tidak mungkin. Aku pasti salah menduga. Mungkin ini adalah efek samping aku mendatangi tempat yang pernah kami kunjungi bersama. Aku mencoba mengelak keberadaan William namun kedua matanya yang berkedip beberapa kali membuatku menahan napas. Oh tidak! Rupanya aku memang tidak sedang bermimpi atau hidup dalam ilusi
Ini nyata! Ia dengan rambut sebahunya tengah berdiri dihadapanku dengan sebuah kamera dalam gengamannya. God!
Aku tidak tahu persis bagaimana raut wajahku saat ini. Mungkin aku masih terlalu shock dengan pertemuan ini atau mungkin aku yang masih terlalu tidak percaya dengan perubahan William. Penampilannya benar benar berbeda dari ujung kepala hingga kaki. Ia memang masih kelihatan semenarik itu meski dengan rambut gondrong namun ada yang berbeda darinya. Ia kelihatan berbeda
“Hi Kattie…,”
Geez, bahkan suaranya saja membuatku merinding
“Bagaimana kabarmu?” tanyanya dengan senyum tipis
Bagaimana kabarku? Huh, aku bahkan tidak tahu harus bagaimana mendeskripsikannya. Aku tidak mungkin memberitahunya bagaimana sulitnya aku menjalani hariku di tiga bulan awal pasca aku meninggalkan rumahnya? Bagaimana aku sedepresi itu menunggunya menghubungiku atau tiba tiba muncul sewaktu aku buang sampah setiap pagi hari misalnya? Serta bagaimana sulitnya aku harus melahirkan Issac tanpa semangat dan dukungan darinya? Huh, aku hanya dapat bersyukur karena aku tidak benar benar pingsan melihatnya berdiri dihadapanku sekarang
Aku tidak menjawab, lebih tepatnya aku masih terlalu shock hingga tidak dapat menjawab pertanyaan William sementara itu ia menunjuk Gallery sambil bertanya,“Apakah kamu mau masuk ke dalam sekali lagi?”
Huh?
“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu di dalam. Apakah kamu bersedia kembali ke dalam? Satu menit. Aku ingin memperlihatkannya padamu hanya satu menit,” lanjutnya sambil menyegir
Aku menyergit. Apakah William baru saja menyengir padaku? Apakah dia masih waras? Maksudku, apakah dia lupa dia baru menunjukkan dirinya di hadapanku setelah hampir satu tahun lamanya? Apakah dia berpikir aku dapat semudah itu diajak berbaikan? Aku bahkan mulai meragukan diriku, meragukan ‘perasaannya’ dan masa depan kami. Bukankah dia agak kejam bersikap seperti ini? Bukankah seharusnya dia meminta maaf padaku dan menjelaskan segalanya?
William mungkin mulai merasakan ketegangan diantara kami. Ia berdeham pelan sebelum menjelaskan,“Aku baru kembali tadi pagi ke Jakarta. Sebenarnya.. aku ingin menghubungi tadi. Tapi aku menemukanmu disini secara tidak sengaja. Apakah kamu memulai bisnis roti?”
Lihat dia dengan egonya. Ia mungkin merasa aku masih setolol itu
“Menemuimu, tentu saja,”
“Aku tanya, apa yang kamu lakukan disini,William?”
William tidak menjawab. Mungkin kali ini akal sehatnya bekerja dengan benar
Aku memejamkan mataku beberapa detik, mencoba mengontrol perasaanku yang campur aduk. Aku bahkan tidak punya keberanian untuk sekedar memeluknya meski seberapa besarpun kerinduanku padanya. Aku bahkan tidak dapat menangis dihadapannya atau meluapkan amarahku. Aku tidak bisa. Dan itu membuatku semakin kesal pada diriku sendiri. Aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk berhenti berharap pada William. Namun mengapa ia kembali hadir saat semua harapan itu hampir pudar sepenuhnya?
Aku menghembuskan napas pelan sambil menghembuskan napas pelan. Aku mencoba mengontrol perasaanku dengan baik. Kemudian dalam satu tarikan napas aku mendorong tubuh William menjauh. Aku mengambil langkah cepat berjalan menuju mobilku. Aku tidak ingin melihat William lagi… setidaknya untuk saat ini
“Kat! Tunggu! Kamu kenapa?”
William mengejarku. Ia menahan pergelangan tanganku. Aku mencoba menarik tanganku darinya namun aku lupa bahwa William benar benar kuat. Ia meraih bahuku, mencoba mengunci tatapan diantara kami
“Kamu kenapa,Kat? Kamu marah?”
“Lepas! Aku sibuk!”
“Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu bicara denganku,”
“William, lepaskan aku! Kamu ngga malu diliatin orang orang?!”
“Nope but maybe you are…,”
Aku mengumpat kesal dalam hati. Beberapa orang berlalu lalang melihat kami. Sebagian mulai mengeluarkan ponselnya seperti berniat untuk memotret kami. Oh, ini membuatku pusing, Aku kemudian meminta William melepaskan tanganku agar aku berbicara. William kemudian membawaku ke dalam mobilnya yang terparkir tidak jauh dari Gallery. Aroma mobilnya membuatku menahan napas, bukan karena bau namun melainkan aroma yang membuatku selalu mengingatnya. Ini kacau!
“Oke, jadi … kamu kenapa?” tanya William setelah ia menyalakan pendingin mobil
Ia duduk menghadapku dan itu membuatku merasa tidak nyaman. Bagaimana jika tatapan intens itu membuatku goyah atau malah berakhir menangis dalam pelukannya? Oh itu mengelikan. Aku tidak akan pernah jatuh dalam perangkap William lagi
“Kamu serius tanya aku kenapa?” tanyaku sambil menatap keluar jendela
Aku berniat untuk menghindari saling bertatapan dengan William namun Ia malah menempelkan jemarinya di pipiku kemudian mendorong wajahku menatapnya dengan sangat lembut. ****! Kedua pasang mata kami beradu lagi. Ini membuatku menjadi super nervous dan sedih
“Aku tahu kamu pasti masih sangat marah padaku. Tapi.. kamu janji kamu bersedia menungguku,”
Aku menarik tangannya menjauh. Kulipat tanganku di dada kemudian duduk membelakanginya. Dadaku terasa sangat panas kali ini. Ada rasa marah, kesal, kecewa dan sedih. Semuanya bercampur aduk menjadi satu
“Apa yang kamu lakukan disini?” tanyaku dingin. Sebenarnya aku tidak ingin melanjuti pertanyaan itu lagi namun entah mengapa rasa panas di dada ini mendorong keinginan untuk menyakiti William, setidaknya sekali saja
“Apakah kamu pikir aku itu halte bus kamu? Sesuka kamu datang dan pergi? Kali ini kamu datang. Kapan kamu akan pergi lagi?”lanjutku
William tertawa kecil. Ia duduk bersandar sambil menghembuskan napas lega. Huh? William menghembuskan napas lega? Bagaimana mungkin?
“Jadi benar kamu marah,” ujar William mengonfirmasi
Aku memutar kedua mataku kesal
“Aku tidak marah. Lagian aku punya hak apa untuk marah? Aku bukan siapa siapa dalam hidupmu!”
“Kamu istriku,Kattie. Dan aku adalah suamimu,”
“Aku tidak tahu aku masih punya suami,”
Oke, kali ini aku memberikan sindiran keras. Namun anehnya William menanggapinya dengan tawa kecil. William tidak langsung membalas. Keheningan kembali terjadi. Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiran William. Mengapa ia tidak membalas sindiranku?
Pada detik ketika aku meliriknya, aku menemukannnya tengah menatap ke depan dengan kedua mata memerah. Tunggu, sejak kapan kedua matanya memerah? Aku menyergit binggung
“Sebenarnya aku menyalahkanmu saat itu. Mengapa kamu meninggalkanku ditengah situasi seperti itu? Kamu bukan membantuku namun menambah masalah hidupku. Kamu tahu kan.. kamu kejam?” balas William sambil mencoba tersenyum. Ia kemudian menunjukkan cincin pernikahan kami yang masih melingkar indah di jari manis nya
“Namun aku tidak bisa membencimu. Aku sadar kamu melakukannya untukku,”
William mengusap cincin pernikahan kami selama beberapa saat sebelum kemudian melanjut,“Aku harus mengakui bahwa kamu benar. Waktu yang kamu berikan benar benar menyembuhkanku meski aku membutuhkan waktu yang lama untuk pulih. Aku tahu aku terlambat namun aku ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah menungguku untuk benar benar sembuh,”
Aku harus mengontrol raut wajahku ketika ia menatapku. Kini aku menemukan kedua matanya berkaca-kaca. Huh, bukannya harusnya aku yang menangis?
“Aku tidak tahu bagaimana hidupku jika tanpamu,Kat. Terima kasih sudah mau bersabar denganku,” ucap William tulus
Huh tunggu. Apa-apaan ini? Mengapa hatiku menjadi tergerak? Mengapa aku hampir tersenyum? Mengapa kedua mataku ikut berkaca-kaca sekarang? Mengapa aku tidak bisa konsisten dengan motto untuk tidak berharap lagi dengan William? Aku berdeham pelan, mencoba untuk berpikir logis. Oke, William bisa saja membohongiku bukan?
“Apa-apaan sih? Siapa yang bersabar denganmu?” tanyaku mengelak
Aku tidak tahu apa yang lucu dari perkataanku hingga membuat William tertawa kecil. Ia mengusap kedua matanya sambil menghembuskan napas pelan. Ia tidak berhenti menatapku hingga membuatku gerah. Aku baru berniat melayangkan sindiran lain namun William lebih dahulu melanjut,“Nice to meet you again,Kattie,”
Geezzz. Nada suara itu terdengar begitu tulus hingga berhasil memupuk kembali harapan itu. Aku mengigit bibirku kesal. Bodoh kamu,Kat. Bodoh! Kamu harus menahan diri dan…
“I love you,Kat. I do really love you,” bisik William pada detik selanjutnya
William merona dan itu membuatku auto panas
“Kali ini aku dapat mengatakannya dengan percaya diri. Aku mencintaimu,Kat. Dan meski kamu tidak mencintaiku lagi atau mungkin level cintamu berkurang, aku akan membuatmu mencintaiku lagi. Aku janji aku tidak akan menyia-nyiakan kamu lagi,”
Kat! Kamu ngga boleh percaya,oke?!
Aku tahu aku tidak boleh jatuh dalam perangkap William namun entah mengapa pernyataan cintanya membuat pertahananku roboh. Bulir air mata jatuh membasahi pipiku. Aku berusaha menyekanya namun aku malah menemukan diriku menjadi terisak
Aku tidak tahu berapa lama aku menangis. Aku benar benar mengeluarkan semua rasa takut, marah, kesal, kecewa pada William. Aku tidak menolak saat William memelukku setelah aku memukul dadanya berkali-kali. Aku tidak ingat berapa kali aku memukulnya namun yang jelas aku sempat mendengarnya meringis sakit meski ia tidak mengghindarinya juga
“Apakah itu sudah membuatmu lebih baik?” bisik William sambil mencium puncak kepalaku
Oh God! Ini tidak adil. Mengapa kehadirannya saja sudah cukup mengobati semua luka ini? Aku tahu mungkin orang orang akan menyebutku bodoh atau bucin kebangetan namun ada secercah harapan yang kembali bangkit. Dadaku menjadi lebih ringan setelah menangis dan itu benar benar membuatku menjadi lebih tenang
William mengangkat daguku dengan hati hati sebelum kemudian ia mulai menyeka air mata yang membasahi pipiku menggunakan bibirnya. Sebenarnya ia melakukannya dengan ekstra hati hati. Mungkin ia khawatir apabila aku akan marah namun entah mengapa aku tidak dapat marah. Ciumannya yang penuh ketulusan itu membuatku meleleh. William menghentikannya tepat di puncak kepalaku. Ia menempelkan dahinya disana sambil memejamkan kedua matanya. Tidak ada komunikasi berarti selama itu namun entah mengapa itu benar benar membuatku tenang