
Perjalanan ke puncak kali ini terasa sangat canggung. Camilla dan Issac diambil alih oleh Jessie dan suami agar bergabung dengan anak anak mereka sementara di dalam mobil Pajero sport hitam ini hanya tersisa Supir, Christy dan pacar lalu William dan aku
Aku agak bersyukur karena William mengambil posisi duduk di baris terakhir
Christy kelihatan sangat bahagia hari ini. Apakah perjalanan liburan keluarga ini memang sudah sangat dinantikannya?
“Mbak, aku happy banget deh. Thank you for help me fulfilled this dream,mbak,” ucap Christy sesaat setelah mobil melaju
Aku tersenyum sambil mengangguk
“Most welcome. Anyway berapa lama perjalanan baru sampai ke puncak?”
“Dua jam mungkin kalau enggak macet,”
“Ah, dua jam..,”
“Kenapa? Mbak mau perjalanan yang lebih jauh ya?”
“Ha ha ha, enggak kok. Ini sudah cukup banget deh,”
“Ha ha ha. Tenang,mbak. Ntar aku atur perjalanan jauhnya ya. Sebenarnya aku mau liburan ke luar negeri kali ini tapi Issac masih kecil banget dan.. aku khawatir akan mempengaruhi kehamilan mbak,”
“Hah? Hamil? Aku?”
Aku menyergit sambil melirik William tanpa kusadari. William rupanya juga sedang melihatku namun ia memutuskan kontak mata diantara kami setelah aku melihatnya. Astaga, aku lupa kalau aku memang belum… menstruasi dan kalau diingat-ingat, kami telah melakukan hubungan badan itu selama beberapa kali dengan sangat intim. Oh tidak. Aku… tidak mungkin hamil lagi kan?
Aku berdeham beberapa kali sambil mencoba menyamarkan kekhawatiranku dengan tawa
"Ah, enggak kok. Ada ada aja kamu. Aku baru lahirin Issac. Enggak mungkin hamil lagi deh,”
“Ya..eum, kalau hubungan kalian intense.. tentu hal itu tidak bisa dihindari he he he,”
“Aduh enggak deh. Kalau kamu sendiri? Kapan rencana nikahnya?”
Bagus. Aku berhasil mengalihkan topik pembicaraan
Christy terdengar sangat antusias dengan topik pernikahan. Alhasil kami menghabiskan waktu hampir satu jam untuk membahas mengenai dekorasi dan lain lain. Rupanya pacarnya telah melamarnya semalam. Ah, pantas saja dia kelihatan sangat bahagia
Pembicaraan kami berhenti setelah Christy mendapat satu panggilan telepon. Aku melirik William yang masih sibuk dengan ipad nya. Dia tidak berbicara denganku sama sekali setelah makan semalam. Aku masih ingat dia mengetuk pintu beberapa kali semalam sebelum masuk dan mengambil beberapa barangnya. Hanya itu
Christy dan pacar mulai bermesraan. Laki lakinya menyandarkan kepalanya di bahu Christy sementara itu mereka bernyanyi bersama, membuatku dengan refleks menahan napas, agak miris dengan kisah cintaku
Ponsel William berdering
Aku tidak berani melihatnya namun samar samar aku mendengar suara Camilla. Lalu sebelum aku menoleh, William telah duduk merapat denganku, meraih bahuku dengan tangannya dan meletakkan ponselnya diantara kami
“Mama… mama, papa!”
Aku terlalu terkejut untuk menanggapi aksi kali ini. Aku perlu menarik napas berkali kali, membuang napasku, lagi dan lagi sampai puluhan kali sebelum menatap layar ponsel
Disana Camilla sedang bermain dengan sepupunya. Issac sedang berbaring di pangkuan Jessie. Senyumku melebar tanpa kusadari. Ah, aku rindu dengan anak anakku tapi aku mengerti mereka ingin bermain dengan para sepupu
Panggilan tersebut berakhir setelah hampir lima belas menit lalu pada waktu bersamaan, William mengatur posisi berjarak denganku lagi. Sebelah alisku terangkat. Ada apa dengan perubahan mendadak itu?
Sebenarnya sikap William baru saja membuatku agak sakit hati namun aku memutuskan untuk tidak berargumen tentang itu. Aku mengambil posisi duduk paling ujung juga sambil menatap ke sisi kiri jendela, berharap kami akan segera sampai di tujuan agar aku tak perlu ‘menghindar’ darinya lagi
Kami sampai di penginapan satu jam kemudian
Aku sedang menggendong Issac dengan Camilla yang terus menempel padaku. Sebelah tanganku yang lain hendak mengambil koper dari bagasi namun sebuah tangan telah lebih dulu mengambilnya
Ketika aku menoleh, itu adalah William. Dengan tatapan dingin khasnya, ia mengambil koper tersebut tanpa mengucapkan satu patah katapun namun tatapanna langsung menjadi hangat setelah beradu tatapan dengan Camilla dan Issac. Huh, mengesalkan
Sebelah alisku terangkat karena William juga meletakkan tas nya ke dalam kamar hotelku. Artinya kami akan tidur sekamar hari ini? Ah, aku lupa. Keluarganya tidak tahu kalau kami sedang kurang bersahabat. Huh
Para anak anak masuk ke dalam kamarku, mengajak Camilla bermain sementara Issac sudah tepar. Aku membiarkan para anak anak bermain dibawah pantauanku. Kami kemudian mampir ke salah satu restoran popular setelah Issac bangun
“Gimana, Kat? Perjalanannya enggak secapek itu kan?” tanya Jessie sesaat setelah aku mendaratkan bokongku di salah satu kursi tersudut
Kupikir William akan mengambil posisi duduk terjauh denganku namun dia malah mengambil posisi duduk tepat disampingku, dengan Camilla berada di sisi kiriku dan Issac dalam gendonganku
“Enggak kok,mbak,”
“Bagus bagus. Dengar dengar hotel mengadakan acara barbeque nanti malam,”
“Oh ya? Berlaku untuk semua tamu?”
“Yap, em, well, actually we bought the voucher. Jam tujuh malam ya. Jangan lupa. Disana juga ada beberapa mainan anak anak. Anak anak pasti pada senang,”
Aku mengangguk membalas
Aku agak kesulitan membuka tas perlengkapan Issac. Aku berencana memberinya minum susu dulu namun aku agak kewalahan karena posisi dudukku yang kurang nyaman plus Camilla yang sedang manja banget denganku
Aku menghembuskan napas pelan karena tanganku tidak berhasil membuka tas sedari tadi. Ketika aku hendak meraih tasku, William membantuku lagi. Kini, ia bahkan membantuku menyeduhkan susu tanpa kuberitahu maksudku sama sekali. Ini agak mengejutkan. Sejak kapan dia bisa menyeduhkan susu anak?
Aku berdeham pelan ketika dia melihatku. Ia menyerahkannya padaku tanpa mengatakan apapun sementara aku menerima setelah bergumam terima kasih
“Cie cie, yang romantis abies,” goda Jessie sesaat setelah William meletakkan piring itu tepat dihadapanku
Aku tersenyum kecil sambil melirik William yang kelihatan menulikan telinganya. Duh! Jawaban apa yang harus kuberikan coba?
“Mbak dan mas juga romantis banget,” balasku sambil tersenyum tipis
“Engga seromantis kalian dong, pastinya,” Jessie mengedipkan sebelah matanya padaku. Aku berharap ekspresiku tidak kelihatan canggung amat. Mungkin dia bisa terkejut batin kalau tahu adik kesayangannya dan aku sedang bertengkar
Jessie bersiul semakin keras setelah William meletakkan beberapa potong daging steak tambahan di piringku lagi. Aku menyergit, tidak dapat menahan diri untuk tidak menoleh melihatnya. Apakah William ingin perutku meletus lagi? Porsi makan kali ini sudah jauh lebih besar dari porsiku biasa. Bisa bisanya dia menambahnya lagi. Fiuh!
Ketika aku hendak bertanya, aku merasa tubuhnya semakin mendekat lalu… cup. Dia mengecup bibirku dihadapan keluarganya lagi. Astaga. Kupikir pipiku sudah memerah. Aku bahkan tidak berani menatap sekelilingku saat mereka bersorak ramai. Kugigit bibirku kesal. Apaan sih maksud William, huh? Bukankah hal ini juga sudah pernah terjadi beberapa tahun lalu? Kupikir aku sudah memberi garis jelas diantara kami dulu?
Mereka mulai bersiul dan bercanda mengenai anak ketiga. Bulu kudukku berdiri. Lalu William dengan mudahnya menarik daguku mendekat lalu ia mengecupnya lagi. Tidak, kali ini ia menlumatnya dengan cukup agresif. Singkat, hanya seperkian detik sebelum ia menghentikannya. Aku mengerjap tidak percaya. Pipiku sudah memanas. Aku merasa seperti akan menangis namun ia malah tersenyum tipis menghadapi candaan itu lalu lanjut makan lagi
Aku bersyukur Jessie membawa Issac ke kamarnya bersama dengan Camilla sesaat setelah kami sampai di kamar
Laki laki itu kembali mengacuhkanku. Dia berjalan melewatiku, menempelkan bokongnya di sofa yang menghadap hehijauan indah dengan sebuah ponsel di tangan. Ah, jadi aku sudah tidak terlihat lagi dimatanya?
Aku tidak sadar sudah berjalan mendekatinya dan.. bahkan telah berhenti dihadapannya
Ia menatapku dengan kening menyergit sebelum kemudian fokus kembali dengan ponselnya. Sikapnya benar benar membuatku gerah
“Kenapa? Ada yang perlu dibicarakan?” tanyanya setelah aku tidak lekas pergi dari hadapannya
Dia menengadah hingga kedua pasang mata kami bertemu. Tatapan acuh itu membuatku kesal banget!
“Kamu pikir tidak ada yang perlu dibahas setelah.. menciumku?”
“Apakah ada yang salah? Kamu adalah istriku,”
“Apakah kamu lupa kalau kita tidak sedang dalam hubungan yang baik?”
“Ah, ini tentang kamu bercanda gurau dengan cinta pertamamu?”
“Tentang kamu dan wanita yang bernama Laura Angela,”
Perkataanku berhasil membuat William kelihatan bertambah kesal. Dia mendengus tidak percaya, seolah aku dan pemikiranku adalah hal tersalah dan tersesat
William tidak melanjut. Aku mengepalkan jemari tanganku dan melanjut,“Aku sudah pernah memperingatimu untuk tidak menciumku dihadapan keluargamu, apalagi di meja makan. Kamu sudah lupa? Atau sengaja? Selain itu, ada apa dengan perubahan mendadak di hadapan keluargamu? Ada apa dengan semua sikap perhatian itu? William, aku adalah wanita dewasa. Aku bisa mengurus diriku dan anak anakku sendiri,”
Aku tidak tahu bagian mana dari perkataanku yang salah karena William kelihatan cukup sakit hati setelah itu. Dia meletakkan ponselnya di meja dengan cukup keras lalu bangkit berdiri. Ia berjalan mendekatiku, membuatku semakin mundur. Astaga, dia tidak berhenti! Aku tidak rasa bisa berdiri sedekat itu dengannya lagi, setidaknya untuk sementara waktu
Aku melirik ke belakang setelah punggungku menyentuh tiang balkon. Huh?
Kaki William menyentuh ujung kuku jariku, menandakan seberapa dekat posisi kami saat ini. Kedua lengan laki laki itu menempel pada tiang balkon. Tatapannya yang dingin itu membuatku tertegun
“Ada beberapa hal yang harus kita luruskan,” ucapnya semakin mendekatkan wajahnya denganku sampai aku dapat merasakan hembusan napasnya. Ia melanjut,“Pertama, Camilla dan Issac adalah anak kita. Jangan pernah menyebut anakmu saja. Kita membuatnya bersama. Kedua, jangan pernah memanggilku dengan William. Aku sudah pernah memperingatimu. Ketiga…,”
Astaga astaga astaga, wajah itu semakin mendekat. Bibir itu bahkan kini hanya berjarak setengah senti dariku. Setiap kali ia berbicara, aku merasa bibirnya menyentuh bibirku. Oh, ini membuatku frustasi. Aku meletakkan tanganku di dadanya, mencoba mendorongnya namun ia semakin menempelkan badannya padaku hingga kini kakinya sudah melingkari kakiku. Duh, bisa bisa orang mengira kami lagi berhubungan intim pula!
“Bisa kamu agak menjauh?” tanyaku setelah gagal mendorongnya berkali kali
William semakin menekan badannya hingga dadaku bergesekkan dengan dada bidangnya. Ugh!
Dia melanjut,“Ketiga, aku adalah suamimu. Aku berhak melakukan apapun atas dirimu,”
Aku menyergit
“Kamu adalah suamiku. Oke, aku menerima fakta itu. Tapi.. kamu berhak melakukan apapun atas diriku? Hah? Omong kosong apa itu?”
“Ini bukan omong kosong,”
Ketika aku hendak membalasnya, aku merasakan lututnya berada diantara kedua kakiku, sengaja mendorong ke daerah intimku dengan sebelah tangan yang mulai bergerak naik dari tanganku ke leherku, menurun hingga dadaku lalu menyusup dibalik kaosku. Oh tidak!
Aku merasa pipiku telah memanas. Aku bersyukur akal sehatku masih bekerja keras melawan hasrat itu. Aku menarik tangannya menjauh. Itu agak berhasil meski aku tidak bisa mendorong lututnya yang masih berada diantara kedua kakiku
“Kamu gila ya?!” ketusku kesal karena jemari tangannya yang lain kembali menyusup ke dalam kaosku
William menatapku dengan datar setelah aku memberi perlawanan atas setiap sentuhannya. Ia mencengkram tanganku dan berkata,“it just simple means I have control over you. This is just a smallest one, so, please be more mature,”
Duh, kenapa aku menjadi ingin menangis? Aku merasa seperti direndahkan. Apakah ini hanya perasaanku saja?
“Including menganggap biasa sikap kamu bermesraan dengan wanita lain dan.. sikapmu sekarang?” balasku getir
William tidak membalas. Ia melepaskan gengamannya dan memberi jarak kentara diantara kami. Tatapannya masih tajam. Ia melanjut,“Tidak ada wanita lain. Camkan itu,Kattie Priscilla,”
Hanya itu
Dia mengatakannya dengan singkat, tegas, tajam dan dalam satu tarikan napas. Ia berbalik lalu berjalan meninggalkanku. Ia keluar dari kamar dengan menutup pintu sedikit lebih keras, meninggalkanku yang mulai menangis terisak
***