Fool Again

Fool Again
Teka Teki



Ini merupakan kali pertama William mengantar Camilla ke sekolah. Laki laki itu telah menunggu di dalam mobil dengan Camilla yang duduk di pangkuannya setelah aku kembali ke dalam mobil setelah menitipkan Issac pada kedua orang tua William


Dia memberiku senyum manis sesaat setelah aku menempelkan bokongku di kursi. Aku membalasnya dengan tipis sebelum kemudian menatap lurus kedepan setelah mengambil alih Camilla. Jujur, aku mencoba untuk tidak terus menerus terbayang dengan percintaan super panas kami semalam. Padahal percintaan panas semalam bukanlah yang pertama namun mengapa jantungku masih berdegup kencang dan aku tak dapat berhenti berdenyut memikirkan hal itu. Astaga!


“Kita tidak akan telat kan?” tanyanya setelah mobil berhenti di lampu merah


“Seharusnya tidak. Kita masih punya waktu kurang lebih lima belas menit,” jawabku setelah berdeham beberapa kali. Berkali kali aku mencoba mengingatkan diriku untuk berhenti merasa malu atas percintaan panas itu. Pertama, ini bukanlah yang pertama kali. Kedua, kami adalah suami istri dan ketiga…kami saling mencintai. Jadi ini adalah hal yang wajar bukan?


“Kita harus bangun lebih awal setengah jam mulai dari besok,”


“Kita? Maksudnya kamu, mungkin?”


William menahan senyum dengan jawabanku yang cukup menyindir. Aku bangun tepat ketika jarum jam berhenti di angka lima setiap paginya sementara dia masih tertidur pulas. Aku membutuhkan waktu hamppir setengah jam hanya untuk membangunkannya tadi


William menjawab,“Ah ya, maksudku, aku akan bangun lebih awal setengah jam. Atau apakah sebaiknya kita membeli rumah baru di dekat daerah sekolah Camilla?”


William kelihatan agak berpikir keras sambil melirik jam tangannya beberapa kali. Lalu dia melirikku beberapa kali dan melanjut,“atau mungkin kita bisa menyewa helikopter agar Camilla tidak terlambat?”


Kedua mataku terbelalak. Aku mendengus tidak percaya


“Liam, aku tahu kamu kaya tapi kupikir akan lebih baik kamu menggunakan uangmu dengan lebih wajar,


“Uang kita,sayang,”


Perkataan itu membuatku bergetar. Aku mencoba untuk tidak terpengaruh atas perkataan itu lalu membalas,“Kita hanya perlu tidur lebih awal dan bangun lebih awal satu jam maka kita tidak akan terlambat lagi. Helikoper? Huh? Apakah kamu ingin merenovasi lantai terakhir agar helikopter kamu bisa mendarat lagi?”


“Tapi…,”


“Sebaiknya kamu invest uang kamu di bidang lain, oke?”


William kelihatan ingin membalasku namun melihat tatapanku yang tajam pun berhasil membuatnya berhenti. Dia mengangguk pasrah. Kami tiba di sekolah Camilla tepat pada pukul delapan pagi. Aku menghembuskan napas lega. Syukurlah, Camilla tidak terlambat


William tidak berhenti menatap Camilla dari balik jendela kelas. Tatapannya yang bangga tersebut membuatku ikut menghangat juga. Sejenak, rasa bahagia itu kembali menyeruak. Inilah yang kuinginkan, menjalani hari seperti pasangan pada umumnya. Aku meraih pergelangan tangannya, melingkarkan tanganku disana lalu bersandar pada bahunya


“Tidak terasa bukan? Camilla sudah hampir berusia tiga tahun,”


“Kamu benar. Waktu berlalu begitu cepat. Rasanya dia baru bisa berjalan waktu itu,”


“Yeap, time flies so fast,”


William menunjuk seorang anak laki laki yang sedang bermain dengan Camilla


“Anak kecil laki laki itu merupakan sahabat Camilla?”


“Mungkin? Laki laki itu sudah mengekorinya sejak hari pertamanya masuk sekolah,”


“Serius kamu?”


“Ya, aku masih ingat jelas. Selain itu, ada beberapa teman lain juga,”


William menggelengkan kepalanya tanpa memutuskan tatapannya dari Camilla. Aku memutuskan untuk tidak bersuara sementara menunggunya menikmati permandangan dihadapannya. Kami sedikit mengambil jarak setelah mendengar seseorang yang berdiri di belakang kami dan berkata,“excuse me,”


Kami menoleh, menemukan seorang wanita muda dengan seorang anak laki laki berada dalam gengaman tangannya. Dia memberiku senyum sopan lalu kedua matanya bergerak melihat William. Ada keterkejutan disana selama seperkian detik sebelum kejutan itu berganti dengan senyuman lebar. Ia mengambil posisi berdiri disamping William setelah memasukkan anak tersebut ke dalam kelas


“William?” ucapnya


William melihatku selama beberapa detik sebelum kembali melihat wanita itu


“Siapa?”


“Kamu tidak kenal aku?”


“Tidak,”


“Kita pernah bertemu beberapa kali di Brunei beberapa waktu lalu,”


“Brunei?”


“Ya ya, aku wanita yang memakai kacamata hitam waktui itu,”


“Kacamata hitam? AH! Jadi itu kamu?”


“Ya! Aku hampir tidak mengenali penampilanmu. Astaga! Sudah lama sekali rasanya terakhir kita bertemu. Kamu memberiku nomor whatsapp kamu. Kupikir kita bisa saling bertukar pesan setelah itu,”


Nomor whatsapp?


Wanita itu sepertinya menyadari ketegangan di wajah William. Dia melirikku sekali lagi, memperhatikan penampilanku dari atas sampai bawah sebelum setengah berbisik dengan hati hati,“Kamu... Kattie Prsicilla?”


Dia mengenalku?


Aku mengangguk sambil mengukir senyum sopan,“Benar. Apakah kita saling mengenal?”


“Saya mengenal.. suami kamu. Kita bertemu di Brunei tahun lalu,”


Dia merapikan rambutnya tanpa memutuskan kontak matanya pada William lalu dia kembali melanjut,“Dia adalah laki laki menarik. Kupikir kami akan lanjut berkomunikasi tapi dia malah memberiku nomor yang salah, ha ha ha, so, well, world does seems unpredictable bukan? Aku malah bertemu William disini. Kamu lagi ngantar ponakan kamu?”


William kelihatan terkejut dengan perkataan itu sementara aku mulai tidak dapat menyembunyikan ketidaknyamananku. Tertarik? Ponakan? Fiuh! Ini sangat mengesalkan karena aku harus mengakui William tidak kelihatan seperti bapak bapak. He’s just too handsome as a husband and a father!


Ketika aku sibuk dengan pikiranku, aku merasakan tangan William menempel pada pinggangku. Ketika aku menoleh, dia telah berdiri disampingku, melihatku dengan sorot lembut


William tersenyum sopan pada wanita itu lalu berkata,“saya kemari untuk drop anak sekolah. Perkenalkan ini istri saya,”


Wanita tersebut kelihatan sangat terkejut. Dia menunduk sambil berdeham beberapa kali. Aku merasa agak lega namun aku masih tidak dapat menahan rasa penasaran seperti bagaimana William mengenal wanita ini? Bagaimana dunia begitu sempit? Brunei? Kupikir William murni hanya bekerja disana. Huh? Apakah ada cerita yang tidak kuketahui disana?


Wanita itu melihatku dengan senyum sangat tipis,“sorry, em, saya pikir suami kamu masih single. Semoga ini tidak mempercanggung situasi kita?”


Aku mengangguk meski sebenarnya masih merasa agak kesal. Bagaimanapun aku harus bersikap lebih dewasa


“It’s okay. Kamu bukan satu satunya wanita yang berpikir seperti itu. Saya juga sadar kalau suami saya terlalu sulit dipercayai sudah beristri dan anak,” jawabku. Aku mendengar William berdeham beberapa kali


Wanita tersebut kemudian pergi setelah aku berkata demikian. Padahal aku pikir aku masih bisa menggali lebih banyak informasi tentangnya. Fiuh


Aku berencana meluapkan semua pertanyaan pertanyaan menganggu setelah kami sampai di dalam mobil. Aku memutar badanku menghadapnya setelah kami kembali ke dalam mobil. William yang sudah menduga itu pun menghembuskan napas pelan sambil mengangkat tangannya ke udara selama beberapa detik


Dokumen yang menggunakan bahasa asing tersebut membuatku menyergit


“Ini apa?” tanyaku binggung


“Ini adalah kontrak kerja sama dengan salah satu perusahaan manufaktur di Brunei. Disana tercatat tanggal kontrak tersebut diresmikan, November 16,”


“Apa hubungannya?”


William tidak langsung menjawab. Dia mencari foto lain, yang kali ini menunjukkan sekelompok fotonya bersama beberapa laki laki paruh baya di sebuah bar yang bisa kukatakan mewah


William melanjut,“Ini adalah foto partnerku disana. Kami sedikit minum minum setelah kontrak ditandatangani,”


Sumpah, aku masih belum mengerti maksudnya. Apa hubungannya coba?


William menggeser ke kiri lalu memperbesar beberapa foto di spot tertentu. Mulanya aku melihatnya dengan acuh namun aku mulai menyadari wajah yang muncul di setiap foto tersebut, yaitu.. wanita tadi!


Wanita tersebut kelihatan memakai pakaian seksi di foto tersebut. Serta kelihatan sedang mengintip. William menutup layar ponselnya lalu melanjut,“Namanya Era. Dia kelihatan tertarik denganku. Terus menerus mencoba mengangguku dengan beberapa excuse dan bahkan mengintip. Partner bisnisku mengira dia dan aku memiliki hubungan personal karena kami beberapa kali berbicara. Jadi sewaktu aku agak mabuk, wanita itu masuk ke tempat kami dan mengajakku berbicara,”


Aku menyergit, tidak dapat menutupi rasa kesal dan jijikku pada wanita itu


“Apakah partner bisnismu tidak tahu kamu sudah menikah?”


“Well... probably not?”


“Astaga! Jadi, apa yang kalian perbincangkan?”


“Tidak cukup banyak. Tapi aku ingat jelas sedang melihat fotomu jadi.. karena itu dia tahu nama kamu karena aku memberitahunya namamu,”


“Apa yang kalian lakukan setelah itu?”


“Aku kembali ke Hotel mengikuti rombongan,”


“Kamu yakin dia tidak mengikutimu ke hotel atau mungkin kalian bersama sama?”


William mengerjap, seolah tidak percaya dengan pertanyaan yang baru kulontarkan. Dia menyergit lalu raut wajahnya berubah setelah itu, menjadi sedikit lebih dingin. Aku tertegun. Astaga, apakah aku berlebihan? Maksudku, sewaktu foto tersebut diambil, Yuriska baru meninggal beberapa bulan. William juga tidak mungkin nekat melakukan hal senonoh disana juga, bukan? Mkasudku, dia pasti masih punya hati nurani bukan?


“Tidak. Aku masih waras,Kattie,” jawabnya singkat


Dia mulai bersandar tanpa berhenti menghembuskan napas pelan. Aku mulai merasa bersalah atas itu. Aku berdeham beberapa kali lalu memberanikan diriku menyentuh bahunya


“Sorry, aku terlalu berpikir negative tadi. Kamu tahu, aku masih belum terbiasa dengan perasaan dan hubungan timbal balik ini. Jadi, maaf kalau aku membuatmu merasa aku terlalu posesif tadi. Kuharap kamu tidak marah,” ucapku jujur


William tidak langsung membalas. Dia memejamkan kedua matanya beberapa saat sebelum dia kembali melihatku. Kali ini sorot dinginnya sudah sedikit berkurang meski aku merasa ada sesuatu yang membuatnya agak terganggu


“Permintaan maaf diterima. Sorry, aku juga tidak seharusnya kesal tadi,”


“Tidak tidak, kamu pantas kesal karena aku terdengar menuduhmu,”


“Dan kamu juga pantas meragukanku karena kita berpisah cukup lama,”


“Kamu...ada benarnya, huh,”


“It’s okay. Kita bisa saling mengoreksi kedepannya. Aku hanya ingin kamu tahu kalau.. memang tidak ada hubungan khusus atau personal dengan wanita itu. Aku bahkan hampir tidak mengenalnya,”


“Senang mendengarnya seperti itu, Liam,”


William tersenyum tipis. Dia mengengam tanganku lalu mencium punggung tanganku,“Apakah kamu tahu? Kalau laki laki single melihatmu, mungkin mereka juga akan mengira kamu itu wanita single,”


Kedinginan tersebut telah mencair sepenuhnya. Tatapannya yang intense membuatku berdebar. Aku tertawa terbahak bahak karena merasa itu adalah candaan terjahat. Aku kelihatan seperti wanita single?


“Kenapa? Kamu tidak percaya?” tanya William sambil menyergit


“Ini sama seperti kamu mau bilang kalau Bruno Mars lebih cantik daripada Lady Diana,” jawabku


William tertawa kecil, merasa terkejut dengan perbandingan yang kuberikan. Tapi ayolah.. itu adalah kenyataan. Bagaimana Ibu dua anak sepertiku masih kelihatan seperti wanita single?


“Lihat, kamu memiliki wajah yang cantik dan kulit terawat. Tentu juga disempurnakan dengan badan kamu yang proposional. Dada kamu terasa sangat sempurna dan pas digengamanku dan kamu...,”


Astaga! Pembicaraan ini terdengar hampir menuju ke pembahasan yang vulgar. Aku menempelkan jariku ke bibirnya dan berkata,“Oke, stop. Pada dasarnya semua orang itu cantik dan ganteng, oke, aku mengakuinya,”


William mulai kelihatan usil. Ia mulai mendekatkan wajahnya. Jemari tangannya mulai bergerak naik dari kakiku ke pahaku. Sentuhannya yang ringan tersebut membuatku bulu kudukku berdiri. Aku telah merapatkan kedua kakiku tanpa kusadari. Laki laki itu tersenyum nakal sebelum dia membuka kembali kedua kakiku. Jemari itu mulai bergerak naik, semakin naik hingga mulai memasuki celana dalamku lalu tanpa peringatan, jemari itu mulai menempelkan jemarinya disana, memasuki organ intimku, membuatku terkejut namun memejamkan mataku, menikmatinya


Bibirnya mulai menempel ditelingaku, mengelitiknya dengan manja sementara jemari tangannya mulai semakin ganas dan liar dibawah sana, membuatku mengigit bibirku sambil mengapitnya dengan kedua pahaku


Jemari tangannya yang lain mengusap kepalaku lalu bibirnya mulai ******* bibirku dengan panas, sangat panas. Astaga, aku harus mengakui William memang sudah sangat profesional mengenai hubungan badan. Bagaimana mungkin dia bisa menciumku dengan panas tanpa menghentikan gerakan tangannya dibawahku?


Bibir itu mulai bergerak turun. Lidahnya dengan sengaja menjilati leherku, menuruni bahuku lalu berakhir di buah dadaku. Aku mengigit bibirku, mencoba menahan ******* yang hampir berdegung.


“Kamu mau lanjut atau.. jika tidak kita akan telat belanja untuk barbeque nanti malam?” bisiknya tepat setelah aku merasakan kecupan super dalam di buah dadaku. Tanpa kusadari, aku sudah tersenyum sambil memejamkan mataku lalu ketika William memperdalam gerakan jemari tangannya dibawahku, aku mendesah dengan cukup keras


Astaga!


Kedua mataku yang terpejam sedari tadi pun dengan refleks terbuka. Ia sedang melihatku dengan tatapan usil itu. Fiuh! Aku menahan napas setelah dia mengeluarkan jemariya dari sana lalu membersihkan tangannya dengan tissue basah dan sanitizer. Astaga, apakah kami baru saja... make out?


 “Jadi bagaimana? Kamu belum menjawabku,sayang,” lanjut William sambil menatapku dengan nakal


Tatapannya jatuh pada pakaianku yang sudah basah. Astaga! Orang orang mengira aku masih asi, padahal...


Aku menganggukkan kepalaku tanpa melihatnya. William membalas,“Maksudnya kamu mau kita lanjut? Aku akan melakukannya dengan senang hati,”


“T...ti..tidak!”


“Jadi? Hey, look at me,”


William agak maju lalu mengengam tanganku hingga aku melihatnya. Senyum mautnya membuatku menahan napas. Oh tidak, ini berbahaya. Aku benar benar harus menghentikan kontak mata diantara kami atau aku akan mendapati diriku tidak berhenti melucuti pakaiannya


“Kamu mau ke supermarket atau..?”


“Supermarket, please,”


William terkekeh melihat responseku atas perbuatannya baru saja. Dia seperti kelihatan puas karena sudah berhasil membuatku linglung seperti itu. Ia mengecup bibirku dengan dalam sekali lagi sampai sampai aku agak memajukan badanku. Ciuman ini terasa pas. Meski panas dan terkesan tergesa-gesa tetapi aku sangat menikmatinya. Ia mengakhiri ciuman tersebut dengan gigitan kecil sebelum Ia kembali menyalakan mesin mobilnya