Fool Again

Fool Again
Jawaban atas Pertanyaan Meresahkan Itu



Aku tidak dapat membohongi diriku sendiri bahwa aku masih memikirkan sembilan pertanyaan itu bahkan hingga kehamilan keduaku. Namun kali ini pertanyaanku bertambah menjadi,


Apakah William akan menerima anak ini dengan bahagia?


Apakah aku dan anak anakku hanya menambah rintangannya untuk bersatu kembali dengan Yuriska?


Apakah dia dapat menyayangi anak ini?


Dan.. apakah aku siap melahirkan anak ini dengan status ‘janda’?


Aku tidak dapat menampik rasa sedih dan kecewa mendalam atas semua pertanyaanku. Meski aku tidak tahu akan seperti apa jawaban dari William namun yang kuketahui pasti adalah … William mencintai wanita lain. Dan itu cukup bagiku menjawab segalanya.


“Aku tidak merahasiakannya,ma. Aku hanya… butuh waktu,” jawabku jujur


Mama menghembuskan napas panjang


“Butuh waktu untuk apa? Lagian, William juga bukannya ingin menceraikanmu. Oke, mama minta maaf kalau mama salah ngomong. Tapi… William harus tahu bukan?”


“Iya,ma.. aku hanya…,”


Aku mengigit bibirku resah. Sial. Kedua mataku mulai berkaca-kaca. Kehamilan ini membuat tingkat sensibilitasku semakin tinggi. Aku membasahi bibirku sebelum melanjut,“Aku membutuhkan waktu,ma. Aku tahu aku harusnya memberitahunya. Namun bisakah mama memberiku waktu? Aku tidak dapat memberitahu mama sepenuhnya namun… dia pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dariku,ma. I’m nothing… I’m nothing compared to all beautiful women he knew out there,ma. Hanya jika mama mengerti perasaanku, aku…,”


Mama kelihatan terkejut dengan pernyataan mendadakku. Sumpah, aku juga tidak menyangka aku akan se-mellow ini. Aku tidak tahu apa yang merasukiku hingga aku menumpahkan sedikit kisahku pada mama. Mama mengengam tanganku. Tatapannya berganti menjadi begitu teduh. Ia meremas bahuku pelan sambil berbisik,“Namun dia memilihmu dari semua wanita hebat yang dia kenal. Jadi kamu harus percaya diri. Kamu adalah anak mama. Kamu adalah satu dari sekian wanita hebat juga,”


Aku menyunggingkan senyum getir. Oh mom. Andai mama tahu kisahku


Aku menggelengkan kepalaku sambil menyeka air mataku


“Ma, please, tolong rahasiakan kehamilan pada siapapun untuk saat ini,” ujarku sambil mengengam tangan mama. Aku tidak tahu jelas bagaimana raut wajahku saat ini. Sedih, pasrah, takut? Entahlah. Yang jelas tatapan itu berhasil meluluhkan mama. Mama menyimpan selembaran kertas itu ke dalam saku celananya. Ia memberiku senyum tersenduh yang paling kubutuhkan saat ini


“Mama akan selalu ada untukmu,sayang,”


“Thanks,ma… I owed you a lot. Really…,”


Mama dan aku berpelukan tidak lama kemudian. Aku yang telah berhasil mengontrol perasaanku pun menarik napas pelan, mencoba mencari kesempatan untuk membujuk mama untuk tidak mengemasi barangku


Aku baru akan mengutarakannya namun mama sudah menggelengkan kepalanya terlebih dahulu. Ia berkata,“Mama janji tidak akan memberitahu masalah kehamilanmu. Tapi kamu juga harus kembali ke rumah suamimu,”


“Tapi ma..,”


“Kamu hanya boleh memilih, mama membeberkan kehamilan kamu atau kamu pulang ke rumah suamimu?”


Fiuh, What a tough decision ever!


Aku tidak dapat menjawab, yang membuat mama tersenyum sendiri. Huh! Sepertinya aku tidak perlu menjawabnya lagi karena mama sudah berlari untuk lanjut mengemasi barangku. Huh, jadi aku akan kembali ke rumah William setelah beberapa minggu? Aku menghembuskan napas panjang sambil berharap bahwa keputuskan tidak akan salah kali ini.


***


Bangunan klasik modern yang tertangkap di penglihatanku membuatku menghembuskan napas pelan. Huft… Siapa yang menyangka aku akan kembali ke rumah William setelah perdebatan kemarin? Rumah yang penuh dengan cerita dan perjuanganku itu membuatku harus memejamkan mataku selama beberapa detik tanpa kusadari. Setidaknya aku harus mengesampingkan perasaan familiar yang penuh dengan rasa sakit hati dan perih itu untuk sementara. Aku akan sibuk merapikan barang barangku dan Camilla sesaat setelah kami sampai nanti. Aku tidak boleh terlalu overthinking apalagi masa kehamilanku masih tergolong rawan. Kulirik William yang tengah fokus menyetir sambil menghembuskan napas kesal. Lihat bagaimana ia kelihatan begitu santai. Apakah membawaku kembali ke rumahnya dapat menjamin kami akan hidup dengan ‘nyaman’ bersama? Setelah semua ini? Huh?


William seolah menyadari aku tengah memandanginya sedari tadi. Ia melirikku, yang membuatku memalingkan tatapanku secara refleks


“Hey, ada apa? Ada sesuatu di wajahku?” tanya William sambil menyentuh wajahnya


Aku menggelengkan kepalaku canggung. Oh geeezz, kenapa aku memandanginya terlalu lama sih tadi?


William berdeham pelan lalu melanjut, “Kamu mau makan apa untuk lunch nanti?”


“Aku sedang tidak nafsu makan,”


“Kenapa? Kamu sakit? Ada yang tidak enak?”


“Em, tidak kok. Aku hanya…,”


“Perlu kita ke dokter sekarang? Kita bisa menitipkan Camilla ke rumah papa mama dulu kalau kamu tidak keberatan,”


Dokter? Absolutely no! Ini namanya percobaan bunuh diri. Huh, andai aku dapat memberitahu William bahwa aku sedang tidak nafsu makan karena aku sedang mengandung anak keduanya. Ugh!


“Yakin?”


William menyipitkan sebelah matanya yang kemudian kubalas dengan anggukkan kepala. Aku bergegas turun dari mobil ketika William telah memarkirkan mobilnya di garasi. Fiuh, setidaknya aku dapat terbebas dari pertanyaan kesehatanku untuk sementara. Aku baru berencana membuka bagasi mobil untuk mengambil koper koperku ketika tangan William lebih dahulu membukanya dan mengangkat tiga koperku


William menghentikan langkahnya di depan kamar utama. Meski ia tidak mengutarakannya secara langsung namun aku mengerti ia menunggu konfirmasi dariku. Sikapnya yang ‘menghormatiku’ membuat hatiku menghangat selama beberapa saat. Tunggu, apakah aku baru bilang hatiku menghangat? Huh, tidak tidak. Apakah aku akan semudah ini jatuh ke dalam perangkapnya lagi? Bangun,Kattie!


“Mm, sorry. Kupikir kita perlu pisah kamar dulu. Aku masih perlu…,”


William mengangguk setuju bahkan sebelum aku menyelesaikan perkataanku. Ia menunjuk kamar utama sambil berkata,“karena itu aku sudah memindahkan sebagian barangku ke kamar tamu. Kamu dan Camilla dapat menggunakan kamar utama,”


Huh?


“Aku tidak mau memaksamu,Kattie,” lanjutnya kemudian memindahkan koperku ke dalam kamar utama, kamar dimana William dan aku tidur bersama dulu. Aku mengintari penjuru ruangan tanpa kusadari. Tidak ada yang berubah sama sekali. Gagasan itu membuatku tersenyum tipis


“Apakah kamu butuh bantuanku untuk merapikan barang-barangmu?” tanya William hati hati


Aku menggelengkan kepalaku


“Nope, thanks. Kamu harus ke kantor juga bukan?”


“Aku mengambil cuti,”


“Ah, kalau gitu kamu main dengan Camilla saja dulu. Aku dapat membereskan barang barangku sendiri,”


William mengangguk antusias. Huh, apakah dia begitu bahagia dapat bermain dengan Camilla sekarang?


Aku tengah mengeluarkan pakaianku dari balik koper ketika kupikir William telah mengajak Camilla bermain di ruang tamu hingga aku mendengar ketukan pintu. William tengah berdiri di sudut pintu sambil menggendong Camilla


“Ada apa?” tanyaku setelah William tidak kunjung mengatakan alasannya mengetuk pintu kamar


“Mm, aku mengambil cuti,” jawab William membuatku memutar kedua mataku sebagai response. Huh, bukannya dia sudah memberitahuku itu tadi?


“Kamu sudah mengatakannya tadi,”


“Aku mengambil cuti sebulan,”


Cuti sebulan? Tunggu, apakah aku tidak salah dengar?


William mengangguk membenarkan pertanyaan dalam pikiranku. Huh, dia tahu dengan persis apa yang tengah kupikirkan meski tanpa harus kuberitahu sama sekali


“Yap. Aku ingin benar-benar menghabiskan waktu bersamamu dan Camilla selama sebulan penuh. Tapi.. jika kamu masih tertarik untuk mengenali pergaulanku atau masalah pekerjaanku, ada lowongan pekerjaan di kantor. Kita bisa bekerja bersama dan aku bisa mengatur pertemuan dengan beberapa temanku,” lanjut William dalam satu tarikan napas. Ia sedikit mengigit bibirnya. Oh God. Ia kelihatan nervous untuk pertama kalinya


William masih menunggu tanggapanku yang tak kunjung kuberikan


“Mm, maaf. Semula aku pikir akan lebih efektif apabila kamu langsung bekerja di kantor dan berteman dengan temanku juga. Maaf, aku tidak punya maksud lain. Aku mengerti kamu masih membutuhkan waktu. Kamu boleh menolaknya jika mau. Mm, tidak. Lupakan. Anggap aku tidak pernah membahas ini saja. Mm, sekali lagi maaf. Aku tidak bermaksud untuk…,”


“Aku tidak bisa berpura pura tidak mendengarnya karena aku telah mendengarkannya.. saat ini,”


William menarik napas pelan kemudian bertanya dengan hati hati,“Jadi, apakah kamu bersedia?”


Aku tidak dapat menjawab pertanyaan William. Apakah aku telah siap masuk dalam lingkungan kerja dan pergaulan William? Huft, bukankah ini yang kuiinginkan selama ini? Namun mengapa rasanya aku masih belum percaya William menawarinya padaku secara langsung? Ini seperti mimpi! Apakah William akan merasa aku begitu.. gampangan jika aku langsung menjawab ‘ya’? Huh, ini sangat rumit. Aku tertegun melihat William yang tidak dapat menutupi kekecewannya dengan baik kali ini. Ia berusaha tersenyum ketika kedua pasang mata kami beradu


“It’s a no right? It’s okay,” ujar William terdengar ringan


Ia menatap Camilla beberapa saat sebelum kemudian memberitahuku bahwa Ia akan bermain dengan Camilla. Derap langkahnya yang pelan membuatku mengigit bibirku ragu. Apakah aku harus menjawabnya sekarang? Huh, bukankah ia harus memberiku waktu memikirkannya? Mengapa ia langsung mengambil kesimpulan seperti itu? Lihat bagaimana overthinking nya aku saat ini


Aku bahkan tidak menyadari ketika kedua kakiku berlari pelan mengejar William. Jemariku mengetuk ringan punggung tegapnya. Jantungku berdebar sedikit lebih kencang ketika ia membalikkan badannya pada detik selanjutnya. Tatapannya yang dalam membuatku menahan napas. Oh God. Aku tidak tahu apakah aku akan menyesali ini nantinya atau apakah ini akan menjadi keputusan terbaik yang pernah kuambil namun pada detik dimana William mengacak rambutku secara mendadak dan tanpa terduga, aku menyadari bahwa… tidak ada salahnya untuk mengungkapkannya sekarang


Aku menyunggingkan senyum manis sambil berkata,“I’m in!”


“Apakah kamu yakin?” tanya William memastikan


Aku mengangguk. Kemudian William membawaku ke dalam pelukannya pada detik berikutnya. Jujur, aku tidak tahu arti pelukan ini. Apakah ini artinya William benar benar serius denganku? Apakah memang benar dia telah mulai menyukaiku? Apakah dia bahagia dengan keadaan ini? Atau apakah dia hanya ingin membuatku percaya padanya? Entahlah. Aku tidak tahu. Aku hanya merasa… bahagia dapat berada dalam pelukannya dan Camilla. Aku merasa…cukup untuk saat ini. Kami kelihatan seperti keluarga normal pada umumnya dan itu membuatku tidak dapat berhenti tersenyum selama dalam pelukannya