Fool Again

Fool Again
Garis Tipis Antara Kebodohan dan Kesalahpahaman



Aku berhasil menghindari William. Ketika aku mendengar pintu rumah terbuka, aku bergegas melarikan diri ke rumah orang tuaku setelah mengirimkan pesan singkat pada William bahwa aku akan berkunjung ke rumah orang tuaku


Sepertinya langit mendukung keputusanku kali ini. Hujan deras melanda. Aku menginfokan via pesan singkat kepada William bahwa anak anak dan aku akan bermalam di rumah orang tuaku sampai esok pagi. Fiuh, meski ini agak canggung namun aku agak lega karena tidak perlu bermain petak umpet seperti Tom and Jerry dengan William lagi di rumah


Selain itu, aku menggunakan kesempatan selanjutnya dengan beralasan akan pulang larut untuk membahas masalah sekolah Camilla serta play date Camilla dan Issac dengan beberapa anak lainnya. Aku pulang ke rumah setelah anak anak tepar


Kupikir William sudah tidur ketika kami pulang. Namun rupanya laki laki itu sedang menonton televisi. Raut wajahnya yang agak berbeda membuatku cukup tertegun. Apakah dia sedang marah?


“Hi. Kupikir kamu sudah tidur?” sapaku sambil berusaha tersenyum tipis


Rahangnya mengeras. Sepertinya dia memang benar benar marah. Ia memutuskan tatapannya dariku lalu kembali menonton


Camilla sudah benar benar mengantuk hingga berjalan dengan kedua mata terpejam sementara Issac masih berada dalam gendonganku. Aku agak kesulitan karena sebelah tanganku yang lain menenteng tas berisi susu dan perlengkapan lain anak anak. Aku agak terkejut karena menemukan William berjalan mendekat. Meski dia mengabaikanku yang sedang tersenyum padanya namun tatapannya berubah menjadi lembut melihat Camilla dan Issac. Ia mengelus pipi tembem Issac sebelum kemudian mengendong Camilla menuju ke dalam kamar. Ada apa ini? Mengapa aku merasa situasi menjadi tegang?


Kuputuskan untuk menyusuli William. Ralat. Maksudku adalah membaringkan Issac di kasur. Lenganku sudah terasa sangat lelah. Aku benar benar merasa ingin mengistirahatkan badanku kali ini


Aku menunggu… menunggu William keluar dari kamar namun laki laki itu tidak keluar dari kamar anak anak meski aku sudah berusaha selambat mungkin mengganti pakaian Camilla dan Issac


Ketika aku menengadah, aku menemukan William sudah melihatku dengan tatapan mata tajam dengan kedua tangan yang terlipat di dada


“Eh? Kamu masih disini?” tanyaku, berpura pura bodoh


William membalas dalam satu tarikan napas


“Aku baru tahu pertemuan orang tua bisa sampai sebelas malam,”


Oops, itu adalah sindiran keras. Mungkin dia akan marah kalau dia tahu aku yang sengaja berlama-lama untuk pulang


“Kami membahas banyak hal, mengenai kurikulum, guru sampai prosedur sekolah,”


Sepertinya perkataanku tidak cukup untuk menyakinkannya. Ia tidak berhenti menatapku. Tatapannya penuh rasa binggung dan kesal. Fiuh.


Aku berdeham beberapa kali sambil agak menegakkan badanku. Aku berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga raut wajahku lalu berjalan keluar dari kamar. William menyusuliku. Dia meraih pergelangan tanganku, tepat sebelum aku masuk ke kamar kami. Duh!


“Kamu rasa kita tidak perlu membahas hal ini, huh?” tanyanya


“Mengenai Pendidikan Camilla maksudmu?” balasku, masih berpura-pura bodoh meski sebagian diriku menyadari bahwa William mungkin ingin membahas mengenai sikapku selama dua hari belakangan. Aku menghindarinya sepenuhnya, tidak menghubunginya atau bahkan meminta anak anak menghubunginya meski aku tahu dia mungkin juga merindukan anak anaknya


“Kamu tahu itu bukan maksudku,Kattie,”


“Hah? Apakah ada hal lain?”


“Mau sampai kapan kamu berpura-pura seperti ini dan menghindariku? Bukankah ini lebih dari cukup penting untuk dibahas?”


“Aku menghindarimu? Tidak tidak. Sejak kapan aku menghidarimu?”


William mendengus tidak percaya sementara aku berusaha untuk tidak terganggu atas itu. William membalas,“Sejak dua hari lalu. Apakah aku ada berbuat salah? Atau ada hal yang tidak sengaja kulakukan melukaimu?”


Tatapan kesal laki laki itu mulai bercampur dengan sedih. Dia menghembuskan napas pelan lalu melanjut,“Please tell me. Apakah ini mengenai dinasku waktu itu?”


Deg deg deg


Jantungku tidak berhenti bergetar seolah ada anak panah yang menembus ke dalam relung hatiku. Satu sisi aku merasa ini adalah waktu yang pas untuk membahas masalah mengenai pradugaku namun disisi lain aku merasa khawatir. Jujur, aku ingin menanyakan hal itu namun entah mengapa aku tidak dapat mengeluarkan satu patah katapun. Aku merasa… takut. Atau mungkin belum siap? Huh?


“Jangan bilang tidak tidak dan tidak. Kamu jelas jelas memendam sesuatu. Kat, aku mengijinkanmu untuk menghindar hanya untuk memberimu waktu. So, please, tell me. We can find the solutions together, huh?”


Aku merasa terdorong. Kat, waktumu adalah sekarang


Sekarang


Se..ka..rang!


Tapi.. bagaimana kalau..


Oh no! Me and my stupid thoughts!


Aku bersumpah aku sudah mencoba keras untuk mengeluarkan isi pikiranku namun… aku tidak bisa. Ini aneh. Ini mengesalkanku juga. Rasa kekhawatiran itu tidak bisa menghilang bak tinta yang telah membekas. Aku mengepalkan kedua jemari tanganku, mencoba untuk mendorong diriku sekali lagi


“Sebenarnya aku.. aku…,”


“Ya, kenapa? Tell me,”


“Aku.. hanya…,”


William menunggu. Dia tidak memalingkan tatapannya dariku. Tatapannya serius, sangat serius, namun itu justru menambah kegugupanku. Astaga! Aku mengumpat dalam hati. Kupikir aku benar benar mulai berkeringat dingin


Aku mengambil satu langkah mundur. Ia mengambil satu langkah maju. Fiuh


Apakah ini karena aku belum siap meski aku sudah menghindar selama dua hari? Huh? Berapa hari sih sebenarnya yang kubutuhkan untuk menenangkan pikiran ini?


Aku akhirnya mengambil satu tarikan napas lalu berkata,“Bisa kamu memberiku waktu?”


“Waktu? Bukankah sebaliknya aku yang membutuhkan waktu utnuk memikirkan perubahanmu? Tapi aku memutuskan untuk membahasnya langsung bersamamu, bukan menghindar. Menghindar tidak bisa menyelesaikan masalah apapun,”


“Aku tahu. Tapi aku..,”


“Apakah aku mengecewakanmu? Membuatmu kesal? Marah? Atau mungkin keluargaku? Atau mungkin dalam urusan ranjang? Huh?”


“Tidak tidak, aku..,can you please give me time? Huh?”


“Apakah kamu janji setelah itu akan memberitahuku?”


“Ya, aku janji,”


“Oke, aku beri kamu waktu setengah jam untuk membersihkan diri. Temui aku di ruang kerja setelah ini. Kalau kamu tidak datang, aku akan masuk ke kamar. Ingat, aku punya kunci cadangan dan.. kamu sudah janji,”


Aku mengerjapkan kedua mataku tidak percaya. William yang tampak sudah kesal pun membalikkan badannya lalu berjalan meninggalkanku yang hanya dapat mengigit bibirku dengan frustasi


Aku tidak menyangka William benar benar mengetuk pintu kamarku setelah aku sengaja menunda waktu selama hampir sepuluh menit


“Kattie, aku tahu kamu belum tidur,” tukasnya mulai terdengar tidak sabaran. Duh!


Samar samar aku mendengar suara kunci. Apakah dia berencana membuka pintu kamar? Kalau begitu, aku akan ketahuan lagi dong sedang menghindar. Fiuh! Aku memutuskan untuk keluar tepat setelah mendengar ketukan kesekian kalinya


Raut wajah kesalnya membuatku menahan napas. Aku berpura pura menyentuh perutku


“Sorry, kamu nunggu lama ya? Tadi aku lagi sakit perut,”


“Jujur, sekarang aku tidak tahu apakah kamu benar benar sakit perut atau hanya pura pura sakit perut,”


Wow, itu adalah sindiran pedas


Sindiran itu membuatku dengan refleks meneggakkan badanku lalu menunjuk ke sisi kanan, ruang kerjanya dan berkata,“Kita akan mengobrol disana?”


“Awalnya. Tapi kamu tidak datang datang. Jadi, aku kemari,”


“Artinya kita akan membahasnya disini?”


“Terserah kamu,”


“Em, kita bahas di teras rumah saja deh. Sepertinya aku lagi butuh udara dingin dan segar,”


Aku mencoba memberanikan diriku dengan mengepalkan kedua jemari tanganku, menarik napas kuat kuat, menghembuskannya kembali dan berbisik dalam hati, aku bisa aku bisa


Ketika aku berbalik menghadap William, laki laki itu sedang melihatku dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana


“Apakah ini karena masalah dinas kemarin?” tanyanya tanpa basa basi, membuatku agak terkejut. Jadi, pembicaraan ini tidak akan dimulai dengan basa basi? Fiuh


Aku mengangguk


“Kenapa? Ini bukannya seperti aku akan dinas lagi. Kamu tahu sendiri aku membutuhkan waktu untuk healing waktu itu. Teman? Ya. Aku menemukan banyak teman baru disana. Sahabat? Tentu. Ada beberapa menjadi sahabat baikku. Kami masih berkomunikasi sampai saat ini dan aku berencana mengenalkannya padamu nanti. Tapi… lovers? Apakah kamu pikir aku sudah.. gila?”


Aku menemukan sorot kecewa di matanya namun entah mengapa sifatnya yang blak-blak-an justru membuatku merasa semakin kecewa. Apakah dia tidak bisa mendengar dari sudut pandangku dulu?


William mengusap wajahnya, menghembuskan napas berkali kali lalu kembali menatapku. Sorot kekecewaan itu semakin tercetak jelas. Aku menemukannya tertawa getir. Entah mengapa itu terasa meremas hatiku dengan cukup kencang


“Apakah kamu… mungkin sudah menemukan laki laki lain? Kamu belum menggunakan hak-mu,”


“Hak-ku? Kamu..pikir aku tidak serius dalam hubungan ini?”


“Aku tahu kamu serius. Tapi aku tidak bisa berhenti memikirkan kemungkinan itu. Kalau begitu, kenapa kamu menghindariku terus?”


“Kamu belum mengerti? Ini bukan tentang laki laki lain,”


“Tell me,”


“Aku tidak tahu harus memulai darimana. Liam, aku…,”


“Apakah kamu sudah tidak mencintaiku?”


“Astaga! Liam!”


Aku mulai benar benar kesal kali ini. Dia baru saja mempertanyakan perasaanku padanya? Tidak salah, huh?


“Apakah mungkin aku gagal menjadi papa yang baik? Atau mungkin sikap orang tuaku atau saudaraku yang kurang menyenangkan dimatamu? Atau mungkin karena aku yang cukup sibuk? Atau mungkin urusan ranjang? Atau mungkin…,”


“Laura Angela,”


Dua kata


Aku cukup mengatakan dua kata itu agar membuatnya berhenti. Dia menyergit, seolah tidak mengerti arah pembicaraan ini. Ini membuatku cukup muak. Aku mendengus tidak percaya lalu melanjut,“Siapa Laura Angela? Aku tidak sengaja membaca email masuk kamu. Miss you, love you. Itu adalah tulisan yang kubaca,”


William tidak langsung membalas. Dia menyipitkan matanya beberapa saat sebelum kemudian membalas,“Karena itu kamu terus menanyakan masalah email? Untuk membobol akun emailku? Apakah kamu tidak bisa bertanya denganku atau setidaknya percaya denganku? Huh?”


“Aku sudah memberimu kode. Tapi kamu tidak mengerti,”


“Laki laki tidak bisa diberi kode. Kami tidak peka, kami adalah kaum paling tidak peka di muka bumi ini. Jadi bisa kamu langsung memberitahu aku?”


“Sekarang bukan masalah kamu peka atau tidak. Masalahnya adalah pada wanita itu. Siapa dia?”


“Dia adalah salah satu intern di London,”


“Kamu menyukainya?”


“Astaga,Kattie! Kamu serius bertanya hal itu padaku? Padaku?”


“Tolong dijawab,William,”


William menghembuskan napas berkali-kali. Kini pipinya telah agak memerah. Rahangnya sekeras baja kupikir, apalagi tatapan tajamnya terasa membelahku menjadi berkeping-keping. Astaga, aku tidak pernah melihatnya semarah ini. Namun aku tidak boleh mundur, lebih tepatnya, aku tidak bisa mundur lagi. Bagaimanapun kami akan terlibat dalam topik pembahasan ini, cepat atau lambat


“Aku kecewa denganmu,Kattie. Kamu pikir aku dinas nomaden hanya untuk mencari pelampiasan?”


“Siapa tahu? Kamu mungkin lupa kalau laki laki dikontrol oleh nafsu. Mungkin saja kamu bertemu dengan wanita yang lebih baik disana,”


“Dikontrol oleh nafsu?”


“Memangnya apa yang kita lakukan selama ini? Selalu mengenai urusan ranjang. Ah, aku lupa. Sejak kamu kembali tepatnya. Apa yang kita lakukan? Hanya selalu itu. Kamu tidak pernah mengijinkanku mengetahui kisahmu disana. Apakah kamu pikir semua akan baik baik saja hanya setelah percintaan itu? Huh?”


William kelihatan sangat speechless. Kedua matanya mulai memerah. Fiuh, kenapa dia harus speechless? Bukankah seharusnya aku? Atau… mungkinkah aku yang berlebihan?


“Kattie, kamu… kamu berhasil membuatku kecewa denganmu. Aku tidak menyangka kamu berpikir seperti itu tentangku,”


“Kamu belum jawab. Apa hubunganmu dengan Lau..Lau, Laura Angela itu?”


“Sudah kubilang. Dia adalah intern di head office di London. Kenapa? Kamu mau aku tunjukin emailnya sekarang juga?”


“Tidak masalah,”


William menggelengkan kepalanya tidak percaya. Dia mengeluarkan ponselnya dari saku celana lalu menyerahkannya padaku. Aku tidak bisa menutupi keterkejutanku. Kenapa William semudah ini memberiku akses membaca email pribadinya?


Dia menungguku membaca. Duh!


Aku menerima ponsel itu dengan hati hati lalu mulai membaca isi email itu. Rupanya sebelum email mengenai miss you dan love you itu, mereka membahas mengenai masalah pekerjaan. Lebih tepatnya Laura Angela tersebut sangat aktif bertanya. Selain itu, ia terus meminta nomor whatsapp pribadi Anton sampai mulai memuja mujanya. Namun eh? Kenapa tidak ada balasan?


Aku menyergit, mencoba mencari email lainnya. William tidak sengaja menghapusnya kan?


Aku mendengar William tertawa. Ketika aku menatapnya, rupanya tawa itu cukup pahit. Dia mengambil dua langkah mundur sambil bertepuk tangan


“Bahkan setelah ada bukti nyatanya, kamu masih tidak percaya, masih meragukan. Apakah kamu pikir aku sengaja menghapus email tersebut? Huh?” tanyanya membuatku tertegun. Astaga! Aku lupa… aku benar benar lupa kalau laki laki ini sangat lihai dalam membacaku


Aku berdeham beberapa kali, mencoba untuk tidak kelihatan terintimidasi dengan itu


“Siapa tahu? Kalian mungkin lanjut via aplikasi lain,”


“Imajinasimu luar biasa. Kamu mungkin sudah bisa lanjut membuat komik,”


“Liam, aku serius!”


“Aku jauh lebih serius denganmu. Kamu tahu siapa itu Laura Angela? Selain intern? Dia adalah anak pemegang saham kedua terbesar selain aku. Aku sudah mengenalnya sejak dia kecil dan dia sudah tidak jauh lebih dari adikku sendiri. Apakah itu menjelaskan kenapa aku tidak membalas pesan memujanya?”


Apa?


William mendengus melihat raut wajah terkejut dan binggungku. Jujur, aku masih terlalu sulit mempercayai fakta tersebut. Bagaimanapun William punya track record yang.. oke. Aku akui, aku salah. Aku lupa kalau sebenarnya aku yang masuk ke dalam hubungan Yuriska dan dia dulu. Dia tidak pernah selingkuh. Akulah yang merusak hubungan mereka


Artinya selama ini aku dan praduga sialanku berkembang semakin menjadi jadi bukan? Huh?


Fiuh, aku bahkan tidak berani menatapnya. Tidak ada suara. Tidak ada perbincangan lagi. Aku mendengar langkahnya yang cepat masuk ke dalam rumah. Hanya tiga menit sebelum dia kembali keluar dengan kunci mobil dan dompetnya


“Kamu mau kemana?” tanyaku refleks


“Lihat, kamu bahkan bukan meminta maaf duluan atas prasangka burukmu. Kattie, sorry. Aku… tidak bisa melihatmu untuk saat ini. Aku sangat kecewa denganmu. Kamu tahu dari awal kalau… kalau kamu bertanya langsung padaku maka tidak akan seperti ini bukan?” balas William membuatku menahan napas


Tolol, tolol! Aku baru saja menyakiti William


Satu sisi dalam diriku berteriak, memintaku untuk meminta maaf pada William, namun di sisi lain, aku merasa sedih dan kecewa. Bukankah seharusnya dia memelukku saat ini? Atau setidaknya tidak meninggalkanku meski.. aku tahu aku salah karena menganggapnya demikian


Rupanya egoku jauh lebih besar kali ini. Aku mematung, tidak menggerakkan sesentipun kakiku ketika melihat William melangkah pergi. Mobilnya hilang dari perkarangan rumah hanya dalam beberapa detik setelah dia mengambil ponselnya yang masih dalam gengamanku


Malam itu, angin sepoi sepoi berhembus, menyisir rambutku dan pakaian tidurku yang berbahan satin dengan manja. Kupikir aku akan menjadi lebih tenang namun rupanya aku salah. Malam itu adalah malam pertama William meninggalkan rumah, malam yang membuatku tidak berhenti menangis atas kebodohanku.


***