
Karen mengumpat pada detik aku menyelesaikan sesi curhat. Sahabatku itu meremas minuman kaleng bersoda sampai penyot lalu tertawa tidak percaya. Aku menemukan kemarahan di sorot matanya
“Sudah kuduga! Seorang William tanpa wanita selama setahun? Ibarat perokok berat disuruh pensiun tanpa permen. Itu impossible sekali!” tukasnya
Aku tertegun
Ia melanjut,“Aku tidak tahu apa yang membuat kamu masih bertahan sama dia. Apakah karena dia ganteng? Kaya? Keluarga terpandang?”
“Kamu mau bilang aku matre?”
“Aku hanya heran kenapa kamu mau dibodohin dia. Kamu sadar nggak sih kalau kamu lagi dipermainkan? Atau mungkin kamu bertahan dengan dia karena urusan ranjang? Kattie, ada begitu banyak cara memuaskan kamu. Kamu tinggal bisa beli **** toys,”
Karen tidak berhenti menggelengkan kepalanya. Ia membuang kaleng tersebut ke tong sampah lalu menarik napas kuat berkali kali. Kupikir kalau William berdiri di hadapan kami saat ini, mungkin Karen sudah akan menghantamnya dengan satu kepalan tangan kuat dan keras
Ia berhenti tepat dihadapanku, menatapku dengan tatapan yang membuat kedua mataku bergetar. Oh tidak. Aku seperti akan menangis lagi padahal aku sudah bertekad untuk menyembunyikan air mataku, setidaknya untuk kali ini saja
“Apa yang sebenarnya membuatmu ingin mempertahankan hubungan ini, Kattie?”
“Kar, sebenarnya ini masih pradugaku. Dia masih belum past…,”
“Kat! Sudah kubilang. Tidak mungkin seorang perokok berat disuruh berhenti tanpa permen atau seorang pecandu tanpa rehabilitasi. Artinya, dia mungkin pernah dekat dengan wanita lain meski tidak melakukan hubungan badan. Dan apakah kamu bisa menjamin dia bersih selama disana?”
“Aku…,”
“Aku menyesal pernah mendukungmu untuk kembali dengannya,Kat. Jujur, aku menyesal. Aku lupa kalau ada beberapa tipikal orang yang tidak bisa berubah, yaitu penjudi dan tukang selingkuh,”
Karen agak menjerit kesal, mungkin karena aku yang masih belum memberikan response apapun. Sebenarnya aku sendiri masih agak binggung. Aku menceritakan hal ini kepada Karen karena kupikir setidaknya aku dapat merasa lebih lega. Namun entah mengapa penilaian Karen kali ini terasa menumbukku dengan keras. Meski dia mengungkapkannya dengan cukup kasar namun aku benar benar terasa ditampar dengan dua kosa kata tadi, yaitu penjudi dan tukang selingkuh. Bukankah aku yang menghancurkan hubungannya dengan Yuriska dulu?
“Kamu tahu kan kalau dua tipikal orang itu tidak akan pernah berubah?” lanjutnya membuat air mata yang berusaha kutahan mati-matian mulai menetes
Aku menyekanya dengan kesal
“Ini adalah realita,Kat. Apakah kamu yakin atas hubungan ini?”
“Kar, em… sorry. Aku…,”
“Aku sudah tahu apa yang akan kamu katakan. Kamu pasti mau bilang kalau ini hanya sesi curhat, kalau kamu masih belum siap dan masih butuh waktu berpikir. Pertanyaannya adalah mau sampai kapan? Kamu sadar enggak sih kalau kamu itu dibodohi terus dengannya? Kamu itu udah kayak lagu favorite yang kita dengar terus dulu, Fool Again – Westlife. Mau sampai kapan kamu dibohongi kayak gitu terus Kat? Bukan dia yang membohongimu tapi kamu yang tolol, terus berhasil dikelabui,”
Ini menyakitkan. Perkataan ini sangat pedas, tajam dan bergerigi. Aku merasa sakit hati. Hatiku perih dan aku merasa ingin marah namun… di sisi lain, aku sadar kalau yang dikatakan Karen kali ini tidak salah, terlepas dari apakah William benar benar selingkuh dariku atau tidak. Aku memang sangat suka dengan lagu Fool Again yang dipopulerkan oleh band favoriteku, Westlife. Siapa menduga aku menjadi tokoh utama dari lagu favoriteku itu?
Aku menarik napas kuat, mencoba menguatkan hatiku sekali lagi
“Kita enggak ada bukti,Kar. Ini hanya pradugaku,”
“Well, persoalannya itu lagi dan lagi. Kadang insting kamu bisa lebih kuat. Insiting kamu juga mengakui kan kalau… ada yang mencurigakan,bukan?”
Aku tidak berani menjawab. Karen menghembuskan napas pelan
“Apakah kamu mau memperjuangkannya karena… anak anak?”
Tentu, itu adalah hal mutlak. Aku tidak ingin memberikan keluarga yang hancur kepada kedua anakku, tapi...
“Atau kamu khawatir kamu akan kehilangan hak asuh di pengadilan nanti?”
Itu juga benar...
“Atau.... kamu masih mencintainya? Dan kamu masih percaya kesempatan bisa mengubahnya?”
Ini miris namun aku harus mengakuinya. Aku masih mencintai William, dengan sangat sangat dalam dan serius sampai aku berada pada titik apakah aku masih bisa bertahan tanpanya?
Karen sepertinya mengerti jawabanku hanya dengan melihat reaksiku. Dia kelihatan kesal padaku dan jawaban tersiratku. Ia tidak berhenti menggelengkan kepalanya sementara dia tidak berhenti berjalan mondar mandir dihadapanku
Ia mencoba menyimpulkan sekali lagi
“Jadi... kamu khawatir nasib anak anakmu, hak asuh dan... kamu masih ingin mempercayainya dan masih sangat mencintainya. Benar?”
Duh, kenapa aku terdengar sangat menyedihkan sih? Aku mengusap wajahku dengan frustasi,“Sorry.... itu... benar. Aku juga membenci kenyataan ini,”
“Dan bagaimana kalau ternyata memang benar dia selingkuh disana? Apa yang akan kamu lakukan? Jangan bilang kamu mau memberikannya kesempatan lagi?”
“Aku tidak tahu. Jujur,”
“Astaga,Kattie. Aku... speechless. Aku beneran speechless denganmu. Kamu terlalu bodoh dan bucin. Kamu pikir duniamu hanya berputar di sekelilingnya saat ini tapi .. serius, kamu bucin pada orang yang salah. Sorry,Kat. Aku pikir aku harus pulang sekarang atau aku akan mulai mengumpat padamu lagi. Kamu hanya terlalu... bod.. hmmm... kamu hanya akan menyianyiakan waktu dan hatimu pada orang yang tidak menghargainya sama sekali. Jangan menghabiskan waktumu seperti itu. Aku... benar benar kesal dan... kasihan dengan kamu,Kattie. Kamu... duh, sudahlah. Tolong jangan hubungi aku dulu untuk sementara kalau kamu hanya mau mencari pembenaran,”
Kattie menutup pintu rumah hanya dalam beberapa detik setelah itu, meninggalkanku duduk termenung. Baru kali ini Kattie kelihatan sekesal itu padaku. Apakah.. aku benar benar... salah langkah kali ini?
Ini membuatku berpikir semakin serius tentang William dan aku
Apa yang membuatnya kembali padaku? Karena putus dengan Laura Angela sehingga dia kembali padaku, sama seperti sewaktu dia menikahiku karena putus dengan Yuriska? Apakah di mata William, aku adalah sosok murahan atau tempat terakhirnya saat putus cinta? Bukankah aku adalah Ibu dari anak anaknya? Bukankah aku adalah istri dan sahabatnya? Apakah... apakah dia kembali denganku karena urusan ranjang juga?
Oh tidak. Pikiran semacam itu benar benar mulai merasuki pikiranku, membuatku tidak berhenti menangis
Aku mencoba mengompres mataku dengan es beku. Aku mencoba untuk memasak untuk William sebelum dia pulang. Aku mencoba untuk mengubah penampilanku namun entah mengapa setiap kali aku melakukannya, aku menemukan diriku temenung dan bertanya pada diriku sendiri
Mengapa aku harus melakukan ini pada laki laki yang.. tidak menghargaiku?
Sisi lain diriku berteriak, mengatakan bahwa ini semua masih hanya pradugaku. Mungkin laki laki itu mencari selingan disana lalu akhirnya dia kembali padaku. Aku selalu menjadi tempat terakhirnya. Tapi... bukankah dia yang memintaku untuk menunggu ... dulu?
Kepalaku terasa berat, sangat berat
Ketika William muncul di balik pintu dengan senyum lebar dan satu kantong plastik berisi minuman boba favoriteku, pada saat itu aku menyadari... bahwa aku kembali tidak mengenali laki laki ini. Dia adalah laki laki yang sudah pergi selama setahun. Bodoh. Tolol. Kamu benar benar tolol,Kattie!
“Haii, aku beli minuman favorite kamu. Mau nonton sambil minum? Berhubung anak anak lagi pada di tempat mama?” tanyanya sambil berjalan mendekat
Astaga. Aku khawatir aku bisa goyah
Aku mengambil beberapa langkah mundur dan berkata,“simpan aja ke dalam kulkas dulu. Aku capek,”
William menyergit
“Kenapa? Kamu sakit?”
“Tidak. Aku hanya merasa sedang sangat ingin beristirahat. Sorry, aku tidak sempat memasak. Kamu bisa pesan online saja kan?”
Aku melarikan diri sebelum William mengejarku dengan puluhan pertanyaan itu. Aku benar benar khawatir aku akan jatuh ke dalam perangkapnya lagi. Sikapnya yang peduli itu mungkin tidaklah serius selama ini. Fiuh, aku benar benar perlu mengasingkan diriku dulu. Aku perlu berpikir objective atas masalah ini. Berdekatan dengan William hanya akan membuatku semakin subjective
Aku agak terkejut karena William masuk ke dalam kamar denganku
Dia meletakkan tas nya di atas meja lalu menyusuliku yang sedang menarik selimut untuk menutup sekujur tubuhku. Ia menempelkan telapak tangannya di keningku. Ia agak menyergit sambil memperhatikan wajahku
“Kattie, aku serius, Apakah ada bagian badanmu yang sakit? Huh? Mau ke dokter? Atau.. tidak tidak. Mau aku panggil dokter kemari?”
Dua sisi dalam diriku kembali berargumentasi dengan keras mengenai reaksi ini
Tuh, dia masih peduli denganmu
Bagaimana kamu tahu? Bisa saja ini hanya pura-pura
Pura pura bagaimana? Kamu tahu sendiri dia tidak seperti itu
Mungkin saja dia ingin meminta jatah setelah ini
Tidak mungkin! Dia bahkan membelikanmu minuman dan melihatmu seperti itu. Dia pasti menyukaimu. Kamu hanya perlu berpikir positive dan menunggu
Kadang berpikir terlalu positive juga merupakan pilihan tersulit
Tidak ada salahnya mencoba!
Dan berapa kali aku harus mencobanya?
FIUH! Kepalaku benar benar terasa berat dan hampir akan pecah kali ini
Dua sisi itu tidak berhenti bersiteru. Aku mencoba untuk tidak kelihatan sefrustasi itu dihadapan William. Kutarik satu napas pelan dan membalas,“Aku akan baik baik saja setelah tidur nanti,”
“Kamu sudah makan?”
“Sudah. Aku masak mie instan tadi,”
“LAGI? Kattie, sudah kubilang, kamu harus jaga pola makanmu. Mie instan tidak baik bagi kesehatanmu,”
Kali ini jantungku bak teremas. Apakah ini juga hanya pura pura?
Aku membalas,“Liam, aku benar benar ingin istirahat. Bisa kamu minggir sedikit?”
William bangkit setelah menghembuskan napas berkali kali. Dia kelihatan ingin menanyakan banyak hal namun aku membatasinya dengan memejamkan kedua mataku. Aku tidak lupa tidur membelakanginya
Aku memanggilnya sesaat setelah mendengarnya membuka lemari, seperti sedang mengambil baju. Aku membasahi sedikit bibirku sebelum berkata,“Sebaiknya kamu tidur di kamar anak anak hari ini. Aku tidak ingin menyebarkan virus pada kamu. Tolong jangan menolak dan bertanya lebih lanjut. Jangan menganggu tidurku juga. Aku akan tidur sekarang. Selamat.. malam,”
Aku tidak tahu apa reaksinya. Namun yang jelas, aku mendengar saklar lampu ditutup lalu pada menit berikutnya aku telah mendengar pintu ditutup. Hampir lima menit sebelum aku memutuskan membuka kedua mataku. Sekelilingku sudah gelap. Sepertinya William sengaja mematikan lampu. Namun ada sesuatu yang menarik perhatianku, yaitu segelas air di atas meja dengan bungkusan plastik transparan. Meski bungkusannya sudah diganti namun aku masih yakin jelas bahwa itu adalah satu butir vitamin
Aku mendengus tidak percaya karena dua sisi itu kembali bersiteru
Aku mengigit bibirku kesal, sangat kesal, lalu menyembunyikan diriku di dalam selimut dengan hati dan pikiran yang berkecambuk