
Hujan deras melanda ketika kami telah sampai di rumah mama. Petir tidak berhenti menyambar. Mama meminta kami untuk bermalam di rumahnya saja. Oh, ini berbahaya! Artinya kami akan tidur seranjang,bukan? OMG. Ini bukan ide yang bagus. Totally not!
Namun aku lagi lagi tidak dapat menolak dihadapan mertuaku. GREAT! Iparku membawa Camilla dan Rey tidur dikamarnya. Artinya aku benar benar akan tidur berdua saja dengan William
"Apa yang kamu pikirkan?"
William mengejutkanku dengan berdiri di sisi kananku. Aku hampir terjatuh jika saja William tidak menahan tubuhku dengan melingkarkan tangannya di pinggangku. Ugh. Kedua pasang mata kami beradu. Aku dapat merasakan hembusan napasnya yang menyapu mesra sekujur wajahku. Oh tidak. Ini berbahaya. Alarm bawah sadarku berdering keras. Aku bergegas menarik diriku menjauh sambil berdeham pelan
Aku masih dalam aksi mogok bicara dengan William sehingga aku mengambil bedcover kemudian memutuskan untuk tidur di sofa kamar. Aku tahu William tidak mungkin macam macam denganku malam ini, apalagi di rumah orang tuanya namun aku tetap saja khawatir. Well, lebih tepatnya aku harus membiasakan diriku untuk tidur terpisah dengannya. Siapa tahu besok pagi ia telah melayangkan surat perceraian padaku?
“Kenapa kamu tidur disana?” tanya William berjalan mendekatiku yang tengah menyusun bedcover di sofa
Aku masih tidak menjawab William. Sepertinya ia mulai kesal karena samar samar aku mendengarnya menarik napas kuat. Jujur, aku tidak berani melihatnya saat ini. Jadi aku mempercepat langkahku dengan menutup sekujur tubuhku dengan bedcover. Kupikir aku akan tertidur langsung namun sekujur tubuhku sakit. Aku benar benar tidak dapat tertidur. Sofanya terlalu kecil dan keras
Aku baru membuka bedcover yang menutup sekujur tubuhku ketika aku mendapati William tengah berdiri disampingku. Kupikir aku baru saja bertemu dengan vampire. Huh, apa yang dilakukan William disini? Ah! William tidak boleh tahu kalau aku tidak bisa tidur. Aku bergegas membelakanginya sambil berpura pura memejamkan kedua mataku
“Kenapa? Kamu masih terlalu ngambek untuk tidur seranjang denganku?” tanya William terdengar sedikit tersinggung
Aku masih tidak menjawab. Kupikir aku baru saja mendengar William menggeram,huh?
“Kamu bisa tidur di kasur. Aku akan tidur disini saja,” lanjutnya sambil meyentuh pundakku karena aku masih senantiasa berpura pura tidur. Aku benar benar merasa terganggu dengan keberadaan William. Aku menepis bedcover sambil menatapnya dengan tajam. Aku kemudian mengikat rambutku dengan asal lalu menarik bedcover tersebut. Aku berniat untuk tidur di kamar Christy saja. Ia tidak mungkin mengangguku di kamar Christy bukan?
William menahanku. Sedetik. Aku melihatnya sedetik. Huft, ia sepertinya mulai kelihatan kesal
“Kamu mau kemana?” tanyanya
Aku tidak menjawab lagi. Kini, ia benar benar kesal. Ia bertanya,“Apakah kamu bahkan kini nggak mau berbicara denganku lagi?”
“Kamu apa-apaan sih? Cepat balikin kuncinya!” seruku sambil menunjuk pintu kamar
“Nah, kamu perlu digitukan dulu ya? Dengar,Kattie. Kamu hanya boleh tidur disini hari ini. Oke?”
“Huh? Teori darimana? Aku tidak mau tidur sekamar denganmu, oke?”
William memijit pelipis kepalanya. Ia kemudian menatapku dengan sorot sedih,“Aku tahu kamu masih marah. Tapi bisakah setidaknya kamu menghargaiku? Kamu tidur di kasur. Aku di sofa. Oke? Titik,”
“Tidak! Kita akan bercerai juga bukan? Jadi kita tidak boleh tidur sekamar,”
“Siapa bilang kita akan bercerai? Gagasan dari mana?”
“Dari kamu..dan aku,”
William menggelengkan kepalanya. Ia kemudian mengambil bedcover dari tanganku sambil berkata,“Aku tidak mau menceraikanmu. Kita akan tetap seperti ini,”
Aku terbelalak melihat William yang berusaha memaksakan tubuhnya pas di sofa. Huh, bagaimana mungkin? Aku yang semungil ini saja kesulitan untuk berbaring di sofa. Ia kemudian berbaring di lantai sambil menutup sekujur tubuhnya dengan bedcover. Ia kelihatan tidak ingin membahas tentang perceraian itu. Itu membuatku kesal
“Apakah kamu pikir kita akan bisa seperti dulu lagi? Huh? Tidak,William. Itu tidak akan mungkin lagi,” ucapku sambil menghembuskan kedua mataku. Jangan menangis lagi, oke?
Perkataanku berhasil membuatnya bangkit berdiri. Ia dengan rambut acak-acakannya pun menatapku dengan serius
"Mari kita buat kesepakatan."