Fool Again

Fool Again
Mr. W



“Oke, coba kamu jelaskan kenapa kita tidak boleh semobil ke kantor?” protes William ketika aku memberitahunya bahwa aku akan pergi ke kantor sendiri


“Pertama, aku yakin semua orang akan bergosip ria di hari pertamaku, yaitu hari ini, karena aku masuk secara mendadak tanpa perlu melewati proses interview dan lain sebagiannya. Kedua, kecurigaan itu akan semakin membeludak jika mereka melihat aku keluar dari mobilmu,” jelasku sambil melipat tanganku di dada


Sebenarnya aku agak terkejut ketika William memberitahuku semalam bahwa ia telah mengatur satu posisi di team PR untukku di kantornya. Padahal persetujuanku belum melewati 1 x 24 jam namun Ia telah mempersiapkannya sesempurna itu. Bahkan William membelikanku puluhan set pakaian kerja yang membuatku melonggo melihat harganya


“Aku bisa drop kamu di dekat kantor kok,” balas William masih bersikukuh tidak setuju dengan argumentasiku


“Lalu bagaimana jika ada yang melihat?”


“Kita bisa pergi ke kantor lebih awal dan…,”


“No! Ini adalah keputusan final,William. Kalau kamu tidak mau menerimanya maka aku akan…,”


“Oke,fine. Kamu pergi ke kantor dengan Pak Mamat. Aku akan menyetir sendiri,”


Perkataan William seperti perintah yang tidak dapat kutolak kali ini. Aku mengangguk mengerti kemudian bergegas masuk ke dalam mobil. Aku tidak ingin terlambat di hari pertamaku


Aku tidak dapat menutupi rasa gugupku ketika aku berada di depan gedung sepuluh tingkat PT. XXX. Perasaanku campur aduk. Sudah berapa lama aku merasa bekerja terakhir kali? Tiga tahun lalu? Huh?


Seorang wanita paruh baya menuntunku masuk ke ruangan team PR. Aku menyunggingkan senyum tipis kepada semua orang yang berjalan melewatiku sembari menunggu Manager team PR datang. Huh, kuharap aku tidak meninggalkan bad impression sama sekali


 Seorang wanita tiga puluh tahunan berjalan menghampiriku. Penampilannya tegas serta aura menegangkan yang terpancar darinya membuat aku menahan napasku selama beberapa detik. Ia memberiku senyum tipis sambil mengulurkan tangannya padaku,“Jadi, kamu.. adalah Kattie Priscilla?”


Aku bangkit berdiri sambil tersenyum dan menerima salaman tangannya. Ia memperhatikanku dari atas hingga bawah sebelum melanjut,“Saya tidak tahu hubunganmu dengan para direktur. Namun kamu harus tahu kamu tidak akan di-spesialkan di team ini sama sekali,”


Aku mengangguk. Ia kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Ranti. Aku bahkan tidak diberikan kesempatan untuk duduk karena pada detik berikutnya Ia telah memintaku untuk bergabung dengan meeting bersama dengan beberapa orang lain di team kami


“Kamu.. Kattie Priscilla ya?” tanya seseorang yang tiba tiba menepuk pundakku dari belakang


Aku menoleh dan menemukan seorang wanita dan laki laki yang kupikir berasal dari team PR


“Aku..Ima. Dan laki laki berpenampilan keren disampingku ini namanya Rinaldo,” ujar Ima sambil memberiku senyum manis


“Oh hi!” seruku sopan sambil mengulurkan tanganku


“Kamu tahu kita mau meeting bareng siapa?” tanya Ima sambil berjalan bersisian denganku


Aku menjawab tanpa banyak berpikir,“Ibu Ranti bilang kita mau meeting bulanan,”


“Yap. Tapi kamu tahu kita mau meeting dengan siapa?”


Aku menggeleng sementara itu Rinaldo menghembuskan napas acuh. Ia kemudian berkata,“Kita mau meeting dengan CEO dan beberapa direktur terkait proyek baru,”


Aku mengangguk mengerti namun aku tidak mengerti mengapa Ima sibuk merapikan penampilannnya bahkan beberapa kali merapikan lipstick di bibirnya. Apakah kita perlu kelihatan sempurna di meeting kali ini? Huh, melihat Ima yang kelihatan begitu memperdulikan penampilannya membuatku ikut merapikan rambutku tanpa kusadari


“Apakah kamu ada whatsapp?” tanya Ima sambil mengeluarkan ponselnya


“Siapa yang tidak punya whatsapp saat ini?” balasku sambil tertawa kecil


Ima dan aku saling bertukar nomor whatsapp ketika kami sedang menunggu pintu lift dibuka. Aku tertegun ketika Ima memasukkanku ke dalam grup yang bernama “Eternal Fans of Mr. W”. Ekspresi wajahku membuat Ima dan Rinaldi tertawa


Rinaldi kemudian berkata,“Bisa nggak sih kamu stop masukin semua orang ke dalam grup aneh itu?”


Ima mencubit ringan Rinaldi sebelum kemudian berbisik padaku,“Aku selalu berbaik hati memasukin staff wanita baru ke dalam group ini sebelum mereka memohon mohon padaku untuk memasukan mereka ke dalam group ini. Kamu tahu kenapa?”


Aku menggelengkan kepalaku yang kemudian dibalas Ima dengan antusias


“Karena kamu akan menjadi Eternal Fans nya Mr. W setelah meeting ini,”


“Well, kamu akan mengerti setelah meeting nanti,”


Aku menghembuskan napas pelan. Aku tidak menduga ada semacam fandom aneh seperti itu. Fandom di kantor? Fiuh, apakah ini karena aku sudah terlalu lama tidak bekerja? Aku sedikit terkejut menemukan ruangan meeting yang cukup ramai. Rupanya beberapa team lain juga turut menghadiri meeting hari ini


Rinaldi, Ima dan aku menduduki kursi dibelakang Ranti. Ima tidak berhenti membahas Mr. W dengan para wanita di team lain sementara Rinaldi sibuk menganalisis data dari balik laptopnya. Aku menghembuskan napas pelan. Huh, kapan meeting ini dimulai?


“Semua orang selalu datang ke ruang meeting sepuluh menit lebih awal dari pemberitahuan,” tukas Rinaldi


“Ah, benarkah?”


“Yeah. Sebagian ingin show off ke CEO dan jajarannya. Sebagian lain membentuk diskusi fandom,”


Rinaldi menunjuk sisi kiriku yang dipenuhi dengan sekumpulan para wanita dan juga laki laki. Huh?


“Apakah… Mr. W begitu.. terkenal?” tanyaku ragu ragu


Rinaldi mengangguk setuju. Ia kemudian berkata,“Mantan pacarku juga tergila-gila dengannya. Semua orang di kantor ini mengidolakannya. Dia memenangkan beberapa perhargaan international. Selain itu, 10 dari 10 proyek yang kita jalankan selalu mendapatkan gross profit melebihi estimasi artinya dia tidak pernah kalah sama sekali dan yang paling penting, Mr. W itu berpenampilan seperti Adam Levine,”


Sebelah alisku terangkat. Huh, apakah ada orang seperti itu di kantor?


“Ibu Ranti juga mengidolakannya despite of how assertive she is,” lanjut Rinaldi membuatku semakin terkejut. Huh, kupikir Ranti selalu menjaga profesionalitas?


Rinaldi tertawa kecil melihatku. Tunggu, apakah aku baru saja mengutarakan isi pikiranku? Ah, ini membuatku malu. Aku baru akan melanjutkan pembicaraan dengan Rinaldi ketika beberapa orang lain memasuki ruang meeting. Tatapanku terpaku pada sosok William yang menjadi orang terakhir memasuki ruang meeting. Raut wajahnya tegas. Kupikir aura menegangkan yang terpancar darinya melebihi ribuan kali dari Rianti


Meeting dimulai setelah William memasuki ruangan meeting. Sejujurnya aku tidak mengerti sepenuhnya arti meeting ini. Kedua mataku tidak dapat berhenti menatap William. Ia kelihatan berbeda. Ia kelihatan super serius mendengar gagasan dan ide menarik dari para karyawannya. Aku juga menemukan beberapa wanita yang memotret William dengan diam diam. Huh?  Mengapa mereka memotret William dengan diam diam?


“Itu adalah Mr. W,” bisik Ima tanpa memutuskan tatapan tergila-gilanya pada William


Aku melonggo tidak percaya. Jadi… William adalah Mr. W yang diidolakan semua karyawan PT. XXX? Lihat, bahkan seluruh wanita di ruangan ini kelihatan kesulitan konsenterasi dengan keberadaan William. Apakah aku harus bangga atau malah kesal? Huft~!!


“Apakah kamu sudah menjadi bagian dari Eternal Fans nya Mr. W?” tanya Rinaldi


“Tidak kok,” jawabku sambil berdeham pelan


“Oh, kupikir kamu hampir tergila-gila dengan Mr. W. Kamu tidak berhenti melihatnya dari tadi,” lanjut Rinaldi membuatku mengumpat dalam hati. ****. Aku harus mengontrol diriku untuk tidak melihat William. Bagaimana jika orang orang tahu kalau kami suami istri?


“But don’t worry. Mr. W masih single. Jadi silahkan berkompetisi dengan semua wanita di kantor ini dan di luar kantor. Kamu mungkin akan terkejut jika mengetahui betapa terkenalnya Mr. W,”


Apakah Rinaldi baru mengatakan William masih single? Huh?


“Bagaimana kamu bisa berasumsi dia masih single?” tanyaku tanpa dapat menyembunyikan rasa kesalku


“Semua orang tahu dia masih single and well… including his ex-girlfriend,”


“Memangnya kenapa dengan ex-girlfriend nya?”


“Semua orang tahu mereka lulusan Harvard. Mereka hampir menikah namun mantannya kecelakaan yang mengakibatnya lumpuh dan itu menjelaskan alasan mengapa mereka putus,”


Aku tertegun. William hampir akan menikah dengan Yuriska? Namun mengapa aku tidak tahu menahu mengetahui itu sama sekali? Aku baru akan melayangkan pertanyaan lain sebelum kemudian Rinaldi berdeham pelan sambil berpura-pura fokus pada laptopnya. Ruangan tiba tiba menjadi hening dan ketika aku memutar kepalaku menatap sekeliling, aku menemukan diriku telah menjadi pusat perhatian


Oh sial..


“Jika kamu ingin membahas hal lain, kamu boleh meninggalkan ruang meeting sekarang,” tukas William sambil menatapku dengan dingin. Geeez, lihat bagaimana tatapan dinginnya padaku. Orang lain mungkin berpikir dia akan menelanku dengan hidup hidup


Aku agak terkejut namun aku tidak punya pilihan lain selain meminta maaf dan berusaha mati-matian untuk mengikuti arus meeting yang tidak kumengerti sama sekali. Rianti memberiku tatapan tajam ketika meeting berakhir sementara Ima menepuk ringan bahuku, mencoba memberiku semangat. Huh, hari pertama yang sungguh memorable bukan?