
Gawat!
Aku tidak dapat berhenti mual sejak dini hari. Bahkan aroma sabun saja membuat kepalaku pusing. Aku bersyukur aku memutuskan untuk berpisah kamar dengan William saat ini. William mungkin akan mengetahui ini apabila kami sekamar cepat atau lambat. Alhasil aku masih terjaga sambil memakan permen mint sepanjang dini hari
Aku memutuskan untuk memasak sarapan ketika jam dinding menunjukkan pukul enam pagi
William berjalan mendekatiku tidak lama kemudian. Ia bergumam sambil mengisi air ke botolnya,“Hi, good morning,”
“Morning. Hari ini aku masak bubur ayam untuk sarapan. Is it okay?” tanyaku
William mengangguk pada detik berikutnya. Ia kelihatan menyergit melihatku, yang membuatku menahan napas pelan
“Kamu.. pagi pagi makan permen mint?”
Astaga! Aku lupa aku masih makan permen mint ini! Aku berusaha mengontrol raut wajahku agar senormal mungkn lalu menjawab,“Yap. Memangnya ada yang salah?”
William menggeleng meski ia kelihatan ragu namun ia membalas,“Em, nope. Tapi agak aneh,”
Aku bersyukur percakapan mengenai permen mint berhenti disana. William dan aku sepakat untuk menitipkan Camilla ke rumah orang tuaku dan mertuaku bergilir setiap harinya. Lalu kami akan pergi ke kantor menggunakan mobil yang berbeda setelah itu
Camilla dan aku tengah menunggu William keluar dari kamarnya. Camilla tidak berhenti mengajakku bermain hingga menarikku agar masuk ke dalam kamar William. Huh, aku tidak dapat menginjakkan kakiku ke dalam kamar William. Ada perasaan segan dan bersalah karena telah ‘memaksa’ William untuk tidur di kamar tamu padahal rumah ini adalah rumahnya
William berjalan keluar dari kamar sambil mengendong Camilla. Laki laki yang merangkap sebagai bossku itu membuatku kesulitan mengontrol perasaanku di pagi pagi buta. Ia mengenakan suit yang berwarna arang abu abu. Jas yang ia kenakan berhasil membungkusnya dengan sempurna. Huh, kenapa William harus berpenampilan se-sempurna ini hanya untuk ke kantor? Oke, aku lupa. Dia memang sudah sempurna meski hanya menggenakan kaos biasa. Ia sudah terlahir seperti itu namun hal itu tidak dapat membuatku berhenti kesal. Artinya akan ada ratusan karyawan yang menatap William dengan ‘mata telanjang’ lagi kan? Huh!
“Kenapa? Ada yang salah?” tanya William
“Apakah kamu perlu ke kantor seperti ini?” tanyaku tanpa dapat menyembunyikan kekesalanku
William melirik penampilannya sekali lagi lalu mengangkat bahunya,“Aku selalu berpakaian seperti ini di kantor. You knew that,too,”
Huh, itu membuatku semakin kesal. Pantas jumlah fans William tidak berkurang. Justru sebaliknya fansnya semakin banyak tiap menitnya. Kupikir William dapat lolos audisi hanya dengan berdiri disana, tanpa perlu melakukan dialog apapun, jika ia ingin casting film atau drama lainnya. Oke, aku mungkin agak sedikit berlebihan tapi kenapa sih William harus se-ganteng ini untuk dipertontonkan ke orang lain?
Oke, aku tidak boleh berpikir seperti itu
Aku menghembuskan napas pelan kemudian memutuskan menyerahkan satu kotak makanan kepada William. Sebelah alisnya terangkat. Ia kelihatan binggung namun juga tidak berani untuk bertanya,“Aku masak extra bubur tadi. Kamu bisa menyimpannya untuk lunch nanti. Aku menggunakan kotak makan anti panas,”
Sebenarnya aku agak khawatir William tidak mau menerima kotak makan yang kuserahkan baru saja padanya. Ia selalu menghindar jika aku berniat menanyakan makanan apa yang dia inginkan untuk makan siang dulu. Namun.. kini posisi kami telah berubah bukan? Jadi, tidak ada salahnya untuk mencobanya sekali lagi bukan?
“Sebenarnya aku ada meeting siang nanti. Jessica sudah booked restoran untuk siang nanti tapi…”
Aku berusaha tersenyum meski ada sedikit rasa sakit yang menumbuk relung hatiku. Harusnya aku sadar aku tidak boleh mengambil langkah terlalu besar. Aku harus merangkak perlahan lahan. Aku berniat untuk menyimpan kotak makan tersebut namun William mengambilnya pada detik berikutnya. Ia memberiku senyum manis sebelum melanjut,“Aku lebih prefer bubur kamu daripada makanan restoran,”
Huh, apakah William hanya mengasihaniku? Bagaimana jika rupanya dia membuang buburku setelah sampai di kantor nanti? Bukankah itu lebih membuatku sakit hati?
“William, it’s okay. Kamu nggak perlu memaksakan diri. Kamu lihat aku sangat suka bubur. Aku bisa menghabiskan tiga porsi sekalipun,” balasku sambil coba mengambil kembali kotak tersebut
“Apakah aku kelihatan memaksakan diri? Huh, aku juga suka bubur buatanmu,”
William sengaja mengangkat kotaknya setingginya agar aku tidak dapat mengambilnya kembali. Huh, ini mengesalkan. Aku tahu ia hanya ingin menyenangkanku namun entah mengapa aku tidak dapat mengabaikan perasaan sakit itu
“Aku akan memakannya. Sungguh,” lanjut William berusaha meyakinkanku. Ia kemudian melanjut,“Jadi, apa menu makan siang besok?”
Aku berusaha untuk menahan perasaanku meski sebenarnya aku merasa agak bahagia karena William memberiku signal hijau kali ini. Aku memutar mataku sambil mencoba memikirkan menu makan siang apa yang akan kumasak untuk William besok
“Ayam penyet?” tanyaku ragu
William mengangguk antusias,“Ah, sure. I’d like it. Aku boleh request ayam paha kan?”
Aku mengangguk sambil menahan senyum. Oh well.. sebenarnya aku belum pernah mencoba memasak ayam penyet. Aku juga tidak mengerti mengapa aku menyebut dua kata itu namun melihat bagaimana antusiasmenya William membuatku mengurungkan niat menyebut menu lain. Aku hanya dapat browsing dari internet saja nanti malam bukan?
Aku tiba di kantor tiga puluh menit kemudian
Sesuai dugaanku, notifikasi whatsapp menjadi begitu ramai. Isinya tak lain adalah berisi kekaguman atas betapa ganteng dan sempurna nya penampilan William hari ini. Aku merasa sedikit kesal namun juga bangga pada waktu bersamaan
“Kita akan meeting di PT. AAA pagi ini. Tolong print out slides presentasi nanti ya,” ucap Rianti sedetik setelah aku menempelkan bokongku di kursi
Aku sedang mencari file persentasi yang dimaksud ketika Rianti kembali memintaku untuk mempersiapkan laporan meeting dengan PT. AAA minggu lalu
“Kattie, tolong segera selesaikan dalam sepuluh menit ya. Kita sudah mau berangkat,”
“Oke bu. Saya akan usahakan untuk…,”
“Dan kamu.. juga ikut,”
Aku menatap Rianti dengan tidak percaya. Bagaimana aku dapat menyelesaikannya semuanya dan memastikan diriku untuk tiba di lobby hanya dalam sepuluh menit? Tatapan tegas dari Rianti membuatku mengangguk pasrah. Oh fiuhhhhh. Aku yakin hariku akan berat hari ini