Fool Again

Fool Again
Perubahan Positive



Aku menggeliat dalam tidurku. Uh. Seseorang mengigit lenganku. Apakah ini nyamuk? Aku memutar tubuhku namun gigitan itu tidak berhenti. Oh! Siapa yang menganggu tidurku? Pikirku kesal sambil menarik selimut membungkus tubuhku tetapi gigitan itu tidak berhenti. Itu semakin merajarela hingga kurasakan gigitan pelan di bahuku. Aku mengusap wajahku dengan kesal sambil menendang selimut yang membungkus tubuhku, bersiap untuk berteriak


"Morning, sweetheart.."


Nada suara itu mengejutkanku. Mm, well, termasuk sebutan sweetheart. Kantuk yang masih tersisa menguap begitu saja ketika aku menemukan William sedang bersandar dibahuku sambil menyengir manis. Deg deg deg.. Jantungku berdegup kencang. Aku tidak mampu menahan diriku agar tidak tersenyum. Beberapa minggu sudah berlalu sejak percakapan itu. Sejak saat itu pula aku merasakan sedikit demi sedikit perubahan William. Well, meski dia masih belum sepenuhnya terbuka padaku namun dia benar benar sudah mengurangi sedikit demi sedikit waktunya di Youth Club. Dia juga lebih banyak menghabiskan waktu dirumah. Kami benar benar sudah kelihatan seperti keluarga normal pada umumnya


"Sweetheart?"


Aku mengulangi panggilannya padaku tadi dengan geli yang dibalasnya dengan anggukan kepala pada detik berikutnya


"Jangan memanggilku seperti itu, William. Itu agak cheesy," protesku sambil mengusap wajahnya


William menyergit. Ia kemudian mengubah posisinya menjadi duduk dihadapanku. Tatapannya kelihatan cukup serius. Itu membuatku agak was-was


"Aku tidak suka caramu memanggilku." ujarnya


Aku menyergit sambil memberikan William tatapan seperti apakah ada yang salah dari caraku memanggilmu?


"Aku merasa ada gap yang benar benar besar diantara kita jika kamu manggil aku dengan sebutan ‘William’. You know… kamu manggil aku tidak seperti itu sebelumnya,"


Aku mencoba memutar otakku dengan cukup keras. Kenapa aku memanggilnya dengan "William" lagi? Ah.. aku mengingatnya sekarang. Aku memandang William dengan ragu-ragu saat laki-laki itu memberiku tatapan tajamnya. Tatapannya mendesakku agar aku memberitahu alasanku memanggilnya dengan sebutan "William" lagi. Aku mengigit bibirku sambil berpikir keras. Kupikir akan menjadi aneh jika aku mengungkapkan kebenaran – bahwa aku tidak ingin memanggil William dengan sebutan yang sama yang dilakukan wanita lain di Youth Club?


"No reason." Kilahku sambil mengangkat bahu. Aku harap William mempercayainya. Huh!


"No reason? Hei. Jangan membohongiku. Please, jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi, atau ...."


“Atau….?”


“Yah ngga ada kenapa kenapa sih. Aku hanya tidak ingin itu terus menerus mengangguku. Kamu tahu…, kamu adalah orang terdekatku. Jika kamu memanggilku seperti itu, aku hanya tidak berhenti merasa.. kita ini…,”


"Baik! Aku akan memberimu panggilan baru,"


William kelihatan agak terkejut, begitu juga aku. Aku tidak menyangka aku akan memberikan ide itu tanpa berpikir dua kali. Aku kemudian melipat tangan di dadaku lalu melanjut,"tapi kamu tidak boleh memanggilku dengan sweetheart itu lagi. Kamu tahu? Itu terdengar sedikit menggelikan."


"Dua kali. Kamu mengulanginya sebanyak dua kali. Apakah ada yang salah dengan panggilan sweetheart? That's sounds full of love."


That's why, aku bergumam dalam hati


Meski aku sudah merasakan perubahan William sedikit demi sedikit namun ia masih belum berhasil menyingkirkan perasaan khawatir serta pendapatku sepenuhnya bahwa ia masih belum mencintaiku. Aku tahu kami sedang belajar. Mm, tepatnya aku sedang mengajari William mencintaiku. Dia pasti membutuhkan waktu lebih banyak dan aku sebagai partnernya seharusnya tidak boleh berharap ia akan mencintaiku secepat itu. Cinta yang benar benar serius itu membutuhkan waktu yang lama. Aku harus berhasil menyingkirkan nama wanita lain yang telah membekas di relung hatinya serta menghapus ingatannya bersama wanita lain. Aku bukannya seperti memiliki sapu dan penghapus elektrik yang dapat melakukan itu di dalam tubuh William.


"Sorry. Aku hanya kurang suka. Mari kita mengubah itu." Balasku


William mengangguk tanpa ragu. Huft, syukurlah


"Baik. Kamu mau kupanggil apa?"


"Apapun itu, asal tidak terdengar menggelikan."


William tersenyum manis padaku setelah itu. Benar, senyumnya menular karena aku mendapati diriku telah tersenyum pada detik berikutnya


“Kenapa? Bukankah hampir sebagian besar married couple memberi sebutan seperti itu?”


“Mm, itu masih terdengar aneh bagiku. Kamu bukan daddy ku,”


“Tapi aku itu love kamu bukan?”


Oke, ini benar benar membuat pipiku semerah tomat. Aku bahkan harus menyembunyikan kepalaku dibalik selimut setelah itu. William menarik selimutku pada detik berikutnya. Ia kelihatan senang berhasil membuatku merona. Ia menangkup pipiku lalu memberiku senyum yang oh! menular lagi. Aku mulai salting namun sepertinya William menikmatinya. Ia kemudian mengecup bibirku lalu melanjut,“Kalau gitu… aku akan memanggilmu my sunny?”


Aku menyergit. My Sunny? Aku cukup tertarik. Panggilan itu tidak begitu norak dan pasaran menurutku. Oke, mari kita dengar penjelasannya dulu


"Kamu tahu matahari adalah sumber energi terbesar memancarkan panas dan cahaya ke Bumi. Cahayanya mampu menerangi Bumi sehingga adanya kehidupan di Bumi. Selain itu, berjemur dibawah matahari juga kaya Vitamin D. Vitamin D penting bagi hidup. Jadi, intiny adalah.. aku berharap kamu benar-benar menjadi sunny ku suatu hari nanti. Kamu tahu? Perkataan adalah doa." jelas William serius. Pipinya kelihatan agak memerah


Aku tidak bisa menahan diri agar tidak tersenyum. Perkataannya baru saja benar benar membuatku terharu. Jujur saja. Aku benar benar hampir terlena atas itu. Huh, selain menggelikan, William telah menunjukkan sisi romantisnya padaku. Aku harus mengingatnya dengan baik-baik, pikirku.


"Kalau begitu, aku akan memanggilmu my shadow." balasku


William memiringkan sedikit kepalanya, terlihat sangat tertarik dengan pembicaraanku. Aku menarik tangan William, yang menangkup wajahku, menjauh, lalu aku gentian menangkup pipinya dengan lembut, persis seperti bayi. Aku tidak tahu keberanian dari mana yang aku peroleh karena aku sudah mengulum bibirnya pada detik berikutnya. William sendiri kelihatan terkejut namun menikmatinya. Tatapannya begitu intense. Ia menantikan alasanku. Oh, ini membuatku deg deg an saja


"Karena matahari selalu menciptakan bayangan. Aku mau bersama denganmu selamanya. Aku ingin kamu mengikuti kemanapun aku berada." Jelasku sambil menunduk. Fix. Aku malu namun entah mengapa William kelihatan senang atas itu. Ah, ini benar benar memalukan. Aku kemudian memutuskan bangkit dari kasur sambil menguncir rambutku


"Lupakan. Aku akan tetap memanggilmu Liam. Lagipula, aku sudah terbiasa dengan itu," putusku kemudian


Aku kemudian berjalan keluar dari kamar menuju dapur. Aku berpikir mau menyiapkan sarapan sebelum William bekerja.


"Kamu mau sarapan apa?” tanyaku sambil melirik William yang telah berdiri disampingku


“Apapun itu. Aku selalu menyukai apapun yang kamu masak,Sun.” jawabnya membuatku tersipu malu. Aku mengangguk ringan kemudian mengambil chicken nugget serta beberapa butir telur. Kupikir aku akan memasak yang sederhana hari ini, yaitu nasi goreng


William menahan langkahku tidak lama kemudian


"Nick name’s accepted! Kata shadow tidak seburuk yang kuduga,” ucap William. Ia kemudian berjalan mendekat dan menciumku dengan dalam. Aku bahkan harus bertumpu pada meja makan. Ciumannya benar benar membara. Aku merasakan hasratnya. Ugh, apakah sempat? William masih harus bersiap-siap bekerja


Namun sebelum aku selesai dengan pikiranku, aku tidak sadar William telah mengendongku kembali ke kamar. Sebelah alisku terangkat melihatnya yang mulai menelanjangi dirinya sendiri. Oh, kenapa aku masih selalu tersipu malu padahal kami sudah melakukannya berkali kali. Aku mengigit bibirku malu sementara itu William mulai menanggalkan pakaianku. Jemari tangannya meremas buah dadaku dengan lihai sebelum kemudian menuruni sekujur tubuhku. Oke, aku akui. William memang selihai itu memuaskanku. Dia selalu memuaskanku lebih dahulu. Itu membuatku semakin menghargai dan mencintainya


“I love you,Sun,” bisiknya membuatku tertegun


William menyatakan cinta padaku? Apakah aku tidak salah mendengar? Namun kedua matanya yang tengah membara itu membuatku sadar bahwa ini bukan mimpi. Aneh. Mengapa aku tidak merasa senang? Apakah ini karena aku merasa…tidak mendengar sedikitpun emosi atau sorot mata yang penuh cinta, yang diberikan William padaku, saat dia mengatakan itu?


Pertanyaannya adalah mengapa dia mengatakannya meski dia tidak menyakininya? Ah, aku ingat


Perkataan adalah doa.


Ya! Aku mengingatnya. William mengatakan itu beberapa menit yang lalu. Meski hatiku masih agak sakit dan tidak menerimanya namun di sisi lain aku sedikitnya merasa bersyukur. Setidaknya dia benar benar berharap akan mencintaiku. Ini adalah pertanda baik. Artinya… akhir dari hubungan ini memiliki sedikitnya titik terang


William kembali ******* bibirku setelah itu. Ia benar benar membuatku sibuk dalam kebutuhan jasmani kami hingga aku benar benar sepenuhnya melupakan kekhawatiran hatiku