Fool Again

Fool Again
Let's Not Lose Our Hope For Tomorrow



William mengajakku ke suatu tempat setelah itu


Arah perjalanannya cukup familiar. Kemudian aku baru menyadari bahwa William membawaku ke pemakaman Yuriska. Sebenarnya aku agak terkejut namun aku tidak berani bertanya kepada William. Aku yakin dia membawaku kemari karena satu alasan pasti


William dan aku sama sama memberikan penghormatan kepada Yuriska untuk kedua kalinya. Diam diam aku melirik William yang tengah memejamkan matanya. Ia kelihatan sedang mendoakan Yuriska


“Mengapa kamu tidak nanya kenapa aku membawamu kesana?” tanya William ketika kami sedang dalam perjalanan pulang


Aku mengangkat bahuku sambil menjawab,“Entahlah. Aku tidak mau menanyakan hal bisa membuatmu galau kembali. Aku yakin kamu punya alasanmu sendiri,”


“Apakah kamu bahkan tidak penasaran?”


AKU PENASARAN namun aku menghargai privacy William. Aku sudah cukup bahagia karena aku merasa ia menghargaiku dengan membawaku kesana bersama dengannya. Bukankah itu sudah cukup? Namun melihatnya yang kelihatan mengijinkanku menanyakan hal itu membuatku bedeham pelan beberapa kali. Oke, bertanya sekali tidak ada salahnya bukan?


“Tidak… tapi.. mm, aku penasaran akan satu hal. Tapi aku tidak tahu apakah kamu bersedia menjawabnya,”


“Well, tell me first,”


“Apa salah satu doa yang kamu sampaikan tadi pada Yuriska? Kamu memejamkan mata begitu lama dari tadi. Kupikir kamu mendoakan sederet point yang super panjang,”


William tidak langsung menjawab namun ia tidak berhenti tersenyum dan itu membuatku binggung


Aku menyergit sambil melanjut,“Lho kenapa kamu tersenyum? Ada yang lucu?”


“Nope. Aku hanya masih belum menyangka dengan jalan kehidupan ini,”


“Karena kamu berakhir denganku, huh?”


“Tidak,tidak! Aku hanya masih belum menyangka aku akan mengunjungi pemakaman Yuriska bersamamu. Sebelumnya aku bahkan tidak berani menyebut namanya saja apalagi mengunjungi pemakamannya sama sekali namun kali ini semuanya terasa berbeda. Aku dapat menyebut namanya tanpa meninggalkan rasa sakit dan sedih mendalam lagi. Kamu tahu apa yang kusampaikan padanya?”


Oh… sebenarnya aku cukup nervous kali ini. Aku tidak menyangka William akan memberitahuku apa yang ia sampaikan pada Yuriska. Apakah itu tentang perasaannya? Atau petualangannya? Huh? Aku mencoba untuk mengontrol raut wajahku


“Aku berterimakasih atas perjalanan kisah kami dan aku meminta maaf dengannya karena aku bahkan tidak berani mengunjunginya sama sekali…sebelumnya. Aku mengunjunginya terakhir kali itu tahun lalu saat pemakamannya. Dan kemudian… aku memintanya untuk tidak mengkhawatirkanku lagi karena.. aku sudah berhasil move on,” ucap William ringan


Ia mengengam tanganku dengan hangat. Tidak ada sorot mata sedih ataupun penyesalan lagi yang terpancar dari William. Itu membuatku tidak berhenti tersenyum bahagia. Kini aku percaya ia benar benar telah ‘sembuh’. Ini menepis final reminder yang berulang memperingatiku dari tadi


“Aku memberitahumu ini karena aku ingin kamu tahu bahwa aku benar benar sudah selesai dealing dengan masa laluku. Petualangan itu benar benar sudah berakhir. Kini kamu dan aku akan memulai petualangan baru bersama. Aku harap kamu masih merasakan hal yang sama denganku,”


Apakah William membutuhkan pengakuan cintaku? Uhhhh, aku bahkan tidak berani mengungkapkannya. Bagaimanapun aku masih harus melihat keseriusan William selama beberapa bulan kedepan meski aku sebenarnya yakin ia telah benar benar serius denganku. Woman is all about the pride,right?


Aku berpura-pura tidak mendengar William kemudian aku mengajaknya membahas hal hal lain. Pembahasan kami dimulai dari pertarungan William dalam dealing dengan masa lalunya. Rupanya dia benar benar dinas sesuai yang dia infokan terakhir kali. Ia juga pindah ke Head Office yang berada di London untuk memperluas jaringan disana


Ia benar benar menjadi workaholic dan oopss.. tidak lupa ia tidak berhenti menyalahkan diriku sepenuhnya yang tidak menemaninya di kala masa sulit hingga suatu hari ia memutuskan untuk mendaki gunung. Ketentraman yang ia peroleh membuatnya kemudian memutuskan untuk benar benar berpetualang di alam selama beberapa bulan. Well, kini itu menjelaskan mengapa kulitnya kelihatan agak gelap


“Oh ya, Camilla gimana? Aku sudah nggak sabar ketemu dengannya. Aku bahkan sudah membeli hadiah sebanyak sepuluh koper untuknya!” seru William dengan antusias


Aku baru akan menceritakan tentang tingkah lucu Camilla sebelum aku tiba tiba teringat dengan keberadaan Issac. Oh God! Aku belum sempat memberitahunya bahwa dia sudah menjadi ayah dari dua anak


“Kenapa?” tanya William menyadari kegelisahanku


William menyergit sambil melanjut,“Camilla baik baik saja kan?”


“Camilla baik baik saja,” jawabku sambil mengigit bibirku gelisah. William menatapku dengan mata menyipit. Ia menuntutku untuk memberitahunya alasan dibalik kegelisahanku. Huft, aku sadar aku tidak boleh menyembunyikan hal ini lagi. William akan marah besar apabila dia mengetahuinya sebelum aku memberitahunya. Huh, aku harus memberitahunya sekarang juga. Please bless me Father in The Heaven!


Aku membasahi bibirku sambil menghembuskan napas pelan sebelum membalas.“Kamu ingat hari dimana aku meninggalkan rumahmu?”


William mengangguk


“Rumah kita,” koreksinya


“Ah ya, rum..ah…kita,”


Fiuhh, kenapa rasanya berat banget sih? Aku memaksa William untuk tidak marah padaku. Ia mengiyakannya meski ia menjadi ekstra curiga padaku


“Kamu ingat kan aku ada menanyakan kapan kamu available waktu itu?”


“Ya. Kenapa?”


“Sebenarnya…,”


“Sebenarnya?”


“Sebenarnya… aku hamil waktu itu,”


“Maksudnya?”


William kelihatan tidak mengerti. Entahlah. Ia entah kelihatan tidak mengerti atau hanya ingin memastikan pendengarannya sekali lagi. Aku memejamkan mataku sekali lagi sebelum mengumpulkan tenagaku mengulangi perkataan itu sekali lagi


“Sejak.. aku melarikan diri ke rumah orang tuaku waktu itu,”


“WHAT?!!”


“William… maaf. Aku hanya belum menemukan waktu yang pas untuk memberitahumu. Semuanya benar benar membuatku binggung waktu itu dan…,”


“Kamu… kamu tidak menggugurkannya kan?”


“Tidak! Apakah kamu pikir aku gila?”


William kelihatan lega. Ia lalu kemudian menyergit sambil bertanya,“Jadi, kenapa perut kamu sekarang rata banget? Dimana anaknya?”


“Aku…sudah melahirkannya,”


“WHATTT?! Anakku sudah lahir?!”


Aku mengangguk dengan hati hati. Sungguh, aku tidak berani menatap William saat ini. Aku mengigit bibirku gelisah sambil mengumamkan nama Issac dengan hati hati. Aku tidak melawan ketika William mengomeliku habis-habisan. Samar samar aku bahkan mendengarnya mengumpat kepada dirinya sendiri, seperti mengapa ia dengan tolol tidak mengerti signal yang kutunjukkan seperti mual tidak jelas hingga menolak ****


Aku hanya dapat duduk dengan diam sambil mendengarnya menyesali kebodohannya yang tidak dapat menangkap semua signal itu hingga kami tiba di depan apartemen kecil yang kusewa. William kelihatan nervous. Ia tidak pernah kelihatan se-nervous itu untuk bertemu anak anak sebelumnya. Ekspresinya membuatku menahan senyum


“Bisakah kamu memberiku kata kata penyemangat? Aku takut Camilla melupakanku, huh,” ujar William sambil menghembuskan napasnya ketika kami telah berdiri di depan pintu


“Camilla tidak melupakanmu kok. Aku yakin dia juga akan sangat bahagia melihatmu,”


“Benarkah? Tapi kenapa aku merasa setakut ini? Aku bahkan belum sempat mengunting rambutku. Dia mungkin akan melihatku dengan aneh dan…,”


Aku menghentikan William berbicara dengan menariknya mendekat sebelum kemudian mengikat rambutnya menggunakan ikat rambutku. Oh well, sepertinya William menjadi lebih cantik dariku saat ini dan itu membuatku kesal. Huh!


“Dia akan mengenalimu seperti ini,” bisikku sambil merapikan penampilan William


William mengangguk pasrah. Kami baru akan masuk ke dalam namun William tiba tiba menunjukkan padaku sebuah video dari ponselnya. Aku menyergit binggung namun tidak menolaknya


Aku agak deg-deg-an ketika memutar video tersebut. Kira kira apa isi video ini?


Namun pada detik selanjutnya aku menemukan diriku tercenggang. Kedua mataku terbelalak dan aku tidak dapat menahan rasa hangat yang terselip dalam relung hatiku. Video tersebut menunjukkan bagaimana William melukis lukisan yang kukagumi di Gallery tadi. Huh, aku tidak tahu William memang seberbakat dan seromantis ini. Jadi, ia bersikeras ingin membawaku masuk ke dalam Gallery karena ia ingin menunjukkan lukisannya yang merupakan cerminan kami sewaktu SMA?


William menahan senyum melihat ekspresiku. Huh, ini memalukan namun entah mengapa aku tidak dapat berhenti tersenyum. Sudut mataku berair penuh haru. Aku bergegas berlari memeluk William


“Huh, kamu harus tanggung jawab sudah bikin aku nangis lagi,”


“Lah, bukannya aku dapat reward bisa bikin kamu senyum kayak gitu?”


“Reward?”


William mengangguk. Ia menatapku sambil menunjuk bibirnya. Ugh. Gadis batinku berteriak. Aku menyeka sudut mataku sambil mengigit bibirku ragu. Jika aku menciumnya pada detik ini maka aku yakin kami tidak mungkin dapat menghentikannya. Kami mungkin akan berakhir di kamar selama berjam-jam


“Here’s your reward…,"


Aku mengeluarkan cincin pernikahan kami yang selalu kusiasati menggunakan kalung. Aku mengeluarkan cincin dalam kalung tersebut kemudian menggenakannya di jari manisku. Aku menunjukkannya pada William dengan senyum lebar


“Jadi… is it a yes?” tanya William hati hati


Ia kelihatan sudah ingin berteriak bahagia namun ia khawatir jika ia mungkin bisa salah. Aku mengangguk tanpa ragu


“Orang orang mungkin berpikir aku wanita terbodoh. Kamu sudah melukaiku namun aneh. Aku tidak bisa menghapus cinta ini. Well, jujur aku tidak akan pernah tahu masa depan. Kamu mungkin dapat melukaiku kemudian aku akan merasa ditipu kembali olehmu namun.. aku hanya menyakini dengan jelas bahwa… I do really love you. Jadi aku harap kamu….,”


Perkataanku terhenti ketika William mendaratkan satu kecupan tipis di bibirku. Ia menatapku dengan tatapan yang membuatku bergetar. Telapak tangannya yang besar menangkup wajahku. Ia mengusapnya dengan pelan sambil berkata,“Terima kasih sekali lagi,Kattie atas kesempatan ini. Aku tidak akan menyia-nyiakannya lagi,”


“Well, what if…?”


William tertawa kecil dengan pertanyaanku yang mungkin menurutnya tidak akan pernah terjadi di masa depan lagi. Ia mengangkat bahunya


“Jika itu terjadi lagi maka kamu mungkin akan menjadi sedikit lebih sibuk. Kamu harus menyadarkanku kembali karena pada akhirnya kamu dan anak anak adalah rumahku. Kalian adalah segalanya bagiku. Jadi…jika itu terjadi lagi, meski itu tidak mungkin, aku ingin kamu tidak berhenti menyerah atas diriku dan hubungan ini,” jawab William berhasil membuatku meneteskan air mata haru…lagi


Aku mengangguk. Kami pun kemudian bergandengan tangan berjalan menemui Camilla dan Issac. Gengaman tangan William merupakan sentuhan paling hangat yang pernah kurasakan. Huft mungkin ini karena aku sudah benar benar yakin dengan perasaan dan jalan hidup ini. Beban di hatiku perlahan lahan mulai musnah. Aku menatap William sekali lagi sebelum kami benar-benar membuka pintu kamar anak anak


Jadi beginikah ending kisah ini?


Well, jawaban William terakhir menunjukkan jelas akhir kisah ini. Ia tidak akan pernah mengkhianati cinta ini lagi. Meski tidak ada jaminan yang dapat membuktikannya namun aku mempercayainya. Cinta memang tentang kepercayaan. Well, he maybe will fool me again in the future but… I’m pretty sure I just need to remind him about the journey we’ve been through together


This is the end…for temporary. I couldn’t say this is really the ending cause we aren’t fortunetellers or able to oversee our future. But we’re sure… this temporary things is the things we will hold till the end


Thank you so much for this journey. Thank you for listening this journey. Let’s not lose our hope for tomorrow.