
Jessie, Christy dan aku sedang duduk di sofa yang telah disediakan di halaman belakang rumah. Kami bertiga menatap para suami dan pacar Christy yang sedang mengambil alih dapur dengan puas. Kapan lagi para wanita
bisa santai di acara keluarga? Memang kekuatan Jessie dan Christy pantas diacungkan jempol karena berhasil mendorong ketiga laki laki itu untuk memanggang daging hingga jagung padahal mereka sedang bermain games tadi
Aku tidak bisa berhenti memperhatikan William. Astaga, kenapa aku tidak bisa berhenti terbayang atas kegiatan memacu adrenalin kami tadi di mobil? Tanpa kusadari, aku telah merapatkan kedua kakiku sambil menelan ludah pelan
William seolah menyadarinya. Ia mengangkat kepalanya lalu menatapku. Senyum manis itu sekali lagi terasa melumpuhkanku. Aku ikut tersenyum tanpa kusadari
Jessie menepuk bahuku lalu menyerahkan segelas jus padaku
“Masih terkagum-kagum dengan ketampanan adikku?” godanya membuat pipiku merona
Aku memutar badanku menghadap mereka, berusaha untuk menyembunyikan rasa maluku,“tidak, aku hanya..,”
“Tenang. Kita semua juga merasakan hal yang sama. Kadnag, orang berpikir dia adalah pacarku, sangking nyaris tida ada kemiripan diantara kami. He’s just too handsome to handle,right?” balas Christy ringan
Jessie menimpali,“Luckily you got him,Kattie. Senang kita bisa berkumpul seperti ini lagi,”
Christy ikut mengangguk. Dia melanjut,“Benar. Apalagi kali ini kalian kelihatan jauh lebih natural, maksudku hubungan kalian. Aku ... dan kami semua menyukai fakta kalian kembali bersama,”
Aku tersenyum simpul. Jangankan mereka, aku sendiri juga bahagia dengan fakta ini, meski sebenarnya kadang aku masih terus mempertanyakan mengapa aku bisa memaafkan William semudah itu? Karena aku mencintainya? Itu sudah pasti! Tapi.. selain itu? Em, karena aku terlalu polos? Atau terlalu jatuh dalam pesonanya? Maksudku, siapa yang bisa tidak goyah atas pesona William?
“Thank you. Aku juga senang kita semua bisa berkumpul kembali seperti ini,” ujarku jujur. Hatiku bergetar, merasa lega karena pada akhirnya aku bisa mengungkapkan hal ini kepada seseorang, selain William
Christy membalas dengan semangat sambil melihat Jessie dan aku bergantian. Kedua matanya berseri seri
“Bukankah ini waktu yang tepat untuk liburan? Rasanya sudah lama sekali sejak kita sekeluarga liburan dengan anggota lengkap,”
“Liburan kemana?”
“Sebentar, aku akan mencarinya dulu. Tolong kosongkan jadwal kalian semua ya! Oh tidak tidak. Aku akan meminta sekertaris para suami dan pacar untuk dikosongkan. Kalau tidak, mereka akan memiliki seribu alasan. Setuju?”
Jessie dan aku mengangguk tanpa ragu.
Christy kelihatan sangat bersemangat. Dia melanjut,“Tidak ada yang namanya cancel apapun yang terjadi, ok?!”
Lalu tanpa menunggu konfirmasi dari Jessie dan aku, ia telah pergi sambil bernyanyi. Aku menggelengkan kepalaku
“Christy pasti sedang googling tempat apa yang akan kita kunjungi nanti,” ucap Jessie sambil tertawa
Aku mengangguk setuju. Biasanya memang adik terkecil di sebuah keluarga adalah seksi kepo terberat
“Semoga dia tidak memilih daerah yang terpencil,”
“Well, harusnya tidak. Kamu tahu kan kalau dia pecinta kota metropolitan?”
“Ah, benar juga,”
“Berharap saja dia memilih Paris, mungkin?”
“Wah, itu negara yang manis tapi... mungkin akan sulit bagiku karena Issac masih sangat kecil. Semoga dia memilih dalam kota saja,”
“Kamu benar. Aku akan menyampaikannya nanti,”
Jessie tidak berhenti melihat William dan aku bergantian. Kedua matanya bergetar. Dia kelihatan akan menangis. Aku menyentuh lengannya dan bertanya,“Hey, kenapa,mbak? Ada yang salah?”
Jessie menggelengkan kepalanya. Dia menyeka sudut matanya yang telah basah
“Tidak, aku hanya... hanya masih tidak percaya kita bisa berkumpul seperti ini lagi,”
“Ha ha ha, apakah ini moment selangka itu sampai mbak terharu kayak gitu?”
“Tentu. Ini adalah moment terlangka. Kamu tahu? Ini sudah menjadi salah satu wishlist ku, yaitu melihatmu dan adikku kelihatan saling cinta, tanpa harus memaksa,”
“And it... happened,”
“Praise God! Kamu tidak tahu hanya betapa bahagianya aku! Tapi...Kattie, apakah aku boleh memberimu sedikit nasihat? Well, usia pernikahanku jauh lebih tua dari kamu, jadi aku ingin memberimu sedikit nasihat kalau...kamu tidak keberatan,”
“Oke, mbak. Apa itu?”
“Pertama, apapun yang terjadi, jangan pernah mengambil keputusan dalam keadaan marah. Kedua, saling
menghindar bukanlah solusi dalam pernikahan. Ketiga, aku sangat menyayangimu. Jadi, semoga kita akan selalu menjadi seperti ini...selamanya,”
Duh, perkataan terakhir Jessie membuatku mulai ikut berkaca-kaca. Kenapa aku menjadi sangat terharu?
Aku berusaha tersenyum namun malah air mataku jatuh membasahi pipi. Jessie memelukku, menepuk pelan bahuku sambil tertawa kecil. Fiuh, aku seperti merasa memiliki ‘kakak’ kembali. Rasanya pasti akan lebih menyenangkan dan berbeda kalau kakakku hidup sampai saat ini bukan? Beliau pasti akan menjadi tempat
curhatku
Aku menyeka sudut mataku yang berair sambil menarik diri dari pelukannya
“Sorry, mbak. Aku.. aku jadi rindu dengan kakakku,”
“It’s okay,Kattie. Jangan lupa.. aku juga kakak kamu, he he he,”
Aku tersenyum simpul membalas,“Aye aye, sekarang aku punya tambahan satu kakak dan adik, he he he,”
“Dan satu suami dan sangat menggoda. Jangan lupa itu, ha ha ha,”
Kami kemudian tertawa cukup keras. Ini menyenangkan mendengarkan bagaimana Jessie menceritakan masa kecil mereka meski sebenarnya sebagian besar cerita itu sudah kuketahui. William dan aku sudah bersahabat sejak kecil, ingat? Namun entah mengapa mendengarnya kembali masih saja membuatku tertawa dan ... rindu akan masa masa itu
Kami berhenti mengenang masa masa kecil sesaat setelah William datang menghampiri kami. Ia duduk tepat disamping kananku lalu merangkul bahuku
“Hey, bahas apa sih sampai ketawa kayak gitu?” tanyanya setelah mengecup pipiku
Aku agak terkejut. Astaga! Kupikir dia akan ‘menghabisiku’ lagi disini
Jessie tersenyum geli melihat kami namun aku yakin aku menemukan sorot bahagia dan lega disana. Ia membalas,“Lagi bahas kamu,”
William menunjuk dirinya sendiri sambil menyergit,“Aku? Apa ada yang bisa dibahas tentang aku? Mbak, kamu enggak membahas tentang....,”
“Tentang kamu ngompol di depan pagar rumah waktu umur lima tahun? Atau tentang kamu dimarahin sama
ketua kelas kamu yang cewek waktu enam SD? Atau tentang kamu yang ikut menangis setelah mendengar cerita sedih dari kang bakso?”
“MBAK? Mbak enggak serius kan?”
“Sekedar informasi, aku menambahkan bagaimana kamu mau didandani aku hanya demi satu permen,”
“MBAK JESSIE!”
William terbelalak. Dia kelihatan sangat speechless. Well well well, semua kisah itu berkaitan dengan harga dan martabatnya yang sudah di-cap sebagai cowok cool. Dia melirikku dengan sorot malu sebelum kemudian memberi peringatan kepada Jessie untuk berhenti. Namun Jessie tidak kelihatan ingin berhenti hingga akhirnya William mengejarnya untuk menghentikannya
Aku sebagai pihak ketiga yang duduk di kursi sambil memperhatikan mereka berlari lari memutariku pun tak bisa menahan tawa. Aku tidak bisa menyangkal bahwa relung hatiku menghangat. Ada sesuatu yang menyala disana, mempertegaskanku mengenai keluarga. Ya, inilah keluarga suamiku, bukan keluarga sahabatku. Inilah yang kuinginkan, melihat keharmonisan mereka, membuatku turut berbahagia hanya dengan melihat sikap konyol antar saudara
Jessie berhenti tepat disampingku dengan napas yang tidak teratur. Dia mengangkat tangan ke udara dan berkata,“Okay okay, aku stop,”
“Mbak, please deh. Mbak kok cerita tentang itu dan..,”
“Memangnya kenapa? Dia kan istri kamu,”
“Ya tetap saja, itu kejadian yang mencoreng imageku dan...,”
“Image keperkasaanmu, maksudnya?”
Aku yang sedari tadi menahan tawa pun pecah. Keperkasaan? Astaga ha ha ha. Kenapa Jessie menggunakan kosa kata itu?
Perdebatan itu berakhir setelah Jessie bilang dia akan gantian memanggang
William menyandarkan kepalanya di bahuku setelah itu sementara itu ia meletakkan tangannya di perutku
“Kenapa? Capek?” tanyaku sambil menahan senyum
“Kamu tahu berapa potong ayam yang aku bakar? Hampir tiga puluh potong,”
“Tiga puluh potong saja? Kupikir kamu bisa bertahan meski itu harus seratus potong sekalipun?”
“Bukan masalah jumlahnya namun karena aku harus melakukannya bersama ipar dan calon iparku. Kamu tahu? Mereka benar benar parah mengenai urusan dapur,”
“Serius?”
William memejamkan matanya sambil menunjuk ke arah dimana mereka memanggang tadi setelah mendengar teriakan Jessie,“See?”
William menahanku ketika aku hendak bangkit untuk membantu Jessie. Dia menahan pergelangan tanganku lalu sebelum aku berhasil menarik diri, ia telah menunduk sambil memelukku, menyandarkan kepalanya di
lekukan leherku. Aku merasa hembusan napasnya yang berat disana. Erggh, ini agak geli namun aku tidak berani bergerak sedikitpun
Aku memberanikan diriku mengelus kepalanya dengan pelan. Rupanya William menyukainya. Dia mencari
posisi yang lebih nyaman. Kini, aku merasa bibirnya menempel pada leher jenjangku
Anton berkata,“Ini menyenangkan. Bisakah kita seperti ini selamanya?”
Aku tersenyum tipis
“Sure,”
“Em, oh ya, anak anak sudah makan kan?”
“Ya dan mereka lagi tidur,”
Aku berusaha menahan geli tatkala bibirnya terus menerus menari dileherku, bukan sengaja memang karena dia tidak berhenti bicara sedari tadi. Aku merasa bulu kudukku mulai berdiri. Aku berusaha menyamarkannya dengan berkata,“Apakah kita akan menginap disini nanti?”
“Tidak. Camilla sekolah bukan?”
“Ah, ya. Aku lupa,”
Aku tahu William sedang sangat kelelahan tapi mengapa aku merasa dia seperti menggodaku? Bibirnya
menyentuh leherku sementara lengannya yang melingkari dadaku pun agak menekannya dengan cukup keras serta kakinya menggesek kakiku beberapa kali. Astaga! Kali ini aku merasakan kecupan disana, cukup lama dan meninggalkan tekstur basah sampai aku mendesah tanpa kusadari. Oh tidak. Ini menggelikan
“Liam, kamu tidak berencana make out denganku disini kan?”
“Apakah kamu tertarik?”
“Dengan menjadi tontonan keluargamu? No, thanks!”
Aku merasakan senyum itu. Kini tangan itu mulai memeras buah dadaku, membuat badanku dengan refleks
menegang. Sentuhannya terasa pas, sangat pas sampai sampai membuatku tidak berhenti mendesah. Mnedesah? Oh astaga! Aku menarik tangannya menjauh setelah aku berhasil mengontrol diriku setidaknya.. sedikit
“Liam, stop it!”
“Why? You like it, right?”
“Tapi ini bukan waku yang pas, astaga,Liam. No!”
Aku terkejut setengah batin karena laki laki itu mulai memasukkan tangannya ke dalam celanaku. Jantungku
berdegup kencang kali ini, sangat kencang, seolah seperti anak remaja yang khawatir apabila tertangkap basah sedang melakukan ini
Jemarinya berputar putar di permukaan atas, membuatku memejamkan mataku, namun dia menghentikannya
sesaat setelah aku membusungkan dadaku kedepan
“Okay, will continue..tonight?” tanyanya sambil tersenyum puas padaku
Kini wajah lelahnya sudah berganti dengan raut puas yang membuatku tidak berhenti kesal. Jadi
begini caranya untuk recharge energy nya? Dengan membuatku bergairah, huh?