Fool Again

Fool Again
Makanan dan.. dia



Ini gawat


Aku kelaparan di tengah malam. Aku lupa kalau aku belum makan apapun sejak pagi tadi, selain segelas susu. Fiuh, aku tidak mungkin akan berpapasan dengan William bukan kalau aku keluar? Dia pasti sudah tidur bukan? Fiuh, baiklah


Aku melangkah keluar tanpa mengganti pakaianku dulu. Lebih tepatnya dalam kondisi belum mandi. Aku menghabiskan waktu dengan menangis dan mengumpat kesal pada William di dalam kamar, meski aku tahu dia tidak akan dapat mendengarnya karena ia minggat ke kamar anak anak namun entah mengapa aku merasa agak lebih baik setelah itu


Aroma wangi membuat perutku berbunyi keras


Ketika aku mengintip dari balik dinding, aku menemukan William sedang memasak di dapur. Aku menyergit. William memasak? Sejak kapan dia bisa memasak?


Aromanya terasa memabukkan. Aku tidak yakin aku dapat mundur namun aku masih merasa kesal dan sedih atas sikap William. Tapi bagaimana dong? Aku benar benar sudah keroncongan? Atau sebaiknya aku mengambil segelas susu lagi atau… menunggu di dalam kamar sampai dia kembali ke kamar? Huh?


Ketika aku sedang sibuk dengan sikap apa yang harus kuambil, William berbalik menatapku. Aku terkejut setengah mati pada detik kedua pasang mata kami bertemu.


“Lapar?” tanyanya tanpa memutuskan kontak mata diantara kami


Dia meletakkan makanan yang baru dia masak ke pantry lalu memintaku untuk bergabung dengannya. Aku agak ragu. Makan berdua dengannya setelah perdebatan? Huh?


Dia menarik tanganku lalu menarik kursi untukku duduk. Tatapan kesalnya tidak bisa ditutupi dengan tatapannya yang datar itu. Ia meletakkan sebuah piring berisi nasi putih, omellete dan sosis goreng dihadapanku


“Aku tahu kamu lapar,” ucapnya sambil mengambil posisi duduk dihadapanku. Geeez, ini terasa canggung. Aku lapar. Aku ingin makan sekali tapi… aku tidak berani makan karena ada dia


Dia menyendokan makanan tersebut ke dalam mulutnya, mengunyahnya tanpa memutuskan kontak mata diantara kami. Fiuh, aku memberanikan diri untuk menyendokannya ke dalam mulutku setelah ragu ragu beberapa menit


William meletakkan beberapa potong sosis di piringku dan berkata,


“Ini tidak buruk kan?”


“Lumayan. Sejak kapan kamu bisa masak?”


“Baru baru ini,”


Aku hanya mengangguk sambil mengunyah, berharap William segera balik ke kamar agar aku dapat menghabiskan semua makanan ini. Astaga, aku benar benar sangat lapar. Aku tidak tahu apakah William mengerti kondisi ini atau tidak. Namun yang jelas, dia kembali ke dapur. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan. Kugunakan kesempatan itu untuk memakan dengan lebih lahap. Sangking lahapnya, aku menghabiskan semua lauk dan nasi.


Aku sedang menghabiskan suapan terakhir ketika William kembali ke meja makan dengan segelas jus


“Minum lah,” tukasnya sambil meletakannya dihadapanku


Minum jus lagi? Fiuh, kupikir perutku akan meledak sanking kenyangnya. Namun aku tidak menolak agar tidak perlu berargumentasi lebih lama lagi dengannya


Sebenarnya aku agak grogi karena William tidak berhenti memandangiku sejak tadi. Tatapannya tidak sedang menelanjangiku namun entah mengapa aku merasa terintimdasi dengan tatapan itu. Aku merasa menjadi kecil kali ini


“Kenapa kamu tidak mandi?” tanyanya membuatku terkejut


Aku berdeham beberapa kali sebelum membalas,“Aku ketiduran,”


“Benaran? Ketiduran dengan pakaian seperti itu dan tanpa menghapus make up?”


Memangnya ada yang salah, huh? Pikiran, jiwa dan ragaku lelah karenamu!


Aku mengangguk sebagai balasan. Agar menghindari topik pembicaraan yang sama, aku bergegas membersihkan meja dan mengangkut piring piring kosong ke dapur. William menyusul. Dia mengambil alih dapur, membuatku menyergit


“Sini, aku cuci saja,”


“Aku yang cuci saja,”


“Ini adalah tugasku,”


“Tugas bersama, kalau kamu lupa,”


Hatiku bergetar selama seperkian detik. Tugas bersama?


Dia meraih piring kotor di tanganku lalu melanjut,“sebaiknya kamu membersihkan dirimu dulu. Jangan lupa keringkan rambutmu. Nanti kamu bisa masuk angin,”


Duh duh duh, perhatian kecil seperti ini membuat hatiku semakin bergetar. Tidak tidak! Kamu tidak boleh goyah dengan mudah seperti ini,Kattie!


Aku tidak membalas namun juga membiarkan William mengambil piring itu dariku. Aku baru membalikkan badanku untuk kembali ke kamar namun dia kembali memanggilku. Ketika aku berbalik melihatnya, aku hanya dapat menahan napas melihat otot tubuhnya yang kekar dari sisi samping


“Setelah kamu selesai mandi, tolong siapkan baju dan perlengkapan anak anak. Kita akan ke puncak besok,”


“Puncak? Maksudnya kamu dan anak anak saja?”


Pertanyaanku baru saja membuat William menghembuskan napas kesal. Kini dia berbalik hingga menatapku sepenuhnya. Dengan kedua tangan yang masih menggunakan sarung tangan pink, ia kelihatan seperti suami idaman. Tunggu. Suami idaman? Huh? Apa yang baru saja kupikirkan? Aku berdeham sekali lagi, mencoba memusnahkan kegugupan ini


“Kamu, aku, anak anak dan keluargaku,” William menekankan setiap patah katanya. Aku menyergit. Ke puncak? Dalam rangka apa?


William melanjut,“Kamu sudah janji sebelumnya. Dan.. tolong jangan kunci kamar. Aku mau packing barang barangku juga,”


Dua kalimat.


Ia hanya mengatakan dua kalimat sebelum kembali berbalik dan fokus mencuci piring, meninggalkanku dengan kedua mata berkedip. Jangan mengunci pintu? Duh, kenapa pikiranku menjadi senegative itu? Tidak mengunci pintu bukan berarti kita akan melakukan kegiatan pemacu adrenalin itu namun dia hanya ingin mengambil bajunya. Astaga! Aku dan pikiran negative ini


Aku bergegas berlari kecil menuju ke kamar untuk membersihkan tubuhku yang sudah terasa lengket


***