
Aku menyergit.
“Apakah kita saling mengenal?” tanyaku ragu
“Ah, jangan bilang kamu sudah lupa denganku?” tanyanya balik
Aku menatapnya dengan lekat, mencoba mengingat-ingat siapa laki laki tampan dihadapanku ini. Alisnya yang cukup tebal serta tulang pipinya mengingatkanku dengan seseorang. Aku ragu namun aku tidak dapat menahan diriku untuk tidak mengumamkan nama Didi, mantan gebetanku sewaktu SMA
“Ah, kamu ingat?!” tanya Didi antusias
Aku mengangguk tanpa kusadari
“Kamu kan siswa terpopuler di sekolah Ajaya,” jawabku
Didi tersenyum malu. Ia membalas,“Kamu juga siswi tercantik di sekolah Hiru Hara,”
Apakah itu pujian? Hem, aku mengangkat sebelah alisku, tidak percaya. Ah, ternyata gebetanku dulu menganggap aku adalah mantan siswi tercantik di Hiru Hara? Gagasan itu membuatku tersenyum konyol
“Kamu kok jadi setinggi ini? Dulu kayaknya kamu ngga gini deh,” lanjutku memulai obrolan tanpa kusadari
“Well, puberty hit me,”
“That’s good. Kamu kelihataan jauh lebih oke,”
Didi tersenyum manis. Ia kemudian menatap sekeliling kami sebelum bertanya,“Kamu lagi sama seseorang? Tidak masalahkah jika aku bergabung?”
Dua puluh detik.
Aku perlu memikirkannya selama dua puluh detik. Apakah benar jika aku berbincang dengan laki laki lain di club sementara statusku masih ‘istri’ orang? Hufttt, kosa kata tersebut menghantamku dengan keras. Bukankah William juga sering melakukan hal ini? Lagipula, Didi bukan orang lain. Dia adalah mantan gebetanku. Bukankah semua orang selalu penasaran dengan kehidupan first love mereka?
“Boleh boleh. Tidak apa apa kok. Kalau kamu.. sendiriankah?”
“Yes. Aku datang sendirian and.. well, I’m single too,”
Diluar dugaanku, Didi membahas begitu banyak hal menarik denganku, Dimulai dari pengalamannya di sekolah Ajaya hingga dunia kerjanya. Pembicaraan menarik itu membuatku tidak sadar telah tertawa terbahak bahak berkali kali ketika Didi menuturkan candaannya. Aku tidak menyadari diriku telah duduk menghadap Didi sepenuhnya, begitu juga sebaliknya.
“Lalu bagaimana setelah kejadian kamu ditipu?” tanyaku sambil menahan tawaku
“Aku tidak punya pilihan lain selain meminjam uang dengan orang tuaku. Mereka bilang lebih baik meminjam uang dengan keluarga daripada bank namun kenyataannya orang tuaku meminta bunga jauh lebih besar dari bank. Mungkin mereka adalah renternir bersetifikat,” jawab Didi
Aku tertawa lagi sambil menatap sekelilingku tanpa kusadari. Tawa tersebut lenyap ketika kedua pasang mataku dan William beradu. Dia menatapku dengan sorot yang tidak dapat kuartikan. Kesal? Marah dan… em.. tidak tidak. William tidak mungkin cemburu kan? Lagipula, apa yang perlu dicemburukan? Dia tidak mencintaiku dan aku juga bukannya sedang flirting dengan Didi
Napasku tercekat ketika melihat William sedang menyipitkan matanya melihat Didi. Dia tidak sungguhan mengira aku sedang flirting habis habisan dengan Didi kan?
Tunggu. Mengapa aku malah mengkhawatirkan apa yang dipikirkan William? Bukankah memang tujuan Karen memaksaku kemari adalah untuk membuat William cemburu? Well, meski itu tidak memungkinkan juga. Huh!
Seorang wanita yang semeja dengan William melingkarkan tangannya di bahu William. Wanita itu membisikkan beberapa kata kepada William. Lihat bagaimana laki laki itu kelihatan tidak terganggu sama sekali. Tatapannya yang dingin terasa melubangi hatiku lagi. Wanita itu bahkan meletakkan tangannya di paha William. Oh, aku dan mataku ini..
Aku memalingkan wajahku sambil mencoba fokus dengan pembicaraanku dengan Didi namun aku menemukan diriku tidak dapat menikmati pembicaraan tersebut lagi. Aku dilanda rasa khawatir dan sedih
“Em, sorry, Di. Kayaknya aku sudah mau balik duluan ya,” tukasku sambil membayar minumanku
Sebelah alis Didi terangkat. Ia melirik jam tangannya lalu berkata,“Aku antar ya?”
“Tidak perlu repot repot. Jemputanku sudah tiba,” jawabku sambil mulai mengirimkan pesan singkat pada Karen
“Yakin?”
“Iya,Di. Thank you ya sudah menawarin bantuan,”
“Tidak apa-apa. Aku senang bisa ngobrol dengan kamu. Apabila kamu tidak keberatan, bolehkah aku meminta nomor ponsel kamu?”
“Nomor ponselku?”
“Benar. Aku tidak ingin lost contact lagi denganmu,”
“Tapi…,”
Didi mengambil ponselku lalu memasukkan nomor ponselnya. Ia memastikan telah menghubungi nomornya sendiri menggunakan ponselku sebelum mengembalikannya. Aku cukup speechless namun tidak ada yang bisa kulakukan. Aku hanya ingin segera meninggalkan club ini
Aku baru membaca pesan singkat Karen yang menginfokan bahwa Ia sedang menunggu antrean untuk buang air kecil di toilet sesaat setelah aku keluar dari Youth Club. Aku menghembuskan napas pelan sambil memeluk tubuhku sendiri. Aku menengadah, menatap langit malam. Semilir angin malam benar benar membuatku baper. Kedua mataku kembali berkaca-kaca ketika kilatan kemesraan William dan wanita itu berputar. Huh. Kenapa sih aku ingin menangis hanya melihat pandangan itu? Ingat,Kat, ingat.. William bukan milikmu. Kamu harusnya sadar diri dong!
Derap langkah familiar itu membuat alarm bawah sadarku menyala. Aku bergegas menyeka air mataku. Kuharap dia tidak melihatku meneteskan air mata tadi
Aku menahan napasku, mencoba mengatur raut wajah dan perasaanku. Sumpah, aku tidak berpikir William akan menghampiriku. Kupikir dia akan berpura pura tidak mengenaliku atau mungkin membiarkanku begitu saja seperti yang dia lakukan selama ini. Omong omong, mengapa William mengawali pembicaraan kami dengan pertanyaan seperti itu? Tidakkah ia penasaran dengan hidupku dan Camilla selama dua minggu terakhir? Bukankah lebih etis apabila dia menanyakan keadaan kami terlebih dahulu? Huh
“Tidak. Aku sedang menunggu… seseorang,” jawabku singkat sambil mengirimkan spam pesan kepada Karen
“Siapa?”
“Seseorang,”
“Bukankah aku berhak tahu siapa itu?”
Aku tidak langsung menjawab. Kutatap William dengan hati yang perih. Lihat, bagaimana ia menatapku dengan datar. Sepertinya ia hanya penasaran dengan siapa aku berkomunikasi tadi. Mungkin dia khawatir pelacur ekslusifnya akan direbut oleh laki laki lain. Huh? Apakah aku terlalu kasar? Tapi… bukankah itu benar?
“Aku berhak untuk tidak menjawab,” jawabku membuat rahangnya mengeras
Aku memalingkan wajahku kembali. Ah, apa yang kuharapkan? William meminta maaf padaku atau setidaknya menawari kendaraan padaku? Oke. Aku dan imajinasi menjijikanku. Aku mengengam erat tali tasku sambil berharap agar Karen segera selesai dengan urusan toiletnya
“Papa ulang tahun minggu depan,” lanjutnya
Aku tertegun. Ah, benar. Papa mertuaku berulang tahun minggu depan. Bagaimana mungkin aku melupakan itu? William selalu memberiku keputusan penuh memilih hadiah apa yang akan kami berikan kepada papa mertua setiap tahunnya. Namun.. kupikir kami tidak dapat merayakannya bersama tahun ini bukan? Keadaan pasti akan sangat awkward.
“Aku akan mengirimkan hadiah ke rumah papa nanti,”
“Papa dan mama mengundang makan malam,”
“Sorry. Aku tidak yakin dapat bergabung,”
“Kenapa? Apakah kamu sudah ada jadwal dating dengan laki laki itu?”
Duh, kenapa William selalu berprasangka buruk sih? Jadwal dating? Memangnya aku wanita panggilan yang mempunyai banyak jadwal dating dengan laki laki?
“Aku sibuk,”
“Kamu sibuk?”
William seperti tidak mempercayai jawabanku. Ia tertawa kecil sambil menghembuskan napas pelan. Benar saja. Baginya, pekerjaan ibu rumah tangga tidaklah sibuk. Selain itu, aku juga harus mulai mencari pekerjaan bukan? Siapa yang dapat membiayai Camilla jika kami sudah resmi bercerai? Aku tidak mungkin terus menerus bergantung dengan bantuan Karen
“Aku sibuk mencari pekerjaan demi masa depan anakku dan aku. Jadi, maaf, aku tidak dapat menghadiri ulang tahun papa kamu,” sindirku
Kuharap William sakit hati dengan sindiranku namun ia kelihatan tidak terganggu sama sekali dengan sindiran itu. Ia berdeham pelan sambil memutuskan kontak mata diantara kami sementara aku mengigit bibir bagian dalamku. Aku mencoba menahan emosiku dihadapan William. Beruntung Karen muncul tidak lama kemudian. Karen kelihatan terkejut namun aku bersyukur dia berpura-pura tidak mengenali William. Kupikir William juga tidak mengenali Karen. Ah, aku lupa. William tidak pernah tertarik dengan lingkunganku sama sekali. Tololnya aku baru menyadarinya saat ini
Karen dan aku bergegas masuk ke dalam salah satu taksi yang kebetulan lewat. Aku tidak tahu apakah keputusanku benar dengan tidak memanggil William sebelum aku masuk ke dalam taksi. Ia tidak kelihatan ingin menahanku ataupun ingin terlibat pembicaraan lebih lanjut denganku. Jadi, aku tidak mungkin mempermalukan diriku sendiri bukan?
Aku juga tidak berani meliriknya dari kaca spion. Aku terlalu takut terluka lebih dalam dengan kenyataan jika William telah masuk kembali ke dalam club. Kusandarkan kepalaku sambil memejamkan kedua mataku. Aku tengah mencoba mengontrol air mata dan perasaanku yang sakit sebelum Karen berkata dengan senyuman tipis,“kupikir kamu masih ada harapan,”
“Karen, please. Aku lagi ingin mengistirahatkan tubuh dan pikiranku. Can we just stay quiet till destination?” tanyaku sambil memijit pelipis kepalaku
Aku tidak mengerti harapan yang Karen maksud. Aku juga sudah terlalu lelah untuk menafsirkannya kembali
“Dari caranya melihatmu…, aku yakin dia merasakan sesuatu padamu,”
“Gairah mungkin?”
“Selain gairah dong!”
“Karen.. please dong…, aku lagi ngga mau bahas tentang dia. Lagipula, dia tidak mungkin merasakan hal lain selain gairah. Selama ini kami hanya menjadi partner. Aku tidak lebih dari 'wanita' ekslusifnya,”
Karen menggelengkan kepalanya. Ia menatapku dengan serius
“Kupikir dia mungkin … menyukaimu,” ujar Karen membuatku tertawa terbahak bahak. Jujur, tawa itu tidak membahagiakan namun malah mengores luka di hatiku lebih dalam lagi. Setetes air mataku jatuh. Aku menyekanya sambil menyentuh perutku yang sakit dari tawa terbahak bahak
“Kamu kok ketawa sih?!”
“Karena kamu nggak masuk akal. Dia menyukaiku? Well, benar. Dia menyukai badanku. Apakah itu cukup jelas?”
“Tatapan itu bukan tatapan gairah sayangku. Dia mungkin menyukaimu. Bukankah itu bagus? Kamu masih memiliki kesempatan,”
Aku tertegun. Aku masih memiliki kesempatan? Entahlah. Aku menjadi pesimis begitu bertemu dengan William tadi. Lihat bagaimana ia kelihatan begitu dapat menjalani hari. Ia bahkan tidak berniat menanyakan keadaanku atau Camilla. Tidak tidak.. William tidak mungkin menyukaiku. Lagipula aku tidak butuh rasa suka William. Rasa suka dan cinta adalah dua konteks hal yang berbeda. Aku membutuhkan cinta William namun aku tidak dapat berpegang pada apapun. Laki laki itu telah mengunci pintu hatinya sementara aku… aku mungkin barangkali akan mulai membuka pintu hatiku, membukanya untuk melupakan William.
Kejadian hari ini hanya kembali mengingatkanku bahwa William dan aku tidak mungkin bersatu. Dia tidak mungkin mencintaiku sementara aku tidak mungkin dapat membuka pintu hatinya. Aku tidak akan dapat menemukan kunci pintu hatinya… selamanya.
Aku akan mengingatnya hari ini, besok and besoknya lagi.