Fool Again

Fool Again
Jawaban Teka Teki



Hal yang kulakukan selanjutnya adalah menyalakan laptopku, mencoba mencari jejak email William. Mungkin barang kali dia lupa log out email nya di tempatku?


Kedua mataku berkedip melihat tidak ada email William yang terdaftar di laptopku sama sekali. Aku lupa kalau kami belum pernah saling bertukar sandi email ataupun social media lainnya. Langkah selanjutnya yang kulakukan adalah mencari nama Laura di akun social media pribadi William hingga teman temannya namun tidak ada satupun nama Laura disana. Aku mengigit bibirku gelisah. Kalau memang teman teman William bahkan tidak mengikuti ‘Laura’, artinya… William memang baru mengenal wanita itu atau mungkin dia tidak ingin mengenalkan wanita tersebut


Astaga! Aku dan pikiranku!


Aku berhasil mengenyahkan pikiran itu setidaknya 1% saat Jessie dan Christy berkunjung ke rumah. Kunjungan dadakkan itu setidaknya hal yang paling disenangi para anak kecil. Jessie dan Christy membawa pulang Camilla dan Issac untuk bermalam di rumah mertuaku hari ini. Aku mengiyakan tanpa berpikir dua kali. Well well, bagaimanapun aku harus mencari tahu kebenarannya hari ini


Ting!


Jarum jam dinding telah menunjukkan pukul enam sore. Aku telah siap menjalani misi penting ini. Kulirik penampilanku sekali lagi sebelum membuka pintu. Hari ini aku mengenakan lingerie polos berwarna pink dengan bendo berwarna senada. Aku menghembuskan napas pelan sambil merapikan rambutku yang sengaja kukerintingkan agar menambah kesan seksi. Well, misi pertama yang harus kulakukan hari ini adalah menggangu konsenterasi William sewaktu dia bekerja lalu aku akan mengintip layar laptopnya. Aku yakin dia masih memiliki segudang pekerjaan penting lainnya


William tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya ketika aku membuka pintu. Dia melihatku dari atas sampai bawah lalu kembali lagi ke atas. Ia menelan ludahnya lalu bertanya,“Kenapa kamu berpakaian seperti itu?”


Suaranya terdengar agak serak, menyalakan alarm bahayaku. Astaga! Jangan bilang hasratnya sudah bangun? Aduh! Misiku adalah menganggunya sewaktu bekerja! Aku salah timming bukan?!


“Astaga! Kupikir ini sudah jam sembilan malam. Sebentar aku ganti pakaian dulu,” ucapku sambil berlari kembali ke kamar


Aku memilih tank top berwarna hitam serta celana pendek yang hanya mampu menutupi seperempat pahaku. William tersenyum kecil melihatku yang berjalan mendekatinya. Aku membantunya melepas dasinya sambil bertanya,“Kenapa? Kok kamu tersenyum?”


“Kamu,”


“Ada yang salah denganku?”


“Apakah kamu sudah tidak sabar untuk .. em..denganku?”


“Hah?”


Aku terkejut setengah mati ketika jemarinya menyentuh dadaku, menekannya sedikit sambil berkata,“Kamu tahu kan tank top kamu seketat ini tapi kamu sengaja tidak memakai bra. Apakah ini level menggoda nomor satu?”


Aku menyergit lalu agak menunduk. Kedua mataku terbelalak karena aku benar benar tidak menggenakan bra hingga bentuk dadaku terlihat dengan jelas. Aku bergegas mengambil sedikit jarak sambil berdeham pelam


“Tidak tidak. Aku tadi agak terburu-buru, jadi..,” William mengulum bibirku bahkan sebelum aku berhasil menyelesaikan perkataanku. Laki laki itu.. kelihatan sangat lapar atas diriku. Ciuman tersebut kasar dan tergesa-gesa. Bibirnya mulai menuruni daguku, mencicipi rahangku lalu semakin turun kembali. Dia membaringkanku di sofa lalu memberi gigitan kecil di dadaku


ASTAGA! Kami akan..bercinta lagi? Oh tidak! Ini bukan rencana awalku!


Aku berusaha mengontrol diriku atas hasratku yang hampir tidak terbendung lagi apalagi saat aku merasakan dada bidangnya yang menempel padaku. Aku mendorong bahunya, membuatnya menyergit dengan kedua mata berkabut gairah


“Jangan bilang kamu mau kita.. berhenti,” ucapnya terdengar agak kesal


Duh duh, kenapa dia kelihatan sangat menggoda sih dengan rambut acak-acakan dan beberapa kancing kemeja yang telah terbuka? Kedua mataku tidak berhenti dari bibirnya yang membengkak. Hembusan napasnya membuat bulu kudukku berdiri. Jemariku hampir bergerak menelusuri wajahnya sebelum aku kembali tersadar dengan misi awalku. Aku menahan pergelangan tanganku


Aku mendorongnya semakin jauh lalu duduk di sofa, memberi jarak yang cukup kentara diantara kami atau.. aku mungkin akan tergoda lagi


“Kamu.. belum mandi,” ucapku setelah berhasil menenangkan degupan jantungku


Dia kelihatan hampir kehabisan kata. Ia kemudian masuk ke dalam kamar setelah mengutip dasi dan ikat pinggangnya yang berserakan di lantai. Fiuh, apakah aku baru membuat seorang William marah?


Ketika aku masuk ke dalam kamar, William sedang mandi. Aku menggunakan kesempatan itu untuk memakai bra sambil melirik laptopnya yang sudah ia letakkan diatas meja. Bagus. Aku hanya perlu membuatnya bekerja kembali


Aku menunggu di meja makan selama hampir satu jam namun William belum keluar dari kamar sama sekali. Aku memutar kedua mataku sambil berpikir keras. Biasanya ia tidak mandi selama itu. Apakah dia kesal denganku?


Ya, tentu saja! Laki laki normal mana yang tidak akan kesal, apalagi aku yang menggodanya terlebih dahulu


 Gadis batinku berteriak keras, memberontak, memintaku untuk menyusulinya. Bagaimanapun aku akui.. aku memang agak kejam tadi. Ah, apakah mungkin dia sedang memuaskan dirinya sendiri di kamar mandi? Astaga!


Aku memberanikan diri mengetuk pintu kamar sebelum membuka pintu kamar


Aku menemukan William sedang duduk di depan laptop yang sedang menyala. Dia tidak melirikku sama sekali meski aku sengaja berdeham berkali kali. Oke, fix, William sedang kesal denganku


“Sibuk?” tanyaku sambil berjalan mendekatinya


Kulirik layar laptopnya yang dipenuhi dengan statistik yang tidak kumengerti sama sekali sebelum kembali melihatnya. Ia tidak membalas namun malah melanjutkan diri bekerja dengan membuka beberapa dokumen lain di atas meja


“Yuk, makan,” lanjutku sambil menyentuh bahunya


Ia tidak memberikan response lagi, seolah menulikan telinganya sementara aku menggunakan kesempatan itu memperhatikan layar laptopnya sambil berharap mati-matian ia akan membuka emailnya


Lima menit. Ia mengabaikanku selama itu sebelum dia kemudian menoleh melihatku. Beruntungnya aku berhasil memalingkan tatapanku dari layar laptopnya tepat sebelum dia melihatku. Tatapan matanya masih kesal


“Sorry mengenai tadi…,” gumamku


William tidak langsung menjawab. Ia menghembuskan napas berkali kali sambil memejamkan matanya sebelum dia kembali melihatku. Kali ini tatapan kesalnya mulai berkurang


“Tidak perlu minta maaf. Aku juga salah. Seharusnya aku mandi dulu,”


“Jadi, apakah kamu… masih marah?”


“Kamu pikir aku marah denganmu hanya karena itu..?”


“Apakah ada hal lain, mungkin?”


“Astaga,Kattie. Aku hanya sedang kesal dengan diriku yang kok bisa-bisanya sih ingin denganmu sebelum mandi,”


Sebelah alisku terangkat, agak terkejut karena itu. Jadi dia bukan kesal denganku, melainkan pada dirinya sendiri? Huh?


Ia memutuskan tatapannya dariku lalu kembali fokus pada layar laptopnya. Ia bertanya,


“Apakah kamu sudah lapar?”


“Belum kok. Kamu..?”


“Aku.. sedikit. Tapi aku memiliki sedikit pekerjaan mendesak. Apakah oke kalau kamu menunggu setengah jam lagi, mungkin?”


Aku baru akan mengangguk namun otak cerdasku langsung terhubung dengan misi penting ini tanpa kusadari. Senyumku melebar. Aku bergegas ke dapur lalu kembali ke kamar dengan piring yang telah berisi makanan


William menyergit sambil melihatku dan piring tersebut bergantian


“Aku masih belum selapar itu sebenarnya,”


“It’s okay. Sini aku suapin ya. Pekerjaan kamu kan juga belum tentu selesai hanya dalam setengah jam,”


“Are you just.. being romantic?”


“Kind of?”


William menggelengkan kepala sambil tertawa kecil sementara aku mulai menyuapinya. Fiuh, ia tidak kunjung membuka emailnya. Artinya aku harus melakukan sesuatu agar dia membuka emailnya bukan?


“Ini enak sekali. Resep telur darimana?” tanya William setelah memakan sesuap nasi tersebut. Aku membalas,“dari youtube. Kamu suka?”


“Ya, sangat. Rasa asinnya pas. Tekstur nya juga sangat lembut,”


“Aku akan memasaknya lagi besok kalau begitu,”


Aku mengangguk


William beberapa kali membolak-balikkan dokumen tersebut lalu mengecek ponselnya dan kembali fokus ke layar laptop. Kapan sih dia membuka emailnya? Huh! Ini tidak bisa dibiarkan, pikirku


Aku memberanikan diri bertanya setelah berpikir keras selama beberapa menit


“Apakah kamu tahu aplikasi berbayar games yang sering aku main?”


“Kuis maksud kamu?”


“Ya benar benar. Aku registered menggunakan email lama ku. Aku tidak sengaja log out akun ku,”


“Kmu tinggal log in menggunakan username kamu atau alamat email kamu saja, bukan?”


“Kamu benar tapi.. aku lupa email lama itu, password nya juga,”


“Bagaimana dengan nomor ponsel yang kamu gunakan?”


“Nah, masalahnya adalah aku ingat aku menggunakan nomor Karen yang dulu tapi tidak bisa. Aku mencoba nomorku, nomor kamu hingga papa mama, tapi gagal,”


“Kamu bisa sign up akun baru,”


Aku mengangguk sambil menyuapkan suapan kelima pada William. Aku agak membasahi bibirku lalu menjawab,“Aku butuh cepat. Bisakah aku memakai alamat email kamu?”


William melihatku selama beberapa detik sebelum dia kemudian menghembuskan napas pelan dan berkata,“Kamu malas register akun baru?”


“Sedikit,”


“Astaga,Kattie. Sign up email adalah hal termudah,”


“Kamu benar  tapi aku agak malas. Jadi  bisakah kamu meminjamkan email kamu?”


Kupikir William akan mengiyakannya namun laki laki itu malah meminta ponselku sambil berkata,“aku akan sign up email baru untuk kamu saja. Emailku mostly mengenai pekerjaan. Aku tidak mau jadi tercampur,”


“Maksudku email pribadi kamu,”


William menekan tombol enter sebelum dia menghadap melihatku. Dia masih menggelengkan kepalanya sambil meraih ponselku diatas meja


“Hanya butuh waktu kurang dari lima menit untuk register,sayangku. I’ll sign it up for you, oke?” ucapnya kemudian membuatku menghembuskan napas pelan, merasa agak kesal namun tidak bisa melakukan apapun. Percobaan kedua gagal. Fiuh, aku harus melakukan percobaan ketiga


William meletakkan ponselku di atas meja setelah selesai register emailku. Ia kembali lanjut bekerja dengan aku menyuapinya. Aku tidak berhenti mengigit bibirku gelisah karena ini merupakan suapan terakhir. Aku tidak ingin usahaku sia sia. Setidaknya aku harus mendapatkan sedikit petunjuk penting tentang Laura


Sebuah ide melintas di otakku


Aku agak ragu. Apakah.. aku bisa mendapatkan petunjuk dengan melakukan itu? Tapi.. bukankah laki laki akan sedikit hilang kendali apabila telah tenggelam dalam hasrat?


Aku berdeham pelan, sangat pelan hingga nyaris tidak terdengar, sebelum kemudian bangkit berdiri dan duduk ke dalam pangkuan William. William kelihatan sangat terkejut karena aku sengaja duduk tepat diatas miliknya


Astaga astaga, aku seperti wanita liar dalam film dewasa. Aku membasahi sedikit bibirku, mencoba mendorong keberanian itu dengan mengusap wajahnya lalu menekan tubuhku diatasnya sambil merapatkan dadaku padanya


William mengedipkan matanya beberapa kali. Ia agak memundurkan kepalanya


“Kat, kamu … lagi ngapain?”


“Aku? Menyuapi kamu,”


“Dengan seperti ini?”


“Kamu sudah menjalani hari yang berat. Jadi kupikir aku ingin sedikit menyenangkanmu,”


“Lalu kamu akan meninggalkanku lagi? Seperti tadi?”


Aku tersenyum tipis mendegarnya. Sepertinya William masih sedikit trauma akan kejadian tadi. Aku menyendokannya ke dalam mulutnya tanpa menghentikan elusanku di kepalanya. Deru napasnya mulai berat. Bagus!


“Kamu ada spotify kan? Boleh aku pinjam bentar?” tanyaku dengan jemari tangan yang mulai menurun ke bibirnya


“Spo..spo..spotify? Em, ya, kamu mau.. ngapain?”


“Memutar musik,”


Aku menahannya untuk tidak menanyakan hal hal lain dengan memberi kecupan kecupan manis di rahangnya. Tanganku mulai menyentuh dadanya yang dilapisi kaos. Sedikit memberanikan diri, aku menyelipkan tanganku ke dalam kaosnya, sedikit bermain main disana. Merasa dia sudah mulai siap untukku, aku memutar badanku hingga menghadap layar laptopnya. Sebenarnya aku merasa agak deg-deg-an. Mengapa aku merasa seperti detektif yang sedang menyamar?


Aku berusaha mati-matian agar William tidak menyadari hal yang akan kulakukan selanjutnya. Aku berusaha membuatnya mengabaikan laptopnya dengan bermain main dengan kakinya


Aku baru berhasil menyentuh kursor laptop ketika merasakan sentuhan di perutku. Sentuhan itu tidak ditutupi rasa malu bahkan terlalu berani. Mengelitiknya sedikit sebelum bergerak naik ke bukit favoritenya


Astaga!


Aku berusaha untuk fokus. Berpura-pura memilih lagu di spotify nya, aku mulai memberanikan diri membuka emailnya. Aku menyergit melihat isi email yang berisi pekerjaan semua. Aku yakin dia memiliki email lainnya


Aku berhasil menemukannya setelah hampir dua menit


Email pribadi itu menarik perhatianku. Aku berusaha menghapal alamat email itu tatkala laki laki itu memainkan jemarinya di sekujur tubuhku. Duh, aku mulai bergemetar. Kattie! Kamu tidak boleh kalah karena birahi ini, oke?


William11@gmail.com


William.. satu satu at gmail dot com


William… satu satu at gmail dot com


William


Ugh, astaga! Sentuhannya super menakjubkan karena berhasil membuatku mendesah bahkan meski sedang dalam misi penting. Tubuhku menegang dan aku merasa bulu kudukku berdiri. Tidak, tidak. Aku tidak boleh lalai. Fokus, fokus, fokus!!


Aku berusaha untuk tidak meninggalkan jejak apapun dengan memilih scroll email tersebut. Laura, dimana kamu?


“Let’s go to the bed,” bisik lembut William membuat kedua mataku terbelalak


Tidak!


Aku mencoba menggagalkannya dengan memberinya satu ciuman panas. Aku berusaha menundanya membawaku ke ranjang. Aku meletakkan tangan William dibawahku, memintanya untuk memuaskanku dari sana sembari aku memecah teka teki ini namun… itu sulit. Sungguh. Aku harus bertarung dengan hasrat tak terbendung dan jawaban atas teka teki ini


Aku hampir menyerah. Aku hampir melempar tubuhku di ************ William namun nama yang sedari tadi kutunggu muncul. Laura Angela


Dua kata


Aku hanya berhasil mengingat itu sebelum William mengendongku dan membaringkanku ke kasur. Laki laki yang sudah tak terbendung hasratnya itu pun menyobek pakaianku lalu mulai membuka pakaiannya. Aku melirik layar laptop yang beruntungnya sudah berhasil kututup emailnya tadi atau mungkin William akan tahu maksudku bersikap too bitchy tadi.


Ia melempar pakaiannya dengan sembarang, menatapku dengan kedua mata berkilat hasrat tak terbendung lalu dalam hitungan tiga, dia telah menguncangku dengan hebat