Fool Again

Fool Again
Janji dan Rahasia



Aku berhasil menghindari William selama seharian ini. Aku membawa Camilla ke rumah orang tuaku pagi pagi buta sewaktu William masih tertidur dan aku membiarkan diriku tidur di kamar Camilla satu jam lebih awal sebelum William pulang. Selama itu William bahkan tidak menanyakan kabarku dari whatsapp sama sekali


Oh tidak. Aku terbangun waktu tengah malam. Tiba tiba aku merasa haus. Deng!


Air di kamar Camilla juga sudah habis. Huh. Sebenarnya aku berniat menahan rasa hausku namun bagaimana jika aku berpapasan dengan William lagi? Huh. Aku tidak yakin kalau aku dapat mengontrol emosiku jika bertemu dengannya dalam minggu ini


Kulirik jam dinding yang telah menunjukkan pukul dua dini pagi. Hem, harusnya William sudah tidur bukan atau… mungkin dia masih clubbing? Huh!


Aku tidak menduga akan menemukan William tengah duduk di kursi bartender di dapur sambil menekuk wine. Sebenarnya aku agak ragu jika harus menghampirinya. Bagaimana jika dia bertanya mengenai alasan mengapa aku menghindarinya seharian ini?


Aku tidak tahu kakiku jauh lebih cepat bekerja dari otakku. Aku tidak menyangka aku telah berdiri disampingnya. Ia kelihatan mmm.. mabuk? Kedua mataku terbelalak menemukan satu botol penuh wine hampir diminum oleh William hingga habis


“Hey, are you okay,Liam?” tanyaku sambil menguncang bahunya


Ia tidak menjawabku. Ia masih memejamkan matanya sambil bersandar di meja. Aku menyergit binggung. Ada apa dengan William? Dia tidak pernah mabuk sampai seperti ini. Toleransi alkoholnya sangat tinggi


“Hey,Liam. Are you okay?”


Tidak ada jawaban lagi


Aku menguncangnya lebih kuat kali ini dan berhasil. Ia membuka kedua matanya. Tatapannya yang asing membuatku menyergit. Namun sebelum aku berhasil memikirkan kemungkinan kemungkinan lainnya, William sudah lebih dahulu menarikku ke dalam pelukannya


Laki laki itu mengusap punggungku dan menumpuhkan kepalanya diperutku


“Mm…, Liam. Apakah kamu baik baik saja? Kamu tidak pernah mabuk kayak begini. Ada apa?” tanyaku khawatir


“Ssst…, biarkan aku memelukmu,” balas William pelan


Aku tidak dapat menahan tanganku untuk tidak menepuk ringan bahunya. Aku mengelus kepalanya dengan pelan sambil bergumam bahwa semua akan baik baik saja.  Aku tidak tahu apa yang telah terjadi padanya namun melihatnya seperti ini membuatku sedih


William melepaskan lingkaran tangannya dari perutku. Ia menatapku dengan kedua mata berkaca-kaca. Tunggu.. apakah William menangis? Apakah… mengabaikannya selama seharian membuatnya sesedih itu? Berarti.. William benar benar serius tentang hubungan ini?


Secercah harapan itu bangkit, membuatku mengelus pipinya dengan pelan


“Kenapa kamu menangis?” tanyaku


William membasahi bibirnya lalu kembali menekuk segelas wine sebelum kembali menatapku. Jemari tangannya meremas lenganku dengan pelan. Ia kelihatan nervous. Aneh. William tidak pernah kelihatan se-nervous ini dihadapanku


“Ada apa,Liam? Apakah ada masalah di kantor? Apakah papa memarahimu atau..?”


“Tidak.. tidak.. pekerjaanku baik baik saja. Aku mendapatkan promosi untuk menjadi General Manager di head office kita yang berada di London,”


Aku tersenyum bangga. Aku tahu William memang tidak pernah mengecewakan. Apakah karena dia terlalu galau antara mau menerima promosi itu atau tidak hingga mabuk seperti ini? Well, seperti yang diketahui, keluarga William super duper kaya raya namun bukan berarti William langsung serta merta dapat memimpin perusahaan dengan jutaan karyawan tersebut. Ia memulai karirnya dari nol tanpa bantuan orang tuanya sama sekali. Bukankah itu mengagumkan?


“Wah, selamat,Liam! Aku bahagia kamu berhasil mendapatkannya. Em.., apakah karena itu kamu galau? Maksudku, kamu dapat membawa Camilla dan aku ikut bersamamu di London,” balasku sambil menepuk bahunya dengan bangga


William menggeleng.


Ia kemudian melanjut,“Yuriska, kenapa kamu menyebut nama Camilla?”


Yuriska?


Maksudnya?


“Kenapa kamu begitu jahat sih? Setelah memaksaku menikahi sahabatmu, kamu memaksaku untuk ke London bersama mereka lagi? Mau seberapa jauh lagi sih kamu menyiksaku?” Lanjut William sambil tertawa getir


Ia menatapku dengan sorot mata berkaca-kaca. Sementara aku yang baru dapat menarik kesimpulan tidak terduga ini pun menghentikan tepukan ringanku di bahunya. Aku terlalu speechless. Jadi, William mengira aku adalah Yuriska? Dan…. dia mabuk karena Yuriska?


William menyentuh ujung pakaianku sambil meneteskan air mata. Ia melanjut,“Aku berusaha mencintainya tapi kamu tahu itu sulit. Aku mencintaimu,Yuriska. Aku mencintaimu jadi kumohon berhenti memintaku mencoba mencintainya. Bisakah kita melupakan masa lalu itu? Benar. Kita pernah kehilangan anak dalam kandunganmu. Tapi, itu tidak lantas mengakhiri hubungan ini bukan?”


Deg..


Kedua mataku berkaca kaca tanpa terduga setelah itu. Aku mulai dapat Menyusun puzzle demi puzzle hubungan kami. Jadi, William sepakat memintaku untuk mengajarinya mencintaiku karena permintaan Yuriska juga? Dan… dan… mengapa itu harus aku?


“Tidakkah kamu membenci dia? Kenapa kamu memilih dia? Kenapa harus… dia? Kamu bahkan tidak mau melihatku setiap kali aku ke club. Apakah kamu sebenci itu denganku? Aku adalah pelanggan regulermu!” lanjut William sambil menepuk jantungnya


“Kattie, dia bahkan mengira aku bajingan brengsek yang selalu tidur dengan sembarang wanita. Dia hanya tidak tahu alasanku kesana. Aku kesana hanya untuk melihatmu tapi kamu…!”


Jadi, klub itu adalah milik Yuriska? Kenapa aku tidak tahu? Dan.. apakah William mengajakku ke Youth Club waktu itu hanya untuk membuat Yuriska cemburu? Oh Tuhan… aku mengigit bibirku, mencoba menahan diri sekuat mungkin agar tidak terisak.


Aku tahu ini sakit. Aku tahu ini menyesakkan hatiku dan menanamkan luka yang lebih dalam lagi namun aku ingin mendengar semuanya. Aku ingin mengetahui seluruh cerita ini


“Kamu tahu kan.. kalau aku tidak bisa menolak permintaanmu?”


William menghembuskan napas pelan. Ia dengan mabuknya menarik tanganku dan mencium telapak tanganku dengan bibir bergetar


“I love you…,”


Deg..


“Jika kamu terus seperti ini maka aku akan mulai terbiasa hidup dengannya dan anak itu. Apakah kamu menginginkan itu? Apakah ini yang kamu inginkan?!” tanya William sebelum ia benar benar blackout


Kepalanya bersandar pada perutku namun aku tidak menemukan satupun keberanian menyentuhnya. Kenyataan yang baru kuketahui ini benar benar mengejutkanku hingga… oh, kenapa hatiku sesakit ini? Kenapa aku bahkan tidak dapat mengontrol air mataku?


Aku berdiri tegang disana selama hampir lima belas menit sebelum aku mengangkat tubuh William masuk ke dalam kamar kami sekuat tenaga. Aku tidak tahu apa yang kulakukan. Aku hanya dapat duduk di tepi kasur sambil menatap wajahnya dengan air mata yang tidak berhenti mengalir


Apakah hatinya sesakit hatiku juga? Lantas, siapa yang harus kusalahkan?


Sumpah, kenapa aku benar benar bodoh sih? Kenapa aku mau saja percaya dengan omong kosongnya? Kenapa aku sepakat dengan waktu tiga bulan itu? Kenapa.. aku masih belum meninggalkannya? Apakah.. memang sebaiknya kami tetap menjadi sahabat saja? Hubungan suami istri ini terasa membunuhku dengan pelan pelan. Ah, aku lupa. Kami tidak akan pernah dapat menjadi ‘sahabat’ lagi setelah ini. Orang gila mana yang masih bisa bersahabat dengan mantan suami mereka?


Apa yang dapat kami lakukan besok? Bagaimana kami akan bersikap satu sama lain lagi? Apakah aku mampu melupakan pernyataannya hari ini kemudian menyondorkan tubuhku untuk ditidurin kembali?


Aku menyeka air mataku yang tidak berhenti mengalir dengan frustasi. Sudah kuduga bahwa kami akan berakhir seperti ini. Hubungan kami memang tidak akan pernah ada titik terangnya


Aku masih duduk termenung hingga pukul lima pagi. Jujur, banyak yang kupikirkan dan khawatirkan seperti keputusan apa yang harus kuambil? Apakah aku yakin tidak akan menyesalinya? Dan.. apakah keputusan itu yang terbaik bagi Camilla dan aku?


Kutatap William kembali dengan hati yang benar benar terluka. Dia benar benar sudah blackout hingga siang hari mungkin. See? Aku disini masih termenung menatapnya meski aku tidak yakin dia akan melakukan hal yang sama apabila Camilla dan aku pergi dari hidupnya selamanya. Mungkin dia tidak sadar bahwa dia telah menyayat hatiku menjadi berkeping keping, terutama kejadian tadi. Ia bukan lagi menyayatnya namun ia telah menghancurkannya


Aku bergegas menyeka air mataku dan mulai mengemasi barang barangku dan Camilla. Ini adalah waktunya menagih janji yang telah Ia janjikan padaku dulu.