
Dua minggu.
Aku telah meninggalkan rumah William selama dua minggu namun laki laki itu tidak pernah menghubungiku sekalipun. Aku tersenyum getir sambil menatap langit biru. Kugigit bibirku sambil menahan air mata yang hendak membasahi pelupuk mataku kembali. Huh! Kenapa hatiku tidak berhenti berdenyut sakit sejak dua minggu lalu? Aku tahu.. aku tahu bahwa William tidak akan mencariku lagi. Namun bagaimana mungkin dia bahkan tidak menghubungiku untuk membahas mengenai Camilla? Apakah dia tidak rindu dengan putri sematawayangnya?
“Galau lagi?”
Ops. Suara Karen mengejutkanku, membuatku menyeka sudut mataku yang berair dengan refleks. Aku menghembuskan napas pelan sambil memejamkan kedua mataku, mencoba menenangkan hatiku yang perih
“Are you okay,Kat?” tanya Karen sambil menepuk pundakku
Apakah aku baik baik saja?
Tidak. Aku tidak baik baik saja. Aku terluka. Aku ingin menangis hebat. Aku ingin mengakhiri hidupku namun.. aku tidak akan pernah mampu melakukannya. Siapa yang dapat menjaga Camilla jika aku meninggalkan dunia ini? William? Huh! Mungkin dia hanya akan menitipkan anak kami kepada orang tuanya. Sejak kapan dia benar benar memerdulikan kami?
“Aku berusaha untuk baik baik saja,” jawabku jujur
Tes. Bulir air mata terjatuh
Aku menghembuskan napas kesal sambil menyekanya dengan mengigit bibirku. Oke, Kattie. Kamu harus berusaha menahan dirimu untuk tidak terisak dihadapan sahabatmu. Bagaimanapun dia sudah membantumu dengan meminjamkan satu kamarnya untuk kamu tempati. Kamu tidak boleh kelihatan lemah. Kamu harus menunjukkan kemajuan pesat dalam melupakan William. Kamu tidak boleh menangis lagi
“Kamu boleh nangis kalau mau,” ucap Kattie sambil meremas bahuku dengan senyum tipis. Rupanya kedua matanya juga telah berkaca kaca. Ia kemudian melanjut,“Aku akan menemanimu menangis,”
Oh tidak. Pertahananku mulai roboh
Aku tidak berani mengedipkan kedua mataku, terlalu khawatir bahwa air mata itu akan jatuh kembali sementara rasa sakitnya terasa menumbuk relung hatiku dengan keras
“It’s tough. Namun aku yakin kamu bisa melewati ini,Kat. Kamu orang yang baik. Kamu cantik dan pintar. Jangan pernah menyesali keputusanmu. Kamu pantas mendapatkan laki laki yang lebih baik darinya. And.. trust me, dia akan menyesalinya suatu hari nanti,” lanjut Karen membuat tangis yang berusaha kupendam daritadi meledak
Aku mulai terisak dengan bahu naik turun. Napasku tersenggal. Aku perlu duduk di kursi sambil mencoba menenangkan diriku. Karen memopongku agar menempelkan bokongku di kursi terdekat. Aku memalingkan wajahku, tidak ingin Karen melihatku semenyedihkan ini. Sebenarnya perkataan Karen ada benarnya. Aku tidak boleh menyesali keputusanku namun.. salahkah jika aku berharap sedikit?
Aku mengharapkan kedatangan William dengan sebuket bunga. Aku ingin dia memohon padaku untuk kembali. Sungguh, jika William melakukan itu pasca kepergianku, mungkin aku akan bersedia kembali. Setidaknya.. aku tahu bahwa William tidak dapat hidup tanpa kami namun rupanya laki laki itu bahkan tidak pernah menghubungiku. Harapanku terlalu tinggi. Seharusnya aku sadar aku tidak pantas mengharapkan itu bahkan dalam mimpiku sekalipun. Aku memejamkan mataku, mencoba menahan rasa sakit di hati
“William! Gara gara dia, aku jadi ikutan nangis kayak gini. Apakah aku perlu minta Jacky untuk kasih William pelajaran?” tanya Karen membuatku sontak bergedik ngeri. Jacky adalah suami Karen yang merupakan guru Taekwondo dan beberapa jenis ahli bela diri. Ia bahkan sudah membuka beberapa kursus bela diri. William mungkin akan tidak sadarkan diri jika Jacky menyerangnya dengan mendadak
“Ngga perlu sampai gitu juga kok,” tolakku sambil terisak
Karen menyeka air matanya dengan kesal. Ia menyerahkan segelas air putih hangat padaku lalu melanjut,“See? Kamu bahkan masih khawatir dengannya,”
“Aku tidak khawatir. Aku hanya…,”
“Kat,Kat. Kamu pikir aku baru kenal kamu? Aku bisa melihatnya dari raut wajahmu,”
“Memangnya salah jika aku masih khawatir? Bagaimanapun kami baru berpisah selama.. dua minggu,”
“Benar. Kalian baru berpisah selama dua minggu tapi kamu sudah dipermainkan selama dua tahun. Kamu ini ya, kenapa sih engga jera-jera?”
“Ya benar. Kamu terlalu bodoh! Kalau aku jadi kamu, aku sudah meninggalkannya sejak dua tahun lalu. Itu sih kamu sudah terlanjur friendzone dengan dia tanpa disadari,” lanjut Karen
Aku tidak menjawab. Rasanya otak dan mulutku terkunci untuk memproses semuanya. Aku menyeka air mataku sekali lagi
“Sekarang aku tanya kamu. Kamu masih cinta dengan dia?” tanya Karen penuh selidik. Ia menyipitkan matanya menatapku, mengunci tatapan kami dan memberiku tatapan seperti aku akan membunuhmu kalau kamu bohong
Aku mengganguk tanpa kusadari. Geez!
“Apakah kamu masih bisa memaafkannya setelah semua yang terjadi?” tanya Karen membuatku termenung. Apakah aku bisa memaafkan William? Entahlah. Aku tidak yakin. Di satu sisi, aku membenci diriku yang terlalu ‘murahan’ dan bodoh. Di sisi lain, aku membenci kenyataan bahwa William telah mempermainkanku selama ini. Namun… aku masih ingin melihatnya. Aku masih ingin berbicara dengannya. Aku masih ingin membuatnya tersenyum dan… oke.. aku memang bodoh
“Aku tidak tahu,Ren,” jawabku jujur. Aku menyentuh jantungku dengan kedua mata berkaca-kaca dan melanjut,“Disini… sakit dan kecewa. Namun.. aku.. aku…,”
“Kamu masih mengharapkannya bukan?”
Aku mengangguk sambil menyeka air mataku yang jatuh kembali. Huft! Kenapa aku tidak dapat berhenti menangis sih?
“Berapa persen kamu berpikir William akan memikirkan kalian dan.. mungkin kesempatan kembali dengannya?”
“Entahlah. 1% mungkin?”
Sebelah alis Karen terangkat. Aku menghembuskan napasku ragu. Apakah aku mungkin terlalu lancang menduga satu persen? Hem..
“0,5% mungkin? Bagaimanapun dia pasti sesekali bisa memikirkan Camilla. Dia adalah ayah biologis Camilla,” lanjutku sambil memaksakan senyum tipis
Karen menepuk bahuku. Ia kemudian bangkit berdiri dan mengajakku untuk keluar. Aku menyergit sambil menyeka air mataku,“Pagi pagi gini? Mau kemana?”
“Meng-upgrade dirimu,sayang,”
“Meng… meng..up..grade? Maksudnya?”
“Bukankah kamu bilang ada 0,5% kesempatan dia memikirkan kalian.. dan rujuk kembali?”
“Em, kurasa aku memang mengatakannya tapi..,”
“Karena itu kamu harus meng-upgrade dirimu agar kedua matanya terbuka lebar. And well.. you can do a little revenge juga,”
Aku menyergit, hendak menolak gagasan tersebut namun Karen tidak memberiku kesempatan untuk menolak. Ia bergegas menarik tanganku sementara aku melirik kamarku sambil bertanya,“Ehm, jadi Camilla gimana? Apakah bisa kita membawa Camilla?”
“Jacky lagi off hari ini. Dia akan menjaga Camilla. You know.. dia sangat menyukai anakmu,” jawab Karen sambil mengedipkan sebelah matanya
Huh, detik dimana Karen mengedipkan sebelah matanya membuatku yakin bahwa ide gilanya kali ini tidak akan berhasil. Semoga.. aku salah.