
Jangan meniru adegan di bawah ini!
.
.
.
Gue berjalan membuntuti Viandra,menelusuri lorong dimana tempat yang sering mereka pakai untuk berkumpul.
Ya,bekas perpustakaan yang menjadi tempat favorit mereka.
Viandra membuka pintu dan mempersilahkan gue untuk masuk.
B
U
K
Satu pukulan sukses mendarat di pipi kanan gue,Agus udah siap di depan muka gue dengan pukulan kedua.
B
U
K
Pukulan kedua kembali mendarat di pipi kiri gue,perih.Namun,sebisa mungkin gue menahan pukulan dari Agus.
"Gimana rasanya?! mana tangan lo yang cedera itu? anak-anak bilang tangan lo cedera dan gara- gara lo juga gue dihakimi anak-anak satu kampus dan dipanggil."
Jelas Agus dengan nada suara yang meninggi.
Gue mengusap sudut bibir yang berdarah,sambil tersenyum kecut gue menatap Agus yang gue yakini dia emosi sejak kemarin.
"Gue nggak selebay itu dilempar bola langsung sakit."
"Terus? lo nangis kayak cewek di lapangan sambil bilang sakit apa maksudnya?"
"Itu...tangan gue emang cedera tapi bukan karena lo."
"Kamprettt lo!!"
"Tahan bos tahan."
Cegah James.
"Dia sengaja bikin gue dihakimi dan diancam Do."
Teriak Agus
"Abisin aja bos,ngapain di tahan-tahan."
Celetuk Jinan dan berhasil menarik tubuh gue supaya Agus dengan leluasa memukul gue.
Agus menaikkan lengan jaket jeansnya dan mendekati gue,mengusap perlahan pipi gue yang berhasil dia pukul.
B
U
K
B
U
K
B
U
K
Satu pukulan hingga beberapa pukulan berhasil membuat gue ambruk,rasanya tubuh gue remuk tapi tetap bisa gue tahan.Agus dan teman-temannya pergi dari tempat ini sedangkan gue duduk menahan sakit,namun sekali lagi gue tersenyum kecut.
"Dir,sakit nggak?"
Ucap jackson yang mengahampiri gue.
"Sakit lah"
Ucap gue sambil meringis menyentuh kedua pipi gue.
"Tega ya teman-teman lo itu,padahal dulu kalian akrab banget."
Jackson memberikan tissue dan es batu.
Gue dengan sigap meraihnya dan menempelkan di kedua pipi gue.
"Gimana rekamannnya?"
"Sukses dan jelas."
"Oke,kirim ke gue ya."
"Siap bos."
Gue menatap ke arah luar,ternyata geng pengecut itu masih bodoh.Mereka fikir gue nggak tau apa yang mereka rencanakan,ini adalah lagu lama.Apa mereka nggak pernah sadar kalau gue dulu adalah bagian dari geng itu,kebiasaan yang mereka lakukan pasti sama dengan dulu.
Ketika gue jalan menuju tempat ini,gue lebih dulu menyuruh Jackson untuk membuntuti kami dan merekam apa yang terjadi.Dan benar,kelakuan mereka dulu memang masih sama.
Malam sekitar pukul 10, gue nggak pulang ke rumah tapi club malam yang bisa menenangkan fikiran gue.Wajah gue babak belur dan pasti membuat bunda ketar-ketir,si Dara menghubungi gue beberapa kali menyuruh gue untuk ikut pindah ke rumah om Daniel.Lebay banget ngapain pada pindah udah bagus deket sama Ayah.
Tapi,
Tunggu?
Apa maksud om daniel tiba-tiba menyuruh kami pindah? kenapa nggak dari jauh-jauh hari dan kenapa ketika ayah ada di rumah sebelah dia mulai ketar-ketir?
Gue menarik nafas panjang mencoba menenangkan fikiran yang saat ini runyam,kepala gue mulai sakit memikirkan hal yang seharusnya nggak gue fikirkan.
"Kemana istrinya bos?"
"Yang kemarin ke sini bukan istri saya."
"Loh terus istrinya yang mana?"
"Istri saya ya di rumah ngurus anak kembar saya,kangen rasanya..."
D
E
G
"Saya dapat jatah liburan ke Paris bos."
"Wah bagus dong kamu,kalau saya masih di sana bisa lah kamu traktir saya"
"Bos bisa aja ."
Gue tersenyum kecut,pria di samping gue adalah Ayah.Jadi pria yang tempo hari bersama wanita seksi di samping gue adalah ayah juga mengingat obrolannya yang selalu menyebut kata Paris.
Bodoh!
Gue menggelengkan kepala dan tersenyum bodoh,jadi selama ini ayah memang ada di sini.SIAL
Permainan macam apa ini,Ayah sama sekali nggak mencari keberadaan bunda,gue dan Dara tapi di luar tempat dia mengakui kalau istrinya mengurus anak kembar.Dan yang paling gue benci adalah dia sama sekali nggak mengenali wajah anaknya sendiri.
Gue tertawa geli,RUNYAM! apa kabar hati ayah dan bunda selama ini.Dalam hati mengakui tetapi faktanya mereka bersama orang lain dan menyembunyikan hal ini dari gue dan Dara.
Gue benci keadaan ini,bunda yang menyembunyikan hal ini begitu tega membohongi anaknya.Apa dia tau kalau ayah berada di Indonesia dan bukan Paris yang selalu ia ceritakan,pertanyaannya kapan Ayah pulang ke sini?
Drtt drtt drttt
Ponsel gue bergetar kembali dan kali ini menampilkan nama Bunda.
"Iya bun "
"Kamu dimana?"
"Dira di...."
Gue berfikir sejenak,sial suara musik semakin menggema dan pasti Bunda denger.
"Kenapa diem? itu kok suara ribut-ribut?"
Tepat!
"Dira lagi diacara temen bun"
"Pulang ya jangan ke rumah Yola,bunda mau ngomong sama kamu"
"Iya bun"
"Yaudah bunda tutup ya."
"Boleh ."
Bip
Baiklah karena bunda nyuruh pulang, gue pulang walaupun wajah babak belur bodo amat lah ! apa yang mau bunda bicarakan pasti menyangkut kepindahan rumah,nggak penting padahal.
B
R
U
K
"Sorry sorry"
Ah sial!
Kenapa harus berbarengan dengan ayah dan alhasil gue dan dia bertabrakan.
"Gpp om."
Berat banget mulut gue nyebut kata itu,kata yang seharusnya menjadi ayah mendadak harus gue ganti.
"Cerobohnya saya,ini berkas sampai berceceran."
Ucapnya sembari membereskan kertas-kertas yang berceceran.
Gue menatap wajahnya,wajah yang selama ini hanya bisa gue tatap lewat ponsel dan cerita-cerita bunda tentang ayah kini ada di hadapan gue tanpa bisa gue peluk atau jadi teman berdiskusi.
CENGENG! air mata mulai mengaliri kedua pipi gue,kenyataan kalau ayah bersama wanita lain membuat sakit itu kembali hadir.
Gue membantunya membereskan kertas itu dan mengusap air mata gue.
"Ini om"
Ucap gue sembari menyerahkan kertasnya.
"Makasih dek."
Ucapnya sembari pergi tanpa menatap gue.
K
R
E
K
Sesuatu menahan kaki gue,membuat gue harus melihat apa yang terinjak.Dan ternyata satu lembar kertas ayah masih tertinggal,gue berniat mengejar namun ayah sudah menghilang dan alhasil gue membawa kertas itu untuk diberikan besok.
Malam semakin larut,dengan santainya gue mengemudikan mobil.Beberapa kali bunda menelpon tapi satu pun nggak ada yang gue jawab,malas !
Beberapa kali gue melirik kertas yang gue simpan di kursi samping,rasa penasaran pun timbul dalam fikiran gue.Antara berani dan nggak berani,tapi kenapa harus nggak berani toh ini punya ayah.
Gue meraih kertas itu dan iseng membukanya,kalimat pertama yang gue baca sukses membuat gue rem mendadak.
C
K
I
T
Gue mengucek mata,takutnya efek ngantuk atau buram.Tapi faktanya kalimat dalam kertas ini benar-benar membuat gue menemukan jawaban yang saat ini gue cari.
T
B
C