
Gue pulang dengan amarah yang masih memburu, Dara memang susah kalau dikasih tau. Gue takut kalau terjadi apa-apa sama dia, gue takut kalau dia jadi korban cowok brengsek.
"Argghhhht".Gue mengacak rambut,frustasi sambil menutup pintu rumah secara kasar.
Bunda dan om Daniel yang saat ini duduk dibruang tengah tersentak dengan suara pintu yang tadi gue banting.
Bunda menatap ke arah gue sambil menyimpan sebuah kertas,"kenapa sih kamu Dir datang-datang banting pintu?"
Gue hanya diam dan menatap om Daniel sekilas, dalam pikiran gue terus berputar kapan akan menjebloskan dia dan membuat ayah rujuk sama bunda. Tapi sampai saat ini bunda malah semakin lengket sama om Daniel, bahkan gue belum melihat Ayah. Gue menatap jendela rumah ayah yang memang sudah sepi sejak tante Anna dikurung, dimana ayah tinggal dan apa yang sedang ayah lakukan saat ini.
Gue memundurkan langkah dan kembali ke luar rumah, bunda yang terus bertanya nggak gue jawab.
Gue membuka kunci mobil dan melajukannya pelan, saat ini gue mau menemui Ayah diapartemennya. Itu juga kalau ayah ada di sana, ya semoga saja.
Tiga puluh menit gue sampai di apartemen dan keluar menuju kamar ayah, sambil bersiul dan memainkan kunci mobil gue mau membuang penat di sini.
"Gue belum siap buat ngomong sama mereka, kalau Dara bukan anak kandung gue Ho."
Suara Ayah dengan jelas terdengar, membuat gue menghentikan langkah dan mengintip dari jarak yang nggak terlalu jauh.
Dapat gue lihat saat ini Ayah dan 0m Suho sedang berdiri di depan pintu kamar ayah sambil menghisap rokok.
"Lagian lo kenapa nggak jujur dari awal sama Rayna, kalau anak cewek lo gagal jantung dan yang selamat cuma Dira."
Ucapan om Suho membuat gue menganga, anak cewek? Gagal jantung? Dara? Maksudnya apa?
Ayah memainkan asap rokok dan terlihat memikirkan sesutu.
"Awalnya gue mau jujur, tapi pas di tengah jalan gue denger ada seorang ibu yang nangis nggak bisa bayar biaya lahiran, entah dari mana dia tau kalau anak cewek gue meninggal tiba-tiba dia kasih Dara ke gue dan minta bayarin perawatannya selama di rumah sakit."
Jelas Ayah.
Gue membulatkan mata, jadi Dara? Bukan adik kandung gue? rahasia apalagi ini Ya Tuhan, kenapa semuanya jadi kacau.
"Terus gimana sekarang? Kalau lo jujur bakal nyakitin hati Dara." Tanya om Suho.
Om Suho mengangguk pelan,"terus kuburan anak lo di Prancis?"
"Iya, selama di sana setiap minggu gue nengokin dia." Jawab Ayah
"Siapa namanya?"
Ayah tersenyum sambil membayangkan sesutu,"namanya Dara Anindya Wijaya."
"Jadi namanya Dara juga?"
Om Suho terkejut sambil mematikan puntung rokok.
Ayah pun mengangguk."Iya karena dari awal, gue dan Rayna udah kasih nama Dira Raditya Wijaya sama Dara Anindya Wijaya." Jelas Ayah
Jantung gue tiba-tiba berdekat kencang, sakit! Jadi Dara yang saat ini gue cintai dengan perasaan yang berbeda bukan adik kandung gue, Da yang selama ini gue jaga nggak pernah mengalirkan darah yang sama di dalam tubuhnya.
Teringat teriakan dia ketika di kampus menyebutkan golongan darah, golongan darah gue O kak. Ucapan dia masih terngiang ditelinga gue, Ya Tuhan apa yang harus gue lakukan saat ini. Benar kata om Suho, kalau sampai Dara tau dia akan sakit hati.
Gue memundurkan langkah dan pergi dari apartemen Ayah, gue harus menyelamatkan Dara dari cowok sialan itu.
*Dara apa yang gue rasakan saat ini bukanlah rasa sayang yang seharusnya kakak pada adik, tapi rasa sayang terhadap seorang kekasih.
Setelah tau kebenarannya, gue nggak akan melepaskan tangan lo untuk cowok brengsek.
Kalau pun lo ditakdirkan jadi adik gue sampai akhir hayat, pilihlah cowok yang baik kayak Ayah.
Tunggu gue Dara, tangan ini nggak akan pernah membuat lo lari dan sakit hati*.
T
b
c