
Gue pulang ke rumah Rayna dan mendapati Daniel yang saat ini duduk di kursi depan dengan wajah bingung. Ini sudah pukul 9 malam, gue rasa dia nggak beranjak sejak tadi siang. Rayna yang memutuskan ingin tenang membuat Daniel harus menunggu di depan rumah? Miris! Calon suami yang terbaikan.
Gue tersenyum kecil dan membuat Daniel berhasil menatap gue tajam.
"Om mau ngapain datang ke sini lagi, Daniel kan udah bilang tadi siang."ucapnya dengan nada yang penuh penekanan.
Gue semakin melebarkan senyum dan memangku tangan di dada,"lo tenang aja Niel gue datang ke sini mau nemuin darah daging gue kok."
Daniel bangkit dan memangku tangan di dadanya,"oh iya om bawa tuh darah daging om, Daniel nggak mau ada penghalang yang jadi alasan om Lay ketemu Rayna."
Ucapannya seketika membuat gue mengepalkan kedua tangan, kalau bukan karena bukti yang belum kuat. Gue bisa jeblosin dia ke penjara sekarang juga dengan fakta yang ada. Tapi gue nggak mau gegabah, sekecil apapun perbuatan dia harus gue dapatkan supaya nggak ada pembelaan.
Gue melangkahkan kaki dan melewati Daniel," oke gue mau bawa darah daging gue Niel."
Dan Rayna tentunya.
"....jadi biarkan gue masuk untuk malam ini."
Gue meraih gagang pintu dan menatap Daniel, menunggunya berkata iya.
"Oke."
Ucapnya sambil duduk di kursi dan meraih ponselnya.
Sedangkan gue membuka pintu dan masuk ke dalam rumah mencari keberadaan Dira, saat ini yang dicari sedang asyik main game di kamarnya di lantai dua.
"Lagi apa Dir?"tanya gue sambil duduk di samping Dira.
"Eh ayah, lagi maen game." Ucapnya dengan mata yang sekilas menatap gue.
Dira tau soal Anna dan Daniel, sudah pasti dia merencanakan sesuatu. Malam ini gue harus membawa dia keluar dari rumah ini dan merencanakan jebakan untuk Daniel.
"Dira, temenin ayah di apartemen ya." Pinta gue.
"Sip." Jawabnya
"Bawa baju sekalian, kamu di sana agak lama."
"Sip sip sip, ahhhh elahhh kalah lagi." Umpatnya.
Gue hanya menatapnya sambil tertawa kecil, anak bandel ini darah daging gue? Nggak jauh ya dari bapaknya.
"Yah, Dira mau ngomong sama ayah."Sambungnya dengan mata yang fokus menatap gue.
"Iya ngomong apa?"
"Hmmm bang Ren siapanya ayah?"
Gue tersenyum,"kenapa emang?"
"Terus dijawab apa?"
Dira membenarkan posisi duduknya,"ya Dira belum jawab, mau tanya ayah dulu."
Gue berdiri dan berjalan menuju lemari pakaian Dira,"kalau mau tau jawabannya beresin baju dan ikut ayah sekarang."
Dira bangkit dan menganggukan kepalanya, gue membantunya memilih baju yang akan dibawa. Semoga Dira menjadi jagoan gue yang bisa menyelamatkan semuanya.
Selesai memberekan baju, kami pun siap-siap dan meminta izin Rayna untuk membwa Dira. Rayna mengiyakan, mungkin karena gue juga berhak mengurus Dira. Raut wajah yang masih bersedih itu ingin sekali gue berikan kecupan dan pelukan kerinduan yang selama ini gue tahan. Namun saat ini gue harus menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu sebelum membawa Rayna pergi.
Gue dan Dira memasuki mobil dan pergi, Daniel tampaknya sudah pulang. Baguslah malam ini Rayna biarkan istirahat dan nggak dibuat lelah dengan kepura-puraannya menerima Daniel.
Nggak lama gue sampai di apartemen dan membawa tas Dira, sejak tadi anak ini nggak bersuara mungkin masih bingung dengan hubungan gue dan Ren.
Gue membuka kunci apartemen dan masuk, menyimpan tas Dira di dekat lemari dan mengambil air di dalam kulkas.
"Yah ayo dong Dira penasaran."
"Iya bentar ayah haus nak."
Gue membawa gelas dan duduk di atas sofa,"Ren itu temen ayah, udah lama banget kita nggak ketemu."
Dira terkejut dan membulatkan matanya,"temen?"
Gue mengangguk pelan,"iya Dira dan kamu ngapain nyulik tante Anna?"
Dira terdiam, seakan pertanyaan gue adalah suatu pedang yang menusuk jantungnya.
"Iiitu, hmmm ,ituuuu."
"Apa? Kamu kayak ngobrol sama orang lain tegang banget."
Dira menghela napas dan seperti mengumpulkan keberanian.
"Ya itu karena Dira mau tau kenapa Ayah cerai sama bunda dan semua petunjuk udah dapet tapi belum semuanya."jelas Dira
Gue tersenyum dan meninju dada Dira pelan.
"Aaww sakit yah." Ringisnya
"Wehhh sakit, jagoan ayah harus kuat kalau mau lawan Daniel."ucap gue sambil tertawa.
"Jadi ayah udah tau?"tanya Dira
Gue menatap mata Dira lekat dan mengaggukan kepala,"kasih bukti apa yang Anna bilang sama kamu, selanjutnya kita bekerja sama untuk merebut kembali hal yang udah hancur."