
Hari berikutnya kita bergantian menjaga Dara, pernikahan bunda dan om Daniel diundur entah kapan. Yang jelas sedikit agak melegakkan juga, karena gue hanya fokus menemani Dara. Saat ini, Dara masih belum siuman karena mungkin pengaruh obat bius.
Sudah empat hari semenjak kejadian, Dara belum siuman dan hari ini giliran gue menjaganya.
"Hey cantik, lo bangun napa sih? Gue kangen jailin lo dek."
Ucap gue sambil mengelus rambutnya.
Namun, sedetik kemudian matanya terlihat bergerak. Gue membulatkan mata dan memfokuskan pandangan, saat ini Dara benar-benar menggerakkan matanya dan kemudian sedikit demi sedikit membuka matanya.
"Dek, udah siuman?"
Tanya gue pelan.
Dara mengalihkan pandangannya menatap gue,"s-siapa kamu?"
Gue terhentak, Dara nggak lagi bercanda kan? Pura-pura nggak mengenal gue kayak waktu dia pura-pura nembak gue.
"Haha Dara, ini kak Dira masa lupa sama si ganteng ini?"
Ucap gue sambil mencolek hidungnya.
"Dira siapa? Aku nggak kenal."
Ucap Dara dengan suara pelan.
Gue terkejut dengan jawabannya,"dek nggak lagi bercanda kan?"
"Kepalaku pusing, ini dimana?"
Ucap Dara sambil menatap semua arah.
"Ini di rumah sakit dek."
"Rumah sakit, emang aku kenapa? Kamu siapa sih? Terus Dara siapa?" Tanyanya lagi.
Kayaknya ini mulai nggak beres, gue memijit bel dan memberitau kalau Dara siuman. Selang beberapa menit, suster dan dokter pun datang.
"Ada apa dek?"
Tanya dokter.
"Adek saya jadi nggak inget apa-apa dok."
Dokter memeriksa Dara yang masih bingung dengan keadaan saat ini, melihat wajah bingungnya Dara terlihat nggak lagi pura-pura.
"Kayaknya dia amnesia, karena benturan itu."
Ucap dokter.
Gue membelalakan mata,"apa dok? Amnesia?"
Dokter menganggukan kepalanya," saya akan menjelaskan pada orang tua adek, untuk sementara jangan membuat dia memikirkan hal yang berat."
Gue menganggukan kepala, dokter dan suster keluar dari ruangan. Dara amnesia itu tandanya dia nggak inget apa-apa tentang masa lalunya.
"Yank, kamu nggak inget aku? Ini aku Dira pacar kamu."
Dara mengerutkan kening,"pacar? serius kita pacaran? Kok aku nggak inget sih?"
"Iya aku pacar kamu, kamu kecelakaan dan kata dokter barusan kamu amnesia."
"Amnesia? Jadi aku sama sekali nggak bakal inget apa-apa?"
Gue menganggukan kepala dan meraih tangannya,"iya sayang tapi tenang, aku sebagai pacar kamu nggak akan lupa sama masa lalu kita."
Mungkin ini cara satu-satunya supaya Dara nggak sakit hati menerima fakta kalau dia bukan adek kandung gue, inilah jalan satu-satunya kesempatan gue untuk menjadi kekasih Dara.
Dara masih terlihat bingung dan mungkin mengingat-ingat siapa gue. Semoga Dara bisa pulih kembali setelah dia membalas cinta gue.
"Apa yang terjadi sama Dara?"
Tanya ibunya Dara tiba-tiba sambil terengah-engah.
"Dia-nggak inget apa-apa dok."
Jawab gue.
Ibunya Dara mengelus rambut pirang anaknya saat ini,"sayang ini mama."
Ucapnya.
Apa?! Apa ibunya Dara juga memanfaatkan situasi ini? Mengubur dalam-dalam masa lalunya dan mengukir cerita baru ketika Dara amnesia.
"M-mama? Anda ibu saya?"
Tanya Dara yang terlihat masih bingung.
Wanita itu mengangguk,"iya sayang kamu tenang ya, jangan banyak pikiran."
Dara menganggukkan kepalanya dan menatap gue,"ma dia bener pacar aku?"
Tanya Dara.
Ibunya menatap gue dan tersenyum,"iya sayang."
Gue hanya terdiam, kita sempat berkenalan. Ibunya Dara tau kalau gue adalah Dira kakaknya, tapi saat ini mungkin dia menyetujui apa yang saat ini gue rencanakan.
"Itu Dira, pacar kamu. Jadi nggak usah takut ya sayang."
Sambungnya.
Dara mencoba meraih tangan gue dan dengan sigap gue mendahuluinya.
"Dira, maaf kalau aku lupa sama kamu tapi bantu aku mengingat semuanya ya."
Pinta Dara.
Gue menganggukkan kepala sambil menahan air mata yang hampir keluar, saat dimana Dara siuman kita semua harus kehilangan sosok Dara yang dulu. Dan berpura-pura dengan kisah yang baru, apa yang akan terjadi selanjutnya masih menjadi rahasia.