
Sarapan di rumah Dara tiba-tiba kenyang karena mendengar om Hans mengatakan nama Daniel, siapa Daniel yang dia maksud? Apakah Daniel Wijaya atau Daniel yang lain? Gue berniat ke rumah ini mengunjungi Dara karena ingin merefleksi otak gue dari om Daniel, tapi baru saja otak gue dibuat sibuk kembali untuk mencari tau.
"Eh Sayang, kamar mandi dimana?"
Tanya gue pada Dara.
"Kamu lurus aja,belok kanan."
"Oke, kebelet nih hehe."
Gue berjalan menelusuri rumah ini, bukan karena ingin ke kamar mandi tapi menguping percakapan om Hans.
"Iya pak Daniel, akan segera saya laksanakan."Ucap om Hans yang ternyata sedang berbicara di dekat tangga rumah.
Gue melangkahkan kaki perlahan dan menguping percakapan om Hans.
"Iya pak, zyx aman kok."
D
E
G
Tunggu! Zyx? Gue nggak salah denger? Zyx adalah perusahaan milik Ayah, jadi?! Daniel yang dimaksud adalah benar om Daniel Wijaya.
"Iya siap pak, kotak itu aman selalu." Sambung Om Hans.
Kotak itu?! Kotak apa yang dimaksud, cih disaat gue ingin bersantai bersama Dara. Gue harus berpikir kembali, bisa nggak om Daniel musnah aja sekarang juga.
"Eh Dir, ada apa?"
O o ow gue ketauan!
Gue menggaruk kepala yang nggak gatal sama sekali,"i-ini om hmm kamar mandi dimana ya?"
"Oh kamar mandi toh, itu sebelah kanan di pojok."Ucap om Hans dengan telunjuk yang mengarah ke kanan.
"Oh di sana? Pantes Dira nggak nemu om hehe." Ucap gue basa-basi sambil melangkahkan kaki menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi gue meraih ponsel dan mengirim pesan pada Ayah.
*Ayah
Yah, Dira lagi di rumah Dara. Tapi ada sesuatu yang ganjal.
Ganjal apa?
Ayahnya Dara, Pak Hans. Dia nyebut nama om Daniel dan Zyx, Ayah tau dia siapa?
Hans? Jadi ayah Dara yang sekarang adalah Hans? Hati-hati Dir, dia sekreatris Daniel dan termasuk orang yang ikut serta dalam masalah ini.
Jadi Dira harus gimana? Oh iya, dia juga ngomong soal kotak yah, kotak apa?
Kotak? Ayah juga nggak tau, kamu di sana jangan bergelagat aneh tapi pastikan cari informasi lain.
.
Oke yah*
Gue menyudahi percakapan dengan Ayah dan keluar, namun gue terkejut seketika. Om hans sudah ada di depan pintu menatap gue lekat, sedangkan gue hanya menelan ludah. Saat ini bahkan menatap om Hans seperti seorang buronan penjahat yang hobi memutilasi manusia.
"Dira."Ucapnya
"I--iya om?"
"Ya? Eh iya om, siap deh."
Lega rasanya, gue pikir om Hans akan marah karena gue nggak sengaja menguping.
"Oke oke, sana ajak jalan." Titahnya
Gue mengacungkan jempol,"siap."
Gue melangkahkan kaki menuju meja makan dan hanya ada Dara di sana.
"Kamu kenapa? Kok lama?"
Tanya Dara.
Gue duduk dan meraih roti yang tadi belum sempat gue makan.
"Sakit perut dek."
"Dek? Kok panggil dek sih yank?"
"Hehe, nggak boleh ya? Panggilan sayang itu." Alasan gue
Dara tersenyum,"hehe lucu juga sih."
"Dek, cepet mandi kita keluar."
"Serius? Ya udah aku mandi sekarang, tunggu ya."
Dara terlihat bahagia, kalau dia dulu girang karena gue bawa clubbing tapi saat ini dia bahagia hanya sekedar jalan-jalan.
Satu jam, dari waktu Dara siap-siap dan perjalanan menuju taman kota. Kali Dara terlihat girang berada di luar rumah, pasca kecelakaan memang dia berdim di rumah.
"Dira, sumpah ya seger banget udaranya."ucap Dara
Gue hanya menggenggam tangannya erat,"duduk yuk di sana."
"Ayok"
Gue duduk di kursi taman yang Dara duduki bersama Roni tempo hari sebelum dia kecelakaan.
"Dira, aku kok kayak nggak asing ya sama tempat ini, kayak baru aja duduk di sini.Apa kita sebelumnya sering duduk di sini?" Tanya Dara sambil menatap ke semua arah.
"Ya sebelum kamu kecelakaan kita ke sini dulu."
"Oyah? Aku lupa."
Iya kita ke sini, kita cekcok dan lo benci punya kakak macam gue. Lo lebih milih bareng Roni, cowok brengsek yang udah bikin lo lupa ingatan.
"Iya ke sini dan aku lamar kamu di sini, pasti lupa ya?"
Tanya gue berbohong.
"Oyah? Kamu lamar aku?"
Gue mengaggukkan kepala,"iya aku bilang, kamu mau nggak jadi istri aku? Dan kamu girang banget, antusias jawab iya."
Dara tersenyum dan mengingat-ingat ucapan gue yang sama sekali nggak pernah gue ucapkan, tapi sebisa mungkin gue hanya akan berusaha menjadi seorang kekasih untuk Dara, bukan seorang kakak yang harus merelakan dia pergi bersama orang lain.
"Jadi---kapan kita menikah?" Tanya Dara
Gue tersenyum dan mengelus rambutnya,"secepatnya sayang."
.