Dira & Dara

Dira & Dara
Mencari masa lalu bunda #Dira pov



.


.


.


.


Gue beberapa kali meneguk alkohol yang sejak tadi menemani gue namun belum di sentuh sedikitpun, om Daniel menceritakan masa lalu antara dia,ayah dan bunda. Tapi lama-kelamaan suara dia makin kabur dan mata gue mulai kunang-kunang,gue mabuk berat.


B


R


U


K


Gue jatuh dan setelahnya gue nggak inget apa-apa lagi.GELAP


.


.


.


Dentuman jarum jam membuat gue tersadar dari alam mimpi, dengan cepat gue membuka mata walaupum kepala masih pening.


Tapi dimana ini? dua kali gue membuka mata dengan cat dinding yang berbeda dan tentunya kamar yang berbeda pula.


Gue memutar bola mata ke arah jam dinding, jam 3 malam. Jadi belum lama gue tidur,setelah gue minum dan jatuh apa yang terjadi selanjutnya?


Oyah om Daniel, gue baru inget kalau dia lagi mendongeng. Tapi dimana dia sekarang? kenapa gue berakhir di sebuah kamar sendirian.


Gue melangkahkan kaki walau sedikit agak pusing,keluar kamar dan mencari keberadaan om Daniel.


Gue fikir ini hotel ternyata rumah,rumah siapa lagi ini?


Gue menuruni anak tangga perlahan,namun nggak ada seorang pun yang bisa gue temui di sini.


Rasanya kerongkongan pun mulai kering,tapi dimana dapurnya?! Gue mencoba melangkahkan kaki mencari keberadaan dapur,rumah sebesar ini dibiarkan kosong bisa-bisa gue disandra cewek pucet di sini.


"Iya Ray,Dira lagi sama aku.Semalam dia ngantuk berat jadi aku bawa ke rumah"


"..."


"Iya sayang..."


D


E


G


Sayang?! gue menghentikan langkah.


Gue berharap semuanya nggak kayak gini,apa gue harus menyimpulkan kalau bunda dan om daniel melakukan perselingkuhan di belakang ayah?


Gue mengurungkan niat dan pergi dari rumah ini,mengendap dan membuka pintu rumah yang nggak terkunci,dasar ceroboh.


Gue lari secepat mungkin agar om Daniel nggak menyadari kalau gue kabur,semakin lama gue makin nggak suka dengan semua ini.


T


I


N


N


N


N


N


Akibat dari berlarian akhirnya klakson mobil pun bunyi,sial ! gue hampir ketabrak.


Gue berhenti dan menarik nafas,mengumpulkan oxygen karena berlari sejauh ini.


"haaaaaa.... haaaaaa .....haaaaa......"


Gue mengangkat kepala dan menatap ke arah mobil,kenapa orang ini nggak keluar? tegur gue atau apa, tanya gue luka atau enggak gitu. Sombong banget *****, mentang-mentang pake mobil.


Gue menatap ke dalam mobil,namun gelap.Udah lah bodo amat lagian gue nggak luka,gue pun memundurkan langkah dan berlari kecil meninggalkan mobil itu.


Tujuan gue saat ini adalah rumah tante Yola,mudah-mudahan aja dia ada di rumah.


Hanya 30 menit gue naik taxi dan berhasil membangunkan tante yola yang berjalan lunglai.


"Sorry tan ganggu ena ena nya."


Ucap gue sambil menjatuhkan tubuh ke sofa.


"Udah biasa,gimana tante bisa hamil kalau ena ena diganggu terus?"


Tante Yola duduk di samping gue dan memangku tangan di dadanya.


Gue memejamkan mata dan sesekali menghela nafas,semua yang menjadi pertanyaan akan gue cari jawabannya.


"Kenapa sih? tumben juga si Dara nggak ikut ?"


Tanya tante Yola yang mungkin bingung dengan kelakuan gue.


Gue pun bangun dan menatap tante Yola."Dara nggak ikut ke bar,ada om Daniel"


"Daniel? rajin bener."


"Oyah tan,Dira mau nanya"


Gue mengubah dempat duduk dan berhadapan dengan tante Yola.


"Apa?"


Gue menarik nafas perlahan."Tan"


"Iya apa?! ayo dong ngomong Dira"


"Tante tau soal hubungan bunda dan..."


Gue menggantungkan kalimat yang berat banget untuk diutarakan,apa tindakan gue saat ini konyol atau benar.Jika benar,gue menginginkan kejujuran tapi jika salah gue menginginkan penjelasan.


Tante Yola menunggu pertanyaan gue dengan memberikan kode'ayo ngomong.


"Dira jujur sama tante,tapi Dira minta jangan pernah bahas ini sama Dara atau Bunda."


"Ahhh lama amat mau nanya juga,kapan sih tante comel Dir? selama ini kalian aman-aman aja kan."


Jelas tante Yola yang mungkin pegal dengan omongan gue yang terpotong-potong.


Gue mengangguk."Oke tan,sebenernya Dira mau tanya apa hubungan bunda dan om Daniel?"


"Enggak tan,maksud Dira sebelum sekarang ini"


Tante Yola tersenyum dan menepuk-nepuk bahu gue."Buat apa mencari masa lalu bunda kamu Dir? Rayna udah punya kalian si kembar yang menggemaskan"


Tante Yola malah mencubit pipi gue keras.


"Aduh tan serius dong."


"Tante serius Dira,Rayna udah bahagia sekarang udah move on dan dia dapat hak...."


Tante Yola menggantungkan ucapannya sambil menatap gue.


"Move on? dapat hak? hak apa tan?"


Gue semakin penasaran dan memaksa tante Yola untuk menjelaskan semuanya.


Namun tante Yola malah diam dan menundukkan kepalanya,pertanyaan mengenai Ayah,bunda dan om Daniel pun mulai memenuhi otak gue.Jangan bilang mereka merahasiakan ini semua dari Gue dan Dara,semuanya tampak baik-baik aja tapi gue nggak pernah tau dulu mereka menjalani kehidupan seperti apa.


"Tan,jawab Dira apa maksudnya?"


Tanya gue lagi.


"Tidur Dira,ngobrol mulu..."


Suara om Teza pun memecah suasana antara gue dan tante Yola.


"Mana Dara? kok sendiri?"


Sambungnya lagi.


"Nggak ikut om,dia lagi nggak mood."


Om Teza mengganggukan kepalanya sambil menguap."Sayang,tidur lagi yu kamu juga Dira besok kan kuliah"


Gue menganggukan kepala sambil menatap tante Yola yang hanya diam dan berlalu pergi bersama om teza ke lantai dua.


Gue yakin ada hal yang disembunyikan dari mereka,gue harus mencari tau hal itu.


Pagi-pagi sekali gue udah asik menghirup rokok dengan secangkir kopi hangat yang membuat gue jatuh cinta setiap paginya.


"Dira..."


Ucap bunda yang berjalan masuk ke kamar gue,ah bukan maksudnya kamar rumah tante Yola.


"Eh bunda."


Ucap gue santai.


Bunda duduk di samping gue dan menatap gue tajam.


"Kenapa bun,pagi-pagi udah nyusulin Dira?"


Tanya gue lagi


P


L


A


K


"Aw..."


Ringis gue


Bunda menampar sebelah pipi gue dengan keras,jangan bilang om daniel laporin semua keluakuan gue.


"Semalem kamu kemana?om Daniel nyari kamu sampe dia keserempet mobil"


Tanya Bunda.


"Oh om Daniel keserempet mobil? terus mobilnya nggak apa-apa bun?"


"DIRA!!!"


Bunda menaikkan nada suaranya karena geram melihat gue yang menganggap itu lelucon.


Gue mematikan puntung rokok dan menyeruput kopi.


"Iya,sekarang juga Dira temuin om Daniel"


Gue berdiri dan berniat melangkahkan kaki namun bunda menahannya.


"Tunggu Dira!"


Gue pun menuruti kata bunda untuk tetap diam dan mendengarkan ceramah rutin pagi dari Bunda.


Gue menatap mata Bunda mencari sesuatu yang selama ini menjadi rahasia,gue mencintai bunda jujur gue pengen banget meluk dia tapi semenjak hari dimana bunda berpelukan sama om daniel,gue rasa bunda melukai hati gue tanpa ia sadari.


Ah sudahlah percuma mencari sesuatu dari bunda,toh semuanya nggak ada yang mau jujur sama gue.Sialnya tadi malam gue mabok dan nggak tau cerita om daniel tentang masa lalunya,gue fikir cerita dia hanya sebuah karangan fiksi yang membuat baper para pembaca [Haha] tapi setelah ucapan tante Yola tadi malam semakin menguatkan kecurigaan gue.


Bunda mengelus rambut gue perlahan,tubuh bunda yang pendek membuat kakinya berjinjit demi meraih kepala anaknya yang udah tumbuh dewasa.


Gue menurunkan sedikit ego kali ini,setelah perpisahan SMA gue sama sekali belum merasakan elusan halus tangan bunda yang membuat gue nyaman.Selama ini gue hanya sibuk clubbing tanpa tau perasaan bunda saat ini, apa gue terlalu egois melakukan hal ini terhadap bunda?


"Anak bunda ganteng banget,mirip sama ayah."


Ucapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Bunda mulai mengusap kedua pipi gue dan memeluk tubuh gue erat,perasaan ini nggak mungkin gue halau.Gue kangen suasana dimana bunda menjadi seorang ibu sekaligus ayah yang cerewet dan membuat gue nggak mau denger nasihatnya.Semenjak gue berubah sikap,bunda pun menjadi pendiam dan seolah menjadi orang lain.


"Udah bun jangan nangis,Dira jadi melow nih."


Ucap gue sambil mengelus pundak bunda,gue tau bunda nangis tapi ia sengaja mengecilkan volume suaranya supaya gue nggak khawatir.


"Bunda sayang banget sama kamu,sama Dara cuma kalian yang menjadi kekuatan buat bunda".


"Iya bun,Dira juga say..."


Sumpah gue berat banget mengucapkan kata sayang,bukan berat karena gue nggak sayang sama bunda.Tapi berat karena tertahan air mata yang ingin keluar,nggak!seorang Dira ngapain mewek gara-gara ini.


[Padahal kalau lagi mabok mewek nyebut nama ayahnya]


Bunda melepaskan pelukannya dan menatap gue lembut."Om Daniel ada di rumah sama Dara,kamu baik-baik ya sama dia."


Gue menganggukkan kepala,walau sebenarnya hati gue berat untuk menerima hal itu.


.


.


.


.


.


T B C