Dira & Dara

Dira & Dara
Dara kecelakaan #Dira pov



Gue beberapa kali menghubungi Dara namun nggak ada jawaban sama sekali, sial! Seandainya gue tau dari awal kalau Dara bukan adik kandung gue nggak akan gue lepaskan tangannya.


Saat ini, gue benar-benar takut kalau Dara pergi bersama orang lain. Keraguan gue tentang hati ini sudah terjawab, Dara bukan lagi gadis yang harus gue lindungi sebagai adik namun lebih kepada seorang kekasih.


Drrrtt drtttt drttttt


Ponsel gue bergetar namun bukan nama Dara yang tertera melainkan, bunda.


"Ya bun?"


"Diraaaa kamu di mana sekarang? hiks hiks."


Suara bunda terlihat parau dengan suara tangis yang gue dengar di sebrang sana.


"Dira di----"


Gue menatap taman kota yang saat ini gue pijakki, tempat di mana Dara mengucapkan kata benci terhadap gue dan lebih memilih cowok brengsek itu.


"-----Di taman kota bun, kenapa bunda nangis?"


Sambung gue.


"Taman? Kamu hiks hiks nggak tau kalau Dara kecelakaan? Bunda pikir hiks kamu lagi sama adek kamu Dir."


Jelas bunda.


Tunggu! Kecelakaan?!


Gue tertawa kecil,"bun kecelakaan apa sih bunda jangan ngarang, Dira nggak denger apa-apa soal Dara."


"Kamu kok ketawa? Ini serius Dira, bunda lagi menuju rumah sakit kasih sama om Daniel."


Ucap bunda.


Gue memijat kening, Dara kecelakaan? Rasanya mustahil tapi ini benar-benar membuat gue berlari secepat kilat. Gue bodoh, melepaskan tangannya bersama orang lain padahal hati gue terluka.


Tiga puluh menit gue sampai di rumah sakit kasih, berlari menuju bagian informasi di mana pasien atas nama Dara yang baru saja kecelakaan. Dan si mbak memberitahu kalau Dara berada di IGD.


Gue pun berlari menuju ruangan IGD dan mendapati bunda bersama om Daniel saat ini, bunda yang terlihat masih menangis dipeluk erat oleh om Daniel yang berusaha menenangkannya.


"Siapa walinya?"


Tanya seorang suster ketika keluar dari ruangan UGD.


Bunda pun bangkit,"saya ibunya"


"Baik bu, kecelakaan ini membuat anak anda kehilangan banyak darah dan harus segera menerima tranfusi, namun stock golongan darah nona Dara sedang kosong, jadi pihak keluarga harus ada yang mendonorkan darahnya."


Jelas suster.


Bunda pun mengangguk,"golongan darah saya B sus, saya mau mendonorkan darahnya."


"Maaf bu, tapi golongan darah nona Dara adalah O."


"O ? Sus tapi-----golongan darah saya dan ayahnya Dara itu B bagaimana-----" bunda terlihat lemas dan duduk kembali sambil membungkam mulutnya.


"I---ini nggak mu----mungkin, Da---Dara adalah anakku! Iya dia anakku."


Sambung bunda.


Gue melangkahkan kaki menghampiri bunda dan duduk di sampingnya.


"Bun."


"Dira---- bilang sama bunda kalau Dara adek kamu kan? Dir--- Dara--- hiks hiks."


Gue memeluk Bunda erat, bukan bun Dara kita bukan anak dan adik kandung. Dia adalah orang lain, orang lain yang Ayah selamatkan . Dara kita sudah tenang di surgaNya Tuhan, ya Dara adik kandung Dira yang saat ini tempat tinggalnya berada di Paris, anak gadis bunda yang nggak pernah bunda ketahui wajahnya.


"Gimana keadaan Dara?"


Ucap ayah yang datang tiba-tiba dengan nafas yang terengah-engah.


Bunda melepaskan pelukan kami dan bangkit menghampiri ayah.


"M-mas, Dara harus transfusi darah dia banyak mengeluarkan darah. Aku siap buat donor tapi----- mas kenapa golongan darah anak kita berbeda?"


Tanya bunda.


Ayah terdiam, ia terlihat menelan ludahnya dengan tatapan bingung. Gue memahami posisi ayah saat ini, namun fakta jika Tuhan telah membuka semuanya hari ini harus kita lewati walaupun sakit.


"Mas, pernyataan dokter ketika aku mengandung sembilan bulan itu bohong kan? Dara anak kita selamat kan? Nggak gagal jantung?"


Tanya bunda lagi.


Ayah menghela napas perlahan dan meraih tangan bunda,"Ray---- i-itu---"


"Bagaimana bu? Nona Dara harus segera menerima donor darah."


Ucap suster lagi.


"Mas---- kamu yang tau semuanya, jadi bagaimana? Aku dan kamu nggak ada yang mempunyai golongan darah O".


Ucap bunda.


Ayah tampak memundurkan langkah dan pergi dari hadapan kami, sedetik kemudian berlari keluar dari rumah sakit.


Entah apa yang akan ayah lakukan, gue menatap ruangan IGD. Dara bodoh, siapa yang mengakibatkan lo kecelakaan separah ini.


T


B


C