
Gue dan Dara pulang mendapati bunda yang sedang asyik mengobrol dengan om Daniel.
Om Daniel tersenyum ke arah gue yang gue balas dengan senyum kecil.
"Dar..."
Ucap om Daniel
"Dara cape..."
Adek gue sama sekali nggak bersikap biasanya,dia lari menuju lantai dua dan membanting pintu.
"Kenapa dia Dir?"
Tanya bunda
Gue duduk di sofa dan menatap langit-langit rumah.
"Ditolak cowok.."
"Jangan becanda Dira."
Gue pun tertawa sambil mengalihkan pandangan ke arah om Daniel."Bunda kayak nggak pernah muda aja,cinta segitiga bun yang mengharuskan Dara ngalah"
Seketika ekspresi Bunda dan Om Daniel berubah mendengar ucapan gue,ada yang salah ya? atau ucapan gue ngena di hati mereka.
"O o h gitu Dir."
Ucap bunda parno.
Gue pun bangkit."Dira mandi dulu ya."
Pamit gue.
Bunda dan om Daniel mengangguk bersamaan dengan wajah yang nggak biasa.Sedangkan gue berjalan santai sambil bersiul menaiki anak tangga satu persatu dan masuk ke kamar.
Melangkahkan kaki mendekati jendela yang berhadapan langsung dengan kamar Ayah, dimana ayah sekarang? masih diapartement atau di rumah?
Gue menatap lekat jendela kamar ayah dan nggak lama muncullah seorang pria yang saat ini gue tunggu.
Ayah tampak menatap layar ponsel mencari sesuatu di sana, gue pun meraih ponsel dan menatap layar kemudian berfikir sejenak.
Sesaat,gue pun tersenyum dan membuka layar ponsel.
To : Ayah
*om ini Adit, barusan aku liat mantan istri om masuk ke komplek anggrek blok e no. 3,om pasti in deh sekarang.
**sending***...
Semoga rencana gue berhasil, kali ini Bunda dan Ayah harus bertemu bila perlu dengan om Daniel sekalian.
Gue menatap kembali jendela kamar Ayah setelah mengirimkan pesan, Ayah tampak membulatkan mata kemudian berdiri berjalan ke arah kanan, mungkin keluar dari kamar.
Gue menatap pintu gerbang dari sini, benar saja ayah benar-benar keluar dan masuk ke rumah ini. Senyuman pun melebar dari bibir gue, dengan santainya gue berjalan keluar dari kamar.
Ting...
Tong....
Suara bel pun berbunyi, gue semakin melebarkan senyuman. Langkah gue terhenti dipertengahan tangga, karena om Daniel yang berjalan menuju arah pintu. Kita lihat adegan apa yang akan terjadi?
Om Daniel membuka pintu dan dapat gue lihat betapa terkejutnya dia ketika mendapati Ayah yang saat ini ada di hadapnnya.
"Om?!"
"Daniel?!"
Mereka saling menunjuk satu sama lain, namun dengan sigap om Daniel menutup pintu dan membuat gue turun seketika mendengarkan percakapan mereka dari balik pintu.
"Om udah pulang? kok nggak kasih tau Daniel?"
Tanya Om Daniel sambil salah tingkah.
"Sesuatu terjadi Niel, oh iya lo...tinggal di sini Niel?
Tanya Ayah.
Om Daniel menganggukan kepalanya."Iya om."
Ayah merubah ekspresi di wajahnya dengan rasa kecewa.
"Seneng bisa tetanggan Niel,om di rumah sebelah."
Tunjuk ayah ke arah rumahnya.
Gue meninju dinding pelan,SIAL! Rencana gue yang kedua ini pasti gagal. Gue memundurkan langkah dan menyerah, kenapa bunda selalu menghilang disaat gue akan mempertemukan dengan Ayah.
"Mas Lay?"
D
E
G
Gue menghentikan langkah, kembali membalikkan badan dan menatap jendela, bunda sudah ada di depan rumah bersama nenek, menenteng kresek hitam yang tiba-tiba jatuh.
BERHASIL?
Gue tersenyum lebar, akhirnya bunda dan ayah bisa bertatap wajah kembali setelah sekian lama mungkin rindu melanda kedua hatinya.
"Ray....na?"
Tampak Ayah terkejut dengan kehadiran bunda dan nenek.
P
A
K
Namun tiba-tiba bunda menampar ayah."Berani-beraninya kamu datang ke sini mas? nggak puas selama ini kamu nyakitin aku?"
Ucap bunda dengan nada yang meninggi.
"Ray...mas cuma...."
"Om sebaiknya biarkan Rayna tenang dulu."
Om Daniel meraih tangan bunda dan berniat membawanya masuk, namun bunda menahannya.
Kembali menatap ayah dengan mata yang mulai berkaca-kaca."PERGI ! jangan pernah cari aku lagi,selama ini kamu udah mati di hati aku mas!"
"Ray,ijinin mas ketemu anak-anak."
Pinta Ayah
"Anak-anak? mas fikir mereka masih bisa hidup tanpa ayahnya? mas fikir aku bisa membiayai mereka sendiri? mereka nggak ada mas!"
D
E
G
Apa maksud bunda mengatakan kalau gue dan Dara udah nggak ada? kenapa saat ini gue justru kesel sama bunda,kenapa semuanya menjadi runyam? bukan ini yang gue mau.
Gue meninju kembali dinding yang nggak bersalah.
"Kak ada apa sih ribut-ribut?"
Tanya Dara sambil mengucek matanya.
Gue spontan menarik tangan Dara dan membawanya masuk ke dalam kamar.
"Eh eh apaan nih."
Teriak Dara.
Gue menutup pintu dan membekam mulut Dara.
"Engap ***** ah elah."
Dara melepaskan tangan gue kasar
"Jangan berisik,anak kecil dilarang nonton begituan."
Ucap gue sambil melangkahkan kaki menuju sofa.
"Anak kecil lo bilang? nggak sadar hah?"
Ejek Dara.
"Udah jangan ngegas mulu,sini duduk deket kakak."
Ajak gue.
Dara mendelik namun menurut apa yang gue katakan.
"Dek?"
"Hmm..."
"Ayah udah ketemu sama bunda..."
"Serius?"
Dara terlihat sumbringah dan senyuman pun melebar dari bibirnya.
Gue menganggukan kepala."Iya serius,tapi pertemuan mereka malah jadi kacau,gue fikir ada pelukan rindu atau apalah tapi malah tamparan dan kata-kata kurang mengenakan dari bunda"
"Jadi yang ribut-ribut itu bunda?"
Gue menganggukan kepala kembali."Dan yang paling gue kesel,bunda bilang kalau kita udah nggak ada pantes aja selama ini kita nggak pernah dikasih kesempatan buat video call atau telponan sama ayah"
"Tapi gue juga kesel sama ayah.."
Dara merubah posisi duduknya,menatap jendela kamar.
"Kenapa ketika pengen rujuk gencar cari kita,kenapa nggak dari dulu aja pulang ke sini"l."
Gue terdiam dan memcerna ucapan Dara, mengenai hal itu pasti ada asalan tersendiri dari Ayah. Gue akan telusuri semuanya, mungkin dengan penyamaran menjadi seorang Adit semuanya akan terbuka.
"Dek,kalau suatu saat lo ketemu ayah lagi bilang nama lo Anin dan lo berusahan buat nggak kenal sama ayah."
"Iya...."
Ucap Dara malas.
Gue mengelus rambutnya, sabar dek gue pasti bisa membuat keluarga kita utuh tanpa ada orang ketiga yang berusaha mengecoh.
Terutama om Daniel.
T
B
C