Dira & Dara

Dira & Dara
Lebih dekat dengan ayah #Dira pov



Gue dan Dara keluar dari club bersama Ayah,berpamitan dan membuka kunci mobil.


Dara yang tidak bersuara sejak kejadian tadi hanya diam dan masuk ke dalam mobil.


Gue pun masuk dan menatap arah samping, syyah tampak menendang ban mobilnya dan sesekali jongkok memastikan ban itu.


Gue pun membuka pintu dan keluar menghampiri Ayah.


"Kenapa om?"


"Kempes dit"


Gue pun berjongkok dan memastikannya,ternyata benar ban mobil Ayah kempes.


"Ikut Adit aja om"


"Kamu yakin mau anter om ke apartemen?"


Gue pun menganggukan kepala dan disambut senyuman dari Ayah.


"Oke lah Dit"


Ayah pun masuk dan duduk di kursi belakang,gue membuka pintu mobil dan menyalakan mesin,melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


Ditengah perjalanan,Dara tampak tertidur.Niatnya gue mau tanya dia soal pria tadi,namun si kodok malah teler nggak biasanya.


Gue melihat Ayah dari kaca depan,tampak dia sedang menatap Dara.


"Dit,kamu sama dia deket banget?"


Tanya Ayah


"Iya om"


Ayah memangku tangan di dadanya."Kamu yakin dia gadis baik-baik? om masih pensaran kenapa dia ada di apartemen om tempo hari"


Gue hanya terdiam,sulit menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.


"Kamu sayang sama gadis ini?"


Tanya Ayah lagi.


Gue pun menatap Dara, seadainya dia bukan adik kandung udah gue pacarin dari dulu.


"Sayang banget om"


Jawab gue


"Serius kamu?"


Gue menggukkan kepala.


"Tapi dia....ada di apartemen om Dit,dia bukan gadis baik-baik, denger ya Dit kalau dia gadis baik-baik kenapa dia ada di apartemen saya kemarin?"


Gue menarik nafas dan membuangnya perlahan."Adit juga bukan orang baik om, kerjaan malem keluyuran dan masuk club malam jadi tau diri aja Adit mah"


Jelas gue.


Ayah pun terdiam dan tampak berfikir."Tapi Rayna nggak gitu Dit,dia polos dan membuat om nyaman walaupun om bukan orang baik-baik tapi dia bisa membuat om keluar dari gelapnya dunia malam"


"Perceraian itu bukan hanya menghancurkan hubungan kita,tapi perusahaan om juga Dit"


Sambung Ayah.


Gue hanya terdiam,menyimak apa yang akan Ayah bicarakan sampai gue menemukan jawaban itu.


"Dit, kamu orang pertama yang membuat saya percaya. Saya merasa nggak ada yang perlu dirahasiakan dari kamu walaupun kita baru kenal"


Sambung Ayah lagi.


Gue pun tersenyum,mungkin rasa nyaman sebagai Ayah kepada anaknya muncul dalam hati ayah saat ini.


"Saya juga nyaman om, ayah saya jauh, jadi saya merasa dekat ketika bersama om"


Jauh dalam kehangatan,namun dekat dalam jangkauan.Dira merindukan Ayah...


Gue menghentikan mobil dan sampai di apartemen Ayah.


"Udah sampe om"


"Udah sampe?"


Ayah celingak-celinguk menatap ke arah luar.


"Kapan saya kasih tau kamu alamatnya ya Dit? Hebat kamu."


Gue membulatkan mata,bodoh lo Dit lagi-lagi nggak bisa kontrol! Gue terdiam dan nggak berani menatap Ayah,dalam hati terus mendumel mengatakan bodoh.


"Dit ? jawab saya"


Tanya Ayah lagi.


"Hmmm..."


Gue menggaruk kepala yang nggak gatal sama sekali sambil memikirkan alasan yang masuk akal.


"Oohh pasti gadis ini yang memberitau kamu ya?"


Gue pun mengangguk."Iya om, tadi Anin yang cerita kalau om tinggal di apartemen ini"


SELAMAT!


"Oke Dit saya masuk dulu,kamu mau nginep di sini aja? udah malam Dit"


Ucap Ayah sambil menatap jam di tangannya.


"Nggak usah om,saya harus anter Anin pulang"


Tolak gue.


Ayah pun tersenyum dan menepuk pundak gue perlahan sambil berjalan menuju apartemen. Gue manatap punggunggnya, hingga punggung itu menghilang dari pandangan gue.


T


B


C