
Hari ini gue tour tanpa ditemani kak Dira ,jujur gue kecewa karena dia nggak mau ikut. Gue nggak biasa bepergian sendiri, kak Dira lo jahat! Kampret, monkey, gue benci sama lo!
"Argghh."
Gue meninju foto kak Dira yang menjadi wallpaper ponsel gue ketika kita perpisahan SMA, gue mengalihkan pandangan ke semua tempat duduk. Banyak yang pergi dengan pasangan mereka, tapi gue bahkan duduk pun sendirian. Meira, Wendy dan Cindy malah ingin duduk dekat dengan geng si Agus,secara geng mereka walaupun bringas tapi wajahnya nggak bisa diragukan lagi.
"Lo sendirian?"
Tanya seseorang.
Agus!
"Gue boleh duduk di sini kan?"
Sambungnya.
Gue mengangguk pelan dan mengalihkan pandangan, menatap pemandangan luar.
"Kok Dira nggak ikut? Biasanya kalian nempel terus."
"Kak Dira ada urusan."
Jawab gue singkat.
Dulu gue memang menyukai Agus,tapi setelah gue tau dia adalah orang yang licik gue jadi mengurungkan niat.
"Kalau nggak ada Dira, boleh dong gue nemenin lo."
Gue menggeleng."Enggak! Gue sama temen-temen gue aja."
Agus terus nyerocos menceritakan masa SMA dan tek-tek bengeknya, gue mulai bosan dan menyumpel telinga dengan headset hingga rasa kantuk datang, gue pun tertidur dan nggak mendengar apa-apa.
Gue mengerjapkan mata pelan, membukanya dan mengalihkan pandangan. Dimana ini? terakhir gue ingat masih di dalam bis tapi kenapa saat ini gue berada di dalam kamar.
"Lo udah bangun?"
Tanya seseorang.
Gue mengalihkan pandangan dan menatapnya."Agus? kita ngapain di sini?"
Gue menatap Agus yang selesai mandi, ia tampak mengenakan handuk dan rambutnya terlihat basah.
"Lo tidur jadi gue bawa ke hotel."
Gue terbelalak."Hotel? ini di hotel ? Siapa yang suruh lo bawa gue ke sini?"
Agus tertawa kecil sambil memakai kaos berwarna hitam."Memang kalau tour lo nggak butuh tidur? semua anak-anak yang ikut tour disuruh istirahat karena nanti malam ada acara dan kita satu kamar."
"Gila lo, gue yakin Pak Ares nggak nyuruh kita sekamar."
"Emang nggak."
"Terus?"
Agus mendekati gue, membuat gue merubah posisi."Lo pikir gue gobl** harus izin ke Pak Ares ? Santai aja sayang, disini lo bakal seneng-seneng sama gue! nggak ada Dira yang bakal menghalangi kita."
Sial ! Kenapa semuanya jadi kayak gini, gue jadi nyesel ikut acara ini. Kak Diraaaa lo jahat !
Gue bangkit dan mencari ponsel untuk melaporkan Agus pada kak Dira ,namun ponsel gue hilang.
"Lo nyari apa?"
"Ponsel."
"Ponsel lo aman ditangan gue, jadi nggak usah takut."
Gue membulatkan mata,"Agus balikin nggak? Gue mau nelpon kak Dira biar lo dihajar sama dia kampretttt!"
Gue berteriak kesal.
"Ssstttt, jangan berisik sayang nikmati kebebasan kita."
Ucap Agus sambil menarik dagu gue.
Gue mendorong tubuhnya dan berlari membuka pintu, gue celingak-celinguk mencari kelompok yang mengikuti tour. Namun nggak satu pun orang yang gue kenal di sini, sampai akhirnya gue bertanya pada pihak informasi dan dia menjawab nggak ada peserta tour dari kampus gue yang menginap di sini.
Gue menendang tembok kesal, harusnya gue nggak tidur dan bagusnya lagi gue nggak ikut tour ini.
Diraaaaaa gue harus apa, gue dijebak Agus.
Gue berlari keluar dari hotel dan bingung harus kemana.Apa ini udah sampe di Yogyakarta? gue celingak-celinguk ke semua arah dan jongkok sambil menangis.
"Kak Diraaaaaa hiks hiks."
Gue nggak faham kenapa semuanya jadi kacau, bahkan gue nggak bisa menghubungi bunda dan kak Dira. Apa niat Agus sebenarnya, apa yang akan dia lakukan.
Gue berjalan tanpa arah tujuan, bahkan cuaca mulai nggak bersahabat kali ini. Hujan mengguyur membasahi tubuh gue yang saat ini nggak tau arah, gue terus menangis dan mengumpat Kak Dira. Gue lebih marah sama Kak Dira ketimbang Agus, gue benar-benar nggak bisa apa-apa tanpa kak Dira.
T
B
C