Dira & Dara

Dira & Dara
Tour Dara # Dira pov



Hati-hati dengan part ini.



Gue memasang headset dan mendengarkan ulang suara tante Anna yang sempat gue rekam ketika di markas bang Ren, malam ini gue pulang dengan membawa bukti dari tante Anna tentang kejahatan om Daniel.


Gue membuka pintu rumah dan mendapati Dara yang tertidur di atas sofa dengan sebuah buku yang disimpan di atas perutnya.


Gue meraih buku itu dan membacanya, first love.


Gue berdecak pelan,"lebay lo"


Gue mengangkat tubuhnya dan memindahkan Dara ke kamarnya, menatap dan mengelus rambut pirangnya.


Grep...


Tangannya menghentikan aktivitas gue, Dara pun membuka matanya.


"Gue cinta sama lo."


Ucap Dara tiba-tiba.


Gue membulatkan mata, apa yang dia katakan barusan? cinta sama gue? Apa dia nggak waras, fakta dia tercipta sebagai adik gue udah membuat gue menahan perasaan selama ini.


"Kenapa lo diem? Apa gue nggak menarik di mata lo? gue cinta sama lo udah lama."


Sambung Dara lagi.


Gue meraba keningnya, sepertinya nggak ada yang aneh. Tapi kenapa dia tiba-tiba bersikap kayak gini.


Grep ...


Dara meraih tangan gue kembali dan menatap gue lekat.


"Jadilah pacar gue."


Gue terbelalak, kerongkongan gue tiba-tiba kering, tubuh gue kaku di tempat. Apakah yang Dara katakan itu benar? Tapi ini nggak mungkin, kita kakak adik.


"Dek---"


Ucap gue pelan.


Dara tertawa lepas sambil membangunkan tubuhnya,"gimana akting gue kak? Lebay nggak sih kalau gue nembak cowok duluan? Haha jadi geli."


Ucapnya sambil membayangakan sesuatu.


Gue melepaskan tangannya dan menjitak kening Dara.


"Kampret!"


"A a a aw Diraaaaaa lo kebiasaan deh."


Ringisnya.


Gue pergi dan meninggalkan Dara yang mengumpat, bodoh dia membuat gue harus menahan detakan jantung yang luar biasa.


Bodoh, kita saudara kandung.


Cahaya bulan berganti dengan cahaya matahari, gue masih bermalas-malasan di tempat tidur. Kegiatan semalam membuat gue lelah dan malas masuk kuliah.


"Kak Diraaaaaa."


Teriak Dara sambil duduk di tempat tidur gue.


Gue lupa nggak mengunci pintu semalam, jadi si kodok dengan seenak udelnya masuk tanpa ketuk pintu.


"Kak Dir , kita ada tour lagi nih."


Sambungnya.


"Kemana?"


"Yogyakarta."


Ucap Dara girang.


Gue menaikkan selimut,"gue nggak ikut."


Dara membuka selimut gue,"ihhhhh ikut dong temenin gue."


Suaranya melengking di telinga gue,sontak membuat gue menjitak keningnya.


Jawab gue sambil merubah posisi menjadi duduk.


"Urusan apa sih lo, gue liat biasa aja ayoo dong kak ikuttttt." Dara menarik kaos gue.


Namun gue nggak menjawab dan memejamkan mata kembali.


"Ayo dong kakkkkkkkk."


Dara menggoyang-goyangkan tubuh gue, namun gue tetap diam dan berpura-pura tidur.


Dara berdecak dan terdengar kesal,"ya udah lah gue aja yang pergi."


Gue membuka mata dan tersenyum,"iya ikut aja, belajar mandiri dong jangan ngintilin gue terus katanya pengen punya pacar."


Dara menatap gue tajam,"lo liat ya pulang dari sana gue punya pacar."


Dara bediri dan berniat pergi namun gue menahan tangannya,"cari cowok yang lebih ganteng dari gue, kalau dia nggak ganteng jangan harap bisa gue restui."


Dara melepaskan tangannya,"lo aja yang pacaran kalau gitu."


"Emang lo mau punya pacar yang pas-asan?"


Dara tersenyum dan mendekatkan wajahnya,"kak Dira sayang gue sih nggak masalah mau wajah dia kayak gimana yang penting hati dia nggak liar kayak lo maenin cewek, pacaran sama cewek pemilik bar haha sampe tangan lo patah."


Gue menatap Dara tajam dan menarik dagunya,"lo bilang apa? liar?"


Dara mengangguk."Yap"


Cup


"Diraaaaaaa."


Dara mendorong tubuh gue ketika spontan mencium bibirnya.


"Dira, dasar monkey anjirrrrrr lo ngapain sih!."


Dara menglap bibirnya kasar.


"Harus gue cuci 100x ini mah,anjirrr."


Umpatnya lagi.


Sedangkan gue hanya tersenyum puas dan melangkahkan kaki menuju kamar mandi.


"Dasar liarrrr liarrrr liarrrr ,gue aduin ke ayah tau rasa lo!"


Teriak Dara lagi.


Gue tetap nggak menghiraukan dan mengahalau suara Dara dengan menyalakan air.


Hari berikutnya Dara pamit untuk ikut tour sedangkan gue hanya bisa menatapnya berjalan sumbringah bersama teman-temannya.


Sebuah tangan menepuk bahu gue pelan,"lo nggak ikut?"


Gue mengalihpan pandangan,"eh lo jack, enggak gue males."


Jackson menatap bis yang saat ini bersiap untuk membawa mahasiswa tour.


"Adek lo ikut ya?"


Gue mengguk pelan,"iya dia ngebet mau ikut, lo juga nggak ikut?"


Jackson mengalihkan pandangannya dan menatap gue,"enggak Dir gue juga males, tapi lo yakin nggak ikut?"


"Urusan gue masih banyak Jack, lo tau kan masalah gue saat ini."


Jackson mengangguk faham dan menepuk pelan pundak gue lagi, gue mengalihkan pandangan pada bis lalu menatap Dara yang memanyunkan bibirnya ke arah gue.


Jaga diri lo baik-baik dek, belajar mandiri tanpa harus nempelin gue terus.


Bis pun pergi dan meninggalkan dedaunan yang terbang akibat asap knalpot, gue dan Jackson pergi memasuki kelas.


T


b


c