
Gue mencuri foto ayah yang sedang memikirkan sesuatu,berapa % kah cinta bunda sama makhluk Tuhan yang indah ini. Sebagai anak, jujur gue mengagumi sosok ayah walaupun hanya dari cerita bunda.
Namun kali ini gue benar-benar mengaguminya,malam ini gue bahagia walaupun dalam kepura-puraan,mendengarkan semua kisah ayah selama di Paris.
"Saya sempat bangkrut Dit."
Ucap ayah ketika mulai mabuk
"Hmm iya om."
Gue mendekatkan kursi yang saat ini gue tempati,takut ayah ambruk tiba-tiba.
"Saya masih mencintai Rayna,sumpah dit saya bersumpah!"
Ucapnya lagi.
Gue hanya menganggukkan kepala dan terus berjaga-jaga.
Ayah meneguk kembali gelas berisi bir dalam sekali tegukan.
"Dit,si Anna itu licik dia bangke Dit!"
Teriak Ayah.
Gue membulatkan mata,maksudnya tante Anna?! wanita yang tempo hari gue temui di rumah ayah?!
"Dia pura-pura hamil dan meminta pertanggung jawaban saya,wanita licik itu mem...."
B
R
U
K
Ayah ambruk di bahu gue,dengan sigap gue menahannya,mengelus pipi kanannya perlahan.
"Sabar ayah, Dira bakal bantu ayah keluar dari masalah yang Dira belum ketahui kebenarannya."
Ucap gue pelan.
Gue membopong tubuh ayah dan membawanya ke dalam mobil gue menuju apartement.
Gue mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang,beberapa kali gue milirik ayah yang tertidur pulas.Senyuman pun melebar dari bibir gue,syukurlah Tuhan mempertemukan gue dan Ayah secepat ini dan bukan adek gue si Dara yang bertemu Ayah duluan,gue faham sifat Dara kayak gimana.Kayaknya bakal viral di sosmed dengan caption seneng deh ayah pulang Balasan untuk orang-orang yang mengejek kami dulu.
"Diraaa"
Ucap ayah masih dalam keadaan tidur.
"Iya"
Spontan gue menjawab.
Ooopss !
Gue mengelus dada,untung saja ayah masih tertidur pulas.BODOH lo Dir ini waktunya lo akting jangan sok sokan jawab Ayah ketika dia manggil Dira,Dara bahkan Rayna.
Hanya 15 menit gue sampai di apartement,milik ayah.
Gue membopong kembali tubuhnya dan ketika sampai gue menidurkan perlahan tubuhnya,membuka sepatu dan menyelimuti tubuh Ayah.
"Ayah,Dira sangat menya..."
Gue benar-benar nggak kuat menahan air mata,mungkin ini rasanya sedih bercampur bahagia.Wajah Ayah yang bisa gue liat sedekat ini menjadi kebanggaan tersendiri untuk seorang anak yang belum pernah merasakan pelukan hangat darinya.
"...menyangi ayah."
Gue melanjutkan ucapan yang menggantung dengan air mata yang mulai menetes memaksa keluar megaliri kedua pipi gue.
Jika sudah berhubungan dengan ayah,seorang Dira pasti cengeng! ya gue nggak pernah bisa menolak fakta jika gue selalu menangis merindukan Ayah.
Namun saat ini begitu sulit untuk berkata jujur jika gue adalah Dira anaknya,karena pertanyaan yang gue cari belum terjawab semua.
Gue bangkit dan pergi dari apartemen, Ayah bersiaplah untuk strategi pertama Dira akan memastikan apa yang Ayah inginkan tercapai besok.
Pagi ini pukul 9 gue sudah duduk di ruang tunggu dr.Spesialis saraf, memeriksa tangan gue yang cedera kemarin.Sebenarnya nggak terjadi apa-apa,gue hanya ingin memastikan tangan gue sembuh.
"Tuan Dira"
Panggil suster dari balik pintu.
Gue pun berjalan menghampiri suster yang berpakaian serba hijau."Cantik"
Ucap gue menggoda suster itu sambil mengedipkan mata,sontak ia pun merona sambil memegangi pipinya.
Gue hanya tertawa kecil,ketampanan ini adalah hasil dari pencampuran antara ayah dan bunda walaupun faktanya gue yang paling tampan.
"Gimana dek,nggak loncat-loncat lagi kan?"
Gue tertawa kecil."Nggak dok,udah insaf."
"Gitu dong,kayak maling aja haha"
Gue menggaruk kepala yang nggak gatal."Dok,tangan saya nggak sakit sih tapi cuma mau memastikan aja kondisinya sekarang"
Dokter meraih tangan gue dan memeriksanya,sesaat ia seperti berfikir namun setelahnya ia tersenyum.
"Nggak apa-apa udah sembuh,kamu rajin kan minum obatnya?"
"Rajin dong dok."
"Bagus."
Mana ada Dira rajin minum obat,yang ada gue rajin minum air ketenangan.Dokter itu pun meraih kertas dan menuliskan sesuatu, kemudian memberikannya.
"Ini resep bisa kamu tebus kalau sewaktu-waktu tangan kamu sakit."
"Siap dok,makasih ya dok."
"Iya sama-sama."
Gue pun berpamitan dan pergi dari ruangan,meraih ponsel dan mencari nomor kontak bunda.
"Bun..."
"Iya Dir,kamu kok nggak pulang?"
"Dira ada tugas kampus kemarin,jadi pulang ke apartemen Ayah cuma...."
"Kenapa Dir?"
Gue menghentikan langkah dan tersenyum."Dira lupa naruh kuncinya bun,ini mau ke kampus nggak jadi pergi"
"Kok bisa ilang Diraaa,ceroboh sih kamu"
Omel Bunda.
Gue menjauhkan ponsel dari telinga,bunda ketika ngomel suaranya memang melengking.
"Ya namanya lupa bun,mana ada yang tau kan"
Ucap gue santai sambil memegangi kunci apartemen milik ayah.
"Yaudah bunda ke sana"
"Siap bun,cepet ya"
Bip
Gue tertawa kecil sambil menatap kunci."Kita liat apa yang akan terjadi"
Gue memasukkan kembali kunci apartemen dan membuka kunci mobil,melajukannya dengan kecepatan sedang.
Menatap jalanan yang ramai dan nggak sabar melihat apa yang akan terjadi sebentar lagi,gue sengaja mengulur waktu karena ingin memberikan ruang pada pertemuan Ayah dan bunda, semoga saja ini bisa berhasil.
Nggak lama gue pun sampai,memarkirkan mobil dan bersiul senang.Sesekali gue meraba dada kiri,rasanya dagdigdug nggak karuan melihat bunda dan ayah akan bertemu kembali.
Gue berlari kecil menuju kamar ayah,menaiki lift dan sampai di lantai 4 menelusuri lorong ruangan dan sampai di depan pintu apartement.Tampak sepi tidak ada tanda-tanda kehidupan,karena penasaran gue mencoba meraih gagang pintu dan membukanya perlahan.
Seketika mata gue membulat,DARA?!
Ayah dan Dara saling tatap saat ini,ayah tampak bingung menatap gadis dihadapannya yang mungkin tiba-tiba bisa masuk ke kamar ini.
"Kamu siapa? dan kenapa saya tiba-tiba bisa sampai di apartemen saya ini?"
Tanya Ayah pada Dara.
Gue dengan sigap menutup pintu dan meraih ponsel.
"Aku Dar...."
Drrtttt drtttt drrtt
Dapat gue dengar nada dari ponsel Dara berdering,GAWAT! ini nggak sesuai dengan rencana gue WHY Dara ? kenapa harus Dara,gue maunya Bunda yang datang.
T
B
C