
Gue menerima telpon dari Yura ibunya Dara, kabar yang membahagiakan karena Dara siuman tapi satu jam yang lalu hal mengejutkan harus gue dengar.
Dara amnesia dan Yura meminta supaya kami nggak mengingatkan cerita lama Dara. Yura meminta jika kami hanya berpura-pura menjadi orang baru dalam hidup Dara.
"Pak Lay, saya mungkin terlalu jahat melakukan hal ini. Tapi saya minta tolong, saya menginginkan Dara suapaya tinggal bersama saya."
Pinta Yura.
Gue terdiam mencerna ucapan Yura. Apa yang harus gue katakan pada Rayna jika ibu kandung Dara meminta kembali anaknya.
"Saya kembalikan uang pak Lay bila perlu."
Sambung Yura.
Gue masih terdiam, bukan masalah uang tapi kenangan yang Rayna jalani bersama Dara. Dia pasti akan kecewa kalau gue menyetujui permintaan Yura.
"Dok, jujur kebersamaan saya dengan Dara itu belum terlalu lama. Saya dengan Rayna bercerai dan Rayna yang mengurus Dara sepenuhnya, jadi saat ini yang berhak menentukan adalah Rayna."
Jelas gue.
Yura tampak berpikir dan mencerna ucapan gue, saat ini gue benar-benar bingung harus memilih apa.
"Saya akan mencoba berbicara pada Rayna."
Yura menganggukkan kepalanya dan menatap gue.
"Saya permisi dulu ya."
"Iya pak Lay."
Gue melangkahkan kaki menuju ruangan rawat inap Dara, saat ini Dara pasti nggak akan mengenal gue bahkan Rayna dan Dira.
Gue mengetuk pintu dan membukanya, di dalam ruangan sudah ada Rayna yang sedang menangis.
"M-mas, D-araaaaa mas hiks."
Ucap Rayna.
Gue memeluk Rayna menenangkan perasaannya saat ini.
"Kalian siapa? Dira mereka siapa?"
Tanya Dara.
Dira tersenyum kecil,"mereka kedua orang tuaku sayang."
Gue tersenyum sambil menahan air mata,"nggak apa- apa nak, kamu gimana sekarang? Udah mulai membaik?"
"Udah om, Dara udah ngerasa lebih baik dari sebelumnya."
Gue mengangguk pelan,"Ray kita bicara di luar yuk." Ajak gue pada Rayna.
Rayna menurutinya dan berjalan perlahan, kami keluar dan duduk di kursi tunggu. Mempersiapkan kalimat yang saat ini ingin gue ucapkan pada Rayna, berusaha nggak melukai hati Rayna.
"Ray, Dara amnesia dan dia lupa semuanya."
Ucap gue.
Rayna terdiam nggak menjawab dan hanya menangis, namun dia benar-benar siap mendengarkan apa yang akan gue ucapkan.
"Yura minta supaya Dara tinggal sama ibunya. Bahkan dia mau kembaliin uang mas yang dulu." Jelas gue
Gue menarik nafas perlahan, Rayna belum bersuara dan menanggapi ucapan gue.
"Mas nggak bisa kasih keputusan, karena yang mengurus Dara adalah kamu. Jadi semuanya mas serahin sama kamu Ray."
Sambung gue.
Rayna menarik nafas dan mengusap air matanya, mungkin saat ini tenggorokannya tercekat dan dadanya sesak mendengar hal ini.
"Mas, aku gak mau nyakitin Dara kalau suatu saat dia tau kalau kita bukan orang tua kandungnya."
Gue menghela nafas,"jadi gimana Ray?"
Rayna menatap gue lekat, gue tau saat ini dia nggak mau memberikan Dara pada ibunya tapi di sisi lain Rayna juga nggak mau Dara sakit hati kalau dia bukan anak kami.
"Aku mengizinkan Dara sama ibunya mas, supaya suatu saat nanti dia nggak sakit hati menerima sebuah kenyataan."
Gue meraih tangan Rayna, berat! Namun semuanya harus kita pilih. Memilih Dara tetap tinggal atau memilih dia untuk nggak sakit hati suatu saat nanti.
Rayna kembali menangis dan memeluk gue, hari demi hari Rayna semakin membaik dan nggak memperlihatkan rasa sakit hatinya terhadap gue. Apa ini kesempatan gue untuk kembali?
T
b
c