
Gue berjalan menuruni anak tangga bersama Dira, di bawah sana sudah ada Dara yang menghentikan langkahnya dan terkejut menatap kami berdua.
Namun wajah Dara seperti tidak bersahabat saat ini, dia memalingkan wajahnya ketika gue memberikan senyuman.
"Heh kodok,salaman sama Ayah"
Ucap Dira yang berlari kecil ke arah Dara.
"Ayah?! gue lebih setuju bunda nikah aja sama om Daniel!"
Ucapan Dara membuat senyuman gue pun memudar.
Apa maksud anak ini? tadi dia berkata pada Rayna ayah dia cuman gue,tapi kenapa saat ini malah setuju dengan rencana Daniel.
"Gue benci sama dia! kemana aja selama ini? tau-tau udah bikin masalah aja di sini,liat tuh bunda jadi emosian"
Dara menunjuk ke arah gue.
P
L
A
K
Dira menampar Dara, membuat gue terkejut seketika.
"Jaga ucapan lo dara! orang yang lo tunjuk itu ayah lo sendiri,lo masih mau mengandalkan om Daniel?! sadar Dara!"
Teriak Dira.
"Hiks hiks hiks,baru kali ini lo nampar gue kak! gue iri sama lo yang bisa ketemu sama ayah duluan,sedangkan gue? lo bilang Ayah malah nuduh gue cewek jalang kan?! sakit hati gue kak,padahal gue....hiks hiks hiks gue kangan banget sama dia"
Dara berlari meninggalkan gue dan Dira sambil memegangi pipi kanannya yang ditampar Dira.
"Daraaaaa...."
Teriak Dira dan berniat menyusulnya.
Gue menahan Dira."Biar ayah aja yang ngomong sama Dara"
Gue berjalan menuju tempat dimana Dara berlari,di kolam renang Dara menangis sesenggukan sambil berjongkok.
Gue memeluk tubuhnya."Maafin ayah nak,ayah nggak bermaksud kayak gini"
"Hiks hiks pergii!!"
Teriak Dara.
"Enggak,ayah nggak akan pergi ayah sayang Dara."
Tangisan Dara mulai reda,ia mengangkat kepalanya dan mengusap air mata dari kedua pipinya.
"Ayah"
Ucapnya pelan
"Iya sayang"
Dara menatap gue lembut dan tangannya meraih pipi kanan gue.
"Ini beneran ayah kan? Dara nggak mimpi kan?"
Gue menggelengkan kepala."Enggak,kamu nggak lagi mimpi sayang, ini beneran ayah"
Dara tersenyum dan memeluk tubuh gue erat,anak gadis gue ternyata manja banget.
"Dara kangen ayah,jangan pergi lagi ya."
"Iya sayang,ayah nggak akan pergi."
"Cukup!!!"
Teriak seseorang yang tak lain adalah Rayna.
"Ngapain kalian?!"
Gue melepaskan pelukan dan berdiri.
"Mas lay nggak punya rumah? peliharaannya teriak-teriak tuh di kandang"
Sambung Rayna.
"Ray,mas kangen sama anak-anak"
"Udah kan kangen-kangenannnya,pulang sana! rumah kamu di sebelah kan?"
Rayna mengusir gue,rasanya sakit namun tak berdarah.
"Bunda kok usir ayah sih?"
Rayna tertawa kecil."Dara sayang,ini nggak seberapa kamu tau gimana sikap ayah kamu sewaktu mengusir kita? dia...."
"Cukup Ray, mas pulang."
"Ayah,tunggu"
Teriak Dara.
"Diem Dara!"
"Bunda jahat!"
Gue berjalan ke luar dari rumah Rayna,sakit ini mungkin yang Rayna rasakan tapi mungkin ini nggak seberapa.Maaf Ray tapi mas harus merebut kamu kembali dari tangan Daniel,walaupun itu terlihat egois.
Gue membuka kunci mobil dan menyalakan mesin,melajukannya perlahan.
"Lo yakin Lay?"
Tanya Suho ketika gue sampai di rumahnya.
"Iya gue yakin ho"
Gue menghempaskan tubuh di atas sofa."Gue harus balik sama Rayna,walaupun dia nggak mau"
"Lo gila Lay bener-bener gila,dulu lo bisa dapetin dia dan hidup lo baik-baik aja,tapi hidup di Paris membuat lo jadi singa buas lagi."
Gue menyalakan rokok."Itu karena perusahaan gue anjlok ho,entah apa yang terjadi saat itu.Gue oleng dan butuh sandaran,Anna datang dengan kepintaran dan berhasil membuat perusahaan gue pulih"
"Dan lo main sama dia,terus dia minta lo tanggung jawab karena dia hamil?! bangke! sekarang dia nggak hamil haha bego lo lay!"
Suho meledek gue
Gue menarik nafas perlahan."Itulah ho,gue bener-bener buntu waktu itu"
"Lo tuh nggak pernah bisa berubah lay,dari dulu bahkan para wanita berusaha meruntuhkan rumah tangga lo sama Rayna,lo inget Erika? dia hampir bikin lo sama Rayna ancur"
Gue mengingat kembali kejadian dulu yang membuat Rayna ingin bercerai,lagi dan lagi gue bodoh soal ini.Tapi di Paris adalah kelemahan gue,perusahaan yang gue bangun dengan kinerja terbaik sama sekali membuat gue lemah hingga menceraikan Rayna.
"Bantu gue untuk kembali Ho"
"Caranya?!"
"Lo mikir dong Onta!"
"Hah lo yang salah gue yang harus tanggung jawab"
Gue mematikan puntung rokok."Saat ini gue bener-bener nggak punya kekuatan penuh Ho,perusahaan gue udah abis dan gue nggak punya apa-apa lagi di Jakarta"
"Terus salah gue? salah emak bapak gue? temen SD gue? temen SMP gue?"
"Taik lo!"
"Hahahaha ayolah beb,jangan tegang gitu"
Suho mencolek dagu gue.
"Anjirrrrr bab beb bob"
Gue memukul tangan Suho.
"Haha jadi apa yang harus hamba lakukan untuk dapat membantu tuan mempunyai banyak uang kembali?"
"Serius dong ho"
Teriak gue
Suho malah tertawa dan menepuk-nepuk bahu gue."Iya gue serius,jadi gimana? lo dong yang mikir masa gue"
"Bantu gue buat rebut balik perusahaan zyx yang udah diambil alih ayahnya Anna"
"Haha segitu doang? kecil kawan"
Ucap Suho sambil menjentikkan jarinya.
"Kalau lo gagal,gue potong biar lo nggak maen di belakang Alexa lagi"
"Behh enak aja lo,gue mah setia"
"Yakin?!"
Gue mencolek adek Suho.
"Ampun,ampun,ampun tuan cuma satu nih nggak ada lagi"
Demi balik lagi sama Rayna, kejahatan Anna harus gue balik ulang.
Hari ini Suho akan menjalankan misinya untuk merebut kembali perusahaan milik gue,kita lihat semuanya akan seperti apa.
Anna ! bodoh!
T
B
C