Dira & Dara

Dira & Dara
Kejujuran #Lay pov



Gue pergi dan keluar dari rumah sakit dan berusaha menghubungi wanita itu, ya ibunya Dara. Dulu dia memberikan nomor ponsel untuk berjaga-jaga, kita nggak pernah komunikasi bahkan gue nggak tau nomor ini masih aktif atau nggak.


Tapi sedetik kemudian nomornya tersambung.


"Hallo."


Ucapnya disebrang sana.


"Iya hallo, maaf apa ini benar dengan ibunya Dara--- aaa.....maksudnya ibu dari anak yang dulu saya adopsi."


Ucap gue.


Nggak ada jawaban, namun panggilan telpon masih terhubung.


Dia terdengar menarik nafas perlahan,"ini pak Layandra? Hallo pak apa kabar?"


Tanyanya.


"Iya saya Layandra, saya baik-baik aja tapi---- anakku-- maksudnya anakmu yang nggak baik-baik aja."


"Anak saya kenapa pak? Apa yang terjadi?"


"Dia---- mengalami kecelakaan dan membutuhkan donor darah, di sini golongan darah O sedang kosong apa anda bisa mendonorkan darah untuk Dara?"


Pinta gue.


Wanita ini kembali terdiam hanya nafasnya yang perlahan terdengar.


"Pak, dimana saat ini lokasi anda?" Ucapnya.


"Saya di rumah sakit kasih, anda sendiri dimana?"


"Saya juga berada di rumah sakit kasih, saya dokter di rumah sakit kasih, di ruang apa dia ditangani?"


Apa?! Dokter?! Gue terdiam, ibunya Dara seorang dokter? Terus kenapa dulu nggak bisa membayar biaya persalinan?


"Pak? Hallo pak Layandra? Anda masih di situ?"


"I--iya, Dara di ruangan IGD."


"Baik."


Bip


Dia mematikan sambungan telpon, siapa wanita yang melahirkan Dara? Seorang Dokter, wanita yang dulu menangis sesenggukan di depan ruang kasir adalah seorang dokter. Ini nggak masuk akal, gue harus mencari jawabannya.


Gue melangkahkan kaki untuk masuk kembali ke dalam dan berlari kecil menuju ruang IGD, di sana hanya ada Dira. Kemana Rayna? Gue menepuk pundak Dira dan menanyakan keberadaan Rayna.


"Bunda pingsan yah."


Gue membulatkan mata,"pingsan? Terus bunda dimana sekarang?"


Dira menunjuk ruangan IGD dan gue dengan sigap berlari untuk masuk ke dalam, mencari ranjang pasien yang ditempati oleh Rayna. Namun bukan Rayna, melainkan Dara. Dara yang saat ini menutup matanya, seakan pasrah dengan keadaannya.


"Dok darahnya sudah ada."


"Syukurlah, pasang sekarang."


Suster terlihat memasang satu labu darah, gue yakin ibunya Dara benar-benar di sini. Syukurlah nak, ibu kamu nggak pernah benar-benar pergi dari hidupmu.


Gue melangkahkan kaki kembali mencari Rayna.


"Sabar ya sayang, Dara pasti baik-baik aja."


Ucap seseorang dibalik gordeng dan membuat gue menghentikan langkah.


"Ray---"


Ucap gue sambil duduk di kursi tunggu.


"Om, sebaiknya om pergi dari sini Rayna butuh ketenangan."


Ucap Daniel.


Namun gue hanya terdiam dan meraih tangan Rayna,"maafin mas ya Ray."


"Om---"


"Mas Daniel, aku mau bicara sama mas Lay."


Pinta Rayna.


Daniel sedikit kecewa, dia bangkit dan memundurkan langkah pergi dari ruangan.


Rayna menatap gue lekat,"mas aku nggak tau selama melahirkan apa yang terjadi, bilang sama aku mas apa yang terjadi?"


Gue menarik nafas perlahan dan mengeluarkannya," Ray sebelumnya mas minta maaf sama kamu, apa yang dokter bilang itu bener Ray."


Rayna terbelalak dan berkaca-kaca, maaf sayang sebenarnya mas nggak mau memberitau hal ini. Tapi entah kenapa hari ini pun terjadi.


"M-mas j-jadi anak kita..."


Gue mengangguk,"yang selamat hanya Dira, tapi ada seorang wanita yang meminta mas untuk mengurus anaknya, mas yang kalut langsung setuju supaya kamu nggak kecewa."


Jelas gue.


Rayna mulai menangis dan mengeratkan tangannya, mungkin ini memang kesalahan gue yang mengambil keputusan tanpa pikir panjang. Tapi ada daya, gue belum siap melihat Rayna kecewa waktu itu.


"Hiks hiks hiks m-mas, aku bener-bener nggak bisa marah sama kamu saat ini. Kamu bilang supaya aku nggak kecewa, aku bahagia punya Dara tapi... gimana kalau dia tau mas?"


Tanya Rayna.


Gue menggelengkan kepala,"enggak Ray mas nggak akan bilang sama dia."


"Tapi suatu saat dia pasti menyadarinya mas."


Gue juga belum tau apa Dara sadar akan hal itu, tapi sebelum dia menyadari hal itu. Gue sebisa mungkin menyelesaikan hal ini, Dara harus tetap menjadi anak gue dan jangan sampai hal ini bocor.


"Pasien atas nama Dara tiba-tiba kritis dok."


Ucap seorang suster.


Gue terbelalak, Rayna tampak berusahan bangkit walaupun dia masih lemas.


"Ray kamu jangan kemana-kemana dulu."


"Enggak mas, anak kita kritis."


Bruk


Rayna terjatuh karena menapis tangan gue, gue berusaha memeluk tubuhnya yang saat ini benar-benar lemah.


"Hiks hiks hiks masssss aku sayang banget sama Dara, hik hiks hiks walaupun dia...-hiks ..."


Suara Rayna tampak mengecil, dia kembali nggak sadarkan diri tubuhnya benar-benar lemas saat ini.


Kalau bisa kalian komen kasih saran atau apa, biar aku semangat dan memperpanjang cerita.


Sorry kalau banyak typo ya :)