Dira & Dara

Dira & Dara
Dara bodoh #Dira pov



Gue membaca halaman demi halaman diary bunda, di sini tertulis jika mereka pertema bertemu di sebuah club malam milik Ayah. Kemudian bunda menjadi asisten ayah di club itu, hari-hari bunda yang melalui hidup di club malam membuat ia menaik turunkan emosi karena kelakukan Ayah yang galak dan cepat marah bahkan nggak segan-segan menghajar orang lain.


Yang membuat gue membulatkan mata adalah, ketika om Daniel yang ternyata menyukai bunda namun nggak pernah terbalas. Apa saat ini perasaan om Daniel memang terbalas?


Jadi kisah antara bunda,ayah dan om Daniel berawal dari club malam. Club malam itu kini ditutup oleh Ayah, dimana club malam yang diberi nama Zyx itu.


Fakta jika masa lalu bunda memang ada hubungannya dengan om Daniel, itu tandanya om Daniel memang nggak pernah tulus merelakan bunda untuk Ayah.


Tapi apa yang membuat om Daniel direndahkan oleh keluarga Wijaya? Apa memang karena Ayah yang selalu terbaik dimata keluarga, atau ada hal lain.


Gue menatap ponsel yang saat ini tergeletak di atas meja, rekaman tante Anna masih terngiang di dalam telinga. Gue harus mengumpulkan fakta lain dari kasus ini.


Gue menyimpan diary itu di dalam lemari dan keluar dari kamar, meregangkan otot yang mulai kaku.


"Hehe enggak."


Suara Dara terdengar sangat lembut di ruang depan.


Gue melangkahkan kaki dan menghampirinya.


"Aku jomblo,kemarin kakak aku iseng."


Gue semakin mendekat dan mendengarkan percakapan mereka.


"Serius? dimana? oke aku bisa, ya udah aku siap-siap dulu ya."


Dara menutup sambungan telpon dan terlihat bahagia.


"Mau kemana?"


Tanya gue.


"Kepoooo."


Dara menjulurkan lidahnya dan pergi.


Adek gue kayaknya benar-benar ngebet pacaran, ya sudahlah gue harus ikhlas menerimanya. Mulai sekarang gue juga harus membuka hati untuk seseorang.


Dara pamit dan pergi menaiki taxi, namun gue iseng mengikuti dia dari belakang. Kejadian kemarin masih membuat gue trauma, gue takut Dara diculik lagi ya walaupun Agus memang udah ditangkap.


Taxi berhenti di sebuah taman kota, Dara keluar dan berlari kecil. Gue pun mengikutinya dengan kaca mata hitam yang gue kenakan agar nggak terlalu kentara kalau gue Dira.


Dia duduk di kursi dekat pohon sambil terus menatap ponsel, setelahnya seorang cowok datang sambil membawa bunga.


"Ck! Lebay."


Ucap gue pelan.


Mereka terlihat sangat akrab dan asyik mengobrol, sambil menunggu Dara gue menatap semua arah mencuci mata tapi nggak ada satupun yang menarik di mata gue selain Dara.


Nggak lama cowok itu pamit dan meraih ponselnya di dalam celana, gue berjalan menatap cowok itu dan mengikutinya.


"Iya sayang, tunggu ya mama aku lagi masuk rumah sakit nih."


Ucapnya


Gue membulatkan mata, jadi dia punya wanita lain?


"Iya mama aku harus dirawat inap."


Sambungnya.


Bohong sama pacarnya mengatas namakan mamanya? Cowok nggak bener kayak gini yang Dara mau? Cih sampai kapanpun gue nggak sudi menerima dia.


Gue berjalan menghampiri Dara,"ayo pulang."


"Lo ngapain di sini?"


"Nggak usah banyak tanya, ayo pulang."


"Enggak, gue nggak mau pulang lo ganggu aja deh kak."


Gue menatap Dara lekat,"cowok itu udah punya pacar jadi lo jangan kemakan omongannya."


"Itu akal-akalan lo doang kan kak, dia itu jomblo, baik lagi."


Gue tertawa,"baik? Barusan gue denger dia telponan sama ceweknya."


"Mana buktinya?"


Gue terdiam ,bodoh memang nggak ada bukti tapi dia memang punya pacar lain,"nggak ada tapi lo pulang aja."


Gue menarik tangan Dara lagi.


"Lepasin kak!"


"Lo ngapain narik-narik pacar gue?"


Teriak cowok itu.


Gue berdecih,"cih cewek lo? Lo punya pacar masih mau macarin dia?"


Cowok itu terkejut, mungkin rahasianya terbongkar.


"Sembarangan kalau ngomong, pacar gue Dara."


Gue tertawa sinis.


B


U


K


Jika begini gue puas, lo pantas dihajar dengan tangan gue kalau nggak mau mengakuinya.


"Kak Diraaaaa lo kenapa mukul Roni?"


Teriak Dara.


Cowok yang disapa Roni itu terpental menerima pukulan dari gue.


"Soalnya dia bajing**n."


Dara meraih pipi Roni, dia terlihat meringis dan membuat Dara mengkhawtirkannya.


"Kak Dira, bisa nggak lo nggak maen pukul? Gue nggak suka sama cara lo."


Pinta Dara.


"Lo terlalu bodoh Dara."


"Iya gue bodoh punya kakak kayak lo, gue nggak mau punya kakak kayak lo enggak! Gue benci sama lo."


Teriak Dara.


Gue memundurkan langkah,"terserah lo aja dek kalau lo sakit hati jangan curhat sama gue."


Gue pergi dan meninggalkan Dara, dasar keras kepala dikasih tau malah nyolot.


T


b


c