
Gue pulang bersama bunda,kali ini bunda tampak ceria dan nggak dingin lagi kayak biasanya.
Si Dara kecentilan sok imut ngobatin luka om Daniel, gue duduk di samping bunda dan berhadapan dengan om Daniel.
Gue mengalihkan padangan pada layar ponsel dan berpura-pura sibuk mencari sesuatu di layar ponsel.
"Aduh malah tumpah om."
Dara menumpahkan obat luka untuk om Daniel.
"Adudu kena baju Dara ih,kak Dira tolong dong obatin kaki om daniel gue mau cuci dulu ini"
Ucapnya sambil berlari menuju kamar mandi.
Kok gue?! kan ada bunda, ah elah bunda malah natap gue dan memberi kode'ayo cepetan.
Gue pun menyerah dan berdiri kemudian duduk di samping om Daniel,meraih obat dan mengoleskannya pada luka om Daniel.Om Daniel tersenyum menatap gue,sedangkan gue hanya diam dan pura-pura nggak tau kalau dia senyum-senyum menatap ke arah gue.
Gue rasa si Dara sengaja numpahin itu obat supaya gue melakukan hal ini, ah Drama banget sih itu anak korban sinetron.
"Udah Dir,biar om aja."
Om Daniel meraih cutton bud ditangan gue.
"Jangan dong om,om kayak gini kan gara-gara kak Dira yang maen kabur-kaburan aja udah tau malem bikin khawatir orang tua aja."
Celetuk Dara yang berjalan ke arah gue dan duduk di samping bunda.
"Eh kampret, kok gara-gara gue? yang nambrak siapa yang salah siapa?"
Gue melempar cutton bud ke arah Dara.
"Udah-udah ribut aja deh kalian,kasian om daniel lagi sakit juga."
Bunda mereda pertengkaran yang mungkin bakal jadi besar karena ulah si cempreng.
Om daniel hanya tertawa dan menatap ke arah gue,sialnya mata kami saling bertemu dan membuat gue harus melemparkan tatapan ke tempat lain.
"Yang bener dong obatin lukanya."
Ucap si Dara lagi sambil cekikikan.
Gue melotot ke arah Dara dan berniat melemparkan bantal,namun bunda memberikan kode'udah biarin aja.
Gue nurut dan kembali mengobati luka om Daniel.
"Kalian nggak kuliah?"
"Siang..."
Ucap gue dan dara barsamaan.
"Nah gitu dong kompak jangan berantem terus."
Bunda mengelus kepala gue dan dara bergantian.
Gue mendelik ke arah Dara namun dia tetap cekikikan,dasar KODOK awas lo ya jailin gue kayak gini berani banget jailin seorang Dira.AWAS LO YA !
-
Bunda memberikan kunci mobil yang dulu sempat di sita,alasan di sita karena gue bolos kuliah selama 3 bulan.Seneng ? iya pasti,gue bisa gaet cewek lagi dan nggak di hina si agus karena tiap hari ngampus naik taxi.
Tapi impian gue kayaknya nggak akan terwujud, mengingat si kodok nempelin gue terus.Banyak cewek yang cemburu sama Dara,padahal dia adek gue bukan pacar gue.Lagian si Dara betah amat menjomblo,nempel-nempelin gue terus sampe nggak bisa bergerak.
"Dek, lo kok betah amat jomblo? nggak mau gitu cari pacar biar ada yang anter kemana-mana".
Ucap gue sambil melajukan mobil dan menatap sekilas Dara yang sedang asik mengemut permen.
Dara menatap ke arah gue."Kenapa emang?"
"Ya gue cuma nanya aja sih."
Dara merogoh ponsel seperti sedang mencari sesuatu di sana.
"Emang lo mau gue punya pacar?"
Tanya Dara tanpa mengalihkan pandangannya.
"Ya terserah lo aja sih dek,yang penting tu cowok baik aja sama lo terutama sama gue."
"Lah kok sama lo kak?"
"Iya lah,kalau nggak baik sama gue gimana mau direstui."
"Ceilah gaya lo kak Dir, sok sokan kayak ayah aja lo."
Gue terdiam,kembali lagi gue mengingat masalah ayah,bunda dan om daniel.Ya Tuhannnn,bisa nggak hidup gue nggak rumit kayak gini sumpah gue bener-bener pusing sama hal ini.
"Gue kangen ayah kak."
Celetuk dara sambil menatap layar ponsel dengan wallpaper ayah yang selalu Dara pakai.
"Iya."
"Hiks hiks,gimana kalau sebenarnya ayah udah meninggal kak? sedangkan kita nggak tau kebenarannnya?"
Entah sejak kapan adek gue menangis,dia tiba-tiba melow dan langsung membuat gue spontan ngelus kepala dia dengan sebelah tangan.
"Sabar dek,gue yakin ayah masih hidup."
Gue benar-benar nggak tega liat Dara sedih kayak gini,tapi sebelum gue tau jawabannya sebisa mungkin semua hal yang gue curigai hanya menjadi rahasia sendiri.
Gue berjalan menuju kelas,si Dara gue tinggalin di depan gerbang soalnya ada teman dia yang ngajak ke kantin.
"Tanding basket sekarang juga!"
Celetuk seseorang yang sengaja menghalangi langkah gue.
Agus!
Gue menatap wajahnya datar."Gue nggak ada waktu"
"Lo takut?"
Gue tersenyum kecut."Takut?"
Gue mengelus pundak dia dan membenarkan jaket denim yang dikenakannya."Mana ada Dira takut"
Agus melepaskan tangan gue."Kalau gitu ayo tanding,jangan banyak alasan."
Harga diri gue benar-benar jatuh jika menolak ajakan musuh bebuyutan gue ini,sebenarnya pergelangan tangan gue masih cedera karena loncat dari lantai dua sewaktu di club malam.Alasannya gue loncat bukan karena nggak punya duit,tapi karena gue bercumbu dengan pacar pemilik club malam itu.Untung gue punya jurus tupai yang cedera cuman pergelangan tangan aja.
"Kenapa lo diem?"
Tanya Agus yang membuyarkan lamunan gue.
"Oke.."
Jawab gue singkat
Agus memberi instruksi pada teman-temannya supaya berkumupul,gue manatap geng mereka yang diisi oleh sekumpulan pecundang.
Agus adalah sahabat gue sewaktu SMA,bukan hanya Agus tapi Viandra,JiNan,James,Rapi dan Dapin adalah sahabat-sahabat gue.
Tapi dulu gue sempet pacaran sama adiknya si Agus,nggak ada angin nggak ada hujan si Almira hamil gitu aja
SO WHAT? gue nggak ngapa-ngapain dia,masa ciuman doang bisa hamil. Dan ternyata si Almira laporin hal itu sama kakaknya,gue disuruh tanggung jawab.Enak aja,belah duren kagak gue harus makan kulitnya jadi gue putusin si Almira tanpa basa-basi.
Dan si Agus marah,itu sebabnya sampai detik ini masih buntutin gue kemana-mana.Gue dan Agus adalah ketua dan wakil ketua ekskul basket di SMA,tapi dari kejadian itu gue malah dijauhi sama anggota lain dan di keluarin.
"Gue pengen liat,mantan ketua basket masih jago atau enggak!
Ucapnya lagi.
Gue memundurkan langkah dan berjalan menuju lapangan,ternyata udah banyak mahasiwa yang kumpul di pinggir lapangan sambil bersorak menerikkan nama gue dan Agus. Dasar picik ! ini udah direncanakan,gue harus hati-hati karena bisa aja Agus mencelakai gue di sini.
Gue membuka jaket kulit dan tas,agus siap-siap memegang bola basket dengan senyuman meledek.Gue hanya menatapnya datar,gue nggak boleh lengah.
"Diraaaa ayooo."
"Agus...,agus....agus...."
"Dira love you,semangattttt"
Suara teriakan mahasiswa semakin riuh,permainan sudah berlangsung 10 menit.Gue berhasil memasukkan bola ke dalam ring sebanyak 50 dan Dira hanya mendapatkan 48 selisih 2 angka namun membuat dia geram dan beberapa kali mendorong tubuh gue.
Bola kini berada di tangan gue,sambil terus mendrible gue memastikan Agus nggak berbuat curang.Tapi,tangan gue mulai ngilu dan sakit! gue mulai nggak fokus untuk menggiring bola.
Agus pun memanfaatkan suasana dimana gue lengah,tangan gue semakin pegal dan sakit.
"Aw..."
Gue beberapa kali meringis karena kesakitan.
Namun harga diri gue nggak boleh hancur saat ini juga,gue mengahalangi Agus dan mencoba meraih bola dari tangannya walau sesekali gue meringis menahan sakit.
Semakin lama tangan gue semakin sakit dan rasanya ngilu,gue mencoba menahan tapi sumpah gue nggak kuat
B
U
K
Bola basket mengenai tangan gue,Agus sengaja melemparkan bola itu ke arah gue dan tepat pada pergelangan tangan gue.
Gue ambruk sambil menahan tangan gue."sakit!!"
Semua orang pun riuh menyaksikan gue yang ambruk di lapangan,beberapa orang pun bertanya pada temannya 'Dira kenapa?
Gue benar-benar nggak bisa menahan rasa sakit ini,air mata mulai mengaliri kedua pipi gue akibat rasa sakit yang luar biasa.
"Kak Diraaaaaaaaa"
T b c