Dira & Dara

Dira & Dara
Memberitahu Dara#Dira pov



Gue menarik tangan Dara ketika dia keluar dari apartemen ayah,membawanya masuk ke dalam mobil.


"A a w kasar lo kak,sakit tangan gue!"


Ucap Dara sambil melepaskan tangan gue ketika berada di dalam mobil.


"Lagian lo ngapain ke apartemen ayah?"


"Bunda nyuruh gue"


"Emang bunda kemana?"


"Nah loh,lo sendiri ngapain di luar apartemen? bunda bilang lo kekunci di dalam kak? dan lagi,kenapa ada ayah? kapan ayah pulang dari Paris? nggak kenal sama gue juga"


Pertanyaan menohok dari Dara membuat gue menggaruk kepala.GAGAL!


"Iya gue jelasin"


"Sekarang!"


"Iya sekarang"


"Ayo dong!"


"Bentar gue nyalain mesin dulu nih"


Gue menyalakan mesin mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang,Dara terlihat masih mengelus pergelangan tangannya karena seteleh menerima telpon dari gue,dia langsung gue tarik keluar.


"Masih sakit ya dek?"


Gue menatap pergelangan tangan Dara yang memerah.


"Enggak! nanya lagi!"


"Sorry dek "


"Ah cepetan jelasin,basa-basi aja lo"


"Iya,ngegas aja lo"


Gue mengacak rambut dia kasar,sontak wajahnya yang masih marah semakin marah.Namun dia hanya mendelik,sedangkan gue tertawa kecil menggoda dia.


"Ambil ini"


Gue menyuruh Dara untuk mengambil sebuah kertas.


"Apaan?"


"Ambil,buka terus baca"


Dara pun meraih kertas itu kemudian membacanya,namun nggak ada ekspresi yang gue fikir dia teriak atau bilang INI MAKSDUNYA APA?


Dara hanya menarik nafas perlahan lalu membuangnya."Udah gue baca,lo mau cerita apa kak?"


"Lo nggak kaget? pertama kali gue baca sampe diulang-ulang, kok lo malah santai? heran"


Tanya gue pada Dara yang mengalihkan pandangannya ke luar.


"Hiks hiks hiks"


Terdengar isak tangis dari Dara.


"Lo nangis dek?"


"Hiks hiks hiks,kenapa kertas kayak gini yang lo kasih kak? lo pasti bohong kan? lo cuman mau jailin gue kan hiks?"


Gue menghentikan mobil dan meraih tangan Dara.


"Lepas ! NGGAK LUCU DIRA!"


Nada suaranya mulai meninggi,gue faham dia mungkin kecewa dan marah tapi ini faktanya.Karena terlanjur dia bertemu dengan ayah,sudah waktunya gue jujur sama Dara soal perceraian kedua orang tua kita.


Gue menarik nafas perlahan."Gue nggak becanda dek,bukan cuman lo yang sedih atau marah bahkan kecewa tapi gue juga"


Gue melipat kembali kertas dan menyimpannya di dalam tas kecil."Lo tau, saat gue baca surat ini gue berencana membenci ayah terutama bunda karena udah bohong sama kita,tapi Tuhan membuka jalan supaya gue menyelidiki hal ini dek"


Gue menatap Dara sambil mengelus rambutnya perlahan."Waktu perpisahan SMA kita,gue sama sekali nggak marah soal om Daniel nggak bisa mengusahakan ayah datang.Tapi ada satu hal yang membuat gue marah bahkan kecewa sampai saat ini"


Dara mengerutkan keningnya,bingung.


"Waktu itu di toilet sekolah,bunda dan om Daniel pelukan dan dia bilang bakal jaga kita,dari sana gue bingung kenapa om Daniel berani meluk bunda dan menjanjikan sesuatu"


Gue menggantungkan kalimat,menatap Dara yang semakin penasaran.


"Dan ketika gue clubbing sendirian,om Daniel bawa gue ke rumahnya dan dia telpon bunda dengan sebutan kata sayang yang makin menguatkan kecurigaan gue"


Dara menganggukan kepalanya."Iya gue tau,pas om Daniel keserempet mobil kan? dan lo pura-pura nggak tau kalau itu rumah om Daniel"


Gue menjentikan jari."Nah itu dek,gue kabur gue benci dan kecewa sama drama yang om Daniel dan bunda lakukan.Dan lo tau tetangga yang nyebut nama Rayna?"


"Iya tetangga yang bikin gue ngantuk sampe pagi"


Gue menganggukan kepala."Iya,dia itu ayah sama seorang wanita yang gue belum ketahui identitasnya"


Dara membulatkan matanya."Ayah? tetangga sebelah? lo yakin? gue dan bunda sama sekali belum ketemu tetangga baru itu"


Gue menganggukan kepala."Iya itu ayah dan gue juga bingung kenapa cuman gue yang ketemu sama ayah di sana dan yang paling lo nggak bakal percaya adalah,gue selama ini udah duduk berselahan sama ayah di club,kemarin itu adalah pertemuan yang membuka pertanyaan gue selama ini walaupun belum terjawab semua"


Dara menarik nafas dan membuangnya perlahan sambil menatap jalan.


"Jadi intinya gimana kak?"


"Ayah mau rujuk sama bunda"


"WHAT?! Lo nggak lagi drama kan kak?"


Gue menggelengkan kepala."Enggak dek,ini yang gue tau dari ayah semalam dia juga bilang masih cinta sama bunda,bahkan dia nyebut nama kita"


"Terus kenapa ayah nggak kenal sama gue? cuman kenal sama lo doang?"


"Ayah juga nggak tau kalau gua adalah Dira,gue pura-pura bilang kalau nama gue Adit"


"Dia kok nggak faham kalau lo Dira Raditya Wijaya,ihhhh KESEL gue kak!"


"Mana bisa ayah faham,selama ini bunda nggak pernah kasih foto atau apapun itu tentang kita,makanya lo bantuin gue buat selidiki ini semua"


"OH JADI INI SEMUA SALAH BUNDA?"


Gue menggelengkan kepala."Bukan bunda,gue yakin ini ada campur tangan om daniel"


"Lo jangan suudzon dong kak,om Daniel mah nggak gitu! sembarangan aja lo"


Gue mendelikkan mata sambil menjitak kepalanya.


"A a w, KDRT nih!"


Ringis Dara


"MAKAN TUH OM DANIEL!"


Ucap gue sambil melajukan mobil.


"Baik TUANKU hamba akan membantu anda menuntaskan masalah ini"


Ucap Dara dengan nada mengejek


"SAPI LO !!!!"


"Cieeee si ganteng marah cieeeeee"


Dara menggelitik pinggang gue,dasar cewek kalau bukan adek kandung udah gue abisin lo di ranjang.


T


B


C