
Gue terkejut dengan fakta bahwa bang Ren adalah teman ayah dan meminta bukti dari percakapan antara gue dan tante Anna, tapi dengan permintaan Ayah ini gue sedikit lebih lega dan mempunyai kekuatan penuh untuk menyerang om Daniel.
"Tante Anna cerita soal masa lalu Ayah di Paris, sejak awal Dira tau ayah dan bunda cerai, Dira nggak marah justru Dira cari penyebabnya sampe akhirnya Dira nyulik tante Anna dan tau kalau dulu bukan kesalahan ayah melainkan permainan om Daniel." Jelas gue
Ayah meneguk air dan menatap gue kembali,"jadi kamu udah tau alasannya? Dulu ayah sama sekali nggak tau kalau Anna adalah orang yang dikenal oleh Daniel, masalah perusahaan, masalah ayah sama bunda sampe bisa cerai ayah nggak pernah tau bisa kayak gitu Dir."
Gue menarik nafas perlahan dan tersenyum," Ini yah, di dalam ponsel ini ayah akan tau kalau semuanya adalah skenario tante Anna dan om Daniel."
Gue menunjukkan ponsel pada Ayah, suara tante Anna adalah sebuah suara yang setiap hari gue hafal, sampai gue anggap itu adalah sebuah lagu yang tergiang di telinga.
"Kerja bagus nak, kita hancurkan siapapun yang terlibat." Ucap ayah sambil meraih ponsel gue.
Baiklah, masalah ini sudah ada Ayah yang akan gue andalkan sebagai otaknya. Tapi kali ini entah kenapa gue merindukan Dara dan kurang bersemangat mencari tau hal lain.
Dara sayang lo lagi apa? Kak Dira kangen jailin lo dek.
"Ya udah malam ini kamu istirahat dulu, biar besok semangat cari bukti." Titah ayah
Gue mengangguk pelan dan bergegas masuk ke kamar, besok biarkan gue bermain sejenak dengan Dara dan melupakan masalah.
Cahaya matahari masuk ke dalam gordeng dan menghangatkan ruangan, gue membuka mata dan bergegas bangun. Ini hari minggu dan gue harus menemui Dara, gue lihat ayah masih tidur. Baiklah,sebentar saja gue mau melupakan misi dan bersenang-senang dengan Dara.
Gue mandi dan mengudahinya dalam waktu 10 menit, bergegas memakai baju dan bersiap-siap. Sepagi ini jantung gue berdetak kencang mau menemui Dara, pacar gue.
Gue bergegas keluar dari apartemen dan mencari taxi, ibunya Dara sempat memberikan alamat rumahya dan ternyata hanya memakai watu 45 menit saja menuju ke sana.
Gue sampai di depan rumah Dara, celingak-celinguk mencari orang rumah namun tampak sepi. Gue memijit bel yang ada di gerbang rumah dan nggak lama munculah seorang wanita.
"Cari siapa mas?" Ucapnya
"Aku cari Dara, ini bener rumahnya?"
"Ohhh neng Dara, masuk aja mas. Ini mas Dira ya? Gantengnya masya Allah, neng Dara suka cerita sama bibi kalau ada cowok ganteng idung mancung itu mas Dira pacar si neng."
Gue hanya tersenyum melihat wanita yang ternyata asisten rumah tangga di rumah ini.
"Ayo masuk mas, neng Dara ada di dalem."
"Iya bi, makasih ya."
"Iya ganteng, Ya Allah kayak artis ya masnya."
Si bibi memuji gue tanpa henti, sedangkan gue hanya tertawa sanbil berjalan masuk ke dalam rumah.
Gue menatap semua arah mencari penghuni rumah dan terdengar suara tertawa seorang wanita, gue menghampirinya dan menemukan Dara yang saat ini sedang berada di taman rumah dengan tangan yang memegang selang.
Senyuman dan tertawa ciri khasnya itu membuat gue rindu, rindu masa-masa dia masih menjadi adik manja gue yang sering gue jahili namun tetap membuat hati gue nggak karuan.
"Ih ayah,basah ihhh." ucapnya sambil tertawa
Di sini, Dara bisa tertawa lepas dan tampak bahagia. Mungkin di rumah gue, kami jarang tertawa bersama bahkan gue malah mengajak dia clubbing untuk bisa ketawa. Tapi di sini dia dirawat dengan baik, syukurlah kalau dia bahagia bersama ibu kandungnya.
"Eh, ada yang dateng ternyata hey sayang."Teriak Dara sambil melambaikan tangannya.
"Hey sa----sayang."
Dara berjalan menghampiri gue,"kok nggak bilang dulu mau ke sini yank?"
"Ohhh kejutan dong." Gue tertawa kecil
"U u u so sweet ya si ganteng, aku lagi jelek belum mandi loh."
Dara mencubit kedua pipi gue dan sukses membuat jantung gue berdetak kencang, demi apapun dulu Dara nggak pernah sopan sama gue bahkan seenak jidatnya kalau ngomong, tapi kali ini bahkan dia panggil gue ganteng, dulu dia bahkan mual dengan ucapan itu.
"Ah kamu cantik kok belum mandi juga."uca gue sambil mengelus rambut Dara.
"Ehh ada Dira." Ucap ibunya Dara
Gue tersenyum,"iya tan."
"Dira ya?" ucap seorang pria.
"Iya om."
"Bener ya kata Dara, kalau Dira ganteng."ucapnya
Gue hanya tertawa, ada apa dengan orang-orang di rumah ini? Pagi-pagi udah membuat Dira Wijaya bangga dengan kegantengan ini.
"Iya dong, pacar aku si ganteng hehe" Dara bergelayut manja di tangan gue.
"Dira, saya hans Ayahnya Dara."ucapnya
"Oh iya om, baru ketemu ya kita."
"Iya nih saya sibuk kemarin, ayok kita sarapan dulu." Ajaknya
"Ayo ganteng."
Dara menarik tangan gue dan kami bergegas menuju meja makan.
"Ayo Dira silahkan." Ucap ibunya Dara
Gue pun mengangguk pelan,"iya tan."
"Yank kamu mau apa? Aku ambilin ya."tawar Dara
Gue hanya terdiam dan menatap Dara, dek gue rindu lo yang dulu. Yang nggak membua gue canggung kayak gini, ah nggak Dira ini hanya permulaan. Nanti juga lo akan terbiasa dengan semua ini.
Drrttt drtt
Ponsel om Hans berdering dan dengan cepat dia mengangkat sebuah panggilannya.
"Iya pak Daniel?"
Ucapnya sambil berdiri.
"Sebentar ya."sambungnya sambil menatap gue dan dijawab oleh anggukan.
Tunggu! Pak Daniel?!