Dira & Dara

Dira & Dara
Pelukan pertama untuk Dira #Lay pov



Gue menguci Anna di dalam kamar, seharusnya wanita bodoh ini memang dipenjara sejak dulu. Gue pun kembali masuk ke rumah Rayna dan mendengar suara Rayna yang masih mengomel.


Dira sedang duduk di atas sofa mendengarkan bundanya yang masak sambil teriak-teriak,dia tampak terkejut dengan kehadiran gue.


"Kamu lagi ngapain di sini Dit?"


Tanya gue sambil duduk di samping Dira.


"Be ber kunjung om"


Gue menatap wajah Dira yang tampak pucat,seperti ada yang dirahasiakan dari dia bahkan saat ini Dira nggak mengakui bahwa ini rumahnya.


"Oh berkunjung,memang yang punya rumah ada hubungan darah sama kamu?"


Dira menggelengkan kepalanya."Nggak ada om,tapi saudaranya Anin"


"Yaudah om ke dapur dulu ya Dir"


Gue menepuk lutut Dira.


"Tunggu om!"


Dira tampak terkejut dengan ucapan gue.


Gue menatap Dira lekat."Iya,ada apa Dira raditya wijaya?"


Dira membulatkan matanya dengan wajah yang semakin pucat.


"O o m---"


"Ayah"


Gue memotong ucapan Dira,saat ini semuanya harus diperjelas.Dira dan Dara ada di rumah ini,itu tandanya mereka memang mengenal wajah Ayahnya.Namun gue nggak tau pasti alasan mereka berpura-pura nggak mengenal gue.


"Kita bicara nanti nak,ayah ada urusan sama bunda kalian"


Pamit gue pada Dira dan melangkahkan kaki menuju dapur.


"KURANG ASEM EMANG TUH CEWEK!"


Teriak Rayna saat gue baru sampai di depan pintu dapur,terlihat Dara mengelus bahu bundanya pelan.


"Udah bun sabar,emang siapa sih wanita itu? kok bisa bareng ayah?"


Pertanyaan yang monohok membuat Rayna terdiam seketika.


"Dan lagi,kenapa ayah nggak kenal sama aku dan kak Dira? Ayah pergi gitu aja sambil bawa wanita itu,padahal Dara udah seneng banget tiba-tiba ayah pulang"


Jelas Dara.


"Kalian ketemu sama ayah kalian?"


Tanya Rayna.


Dara pun mengangguk."Iyalah bun,orang aku dan kak Dira mau masuk ehh ayah juga mau keluar buka pintu"


Dara hanya mengatakan jika kami bertemu di rumah ini,padahal sudah beberapa kali kami bertemu.Kalian! Dira Dara apa yang sedang direncakan?


"Harusnya kalian nggak usah ketemu sama ayah kalian,bunda udah cerai sama ayah kalian!"


Ucap Rayna sambil menahan emosi.


"Dara tau kok"


Ucap Dara santai


Rayna membulatkan matanya."Tau? sejak kapan?"


"Bunda nggak perlu tau kapan dan dimana,yang jelas kenapa bunda merahasiakan ini semua? bunda selalu menceritakan sosok Ayah yang membanggakan tapi kenyataannya itu hanya ada dalam cerita bunda,ayah baru pulang sekarang itu pun bagi Dara hal yang mengecewakan"


Jelas Dara sambil memangku tangan di dadanya.


"Ayah kalian mulai sekarang Daniel!"


Ucap Rayna sambil mengalihkan matanya.


Gue pun terkejut dengan pernyataan dari Rayna,bahwa Daniel yang akan menjadi ayah mereka.


"Dara suka kok sama om Daniel,bahkan Dara nyaman sama om Daniel.Tapi Ayah Dara itu Layandra bukan om Daniel,kalau bunda sayang sama om Daniel silahkan! tapi jangan maksa Dara untuk merubah semuanya"


"Kamu fikir bunda nggak sayang sama ayah kalian? apa bunda jahat sampai harus melupakan ayah kalian? selama ini bunda selalu menunggu ayah kalian sadar,tapi nyatanya dia malah bawa wanita jalang itu ke sini! bunda muak sama kelakuan ayah kalian".


Tangis Rayna pecah,dia nggak kuat menahan semua perih yang gue berikan dulu.


Gue berniat melangkahkan kaki namun sebuah tangan menahan bahu gue.Daniel !


"Kita bicara om"


Daniel membawa gue ke lantai dua,tepat di balkon kamar.


"Om, jangan membuat Rayna kembali putus asa"


Ucap Daniel


Gue mengerutkan kening."Apa? gue nggak berniat kayak gitu niel"


"Om,Rayna udah mulai bangkit setelah melalui hal yang pahit jadi Daniel mohon,jangan usik kebahagiaan Rayna"


Gue memangku tangan di dada."Lo kenapa ngomong kayak gitu Niel ? bukan karena lo berniat mau nikahin Rayna dan lo nyuruh gue menjauh kan?"


"Daniel cuman mau Rayna tenang dan bahagia"


"Lo yakin dengan kehadiran lo di sisi Rayna,dia bahagia? lo yakin dia sayang sama lo Niel?"


Pertanyaan dari gue membuat Daniel terdiam.


Dia menghela nafas dan menatap gue."Dari dulu Daniel selalu berusaha untuk mendapatkan hati Rayna,tapi dia hanya jatuh cinta sama om.Daniel pernah bilang sama om tolong jaga Rayna,mungkin saat itu om adalah orang yang keluar dari sisi buruk tapi beberapa tahun kemudian om kembali ke sisi buruk itu,Daniel berusaha untuk membuat Rayna nggak benci sama om tapi apa yang om lakukan? apa om tau hidup Rayna kayak gimana setelah perceraian kalian? setiap hari dia mau mengakhiri hidupnya"


Jelas Daniel.


Gue menarik nafas dan membuangnya perlahan,memang itu adalah kesalahan fatal yang gue lakukan terhadap Rayna.Tapi demi Tuhan gue menyesal melakukan hal itu,gue benar-benar khilaf saat itu.


"Gue tau Niel,mungkin gue nggak tau diri datang dengan wajah tanpa dosa.Tapi gue mau berusaha mendapatkan maaf dari Rayna,walaupun hanya sekedar maaf"


Daniel menepuk-nepuk bahu gue pelan."Ijinkan Daniel untuk menikah dengan Rayna om"


Kerongkongan gue seakan tercekat,Daniel saat ini benar-benar berani merebut Rayna dari gue disaat kesalahan fatal yang gue lakukan.


"Dulu Daniel nggak bisa rebut Rayna dari om,tapi mulai sekarang Daniel nggak percaya lagi sama om"


Sambung Daniel


Gue hanya terdiam,apa yang Daniel katakan memang benar gue nggak bisa jadi suami yang baik untuk Rayna.Tapi apa benar Rayna udah menutup hatinya untul gue?! apa nggak ada kata maaf atau kesempatan lagi.


"Sebulan lagi Daniel mau nikah sama Rayna,tolong jangan usik Rayna lagi om biarkan dia bahagia"


Ucap Daniel sambil melangkahkan kakinya meninggalkan gue.


Gue menatap punggung Daniel,hingga punggung itu menghilang dan diganti dengan Dira yang saat ini mengintip di depan jendela.


Mata kami saling bertemu,pertemuan yang selalu gue harapkan indah namun semuanya menjadi kacau.Pelukan yang seharusnya gue dapatkan dari kedua anak gue namun mereka malah berpura-pura nggak mengenal Ayahnya sendiri.


Dira melangkahkan kakinya menghampiri gue,dia berdiri mematung dengan tatapan yang sendu.


Gue pun tersenyum."Hey anak muda,nggak mau peluk ayah?"


Gue melebarkan kedua tangan, memberikan kode pada Dira agar memeluk gue.


Dia pun tersenyum dan memeluk gue erat sambil terisak.


Gue menepuk-nepuk pundaknya pelan."Maafin ayah nak,semuanya menjadi berantakan"


"Dira hiks yang minta maaf karena pura-pura nggak kenal ayah."


Gue mengelus rambutnya."Mungkin ada alasan dibalik itu semua Dir, ayah faham"


Dira menganggukan kepalanya dan semakin mengeratkan pelukannya.


Bantu ayah untuk kembali pada bunda nak.


T


B


C